Tuesday, January 3, 2012

Siapakah Muhammad ?

Q Ad-Dhuha (9) ayat 3-8 : (3) Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, (4) dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. (5) Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. (6) Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (8 ) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. 

Marilah kita mulai dengan kisah Muhammad. Siapakah dia dan apa yang dipikirkannya? Di bab ini dengan singkat akan dijabarkan kejadian-kejadian penting dalam hidupnya. Islam adalah sama dengan Muhammadisme. Muslim memang bilang mereka tidak menyembah siapapun selain Allah, tapi Allah hanyalah alter ego atau alias kepribadian lain dari Muhammad sendiri, atau wujud karangannya sendiri. Dalam prakteknya, yang disembah Muslim sebenarnya adalah Muhammad dan memang itulah yang diinginkan Muhammad. Islam adalah aliran kepercayaan yang bersumber dari Muhammad. Kita akan baca kata-katanya yang tercantum dalam Qur’an, yang diakuinya sebagai kata-kata Tuhan, dan menilai dirinya melalui kacamata para sahabat dan istri-istrinya. Kita akan melihat bagaimana dia berubah dari pengkhotbah yang tidak dipedulikan orang-orang menjadi pemimpin seluruh Arabia hanya dalam waktu sepuluh tahun, bagaimana dia memecah-belah orang-orang agar bisa menguasai mereka, bagaimana dia membangkitkan keinginan memberontak dan kebencian dan kemarahan orang-orang untuk mengobarkan perang terhadap orang lain dan bagaimana dia menggunakan penyerangan-penyerangan, perkosaan, siksaan, dan pembunuhan untuk membuat takut korban-korbannya dan menundukkan mereka. Kita akan mempelajari tindakan-tindakan pembunuhan massal-nya dan kesukaannya menggunakan tipuan sebagai strategi yang sama yang digunakan para teroris Muslim masa kini. Yang mereka lakukan persis sama seperti yang dilakukan nabi mereka. 

Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad 
Di tahun 570 A.D., di Mekah, Arabia, seorang janda muda bernama Amina melahirkan anak laki yang diberi nama olehnya Kotham sesuai tradisi bangsanya.[7] Lima puluh tahun kemudian, ketika anak laki ini hijrah ke Medina, dia akan mengganti namanya dengan nama “Muhammad” (yang terpuji) sebagai nama pujian diri, dan dia terkenal dengan nama itu sampai hari ini. Meskipun Muhammad adalah anak Amina satu-satunya, tapi Amina menyerahkan dirinya kepada seorang wanita Bedouin untuk dibesarkan di padang pasir kala Muhammad masih berusia 6 bulan. 

Beberapa wanita kaya Arab kadangkala menyewa wanita lain untuk menyusui bayi mereka. Hal ini memungkinkan wanita kaya itu untuk tidak menyusui dan bisa punya anak lagi dengan cepat. Lebih banyak anak berarti lebih tinggi status sosialnya. Tapi bukan ini yang terjadi pada Amina janda miskin yang hanya punya satu anak untuk diurus. Abdullah, ayah Muhammad, meninggal enam bulan sebelum Muhammad lahir. Juga kebiasaan ini tidak terlalu sering dilakukan. Lihat misalnya Khadijah, istri pertama Muhammad, yang merupakan wanita terkaya di Mekah. Dia punya tiga anak dari perkawina sebelumnya dan tujuh anak dari perkawinannya dengan Muhammad, dan dia merawat mereka semua seorang diri.[8] 

Keterangan menarik yang menunjukkan keadaan psikologi Amina dan hubungannya dengan bayinya adalah Amina tidak menyusui Muhammad. Setelah Muhammad lahir, dia diserahkan kepada Thueiba, yang adalah pelayan paman Muhammad yang bernama Abu Lahab (orang yang sama yang dikutukinya di Sura 111 di Qur’an, sekalian juga dengan istrinya), untuk disusui. Tidak ada keterangan mengapa Amina tidak menyusui anaknya. Yang bisa kita lakukan adalah menduga. Apakah dia mengalami tekanan bathin karena menjanda di usia mudanya? Apakah dia pikir anaknya merupakan halangan baginya untuk menikah lagi? 

Kematian anggota keluarga dapat mengakibatkan perubahan kimia dalam otak yang mengakibatkan tekanan jiwa (depresi). Sebab lain yang mengakibatkan dapat wanita mengalami tekanan jiwa adalah: hidup sendirian, gelisah tentang keadaan janinnya, masalah perkawinan atau keuangan dan usia muda ibu. Amina baru saja kehilangan suaminya, dia hidup sendiri, miskin, dan muda. Berdasarkan keterangan yang ada, dia tampaknya mengalami tekanan jiwa. Hal ini dapat menganggu kemampuan ibu untuk menumbuhkan ikatan bathin dengan bayinya. Juga, tekanan jiwa selama mengandung dapat pula mengakibatkan ibu mengalami tekanan jiwa berikutnya setelah melahirkan bayi (postpartum depression).[9] 

Beberapa penyelidikan ilmiah menunjukkan bahwa tekanan jiwa yang dialami ibu mengandung dapat berakibat langsung pada janin. Bayi yang lahir biasanya menjadi cepat marah dan lamban. Bayi-bayi ini dapat tumbuh menjadi anak balita yang lamban belajar dan tidak bereaksi secara emosional, ditambah masalah kelakuan, misalnya suka melakukan kekerasan.[10] 

Muhammad tumbuh diantara orang-orang asing (bukan keluarga kandung). Sewaktu dia besar, dia sadar bahwa dirinya bukanlah anggota keluarga yang mengurusnya. Dia semestinya heran mengapa ibunya, yang hanya mengunjunginya dua kali setahun, tidak menginginkannya. 

Halima adalah wanita yang menyusui Muhammad. Enam puluh tahun berikutnya terungkap bahwa awalnya Halimah tidak mau mengurus Muhammad karena dia anak yatim dari janda miskin. Tapi akhirnya Halimah mau mengurus Muhammad karena dia tidak mendapatkan anak dari keluarga kaya, dan keluarganya sendiri sangat butuh uang meski sedikit sekalipun. Apakah ini tampak pada cara Halimah mengurus bayi itu? Apakah Muhammad merasa tidak dikasihi di keluarga angkatnya selama tahun-tahun awal penting yang menentukan sifat seseorang? 

Halima melaporkan bahwa Muhammad adalah anak yang penyendiri. Dia suka hidup dalam dunia khayalannya sendiri dan bercakap-cakap dengan teman khayalannya yang tidak bisa dilihat orang lain. Apakah ini reaksi dari anak yang tidak dikasihi di dunia nyata sehingga dia menciptakan khayalannya sendiri untuk menghibur dirinya dan merasa dikasihi? 

Kesehatan mental Muhammad mengkhawatirkan ibu asuhnya sehingga dia mengembalikan Muhammad kepada ibunya Amina ketika berusia lima tahun. Karena masih belum punya suami baru, Amina ragu-ragu untuk menerima kembali anaknya sampai Halima menceritakan padanya kelakuan dan khayalan Muhammad yang aneh. Ibn Ishaq mencatat kata-kata Halima: Ayahnya (ayah dari anak laki Halima satu-satunya) berkata kepadaku, “Aku takut anak ini mengalami serangan jantung, maka bawalah dia kembali ke keluarganya sebelum terjadi akibat buruk”… Dia (ibu Muhammad) menanyakan padaku apa yang terjadi dan terus menggangguku sampai aku menceritakan padanya. Ketika dia bertanya apakah aku takut anaknya (Muhammad) kerasukan setan, maka kujawab iya.; [11] 

Adalah normal bagi anak-anak untuk melihat monster di bawah tempat tidur mereka dan bicara dengan orang-orang khayalannya. Tapi kasus Muhammad tentunya langka dan mengkhawatirkan. Suami Halima berkata, “Aku takut anak ini mengalami serangan jantung.” Keterangan ini penting. Bertahun-tahun kemudian, Muhammad bicara tentang pengalaman masa kecilnya yang aneh: Dua orang berpakaian putih datang padaku dengan baskom emas penuh salju. Mereka memegangku dan membelah tubuku dan mengambil dari dalam tubuhku gumpalan hitam yang lalu mereka buang. Lalu mereka mencuci jantung dan tubuhku dengan salju sampai murni. [12] 

Sudah jelas bahwa kekotoran pikiran tidak tampak sebagai gumpalan dalam jantung. Meskipun nyatanya anak-anak tidak berdosa, dosa sendiri tidak dapat dihilangkan lewat operasi bedah dan salju bukanlah bahan pembersih yang baik. Cerita ini sudah jelas hanyalah khayalan dan halusinasi saja. 

Muhammad sekarang hidup lagi bersama ibunya, tapi ini tidak berlangsung lama. Setahun kemudian Amina meninggal. Muhammad tidak banyak bicara tentang ibunya. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, lima puluh tahun setelah kematian ibunya, dia mengunjungi kuburan ibunya di Abwa yang terletak diantara Mekah dan Medinah.
Ini adalah kuburan ibuku; Tuhan mengijinkanku untuk melawatnya. Aku ingin berdoa baginya, tapi tidak dikabulkan. Maka aku memanggil ibu untuk mengenangnya dan ingatan lembut tentang dirinya menyelubungiku, dan aku menangis. [13] 

Mengapa Tuhan tidak mengabulkan Muhammad berdoa bagi ibunya? Apa yang dilakukan Amina sehingga dia tidak layak untuk dimaafkan? Ini sungguh tidak masuk akal. Sudah jelas Tuhan tidak ada hubungannya dengan hal ini. Muhammad sendirilah yang tidak bisa memaafkan ibunya, bahkan separuh abad setelah dia mati. Dia mungkin mengingatnya sebagai wanita yang dingin dan tidak sayang anak, sehingga Muhammad tidak menyukainya dan mengalami luka bathin yang tidak pernah sembuh. 

Muhammad kemudian hidup bersama kakeknya selama dua tahun. Kakeknya yang telah ditinggal mati putranya, sangat memanjakan Muhammad. Ibn Sa’d menulis bahwa Abdul Muttalib sangat memperhatikan Muhammad lebih banyak daripada memperhatikan putra-putranya sendiri.[14] Muir dalam Biography of Muhammad menulis: “Anak itu dirawat dengan penuh kasih sayang olehnya. Sebuah karpet biasa dibentang di bawah bayang-bayang Ka’bah, dan di situ orang tua (kakek Muhammad) itu berbaring terlindung dari terik matahari. Di sekitar karpet, dengan jarak yang tidak jauh, duduklah putra-putranya. Muhammad kecil berlari mendekat pada kakeknya dan mengambil karpet tersebut. Putra-putranya hendak mengusirnya pergi, tapi Abdul Muttalib mencegahnya dan berkata: “Jangan larang putra kecilku.” Dia lalu mengelus punggungnya karena merasa girang melihat tingkah lakunya yang kekanakan. Anak laki ini masih diurus ibu asuhnya yang bernama Baraka, tapi Muhammad selalu lari darinya dan pergi ke tempat tinggal kakeknya, bahkan jika dia sedang sendirian dan tidur. [15] 

Muhammad ingat perlakuan penuh kasih sayang yang diterimanya dari Abdul Muttalib. Sambil tak lupa membumbui dengan khayalannya sendiri, dia di kemudian hari berkisah bahwa kakeknya biasa berkata, “Biarkan dia karena dia punya nasib yang hebat, dan akan menjadi pewaris kerajaan;” dan berkata pada Baraka, “Awas, jangan sampai dia jatuh ke tangan orang-orang Yahudi dan Kristen, karena mereka mencarinya dan akan melukainya!”[16] Akan tetapi, tiada seorang pun yang ingat perkataan ini karena sebenarnya paman-pamannya tidak percaya perkataannya, kecuali Hamza yang berusia sebaya dengan Muhammad. Abbas juga di kemudian hari bergabung dengan Muhammad, tapi itu terjadi setelah bintang Muhammad bersinar dan dia dan pasukannya berada di depan Mekah untuk siap menyerang. 

Nasib sekali lagi tidak berpihak pada Muhammad. Hanya dua tahun setelah dia hidup bersama kakeknya, sang kakek meninggal dunia di usia delapan puluh dua tahun dan Muhammad lalu diasuh oleh pamannya, Abu Talib. Muhammad merasa sedih karena kehilangan kakek yang mengasihinya. Ketika dia berada di penguburan jenazah di Hajun, dia menangis. Bertahun-tahun kemudian dia masih mengenang kakeknya. 

Abu Talib mengasuh Muhammad dengan penuh kasih pula. “Kasih sayangnya pada Muhammad sama besarnya seperti kasih sayang Abdul Muttalib padanya,” tulis Muir. “Dia mengijinkannya tidur di atas ranjangnya, makan di sisinya, dan pergi bersamanya ke luar negeri. Dia terus memperlakukan Muhammad dengan lembut sampai Muhammad dewasa.”[17] Ibn Sa’d mengutip Waqidi yang mengisahkan bahwa Abu Talib, meskipun tidak kaya, mengasuh Muhammad dan mencintainya lebih dari anak sendiri. 

Karena kehilangan orang-orang yang dikasihinya secara berturut-turut di masa kecilnya, Muhammad takut ditinggalkan dan kejadian ini tentunya berdampak emosi kuat. Hal ini tampak jelas dalam kejadian di waktu dia berusia 12 tahun. Suatu hari, Abu Talib hendak pergi ke Syria untuk berdagang. Dia tidak membawa Muhammad pergi. “Tapi ketika kafilah sudah siap berangkat, dan Abu Talib siap menaiki untanya, keponakannya yang tidak mau ditinggal lama memeluknya erat-erat. Abu Talib terharu dan membawa dia pergi bersamanya.”[18] Eratnya hubungan Muhammad dan pamannya menunjukkan Muhammad trauma kehilangan orang-orang yang dikasihinya. 

Meskipun Abu Talib merawatnya dengan penuh kasih dan terus membela Muhammad sampai ajal, mengasihinya lebih dari anak sendiri, pada akhirnya Muhammad terbukti sebagai keponakan yang tak tahu terima kasih. Ketika pamannya hampir ajal di ranjang, Muhammad menengoknya. Semua putra Abu Muttalib juga ada di situ. Abu Talib selalu memikirkan kebaikan bagi Muhammad dan dia meminta dengan tulus pada saudara-saudara lakinya untuk melindungi Muhammad yang sekarang berusia 53 tahun. Mereka berjanji untuk melakukannya, termasuk Abu Lahab, yang dikutuki Muhammad dalam Qur’an. Setelah itu Muhammad meminta pamannya masuk Islam. 

Muhammad sadar bahwa para pengikutnya adalah orang-orang lemah dari kalangan rendah. Untuk mendongkrak keberadaannya, dia butuh orang berpengaruh masuk Islam. Ibn Ishaq menulis: “Ketika orang-orang datang di perayaan-perayaan, atau ketika sang Rasul mendengar ada orang penting yang hendak berkunjung ke Mekah, dia akan mendatangi orang itu dan menyampaikan pesannya.”[19] Tulisan sejarah juga mengisahkan pada kita bahwa Muhammad sangat girang luar biasa ketika Abu Bakr dan Omar menjadi pengikutnya. Jika Abu Talib bersedia masuk Islam, maka Muhammad akan tampak lebih terhormat diantara para pamannya dan masyarakat Quraish. Suku Qurasih adalah suku Arab yang tinggal di Mekah dan penjaga bangunan Ka’abah. Muhammad sangat butuh pengakuan kebenaran agama buatannya dari Abu Talib. Akan tetapi sang paman tersenyum dan berkata bahwa dia lebih memilih mati dengan agama kakek moyangnya. Maka punahlah harapan Muhammad. Dia lalu meninggalkan ruangan sambil berkata: “Aku ingin berdoa baginya, tapi Allâh melarangku.” 

Sukar dipercaya bahwa Allah melarang nabinya meminta ampun bagi orang yang membesarkannya, melindunginya sampai ajal, dan berkorban begitu banyak baginya. Kalau memang Tuhan berbuat demikian, hal ini akan menurunkan derajat Tuhan sedemikian rupa sehingga tak layak disembah. Pengorbanan Abu Talib dan keluarganya demi kepentingan Muhammad sangatlah banyak. Meskipun tidak percaya akan Islam, Abu Talib berdiri bagaikan batu tegar menghadapi seluruh rakyat Quraish untuk membela Muhammad dari segala ancaman yang ada dan selama 38 tahun dia terus menjadi pendukung Muhammad tanpa henti. Meskipun begitu, Muhammad bukanlah keponakan yang tahu balas budi. Ketika Abu Talib tidak mau masuk Islam, Muhammad merasa begitu ditolak sehingga dia tidak mau mendoakan pamannya yang hampir ajal. 

Tidak banyak yang terjadi di masa muda Muhammad dan tidak ada hal yang dianggap penting dicatat oleh penulis kisah hidupnya. Dia dikabarkan adalah orang yang pemalu, pendiam dan tidak terlalu suka berhubungan sosial. Meskipun disayang dan dimanja pamannya, Muhammad tetap peka dengan statusnya sebagai anak yatim piatu. Kenangan masa kecil yang sepi dan tanpa kasih terus menghantui sepanjang hidupnya. 

Tahun-tahun berlalu. Muhammad tetap saja suka menyendiri dan lebih memilih hidup di dunianya sendiri, bahkan jauh dari orang-orang yang dikenalnya. Bukhari[20] menulis bahwa Muhammad “lebih pemalu daripada perawan bercadar.”[21] Dia tetap saja begitu seumur hidupnya, tidak percaya diri dan pemalu. Dia berusaha mengatasinya dengan membesarkan, menyombongkan dan memuja-muja diri sendiri. 

Muhammad tidak melakukan pekerjaan apapun yang penting. Saat-saat tertentu dia menggembalakan kambing, dan ini sebenarnya adalah pekerjaan kaum perempuan dan dianggap bukan kerjaan lelaki oleh orang-orang Arab. Bayarannya rendah dan dia bergantung pada kemurahan hati pamannya.
Menikah dengan Khadijah 
Akhirnya, ketika Muhammad berusia 25, Abu Talib mencarikannya pekerjaan sebagai bendahara di sebuah perusahaan milik wanita pedagang kaya yang juga masih saudara jauh, bernama Khadijah. Khadijah berusia 40 tahun, dia adalah seorang janda yang sukses dalam berdagang. Muhammad melakukan satu perjalanan ke Syria untuk memenuhi perintah Khadijah dengan menjual dagangannya dan membeli pesanannya. Ketika dia kembali, Khadijah jatuh cinta pada Muhammad, dan meskipun Muhammad hanyalah pelayannya, Khadijah melamar Muhammad untuk menikah dengannya. 

Muhammad butuh dukungan finansial dan emosional. Baginya, pernikahan dengan Khadijah merupakan untung besar. Dari Khadijah, dia bisa mendapatkan kasih sayang keibuan yang tidak didapatkannya sejak kecil, dan juga jaminan keuangan sehingga dia tidak perlu kerja lagi. Khadijah dengan senang hati memenuhi segala keperluan suaminya. Dia merasa bahagia dari melakukan kegiatan memberi, mengasuh, dan mengorbankan diri. 

Muhammad tidak suka bekerja. Dia lebih memilih mengasingkan diri dan berkhayal dengan pikiran-pikirannya sendiri. Bahkan sewaktu kecil, dia pun menghindari anak-anak lain dan tidak mau berteman dengan mereka. Dia seringkali menyendiri. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa bahagia dan menikmati kehidupan. Dia jarang tertawa, dan jika dia tertawa, dia menutup mulutnya. Dari sinilah awalnya kebiasaan Muslim menganggap tertawa bukan perbuatan suci. 

Dalam dunianya yang penuh khayalan, Muhammad tidak lagi merasa terasing dan tak diinginkan seperti yang dialaminya ketika kecil, tapi dia merasa dikasihi, dihormati, dipuji, dan bahkan ditakuti. Ketika dunia nyata terlalu berat untuk dihadapi dan dia merasa kesepian, maka dia melarikan diri ke dunia khayalannya, di mana dia bisa menjadi siapapun yang dia inginkan. Tentunya dia telah melakukan hal ini sejak masih sangat kecil ketika hidup di keluarga angkatnya dan menghabiskan waktu sendirian di gurun pasir. Dunia fantasinya yang ideal dan menyenangkan selalu menjadi tempatnya berlindung selama hidupnya. Baginya, dunia fantasi itu sama dengan dunia nyata, hanya jauh lebih menyenangkan. Muhammad tidak membantu Khadijah mengurus ke sepuluh anaknya karena dia lebih memilih menyendiri di gua-gua sekitar Mekah, menghabiskan waktunya seharian di dunianya sendiri, sibuk berkhayal dan bermimpi. 
Footnote:
[8] Muhammad punya empat putri dan tiga putra. Semua anak laki meninggal waktu masih kecil. Anak perempuan mencapai usia dewasa dan menikah, tapi semuanya meninggal di usia muda. Putrinya yang terkecil meninggalkan dua orang putra. Mengapa Amina menyerahkan anak satu-satunya untuk dibesarkan orang lain? Hanya ada sedikit keterangan bagi kita untuk mengerti tentang ibu Muhammad dan keputusan yang diambilnya.
[9] Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang lahir dari ibu yang menderita gejala tekanan jiwa sewaktu mengandung dan setelah melahirkan, mengalami peningkatan jumlah cortisol dan norepinephrine, rendah jumlah dopamine, dan lebih tidak simetris EEG kanan depan. Bayi dari kelompok penderita depresi sewaktu hamil menujukkan kecenderungan asimetri EED kanan depan dan lebih tinggi jumlah norepinephrine. Data ini menyatakan efek psikologi bayi tergantung lebih banyak pada keadaan jiwa ibu sewaktu mengandung daripada setelah melahirkan tapi juga tergantung dari lamanya depresi. ncbi.nlm.nih.gov
[11] Sirat Ibn Ishaq, page 72: Ibn Ishaq (baca Is-haq, nama Arab bagi Isaac) adalah penulis sejarah Muslim, lahir di Medina kira2 85 tahun setelah Hijra (yakni tahun 704, dia meninggal tahun 768). (Hijra adalah pindahnya Muhammad ke Medina dan dimulainya awal penanggalan Arab), Dialah penulis pertama sejarah hidup Muhammad dan peristiwa perang-perangnya. Kumpulan kisahnya tentang Muhammad disebut "Sirat al-Nabi" ("Kisah Hidup sang Nabi"). Buku ini telah hilang. Akan tetapi, kumpulan tulisan Ibn Ishaq dengan catatan-catatan dari Ibn Hisham (mati tahun 834) masih tersedia dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Ibn Hisham mengaku sengaja tidak menyertakan beberapa tulisan Ibn Ishaq yang dianggap memalukan kaum Muslim. Beberapa bagian kisah memalukan ini dikutip oleh Tabari (838–923) yang adalah penulis sejarah terkenal dan paling terkemuka dari Persia dan juga penulis tafsir Qur'an.
[12] W. Montgomery Watt: terjemahan tulisan biografi Muhammad oleh Ibn Ishaq (hal. 36)
[13] Tabaqat Ibn Sa'd p. 21 . Ibn Sa'd (784-845) adalah ahli sejarah, murid dari al Waqidi. Dia membagi tulisannya dalam delapan bagian, dan menamakannya Tabaqat (kategori-kategori). Yang pertama adalah kisah hidup Muhammad (Vol. 1), lalu perang-perangnya (Vol. 2), pengikut-pengikutnya di Mekah (Vol. 3), pengikut-pengikutnya di Medinah (Vol. 4), cucu-cucunya, Hassan dan Hussein dan tokoh-tokoh Muslim yang utama (Vol. 5), para pengikut dan sahabat Muhammad (Vol. 6), pengikut penting berikutnya (Vol. 7) dan beberapa tokoh Muslimah (Vol. 8 ). Kutipan-kutipan Tabaqat yang digunakan di buku ini diambil dari terjemahan dalam bahasa Persia oleh Dr. Mahmood Mahdavi Damghani. Publisher Entesharat-e Farhang va Andisheh. Tehran, 1382 solar hijra (2003 A.D.).
[14] Tabaqat Volume 1, page 107 
[15] The Life of Muhammad by Sir. William Muir Volume II Ch. 1. P. XXVIII
[16] Katib al Waqidi, p. 22
[17] Tabaqat Vol I., hal. 108.
[18] The Life of Muhammad by Sir. William Muir Vol. II Ch. 1. P. XXXIII
[19] Sirat, Ibn Ishaq page. 195.
[20] Abu Abdullah Muhammad Bukhari (c. 810-870) adalah seorang pengumpul hadis atau sunnah, (kumpulan perkataan dan perbuatan Muhammad). Buku kumpulan hadisnya dianggap paling terkemuka. Dia menghabiskan waktu enambelas tahun untuk mengumpulkannya, dan berhasil mendapat 2.602 hadis (9.082 hadis yang diulang isinya oleh sumber pencerita lain). Persyaratan yang ditetapkannya untuk menentukan keaslian hadis sangat ketat dan karenanya kumpulan hadisnya disebut Sahih (tepat, benar). Ada dua ilmuwan Islam lainnya yakni Abul Husain Muslim dan Abu Dawood yang bekerja dengan cara sama seperti Bukhari dalam mengumpulkan hadis. Sahih Bukhari, Sahih Muslim and Sunnan Abu Dawood diakui oleh masyarakat Muslim pada umumnya, terutama Muslmi Sunni, sebagai literatur tambahan bagi Qur’an. 
[21] Bukhari: Volume 4, Book 56, Number 762:
Pengalaman Mistik 
Suatu hari, ketika Muhammad berusia 40 tahun, dan setelah menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah gua seorang diri, Muhammad mengalami pengalaman yang aneh. Dia mulai mengalami kontraksi otot, sakit perut, dan merasa seperti dihimpit kuat-kuat, kejang-kejang otot, kepala dan bibir bergerak-gerak di luar kontrol, berkeringat, dan jantung berdebar-debar. Dalam keadaan ini, dia mendengar suara-suara dan mengaku melihat hantu. 

Dia lari ke rumah ketakutan, gemetar dan berkeringat. “Tutupi aku, tutupi aku,” pintanya kepada istrinya. “O Khadijah, ada apa dengan diriku?” Dia menceritakan semua yang terjadi dan berkata, “Aku takut sesuatu telah terjadi padaku.” Dia mengira kerasukan setan lagi. Khadijah menenangkannya dan mengatakan padanya untuk tidak merasa takut, karena dia sebenarnya didatangi seorang malaikat dan dipilih sebagai nabi. 

Setelah pertemuannya dengan makhluk halus yang disebut istrinya sebagai malaikat Jibril, Muhammad yakin akan status nabinya. Kedudukan nabi menyenangkan hatinya dan memenuhi angan-angannya untuk merasa megah diri. Dia pun mulai berkhotbah. 

Lalu apakah isi pesan khotbahnya? Tidak ada pesan apapun. Yang dia tahu adalah dia telah menjadi seorang rasul. Karena itu, pesan utama hanyalah menyampaikan berita kerasulannya kepada siapapun dan membuat orang percaya bahwa dia adalah seorang rasul. Sebagai hasilnya, orang harus menghormatinya, mencintainya, mentaatinya, dan bahkan takut terhadap dirinya. Setelah berkhotbah selama 23 tahun, inti pesan Muhammad tetaplah sama. Pesan utama Islam adalah Muhammad adalah seorang rasul dan orang harus taat padanya. Siapapun diharapkan untuk menghormatinya, mencintainya, mentaatinya, dan bahkan takut padanya. Selain dari itu, tiada pesan apapun. Yang tidak mau taat akan dihukum, baik di dunia fana maupun dunia baka. Keesaan Tuhan yang menjadi dasar agama Islam, awalnya bukan merupakan bagian pesan Muhammad. 

Setelah membuat jengkel masyarakat Mekah selama bertahun-tahun dengan mengejek agama dan dewa-dewa mereka, maka masyarakat Mekah akhirnya tidak mau berhubungan dengan dia dan pengikutnya lagi, termasuk hubungan dagang. Sikap mendiamkan dan boikot ekonomi mengakibatkan banyak kesusahan pada kaum Muslim sehingga Muhammad memerintahkan mereka pindah ke Abyssinia. Akhirnya, untuk menyenangkan hati masyarakat Mekah, Muhammad terpaksa berkompromi. Ibn Sa’d menulis: “Suatu hari sang Nabi berada di kumpulan orang di Ka’bah dan membacakan bagi mereka Sura an-Najm (Sura 53). Ketika sampai di ayat 19-20 yang tertulis, “Apakah kau telah mempertimbangkan Lat dan Uzza, dan Manat, yang ketiga, yang paling akhir? Setan menaruh kedua ayat-ayat itu di mulut sang Nabi. “Mereka cantik, dan ada harapan dalam ibadahnya.”[22] Kata-kata ini menyenangkan hati masyarakat Quraish dan mereka menghentikan boikot ekonomi dan permusuhan. Kabar ini terdengar oleh para Muslim di Abyssinia yang lalu dengan senang balik kembali ke Mekah. 

Tak lama kemudian, Muhammad sadar bahwa mengakui putri-putri Allah sebagai dewi-dewi telah merusak kedudukannya sendiri sebagai satu-satunya perantara bagi Allah dan manusia, dan membuat agamanya tidak beda dengan agama pagan, dan karena itu agamanya jadi tak berguna. Maka dia menarik kembali kedua ayat yang mengakui putri-putri Allah dan menyebutnya sebagai ayat-ayar setan. Setelah itu dia mengeditnya dengan “Apa! Anak-anak lelaki bagimu dan bagiNya anak-anak perempuan! Ini jelas pembagian yang tidak adil!”[23] Artinya, betapa beraninya kamu menyebut Tuhan punya anak-anak perempuan, sedangkan kau sendiri bangga punya anak-anak laki? Kaum perempuan dianggap bodoh dan karenanya tidak layak bagi Allah untuk punya anak-anak perempuan. Memang ini benar-benar tidak adil. Ayat menegaskan bahwa muhammad menganut pandangan bahwa mempunyai anak laki-laki adalah sebuah kehormatan, sedangkan mempunyai anak perempuan adalah sesuatu yg rendah. Karena itu maka tidak pantas bagi Allah untuk mempunyai anak-anak perempuan, sedangkan manusia mempunyai anak-anak lelaki. 

Beberapa pengikut Muhammad meninggalkannya karena kejadian ini. Untuk mensahkan pergantian ayat dan mendapatkan kembali kepercayaan pengikutnya, dia mengaku semua nabi juga kadangkala ditipu setan, yang memberi gagasan secara licik agar mereka mengucapkan ayat-ayat setan dan sepertinya itu datang dari Tuhan. 


Qur’an Al-Hajj (22) ayat 52-53 
(52) Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (53) agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat 

Muhammad menulis ayat-ayat di atas karena beberapa pengikutnya sadar dia mengarang Qur’an sesuai situasi dan kondisi yg hanya menguntungkan bagi dirinya sendiri, sehingga mereka lalu meninggalkannya. Yang dikatakan Q 22:52-53 sebenarnya adalah: Jika aku, Muhammad, ngawur dan tertangkap basah olehmu, maka itu adalah salahmu sendiri karena hatimu rusak. 


Tiga belas tahun telah berlalu dan Muhammad hanya punya sekitar 70 sampai 80 orang pengikut. Istrinya yang tidak hanya menafkahinya, tapi juga mengaguminya, memujanya, memujinya, dan dia adalah pengikut Muhammad yang pertama. Posisi sosialnya yang terhormat meyakinkan orang-orang lain seperti Abu Bakar, Othman (Usman) dan Omar untuk bergabung jadi pengikut Muhammad pula. Selain dari mereka, pengikut Muhammad yang lain adalah para budak yg bodoh milik orang-orang kaya Quraish, dan beberapa pemuda pengangguran yang tak punya pengaruh.
Kebohongan Penindasan 
Ajakan Muhammad kepada masyarakat Mekah untuk masuk Islam tidak digubris. Masyarakat Mekah, sama seperti kebanyakan non-Muslim di jaman modern, bersikap toleran terhadap semua agama. Di jaman itu, tidak ada penindasan dengan alasan agama. Secara alami, masyarakat polytheis memang umumnya toleran terhadap agama lain. Memang mereka tersinggung ketika Muhammad menghina dewa-dewa mereka, tapi mereka tidak melukai Muhammad. 

Muhammad mengajak pengikutnya meninggalkan Mekah. Dengan sendirinya, mereka yang tinggal di Mekah tidak suka akan hal ini. Sanak keluarga Muslim dan juga majikan-majikan budak yang memeluk Muslim tidak merasa suka. Beberapa budak Muslim yang mencoba melarikan diri ditangkap dan dipukuli. Ini tentunya bukan penindasan agama. Orang-orang Mekah hanya ingin mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai harta milik mereka. Contohnya, ketika Bilal (Muslim kulit hitam) ditangkap, majikannya yang bernama Umaiyah memukuli dan merantainya. Abu Bakr membeli Bilal dan memerdekakannya. Bilal dihukum majikannya karena mencoba melarikan diri, dan ini berarti majikannya akan kehilangan budak yang dianggap harta milik. Jadi Bilal tidak dihukum karena dia memeluk Islam. Ada pula kisah-kisah tentang Muslim yang dipukuli anggota keluarga mereka karena masuk Islam. Sebuah hadis mengisahkan Omar sebelum jadi Muslim mengikat saudara perempuannya dan memaksanya meninggalkan Islam.[24] Omar memang tidak toleran dan suka main pukul sebelum dan sesudah memeluk Islam. Di Timur Tengah, pengertian individualisme tidak dikenal. Yang kau percaya dan lakukan adalah urusan keluarga juga. Hal ini terutama berlaku bagi para wanita yang tidak dapat membuat keputusan mereka sendiri. Bahkan saat modern sekarang pun, para Muslimah dapat dibunuh keluarganya (bunuh demi harkat kehormatan – honor killing) jika mereka berkeputusan menikahi pria pilihan mereka sendiri tanpa minta persetujuan keluarganya. 

Ada pula kisah penindasan terhadap seorang Muslimah yang bernama Summayyah. Ibn Sa’d adalah satu-satunya penulis sejarah yang menyatakan Summayyah mati sebagai martir di tangan Abu Jahl. Al-Bayhaqi yang mengutip tulisan Ibn Sa’d berkata, “Abu Jahl menusuk kemaluannya.” [25] Jika kejadian martir ini benar-benar terjadi; maka hal ini akan disiarkan dengan hebat oleh setiap penulis biografi dan dilaporkan berulang-ulang dalam ahadis (kumpulan hadis). Ini adalah contoh di mana sejarawan Muslim dari awal memang sering mengarang sendiri kejadian sejarah Islam. 

Apalagi Ibn Sa’d sendiri juga menyatakan bahwa Bilal adalah martir yang pertama. Bilal telah lama selamat dari penindasan majikannya, dan dia kembali lagi ke Mekah saat kota itu ditaklukkan Muhammad. Bilal lalu mengumandangkan Azan di atap Ka’bah. Dia meninggal karena alasan alamiah. 

Beberapa sumber Islam mengatakan bahwa suami Summayyah yang bernama Yasir dan putra mereka yang bernama Ammar dibunuh di Mekah. Akan tetapi Muir juga menunjukkan bahwa setelah Yasir meninggal karena alasan alamiah, Summayyah menikah dengan budak Yunani bernama Azraq dan dari pria ini dia punya anak yang bernama Salma.[26] Kalau begitu, bagaimana bisa Summayyah mati dibunuh? Azraq tinggal di Taif (tak jauh dari Mekah). Lima belas tahun kemudian, Muhammad mengepung Taif. Azraq merupakan salah satu dari beberapa budak Taif yang membelot ke perkemahan Muhammad. Sudah sewajarnya untuk menyimpulkan bahwa setelah kematian Yasir, Summayyah menikah dengan Azraq dan hidup bersamanya di Taif. Jadi kisah kematian Summayyah sebagai martir hanyalah dongeng Islam belaka. 

Muhammad tidak menentang perbudakan. Di waktu kemudian, setelah dia berkuasa, dia memaksa ribuan orang yang merdeka untuk diperbudak. Perintahnya kepada Muslim untuk meninggalkan Mekah mengganggu keadaan sosial dan mengakibatkan kerusuhan. Karena hal itu dan karena sikapnya yang terus menghina agama mereka, maka Muhammad jadi orang yang dibenci masyarakatnya sendiri, yakni masyarakat Quraish. Meskipun demikian, dia dan pengikutnya tidak ditindas gara-gara Islam. Orang-orang Muslim menuduh tanpa bukti. Kaum politheis kebanyakan tidak peduli agama orang lain, karena memang mereka cenderung bersikap pluralistik. Ka’bah adalah tempat 360 patung berhala, setiap patung mewakili suku tertentu. Ada suku Yahudi, suku penganut agama Kristen, Zoroastria, Sabean (agama yang percaya satu Tuhan dan sudah musnah), dan berbagai macam agama lain di Arabia, dan para penganutnya bebas melakukan ibadah agamanya. Ada pula nabi-nabi lain yang juga berkhotbah tentang agamanya. Sikap tidak toleran terhadap kepercayaan lain di Arabia bermula dengan kehadiran Islam. 

Tidak ada bukti penindasan terhadap Muhammad dan Muslim di Mekah. Meskipun demikian Muslim menuduh begitu hanya karena Muhammad mengatakannya. Muslim memang tidak ragu dengan apa yang dikatakan Muhammad. Herannya, beberapa ahli sejarah non-Muslim yang tidak suka Islam bahkan juga terjebak dan mengumumkan ketidakbenaran sejarah ini. Muhammad mengaku sebagai korban, tapi sebenarnya malah dia sendiri yang menindas. Muslim pun melakukan hal yang sama. Di mana-mana Muslim-lah yang membunuh, menindas, dan menekan, tapi mereka sendiri yang menjerit paling keras dan mengaku sebagai korban dan pihak yang ditindas. Untuk memahami kecenderungan ini, kita harus mengerti keadaan jiwa Muhammad dan pengikutnya. Ini akan dibahas di bab berikut.
Hijrah ke Medina 
Karena sibuk mengurus sepuluh anak tanpa bantuan dari suami, Khadijah tidak sempat mengurus bisnisnya, sehingga setelah dia meninggal dunia, keluarganya jadi miskin. Setelah Khadijah meninggal, pendukung lain Muhammad yakni pamannya Abu Talib juga meninggal. Karena kehilangan dua pendukung setianya dan tidak dipedulikan masyarakat Mekah, maka Muhammad mengambil keputusan hijrah ke Medina. Apalagi sebelum hijrah dia sudah mendapat sumpah setia dari beberapa orang Medina untuk mendukungnya. Muhammad memerintahkan para pengikutnya hijrah duluan. Beberapa dari mereka merasa ragu untuk berangkat, sehingga Muhammad mengancam mereka jika mereka tidak mau pergi, maka mereka akan jadi penghuni Neraka. [27] 

Muhammad sendiri tetap tinggal di Mekah. Lalu di suatu malam, dia mengaku Allah memberitahu bahwa musuh-musuhnya berusaha untuk mencelakainya. Dia lalu meminta kawan setianya Abu Bakr untuk menemaninya diam-diam pergi ke Medina. Ayat berikut mengisahkan kejadian tersebut: Q 8:30 
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. 

Dalam ayat Qur’an ini, tampaknya Allah menduga-duga apa yang akan direncanakan orang-orang Mekah. Bukankah ini jelas hasil dari kecurigaan Muhammad saja? Muhammad hidup diantara masyarakat Mekah selama 13 tahun, mengganggu dan menghina agama mereka, sama seperti yang dilakukan Muslim saat ini terhadap agama-agama lain, tapi mereka (agama lain) tetap saja bersikap toleransi terhadap Muhammad. Selain dari tuduhan Muhammad sendiri, tidak ada catatan sejarah yang membuktikan mereka ingin mencelakai dirinya. 

Dalam sejarah yang ditulis para Muslim sendiri, tidak ada bukti penindasan terhadap muhammad. Para kaum tua Quraish yang muak dengan hinaan-hinaan Muhammad melaporkan hal itu kepada pamannya yang sudah tua Abu Talib dan berkata, “Keponakanmu ini telah mengucapkan kata-kata hinaan terhadap dewa-dewa dan agama kami, dan telah mengatakan kami bodoh, dan mengatakan semua kakek moyang kami sesat. Sekarang, kau yang berada di pihak kami silakan balas dia; (karena kau pun mengalami hinaan yang sama), atau jangan lindungi dia agar kami yang membalasnya.” [28] 

Ini bukan ucapan orang-orang yang suka menindas. Ini adalah sebuah permintaan dan peringatan agar Muhammad berhenti menghina dewa-dewa mereka. Bandingkan dengan tindakan kaum Muslim modern ketika nabi mereka digambarkan di beberapa kartun. Muslim-muslim ini mengamuk dan di tempat-tempat jauh seperti Nigeria dan Turki, mereka membunuh hampir 100 orang yang tidak bersalah atas pembuatan kartun-kartun itu. Tapi masyarakat Quraish bertoleransi atas hinaan-hinaan terhadap dewa-dewa mereka selama tiga belas tahun. 

Di malam Muhammad ditemani Abu Bakr melarikan diri ke Medina adalah awal dari sejarah Islam. Di Medina, dia menemukan orang-orang Arab yang tidak semakmur orang-orang Mekah. Tidak seperti orang-orang Mekah, orang-orang Medina tidak tahu tentang latar belakang dan perilaku Muhammad. Karena itu, mereka lebih terbuka menerima ajarannya. 

Muhammad bukanlah orang Arab pertama yang mengaku sebagai nabi. Beberapa orang lain dari bagian Arab lain telah mengaku diri nabi dan mereka adalah saingannya. Yang paling terkenal adalah Musailama yang telah mulai khotbah beberapa tahun sebelum Muhammad mengaku nabi. Tapi tidak seperti Muhammad, Musailama berhasil diterima di kota dan masyarakatnya sendiri. Hal yang menarik lainnya adalah seorang wanita bernama Sijah juga mengaku sebagai nabi dan diapun punya banyak pengikut. Kedua nabi ini mengajarkan monotheisme. Hal ini merupakan bukti meyakinkan bahwa sebelum masa Islam mendominasi Arabia, wanita-wanita lebih dihormati dan punya lebih banyak hak daripada jaman setelah Islam. Tidak ada satupun dari nabi-nabi yang memakai kekerasan untuk mengembangkan agama mereka atau merampok orang lain. Mereka tidak mau menaklukkan daerah-daerah baru atau mendirikan kerajaan, tapi sesuai dengan tradisi nabi dalam Alkitab, mereka hanya ingin berkhotbah dan mengajak umatnya menyembah Tuhan. Muhammad adalah satu-satunya nabi yg doyan perang di Arabia. Nabi-nabi yang lain juga tidak bermusuhan satu sama lain. Mereka bekerja sama dan tidak berseteru untuk mendapatkan pengaruh lebih banyak. 

Masyarakat Arab Medina lebih dapat menerima Muhammad, bukan karena ajarannya yang intinya hanya percaya bahwa dia itu nabi, tapi karena mereka bersaing dengan masyarakat Yahudi. Di daerah Medina banyak terdapat masyarakat Yahudi. Sesuai dengan agama mereka, masyarakat Yahudi merasa mereka sebagai “bangsa pilihan.” Mereka pun lebih kaya dan terpelajar dibandingkan masyarakat Arab, sehingga ini menimpulkan kecemburuan sosial dalam diri masyarakat Arab. Sebagian besar tanah Medina dimiliki orang-orang Yahudi.
Kota Medina adalah kota Yahudi. Kitab al-Aghani[29] mencatat penduduk Yahudi pertama di Medina datang di jaman Musa. Akan tetapi dalam buku abad ke 10 berjudul Futuh al-Buldan (Penaklukan Kota-kota), Al Baladhuri menulis bahwa menurut masyarakat Yahudi, perpindahan penduduk Yahudi kedua terjadi di tahun 587 SM, ketika Raja Babilon bernama Nebuchadnezar menghancurkan Yerusalem dan mengusir kaum Yahudi sehingga tersebar di mana-mana. Di Medina, kaum Yahudi hidup sebagai pedagang, ahli emas, ahli besi, ahli seni, petani, sedangkan kaum Arab adalah kuli dan pekerja yang bekerja bagi kaum Yahudi. Kaum Arab ini datang ke Medina sekitar tahun 450 atau 451 M dan ini berarti paling sedikit 1000 tahun SETELAH kaum Yahudi datang dan hidup di Medina. Kaum Arab pindah ke Medina karena terjadi banjir besar di Yemen yang memaksa suku-suku Arab di daerah Sab mengungsi ke daerah lain di Arabia. Suku-suku ini datang di Medina di abad ke 5 sebagai pengungsi.Setelah kaum Arab ini memeluk Islam, mereka mengusir dan membantai tuan rumah mereka dan mengambil alih kota. 

Setelah hidup di Yathrib (nama kota asli sebelum diganti nama menjadi Medina), kaum Arab mulai menjarah dan merampoki orang-orang Yahudi. Kaum Yahudi sebagai balasnya berkata sama seperti yang dikatakan orang-orang yang ditindas: jika Juru Selamat mereka datang, maka Dia akan membalas mereka. Ketika kaum Arab mendengar Muhammad mengaku sebagai Rasul Tuhan dan mengumumkan dirinya diramalkan oleh Musa, mereka mengira dengan menerima dia sebagai Rasul dan memeluk Islam, maka mereka dapat menyamai kaum Yahudi. 

Ibn Ishaq menulis: “Sekarang Allah telah mempersiapkan jalan bagi Islam agar mereka (orang-orang Arab) hidup berdampingan dengan kaum Yahudi, yang adalah para ahli kitab dan pengetahuan, ketika mereka dulu adalah orang-orang penyembah banyak dewa dan berhala. Mereka seringkali merampok kaum Yahudi di daerah-daerah mereka, dan jika marah kaum Yahudi biasa berkata pada mereka, ‘Seorang nabi akan segera dikirim. Harinya segera tiba. Kami akan mengikutnya dan membunuh kalian dengan bantuannya…. Jadi ketika mereka mendengar pesan nabi, mereka berkata satu sama lain: ‘Inilah nabi yang diperingatkan kaum Yahudi pada kita. Jangan biarkan mereka menemukannya sebelum kita!”[30] 

Sungguh ironis bahwasanya agama Yudaisme dan kepercayaan akan datangnya Juru Selamat ternyata jadi dasar kekuatan Islam. Tanpa hal ini, Muhammad tidak akan pernah punya pengikut dan Islam akan cepat mati sama seperti aliran-aliran sesat lainnya.
Sekali lagi, hanya sedikit atau bahkan tidak ada bukti yang mendukung tuduhan-tuduhan Muhammad bahwa masyarakat Mekah menindas kaum Muslim. Tuduhan ini diulang-ulang terus-menerus oleh sejarawan-sejarawan Muslim maupun non-Muslim. Kemaharan dan sikap permusuhan terhadap Muslim adalah akibat dari perbuatan Muhammad itu sendiri. Ini jelas tidak sama dengan apa yang dilakukan Muslim saat ini atau semua penindasan yang dilakukan Muslim terhadap pengikut-pengikut ajaran non-Islam. Muhammad sendiri, bukan orang-orang Mekah, yang menyuruh Muslim meninggalkan rumah mereka. Muhammad bahkan menjanjikan ini: Q16:41 
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui 

Orang-orang Mekah yang hijrah ke Medina tidak punya mata pencarian. Jadi bagaimana Muhammad memenuhi janjinya untuk memberikan “tempat yang bagus” pada mereka yang meninggalkan rumah mereka karena perintahnya? Mereka jadi miskin dan tergantung pada belas kasihan orang-orang Medina untuk bisa hidup. Muhammad nyaris kehilangan wibawanya. Para pengikutnya mulai berbisik-bisik tidak puas. Beberapa malah meninggalkannya. Reaksi Muhammad adalah ayat ancaman baru: Q 4:89 
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, ...

Apakah arti ayat di atas yang berisi larangan berteman dan ancaman bunuh yang menuduh kaum Mekah mengusir Muhammad dan pengikutnya meninggalkan tempat tinggal mereka? Dalam ayat ini, Muhammad mengatakan pada pengikutnya untuk membunuh Muslim lain yang meninggalkannya dan berniat kembali ke Mekah. Hal ini persis seperti yang terjadi di tempat jemaat Jim Jones (pemimpin sebuah sekte sesat) di Guyana, di mana Jim Jones memerintahkan orang-orangnya untuk menembaki siapapun yang berusaha melarikan diri. Semua ini diciptakan untuk mengasingkan jemaatnya sehingga dia bisa mengendalikan dan mencuci-otak mereka dengan lebih mudah. Jika seseorang jauh dari keluarga dan teman-temannya, dan bergabung dengan sebuah aliran yang mengelabui pikirannya, maka orang itu akan sukar berpikir kritis dan sukar mempertanyakan kekuasaan pemimpinnya.[31]
Pecah-Belah dan Jajah 
Meskipun telah mengeluarkan ayat-ayat panik penuh ancaman bagi mereka yang berniat meninggalkannya, Muhammad tetap saja harus menemukan jalan untuk menafkahi pengikut-pengikutnya. Dia lalu memerintahkan mereka untuk merampok kafilah-kafilah pedagang Mekah. Dia meyakinkan mereka bahwa masyarakat Mekah telah mengusir mereka ke luar dari rumah mereka, karena itu sudah jadi hak mereka untuk merampok orang-orang Mekah tersebut. 
Q.22:39-40, (39) Diizinkan berperang bagi orang-orang (Islam) yang diperangi (oleh golongan penceroboh), kerana sesungguhnya mereka telah dianiaya dan sesungguhnya Allah Amat Berkuasa untuk menolong mereka (mencapai kemenangan). (40) Iaitu mereka yang diusir dari kampung halamannya dengan tidak berdasarkan sebarang alasan yang benar, (mereka diusir) semata-mata kerana mereka berkata: Tuhan kami ialah Allah... 

Dia juga mengeluarkan banyak ayat-ayat Qur’an yang membujuk pengikutnya memerangi non-Muslim. 
Q.8:65, Wahai Nabi, perangsangkanlah orang-orang yang beriman itu untuk berperang. Jika ada di antara kamu dua puluh yang sabar, nescaya mereka dapat menewaskan dua ratus orang (dari pihak musuh yang kafir itu) dan jika ada di antara kamu seratus orang, nescaya mereka dapat menewaskan seribu orang dari golongan yang kafir, disebabkan mereka (yang kafir itu) orang-orang yang tidak mengerti. 

Muhammad menghalalkan serangan-serangan ini melalui cara yang kita kenal saat ini sebagai pihak yang jadi korban, sama persis seperti yang dilakukan Muslim masa kini. Dia mengaku non-Muslim telah menekan kaum Muslim dan melakukan perang terhadap mereka. Pada kenyataannya, dia sendiri yang memulai permusuhan dengan merampoki kafilah-kafilah Mekah. Begitu dia mulai cukup tentara yang bersedia melakukan perintahnya, Muhammad pun memerintahkan mereka membunuhi para pedagang Quraish pula. Kebohongan Muhammad sudah jelas tampak. Di satu ayat, Muhammad memerintahkan para pengikutnya hijrah ke Medina dan mengancam mereka yang tidak ingin ikut dengan pembunuhan dan neraka. Tapi di ayat-ayat lain dia menuduh bahwa Muslimlah yang diusir tanpa sebab dan mereka jadi korban “yang diperangi.” 

Simak kata kiasan Arab berikut: Darabani, wa baka; Sabaqani, wa'shtaka “Dia memukulku dan mulai menangis; lalu dia datang padaku dan menuduhku memukulnya!” Kiasan ini dengan tepat menggambarkan modus operandi (siasat) Muhammad. Para pengikutnya saat ini juga melakukan permainan kotor serupa. Siasat Muhammad ini ternyata sukses sekali. Dia berhasil membuat anak-anak lelaki berperang melawan ayah-ayah mereka, mengadu domba saudara kandung lawan saudara kandung, dan menghancurkan persatuan suku, mencerai-beraikan masyarakat. Dengan menggunakan siasat ini, dia akhirnya dapat menguasai seluruh Arabia. Jangan mengira bahwa orang-orang Arab itu bodoh sehingga mereka mudah diakali. Bahkan sekarang pun, orang-orang Barat yang beralih memeluk Islam sebenarnya melakukan hal yang sama dengan yang orang-orang Arab lakukan pada sukunya sendiri 1.400 tahun yang lalu. John Walker Lindh memeluk Islam dan pergi ke Afghanistan untuk berperang bagi Al-Qaida melawan Amerika. Joseph Cohen adalah Yahudi ortodox yang lalu memeluk Islam dan sekarang dia berkata membunuh orang-orang Israel, termasuk anak-anak sekalipun adalah perbuatan halal. Yvonne Ridley, wartawan BBC yang dulu menyelundup masuk Afghanistan tahun 2001 dan ditangkap Taliban, masuk Islam setelah dibebaskan. Sekarang dia benci sekali terhadap negaranya sendiri yang disebutnya “negara ketiga yang paling dibenci di dunia” (tampaknya setelah Amerika dan Israel). Ridley mendukung bom bunuh diri dengan menyebutnya “tindakan martir,” dan menjuluki Abu Musab al-Zarqawi sebagai pahlawan, padahal sudah jelas Zarqawi membunuhi ribuan orang Irak dalam kampanye berdarah di Irak dan jadi otak pemboman di Yordania yang membunuh 60 orang dan mencederai 115 orang di sebuah pesta perkawinan. Ridley juga mengatakan bahwa pemimpin teroris Chechnya bernama Shamil Basayev yang mendalangi penyanderaan penonton bioskop Moskow dan pembantaian anak-anak sekolah di Beslan sebagai “martir yang pasti masuk surga.” Menumbuhkan rasa benci ternyata berhasil bagi orang-orang Arab dan semua yang sekarang menyebut diri sebagai Muslim.
Footnote:
[22] Tabaqat Volume I, halaman 191
[23] Qur’an, 53:19-22
[24] Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 207
[25] Al-Dalaa’il, 2/282
[26] Sir William Muir: The Biography of Mahomet, and Rise 0f Islam. Chapter IV page 126
[27] Qur’an 4:97: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali
[28] Sir William Muir, Life of Muhammad, Vol. 2, bab 5,. hal. 162.
[29] Beberapa jilid puisi yang dikumpulkan oleh Abu al-Faraj Ali dari Esfahan. Kumpulan ini terdiri dari puisi-puisi dari literatur Arab tertua mulai dari abad ke 9 M. Ini merupakan sumber keterangan penting tentang masyarakat Islam kuno.
[30] Sirat Rasul Allah oleh Ibn Ishaq, hal.197
[31] Jalal al-Din al-Suyuti menulis: “sekelompok orang dari Mekah masuk Islam dan berima; sebagai akibatnya, para sahabat di Mekah menulis surat kepada mereka dan meminta mereka untuk melakukan hijrah; karena jika mereka tidak mau, maka mereka tidak dianggap sebagai Muslim. Mereka setuju dan meninggalkan Mekah tapi kemudian segera disergap orang-orang kafir (Quraish) sebelum mencapai tujuan; mereka dipaksa murtad, tapi tidak mau.” [Jalal al-Din al-Suyuti "al-Durr al-Manthoor Fi al- Tafsir al-Ma-athoor," vol.2, p178;]. Suyuti menulis di salah satu Hadis Rasul Allâh berkata, “Tiada Hijra (dari Mekah ke Medina) setelah Mekah ditaklukan, tapi Jihad dan tujuan baik tetap dilakukan; dan jika kau diperintahkan (oleh pemimpin Muslim) untuk berperang, maka segeralah berperang.”
Ini menunjukkan bahwa sebelum Mekah ditaklukan, hijrah ke Mekah merupakan kewajiban bagi Muslim. Ini merupakan bukti tambahan bahwa Muslim dipaksa Muhammad untuk meninggalkan rumah mereka, sedangkan sanak keluarga mereka berusaha berbagai cara untuk mencegah orang-orang yang mereka kasihi mengikuti Muhammad. 
Jalal al-Din al-Misri al-Suyuti al-Shafi`i al-Ash`ari, yang dikenal juga sebagai Ibn al-Asyuti (849-911) adalah imam mujtahid imam dan pembaharu Islam abad ke 10. Dia adalah ahli hadis, hukum Islam, Sufi, filologis, dan sejarah. Karyanya terdapat di setiap ilmu pengetahuan Islam.
JANJI-JANJI HADIAH SURGAWI 

Beberapa ayat Qur’an memerintahkan para Muslim menyerang orang-orang tak berdosa dan merampoki mereka, dengan hadiah di dunia baka dan fana. 
Q. 48:20 Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang kamu akan mengambilnya,.. 
Untuk mematikan nurani pengikutnya dari rasa bersalah karena melakukan perampokan, Muhammad membuat Allah berkata: “Nikmatilah apa yang kamu ambil dalam perang, sebagai benda yang halal lagi baik” [32] 


Orang yang tidak mengenal gaya tulis Muhammad (sebenarnya, melafal, karena dia buta huruf) mungkin heran bagaimana perintah merampok orang lain bisa selaras dengan perintah takut akan Allah. Tapi mereka yang dapat membaca Qur’an dalam bahasa Arab bisa menemukan irama suara yang serupa, dan Muhammad sering menambah kata-kata atau kalimat-kalimat yang tidak pada tempatnya, seperti “takut akan Allah,” “Allah maha pengampun,” “Dia yang maha tahu lagi bijaksana,” dll., hanya untuk membuat ayatnya terdengar berirama sama. Sikap takut akan kemarahan Tuhan tapi di waktu yang sama melakukan perampokan dan pembunuhan atas orang-orang tak berdosa merupakan dua hal yang bertentangan.Dengan mengatasnamakan Tuhan atas tindakan perampokan, pembantaian, dan pemerkosaan, Muhammad telah menurunkan standard moral pengikutnya yang menghalalkan perbuatan jahat. Perampokan diubah jadi perampokan suci, pembunuhan diubah jadi pembunuhan suci, dan kejahatan diperintahkan dan bahkan dimuliakan. Dia meyakinkan para pengikutnya bahwa mereka yang berperang demi Islam akan dapat hadiah, tidak hanya hadiah jarahan perang tapi juga pengampunan dosa-dosa mereka. 

Banyak kejahatan-kejahatan yang dilakukan Muslim selama berabad-abad berasal dari ayat-ayat ini dan yang serupa lainnya. Amir Tîmûr-i-lang, yang dikenal juga dengan nama Tamerlane (1336-1405), adalah seorang kejam yang menjadi Kaisar melalui tindakan-tindakan banditnya. Dalam autobiografinya yang berjudul Sejarah Perangku melawan India (The History of My Expedition against India), dia menulis: Tujuan utamaku datang ke Hindustan (India) dan melampaui semua kesusahan adalah untuk mencapai dua hal. Pertama adalah perang melawan kafir, musuh Islam; dan dengan melakukan perang agama ini aku akan mendapatkan surga di alam baka. Yang kedua adalah untuk barang-barang duniawi; tentara Islam harus mendapatkan sesuatu dari menjarah kekayaan dan harta kafir: menjarah dalam perang adalah sama halalnya dengan air susu ibu mereka bagi Muslim yang berperang bagi agamanya, dan meminumnya adalah halal dan terhormat.[33] 

Bahkan kalaupun kita beranggapan bahwa ke delapan puluh Muslim yang hijrah memang dipaksa ke luar oleh orang-orang Mekah, bagaimana tindakan ini bisa mengesahkan perampokan kafilah-kafilah tersebut? Harta benda para kafilah ini belum tentu milik orang-orang yang dulu mengusir Muslim. Apakah setiap orang yang berpikir dirinya ditindas di suatu kota lalu boleh-boleh saja melakukan tindakan balas dendam terhadap siapa saja penduduk kota itu? Para Muslim juga menggunakan logika yang sama ketika mereka membom dan membunuh orang-orang tak berdosa. Jika mereka mengira suatu negara tidak bersikap ramah terhadap mereka, lalu mereka pikir boleh-boleh saja membalas dendam dengan cara membunuh siapa saja warga negara itu yang tak berdosa. Semua yang dilakukan Muslim jaman sekarang yang mengherankan dunia adalah sama dengan tindakan Muhammad. 

Di bagian 22, ayat 23 dalam Qur’an, Allah memberi ijin berperang. Ini adalah ayat yang sama yang ditulis Osama Bin Laden di suratnya kepada Amerika. Apakah sekarang kita bisa berkata bahwa Islam tidak ada hubungannya dengan terorisme?
Perintah Melakukan Kekerasan 
Di Medina, pendatang Muslim dari Mekah hanya beberapa orang saja. Agar lebih berhasil dalam usaha penyerangannya, Muhammad butuh bantuan dari Muslim baru asal Medina, yang disebutnya sebagai ‘Ansar’ (pembantu). 

Akan tetapi, orang Medina tidak memeluk Islam untuk merampok kafilah dan berperang. Percaya pada Allah adalah satu hal, sedangkan menyerang, menjarah, dan membunuh orang merupakan hal yang lain sama sekali. Sebelum Muhammad datang, orang Arab tidak mengenal agama perang. Bahkan saat jaman modern sekalipun, terdapat para Muslim yang percaya pada Allah tapi tidak mau berperang dan membunuh bagi agamanya. Untuk membujuk pengikut seperti ini, Muhammad membuat Allah mengeluarkan perintah ini: 
Q. 2:216 Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 

Tak lama kemudian, usaha sang Nabi gadungan ini mulai berbuah. Terdorong keserakahan ingin dapat harta jarahan dan janji-janji hadiah surgawi, maka Muslim Medina bergabung melakukan perampokan dan penjarahan. Setelah tentara Muhammad bertambah banyak dan ambisinya semakin membengkak, dia pun mendongkrak posisinya dengan tidak hanya memerintahkan pengikutnya berperang baginya “di jalan Allah” tapi juga harus bayar biaya perang sekalian. 
Q. 2:195 Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. 

Perhatikan bagaimana Muhammad menghubungkan “perbuatan baik” dengan menjarah, meneror, dan membunuh. Dengan memutarbalikkan moralitas seperti inilah maka Muslim dapat mengesampingkan nurani mereka dan menganut etika terbalik dalam memperlakukan non-Muslim, yang harus terus dimanfaatkan demi keuntungan Muslim. Apapun keadaan yang menguntungkan Muslim dianggap baik. Muhammad membuat pengikutnya percaya bahwa melakukan perang baginya dan melakukan tindakan terorisme dalam Islam merupakan perbuatan yang menyenangkan Tuhan. 

Saat ini, para Muslim yang tidak sanggup berperang, menggantinya dengan menyumbangkan zakat. Zakat ini tidak untuk membangun rumah sakit, yayasan yatim piatu, sekolah atau rumah jompo. Sebaliknya, zakat ini digunakan untuk mengembangkan Islam, untuk membangun mesjid, madrasah, melatih teroris, dan membiayai jihad. Badan-badan sosial Islam membantu kaum miskin hanya demi tujuan politis semata. Contoh yang tepat bisa dilihat dari banyaknya jumlah uang yang dibayar Pemerintah Iran kepada Hezbollah di Lebanon. Sumbangan ini tentunya bukan untuk tujuan sosial. Kebanyakan masyarakat Iran saat ini hidup dalam kemiskinan. Mereka yang beruntung bisa kerja, berusaha hidup dengan gaji tak lebih dari $100 per bulan. Mereka sangat butuh sandang, pangan, papan. Kenapa Pemerintah Iran malah memberi uang negara ke Lebanon dan bukannya menolong rakyat sendiri? Tujuannya adalah untuk membuat Islam terasa manis di mulut orang Lebanon dan membujuk mereka berperang melawan Israel. Jika orang-orang tidak cukup menyumbang bagi usaha militernya, Muhammad dengan marah akan menegur mereka: 
Q.57:10 Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang memusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. 

Dengan cerdik Muhammad menyamakan uang yang dikeluarkan Muslim bagi usaha militernya sebagai “pinjaman” yang diberikan kepada Tuhan, dan menjanjikan mereka “bunga illahi” bagi uang mereka: 
Q.57:11 Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,..

Dengan cara ini, dia membuat pengikutnya percaya bahwa Allah berhutang pada mereka karena membantu Muhammad dalam perang-perang penjajahannya. Dia bahkan lebih mempermanis perjanjian utang piutang itu dan membuatnya lebih menggiurkan lagi dengan janji-janji seksual surgawi: 
Q. 71:12 dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. 

Meskipun Muhammad membuat Allah mengatakan pada pengikutnya betapa besar upah Muslim yang menyumbang usaha militernya, tapi dia tidak mau pengikutnya bangga terhadap sumbangan dan pengorbanan mereka. Berkorban itu adalah keberuntungan. Pengikutnyalah yang harus berterima kasih padanya karena diberi kesempatan melayaninya, dan bukan sebaliknya
Q. 2:262 Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 

Setelah membangkitkan semangat mereka untuk mengobarkan perang dan memerintahkan mereka untuk menebas leher para kafir, Muhammad meyakinkan pengikutnya bahwa “perbuatan-perbuatan baik” mereka tidak akan dilupakan. 
Q. 47:4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. 

Dengan kata lain, Allah dapat membunuh kafir tanpa bantuan Muslim, tapi dia ingin Muslim melakukannya untuk menguji iman mereka. Dengan demikian, Muhammad menggambarkan Allah sebagai gembong mafia, pemimpin gerombolan rampok, yang ingin menguji kesetiaan orang-orangnya dengan menyuruh mereka membunuh. Dalam Islam, iman Muslim akhirnya diuji dari niat membunuh mereka, kesiapan mereka untuk membunuh demi Allah. Maka katanya: 
Q. 8:60 Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). 

Muhammad memberi janji-janji kosong bahwa mereka yang berperang (yang melakukan kegiatan berperang atau yang menyumbang uang) melawan kafir dan menerima dia sebagai rasul Allah akan menerima harta selangit banyaknya di alam baka. Sewaktu menjelaskan hadiah-hadiah ini, dia membualkan kemulukan luar biasa. Dia berjanji akan ada berbagai barang indah dan kepuasan seksual tak terbatas di surga, dan memperingatkan bahaya hukuman bagi mereka yang pedit menyumbang usaha militernya: [34] 
Q. 61:10-11 (10) Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (11) (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, ..

Q. 55:53-56 (54) (Di Surga) Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat. (55) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (56) Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. 

Q. 78:32-34 (32) (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, (33) dan gadis-gadis remaja yang sebaya, (34) dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman). 

Q. 57:7 Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.[35] 

Ayat-ayat di atas dan yang serupa dalam Qur’an dengan mudah menjelaskan mengapa demikian banyak badan Islam yang mengumpulkan zakat ternyata membiayai kegiatan terorisme.[36] Orang awam akan mengira sumbangan sosial (zakat) dan kegiatan terorisme adalah dua hal yang bertentangan, tapi Muslim tidak menganggapnya demikian. Zakat dilakukan untuk menyebarkan Islam dan mendukung jihad. Bagi orang awam, ini adalah tindakan terorisme; tapi bagi Muslim, ini adalah perang suci, suatu kewajiban dan tindakan tersuci dalam pandangan Allah. 

Karena itu, berperang demi Allah menjadi kewajiban dalam Islam yang mengikat semua Muslim. Muhammad membuat Muslim Mekah yang hijrah ke Medina untuk melawan masyarakat Mekah mereka sendiri, dan menyebut perbuatan ini sebagai balas dendam terhadap mereka yang menindas Muslim. 
Q. 8:40 Perangi sampai tiada fitnah (perlawanan) lagi dan agama adalah agama Allah. 

Ketika beberapa pengikutnya ragu-ragu untuk berperang, dia menegur mereka untuk taat padanya sambil “mengeluarkan” ayat-ayat baru dari Allâh yang mengancam mereka yang tidak taat. 
Q. 47:20 orang-orang yang beriman berkata: "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?" Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka 

Dari ayat-ayat ini bisa dilihat bahwa Islam itu adalah agama perang. Selama orang percaya pada Islam dan mengira Qur’an adalah firman Tuhan, terorisme Islam akan selalu menang. Muslim yang berusaha memperbaharui Islam, bersikap toleran, dan mengadakan “dialog antar iman dan budaya” dengan mudah diberangus oleh otoritas Qur’an yang memuat begitu banyak ayat-ayat yang memerintahkan Muslim berperang melawan kafir. 
Q. 4:84 Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya). 

Ayat-ayat ini menjamin keberhasilan bagi Muslim: 
Q. 4:141 … Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. 

Dan janji-janji hadiah illahi: 
Q. 9:20 Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.[37] 

Ilmuwan-ilmuwan Muslim di manapun menyuarakan dorongan untuk melakukan kekerasan. Tokoh agama utama Arab Saudi, sang Mufti Agung, membela semangat jihad atau perang suci sebagai hak yang diberikan Tuhan. “Penyebaran Islam terjadi dalam beberapa tahap, rahasia, dan lalu umum, di Mekah dan Medina,” yang adalah kota-kota tersuci dalam Islam, kata Sheikh Abdel Aziz Al Sheikh dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh badan berita Pemerintah SPA. “Tuhan memerintahkan Muslim untuk membela diri dan berperang terhadap siapapun yang menentang mereka, dan ini merupakan hak yang dihalalkan oleh Tuhan. Ini merupakan hal yang sangat masuk akal dan tidak dibenci Tuhan,” katanya. [38] 

Imam Arab Saudi paling senior menjelaskan bahwa perang bukanlah pilihan utama Muhammad: “Dia memberi tiga pilihan: menerima Islam, atau menyerah dan bayar pajak jizya dan mereka boleh tetap tinggal di tanah mereka dan melakukan ibadah mereka di bawah perlindungan Muslim.” Pak Mufti Agung memang benar. Kekerasan terhadap non-Muslim memang merupakan pilihan terakhir, jika non-Muslim tidak mau memeluk Islam atau menyerah kepada tentara Islam. Para perampok bersenjata lain juga tidak melakukan kekerasan jika korban mereka menyerah dan tak melawan. Memang para kriminal biasanya menggunakan kekerasan hanya jika korbannya melawan. 

Aku melakukan perdebatan di internet melawan Javed Ahmed Ghamidi, yang dipandang sebagai ahli Islam Pakistan paling terkemuka. Melalui muridnya yang bernama Dr. Khalid Zaheer, Ahmed Ghamidi menulis:“Pembunuhan yang dinyatakan di Qur’an ditujukan bagi mereka yang bersalah melakukan pembunuhan, atau melakukan kekacauan di bumi, atau mereka yang tidak layak hidup di dunia karena menolak pesan Tuhan yang sudah jelas disampaikan dan dimengerti.” Pak Ghamidi adalah Muslim moderat. Akan tetapi, dia tahu sekali agamanya dan yakin mereka yang menolak Islam “tidak layak hidup di dunia lagi” dan harus dibunuh. [39] 


Footnote:
[32] Qur’an, 8:69. Juga lihat Qur’an, 8:74: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah (untuk membela Islam) dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia yang mulia..”
[33] Malfuzat-i Timuri, atau Tuzak-i Timuri, oleh Amir Tîmûr-i-lang dalam The History of India as Told by its own Historians. The Posthumous Papers of the Late Sir H. M. Elliot. John Dowson, ed. 1st ed. 1867. 2nd ed., Calcutta: Susil Gupta, 1956, vol. 2, pp. 8-98.
[34] Qur’an, Bagian 47, Ayat 38: “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).
[35] Lihat juga Qur’an bagian 63, ayat 10.
[36] Dalam sebuah laporan yang diumumkan kepada umum oleh Pengadilan Pemerintah di Virginia pada tanggal 19 Agustus, 2003, menyatakan bahwa badan zakat Muslim menyumbang $3,7 juta kepada BMI, Inc., yang adalah perusahaan investasi Islam swasta di New Jersey dan perusahaan ini diduga menyalurkan uang kepada kelompok-kelompok teroris. Uang itu adalah bagian dari sumbangan $10 juta dari berbagai donatur tanpa nama di Jeddah, Arab Saudi. Link 
Juga di tanggal 27 July, 2004, Departemen Pengadilan AS, mengungkapkan pengumpulan zakat Muslim terbesar dalam negeri dan tujuh dari para tokoh utama dituduh menyalurkan uang sebesar $12,4 juta selama enam tahun kepada orang-orang dan kelompok-kelompok yang berhubungan dengan Gerakan Perlawanan Islam atau Hamas, yang adalah kelompok Palestina yang dianggap Pemerintah AS sebagai organisasi teroris. Link
[37] Juga lihat Qur’an, Bagian 8, Ayat 72: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah … Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” 
Juga Qur’an Bagian 8, Ayat 74: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.
PENYERANGAN 

Orang Muslim biasanya bangga untuk membicarakan “peperangan” Muhammad. Kebanggaan ini tiada dasarnya. Muhammad menghindari perang sebenarnya. Dia lebih memilih penyergapan atau penyerangan mendadak sehingga dia bisa mengalahkan korban-korbannya yang kaget dan membantainya sewaktu mereka tidak siap dan tidak bersenjata. 

Di sepanjang sepuluh tahun hidupnya, setelah hijrah ke Medina dan merasa kuat di tengah-tengah pengikutnya, Muhammad melalukan 74 penyerangan.[40] Beberapa dari penyerangan ini adalah pembunuhan-pembunuhan atas perorangan saja, dan penyerangan lainnya melibatkan ribuan orang. Dia ikut dalam 27 usaha penyerangan dan ini disebut ghazwa. Penyerangan-penyerangan yang diperintahkannya tapi dia sendiri tidak ikut menyerang disebut sebagai sariyyah. Baik ghazwa maupun sariyyah berarti serangan mendadak atau penyergapan. Jikalau Muhammad ikut menyerang, dia selalu berada di bagian belakang tentaranya, dilindungi tentara khususnya (kopasus). Tiada keterangan manapun dalam biografi Muhammad yang menuliskan dia sendiri bertarung melawan musuh. 

Di salah satu perang yang dikenal sebagai Perang Fijar yang terjadi di Mekah, Muhammad ikut perang diantara paman-pamannya. Saat itu Muhammad berusia dua puluh tahun, dan usahanya adalah mengumpulkan panah-panah musuh sewaktu gencatan senjata dan menyerahkannya kepada paman-pamannya. Muir menulis: Sikap berani dan mahir bersenjata adalah hal yang tidak dimiliki Muhammaddalam sepanjang karirnya sebagai nabi.” [41] 

Muhammad dan pengikutnya menyerang kota-kota dan desa-desa tanpa peringatan, melawan orang-orang sipil tak bersenjata, dengan pengecut membacoki mereka sebanyak mungkin yang bisa dilakukan, mengambil jarahan perang berupa hewan ternak, senjata dan semua harta benda korban, termasuk istri-istri dan anak-anak mereka. Pihak penyerang Muslim kadangkala menyandera para istri dan anak ini dengan tuntutan tebusan uang atau menyimpan/menjual mereka sebagai budak. Berikut adalah contoh kejadian penyerang yang tercatat dalam sejarah Islam: Sang Nabi tiba-tiba menyerang Bani Mustaliq tanpa peringatan ketika mereka sedang tidak siap dan ternak mereka sedang minum di tempat-tempat pengambilan air. Orang-orang yang melawan dibunuh dan para wanita dan anak-anak mereka ditawan; sang Nabi mendapatkan Juwairiya di hari itu. Nafi berkata bahwa Ibn Omar memberitahukan kisah itu padanya dan Ibn ‘Omar adalah salah satu dari tentara tersebut. [42] 
Di perang ini, kata penyampai berita Muslim, “600 orang ditawan oleh tentara Muslim. Diantara barang jarahan terdapat 2.000 unta dan 5.000 kambing.” [43] 

Dunia kaget ketika teroris-teroris Muslim membunuh anak-anak, lalu apologis Muslim dengan cepat mengumumkan pembunuhan anak-anak dilarang Islam. Tapi sebenarnya Muhammad memperbolehkan pembunuhan anak-anak di malam-malam penyerangan. 
Dilaporkan berdasarkan wewenang dari Sa’b b. Jaththama bahwa sang Rasul Allâh s.a.w., ketika ditanya tentang para wanita dan anak2 pagan yang dibunuh di malam penyerangan, berkata: Mereka adalah salah satu dari mereka. [44] 

Tujuan penyerangan Muhammad adalah untuk MENJARAH. Beberapa sumber yang diakui oleh semua Muslim membenarkan agar bisa menang, sang Nabi gadungan menyerang secara tiba-tiba: 
Ibn ‘Aun melaporkan: Aku menulis pada Nafi’ untuk bertanya padanya apakah perlu menawarkan kafir untuk masuk Islam sebelum diperangi. Dia menulis jawaban padaku hal ini penting di masa awal Islam. Rasul Allâh s.a.w. menyerang Banu Mustaliq ketika mereka sedang tidak siap dan memberi minum ternaknya di tempat pengambilan air. Dia membunuh mereka yang melawan dan menawan lainnya. Di hari yang sama dia menangkap Juwairiya bint al-Harith. Nafi’ berkata kisah ini disampaikan padanya oleh Abdullah b. Omar yang termasuk diantara tentara yang menyerang. [45] 

Untuk mengesahkan serangan-serangan biadab terhadap penduduk sipil, sejarawan Muslim seringkali menuduh pihak korban berencana melawan Islam. Akan tetapi, tiada alasan untuk mempercayai adanya suku Arab yang mencoba menyerang Muslim yang pada saat itu adalah gerombolan bandit yang kuat. Sebaliknya, banyak suku yang berdamai dengan Muslim dengan menandatangani perjanjian damai dengan Muhammad agar tidak diserang. Perjanjian-perjanjian damai ini nantinya dilanggar sendiri oleh Muhammad ketika dia sudah merasa kuat secara militer. 

Jarahan tidak hanya memperkaya gerombolan rampoknya. Tapi jarahan juga termasuk budak-budak seks. Juwairiya adalah seorang wanita muda yang suaminya dibunuh, dan dia jatuh ke tangan seorang Muslim. Aisha, istri Muhammad yang paling disayangi dan yang termuda (yang menurut sumber Muslim berusia enam tahun ketika dikawini Muhammad yang saat itu berusia lima puluh empat tahun dan disetubuhi ketika berusia sembilan tahun) menemani Muhammad dalam penyerangan ini dan kemudian menyampaikan: 
Ketika sang Nabi – semoga damai menyertainya – membagi-bagi tawanan Banu Al-Mustaliq, dia (Juwairiya) jatuh ke tangan Thabit ibn Qyas. Juwairiya menikah dengan sepupunya, yang dibunuh dalam perang. Dia bersedia memberi Thabit uang sembilan keping emas untuk kemerdekaannya. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Dia mempesona setiap pria yang melihatnya. Dia datang meminta tolong kepada Nabi. Begitu aku melihatnya di pintu kamarku, aku tidak suka padanya, karena aku tidak dia (Nabi) akan melihatnya sama seperti aku melihatnya. Dia (Juwairiya) masuk dan berkata padanya tentang siapa dirinya, yakni anak dari al-Harith ibn Dhirar, yang adalah kepala suku bangsanya. Dia berkata: “kau tahu masalahku. Aku jatuh ke tangan Thabit, dan berjanji membayar tebusan, dan aku meminta tolong padamu.” Dia berkata: “maukah kau yang lebih baik dari itu? Aku bebaskan utangmu, dan menikahimu.” Dia berkata: “Ya” “Kalau begitu jadilah!” jawab Rasul Allâh. [46] 

Penjelasan ini menjawab semua sangkalan alasan Muhammad sebenarnya atas tindakannya mengawini banyak wanita. Dia dan orang-orangnya membunuh suami Juwairiya dalam penyerangan tiba-tiba tanpa sebab. Juwairiya adalah anak suku Bani Mustaliq dan seorang putri bangsawan. Dari bangsawan lalu dijadikan budak dan dimiliki oleh salah seorang bandit pengikut Muhammad. Akan tetapi, karena dia cantik, maka sang Nabi gadungan menawarkan “kemerdekaan” baginya dengan syarat kawin dengan si Mamad, sang nabi dari gua hira. Apakah ini kemerdekaan? Punya pilihan apakah Juwairiya? Bahkan jika Muhammad benar-benar memerdekakannya, hendak pergi ke mana dia? 

Apologis Muslim bersikeras bahwa kebanyakan istri-istri Muhammad adalah kaum janda. Orang awam bisa menyangka Muhammad mengawini mereka karena ingin menolong. Yang tidak disampaikan Muslim adalah para wanita yang “janda” ini ternyata muda dan cantik, dan para suami mereka dibunuh Muhammad. Juwairiya berusia 20 tahun dan Muhammad 58 tahun. 

Para sejarawan Islam mengaku bahwa Muhammad tidak mau menikahi wanita kecuali jika mereka itu muda, cantik, dan tidak punya anak. Perkecualian adalah Sauda yang berusia sekitar tiga puluh tahunan ketika Muhammad menikahinya agar dia bisa mengurus anak-anak Muhammad. Berdasarkan sebuah hadis, Muhammad berhenti tidur dengannya ketika dia memiliki istri-istri yang lebih cantik dan muda[47], semua istri-istrinya berusia remaja atau awal dua puluh tahunan dan dia sendiri berusia sekitar lima puluh dan enam puluh tahunan. Sejarawan Tabari [48] mengisahkan bahwa Muhammad meminta Hind bint Abu Talib, sepupunya sendiri, untuk menikah dengannya tapi ketika Hind mengatakan dia punya anak, Muhammad tidak mau lagi. Muhammad juga meminta wanita lain bernama Zia’h bint Aamir untuk menikah dengannya, tapi ketika Zia’h menyebut umurnya, Muhammad berubah pikiran.[49] 

Seorang Muslim bernama Jarir ibn Abdullah mengisahkan suatu kali Muhammad bertanya padanya, “apakah kau telah menikah?” Dia mengiyakan. Muhammad lalu bertanya, “Perawan atau janda?” Dia menjawab, “Aku menikahi seorang janda.” Lalu Muhammad berkata, “Mengapa tidak menikah dengan perawan saja agar kau bisa bermain dengannya dan dia denganmu?” [50] 

Bagi Muhammad, wanita tidak lebih daripada obyek seks belaka. Wanita tidak lebih daripada barang kepunyaan. Fungsi wanita adalah untuk menyenangkan suami mereka dan melahirkan anak-anaknya.
Perkosaan 

Muhammad mengijinkan tentaranya untuk memperkosa para tawanan wanita dalam penyerangan-penyerangan yang dilakukan Muslim. Akan tetapi, setelah menangkap para wanita itu, para Muslim menghadapi dilema. Mereka ingin berhubungan seks dengan mereka tapi lalu ingin mendapat uang tebusan sandera dan tidak ingin membuat para tawanan wanita itu hamil. Beberapa dari tawanan wanita ini sudah menikah. Suami mereka ada yang berhasil menyelamatkan diri ketika tiba-tiba diserang dan mereka masih hidup. Tentara Muslim, bandit-bandit Muhammad itu berpikir untuk melakukan azl atau coitus interruptus(mengeluarkan sperma di luar tubuh wanita). Karena tidak yakin apa yang harus dilakukan, mereka datang kepada “sang ketua gank” Muhammad untuk minta nasehat. Ini yang dilaporkan Bukhari: 
Abu Saeed berkata: “Kami pergi bersama Rasul Allâh ke Ghazwa tempat Banu Al-Mustaliq dan kami menerima tawanan-tawanan diantar tawanan-tawanan Arab dan kami berhasrat pada para wanita dan sukar untuk tidak berhubungan seks dan kami senang melakukan azl. Maka ketika kami hendak melakukanazl, kami berkata, ‘Bagaimana kami bisa melakukan azl sebelum bertanya pada Rasul Allâh yang ada diantara kita?’ Kami lalu bertanya padanya dan dia berkata, ‘Lebih baik jangan lakukan (azl) itu, karena jikalau sebuah jiwa (sampai hari kiamat) telah ditakdirkan akan ada, maka jiwa itu akan tetap ada.” [52] 

Perhatikan bahwa Muhammad tidak melarang memperkosa wanita yang ditangkap dalam penyerangan. Sebaliknya, dia malah menjelaskan jika Allah berniat menciptakan sesuatu, maka tiada yang dapat mencegahnya. Yang dilarang si Mamad bukannya memperkosa para tawanan wanita itu, tapi hanya melarang membuang sperma di luar vagina. Dengan kata lain, tanpa sperma sekalipun wanita dapat hamil. Jadi Muhammad memberi tahu para begundalnya bahwa melakukan azl atau coitus interruptus itu percuma saja karena itu bagaikan melawan niat Allah yang tak dapat dicegah. Muhammad tidak mengatakan sepatah katapun yang melarang pemaksaan persemaian seksual terhadap para tawanan wanita itu. Sebaliknya, dengan mengritik azl, dia malah mendukung pemaksaan persemaian lewat hubungan seks. Dalam Qur’an, tuhannya Muhammad menghalalkan untuk berhubungan seks dengan budak-budak wanita, yang disebut sebagai “yang dimiliki tangan kanan,” bahkan sekalipun para wanita itu telah menikah sebelum ditawan.[53] 


PENYIKSAAN
Ibn Ishaq mengisahkan penaklukkan Khaibar. Dia melaporkan bahwa Muhammad tanpa peringatan apapun menyerang benteng-benteng kota ini yang dihuni kaum Yahudi dan membunuh banyak orang-orang tak bersenjata ketika mereka melarikan diri. Seorang yang tertawan bernama Kinana. Ibn Ishaq menulis: Kinana al-Rabi, yang menyimpan harta masyarakat Banu Nadir dibawa menghadap kepada sang Rasul yang menanyakan tentang harta itu. Dia (Kinana) menyangkal mengetahui di mana harta itu. Seorang Yahudi datang (sejarawan Tabari menulis “dibawa menghadap”), kepada sang Rasul dan berkata bahwa dia melihat Kinana pergi ke suatu reruntuhan setiap subuh. Sang Rasul berkata kepada Kinana, “Kau tahu jika kami menemukan harta itu, aku akan membunuhmu?” Dia berkata, “Ya.” Sang Rasul memerintahkan reruntuhan itu dibongkar dan beberapa harta ditemukan. Lalu Rasul bertanya padanya di mana harta yang lain, dan dia tidak mau menjawab, sehingga Rasul memberi perintah kepada al-Zubayr Al-Awwam, “Siksa dia sampai mengaku.” Maka dia menyalakan api dengan batu percik dan besi di atas dada Kinana sampai dia hampir mati. Lalu sang Rasul menyerahkan Kinana kepada Muhammad bin Maslama yang kemudian memancung kepalanya, sebagai tindakan balas dendam atas kematian saudara lakinya Mahmud.[54] 

Di hari yang sama Muhammad menyiksa sampai mati pemuda Kinana, dia juga mengambil istri Kinana yang bernama Safiya yang berusia tujuh belas tahun ke dalam sebuah tenda untuk disetubuhi. Dua tahun sebelumnya, sang Nabi memancung kepala ayah Safiya dan juga seluruh kaum pria Yahudi Bani Qurayza yang telah tumbuh bulu kemaluan. Ibn Ishaq menulis: Sang Rasul menguasai benteng-benteng Yahudi satu demi satu, kemudian mengambil para tawanan. Diantara para tawanan terdapat Safiya, istri Kinana yang adalah kepala masyarakat Khaibar, dan dua wanita saudara sepupu; sang Rasul memilih Safiya untuk dirinya sendiri. Tawanan lainnya dibagi-bagikan diantara para Muslim. Bilal membawa Safiya kepada sang Rasul, dan mereka melewati beberapa mayat Yahudi dalam perjalanan itu. Kerabat wanita Safiya menangis dan menabur debu di atas kepala mereka. Ketika Rasul Allah melihat hal ini, dia berkata, “Singkirkan wanita iblis ini dari hadapanku.” Tapi dia memerintahkan Safiya untuk tetap tinggal, dan menyelubungkan jubahnya kepada Safiya. Dengan ini para Muslim tahu bahwa Muhammad memilih Safiya bagi dirinya sendiri. Sang Rasul menegur Bilal, “Sudah hilangkah kasihanmu sehingga kau bawa para wanita ini melalui mayat suami mereka?” 

Bukhari juga mencatat beberapa hadis tentang penaklukan Muhammad terhadap Khaibar dan tindakan perkosaannya terhadap Safiya; Anas berkata, 'Ketika Rasul Allah menyerang Khaibar, kami melakukan sembahyang subuh ketika hari masih gelap. Sang Nabi berjalan menunggang kuda dan Abu Talha berjalan menunggang kuda pula dan aku menunggang kuda di belakang Abu Talha. Sang Nabi melewati jalan ke Khaibar dengan cepat dan lututku menyentuh paha sang Nabi. Dia lalu menyingkapkan pahanya dan kulihat warna putih di pahanya. Ketika dia memasuki kota, dia berkata, ‘Allahu Akbar! Khaibar telah hancur. Ketika kita mendekati suatu negara maka kemalangan menjadi pagi hari bagi mereka yang telah diperingatkan.’ Dia mengulangi kalimat ini tiga kali. Orang-orang ke luar untuk bekerja dan beberapa berkata, ‘Muhammad (telah datang)’ (Beberapa kawan kami berkata, “Dengan tentaranya.”) Kami menaklukkan Khaibar, menangkap para tawanan, dan harta-benda rampasan dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘O Nabi Allah! Berikan aku seorang budak wanita dari para tawanan.’ Sang Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambil budak mana saja.’ Dia mengambil Safiya bint Huyai. Seorang datang pada sang Nabi dan berkata, ‘O Rasul Allah! Kauberikan Safiya bint Huyai pada Dihya dan dia adalah yang tercantik dari suku-suku Quraiza dan An-Nadir dan dia layak bagimu seorang.’ Maka sang Nabi berkata,’Bawa dia (Dihya) beserta Safiya.’ Lalu Dihya datang bersama Safiya dan ketika sang Nabi melihatnya (Safiya), dia berkata pada Dihya,’Ambil budak wanita mana saja lainnya dari para tawanan.’ Anas menambahkan: sang Nabi lalu membebaskannya dan mengawininya.” 
Thabit bertanya pada Anas,”O Abu Hamza! Apa yang dibayar sang Nabi sebagai maharnya?” Dia menjawab, “Dirinya sendiri adalah maharnya karena dia telah membebaskannya (dari status budak) dan lalu mengawininya.” Anas menambahkan, “Di perjalanan, Um Sulaim mendandaninya untuk (upacara) pernikahan dan malam ini Um Sulaim mengantar Safiya sebagai pengantin sang Nabi.[55] 

Dalam hadis ini diterangkan bagaimana kaum Muslim menyerang kota Khaibar sewaktu subuh dan saat itu masyarakat Khaibar tidak siap. “Yakhrab Khaibar” (Khaibar hancur) kata Muhamad, sewaktu dia menaklukan benteng satu demi satu: “Allahuakbar! Memang jika aku menyinari tepi daerah masyarakat manapun, maka hancurlah mereka hari itu juga!"

Setelah menaklukan kota itu, maka tiba waktunya bagi-bagi jatah harta jarahan. Dihya, salah seorang tentara Muslim, menerima Safiya sebagai bagian jatahnya. Ayah Safiya adalah ketua suku Yahudi Bani Nadir yang dipancung kepalanya atas perintah Muhammad tiga tahun sebelumnya. Setelah Khaibar ditaklukkan, suami Safiya yang masih muda yang bernama Kinana disiksa dan dipancung atas perintah Muhammad pula. Seseorang memberitahu Muhammad bahwa Safiya sangatlah cantik. Lalu Muhammad menawarkan Dihya dua gadis pengganti yakni saudara sepupu Safiya, dan lalu mengambil Safiya bagi dirinya sendiri.
Pembunuhan 

Dunia modern kaget ketika mengetahui beberapa Muslim merasa bahwa satu-satunya cara menghadapi kritik Islam adalah membunuh pengritiknya. Di tahun 1989, Khomeini mengeluarkan fatwa untuk membunuh Salman Rushdie karena Rushdie menulis buku berjudul Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses) yang dianggap menghina Islam. Beberapa orang mencela Khomeini dan menuduhnya sebagai ekstrimis. Herannya, banyak yang menyalahkan Rushdie yang “tidak peka” terhadap orang Muslim yang mudah tersinggung. Di tanggal 14 Februari, 2006, kantor berita Pemerintah Iran melaporkan fatwa itu tetap berlaku selamanya. 

Sejak berkuasa, rezim Islam Iran telah mengenyahkan secara sistematis para penentangnya dengan cara membunuhi mereka, baik yang tinggal di dalam maupun di luar Iran. Ratusan penentang sudah dibunuh dengan cara ini, termasuk Dr. Shapoor Bakhtiar, seorang demokrat dan Perdana Menteri terakhir yang ditunjuk oleh Shah Iran. Yang tidak diketahui khalayak umum adalah pembunuhan merupakan cara Muhammad menghadapi orang-orang yang menentangnya. Saat ini, Muslim yang membunuhi pengritik Islam hanyalah mengikuti contoh perbuatan nabinya. 

Ka’b bin Ashraf adalah salah satu korban Muhammad. Seperti yang ditulis para sejarawan Muslim, Ka’b adalah pria muda yang rupawan, penulis sajak berbakat, dan ketua Banu Nadir, yang adalah salah satu dr suku-suku Yahudi di Medina. Setelah Muhammad mengusir Banu Qainuqa, yang adalah suku Yahudi lain di Medina, Ka’b jadi khawatir akan nasib masyarakatnya terhadap ancaman Muslim. Jadi dia mengunjungi Mekah untuk mencari perlindungan. Dia menyusun puisi dan memuji orang-orang Mekah atas keberanian dan martabatnya. Ketika Muhammad mendengar hal ini, dia pergi ke mesjid, dan setelah sembahyang, dia berkata: 

“Siapakah yang mau membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang telah menyakiti Allah dan Rasulnya?” Berdirilah Maslama dan berkata,”O rasul Allah! Maukah kamu agar aku membunuhnya?” Sang Nabi berkata,”Iya”. Maslama berkata, “Maka izinkan saya untuk berkata sesuatu (yang menipu Ka`b).” Sang Nabi berkata, “Silakan katakan.” 
Maslama mengunjungi Ka`b dan berkata,”Orang itu (Muhammad) menuntut Sadaqa (zakat) darim kami, dan dia telah menyusahkan kami, dan aku datang untuk meminjam sesuatu dari kamu.” Ka`b menjawab, “Demi Allah, engkau akan merasa lelah berhubungan dengan dia!” Maslama menjawab,”Sekarang karena kami sudah mengikuti dia, kami tidak mau meninggalkan dia kecuali dan sampai kami melihat bagaimana nasibnya akhirnya. Sekarang kami mau engkau meminjamkan dua ekor unta dengan satu atau dua buah bekal makanan…. 
Maslama dan kawannya berjanji pada Ka`b bahwa Maslama akan kembali padanya. Dia kembali pada Ka`b pala malam harinya bersama saudara angkat Ka`b, yakni Abu Na'ila. Ka`b mengajak mereka ke bentengnya dan dia pergi bersama mereka. Istrinya bertanya, "Hendak ke manakah kau selarut ini?" Ka`b menjawab,"Maslama dan saudara (angkat) ku Abu Na'ila telah datang." Istrinya menjawab, "Aku mendengar suara seperti darah mengucur dari dirinya." Ka`b menjawab, "Mereka tidak lain adalah saudaraku Maslama dan saudara angkatku Abu Na'ila. Orang dermawan seharusnya menjawab permintaan (untuk datang) di malam hari meskipun (permintaan itu) adalah undangan untuk dibunuh." 
Maslama pergi dengan dua orang dan berkata pada mereka, "Jika Ka`b datang, aku akan menyentuh rambutnya dan mengendusnya (menghirup bau rambutnya), dan jika kalian melihat aku telah mencengkeram kepalanya, tusuklah dia. Aku akan biarkan kalian mengendus kepalanya." 
Ka`b bin al-Ashraf datang pada mereka, pakaiannya membungkus badannya dan menebarkan bau parfum. Maslama berkata, "Aku belum pernah mencium bau yang lebih enak daripada ini." Ka`b menjawab, "Aku kenal para wanita Arab yang tahu bagaimana menggunakan parfum kelas atas." Maslama minta pada ka`b, "Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?" Ka`b menjawab, "Boleh." Maslama mengendusnya dan mengajak kawannya melakukan hal yang sama. Lalu ia minta pada Ka`b lagi, "Maukah engkau mengizinkanku mengendus kepalamu?" Ka`b berkata, "Ya". Ketika Maslama berhasil mencengkeram kepala Ka`b erat-erat, dia berkata (pada kawan-kawannya), "Bunuh dia!" Lalu mereka membunuhnya dan pergi melaporkan hal itu pada sang Nabi. [56] 

Rasul Allah tidak hanya menganjurkan pembunuhan, tapi dia juga merancang penipuan dan pengelabuan. Salah satu korban tindakan pembunuhan Muhammad adalah seorang pria tua bernama Abu Afak, yang dikabarkan berusia 120 tahun. Dia menulis puisi yang isinya menangisi orang-orang yang jadi pengikut Muhammad. Dia menulis bahwa Muhammad adalah orang gila yang dengan sesukanya menetapkan larangan dan ijin kepada orang-orang, yang mengakibatkan mereka kehilangan akal sehat dan jadi benci satu sama lain. Ibn Sa’d melaporkan kisahnya sebagai berikut: 
Lalu terjadi “sariyyah” (serangan) oleh Salim Ibn Umayr al-Amri terhadap Abu Afak, orang Yahudi, di bulan Shawwal di awal bulan ke duapuluh sejak Rasul Allah hijrah (pindah dari kota Mekah ke Medina di tahun 622M). Abu Afak berasal dari masyarakat Banu Amr Ibn Awf, dan dia adalah orang tua yang berusia seratus dua puluh tahun. Dia adalah orang Yahudi, dan sering membujuk orang melawan Rasul Allah, dan menulis puisi tentang Muhammad. 
Salim Ibn Umayr adalah salah seorang yang paling menentangnya dan dia ikut dalam perang Badr, katanya, “Aku bersumpah akan membunuh Abu Afak atau lebih baik mati di hadapannya. Dia menunggu kesempatan sampai tiba suatu malam yang panas, dan Abu Afak tidur di tempat terbuka. Salim Ibn Umayr mengetahui hal itu, jadi dia meletakkan pedangnya di atas hati Abu Afak dan menekannya sampai menembus tempat tidurnya. Musuh Allah menjerit dan orang-orang pengikutnya cepat-cepat membawanya ke dalam rumahnya dan menguburnya. [57] 

Satu-satunya “dosa” orang tua ini adalah menulis puisi yang mengritik Muhammad. 

Ketika Asma bint Marwan, seorang ibu Yahudi yang punya lima anak kecil mendengar hal ini, dia merasa sangat marah dan lalu menulis puisi mengutuk orang Medina yang mengijinkan orang asing (Muhammad) memecah-belah mereka dan membiarkan dia membunuh orang tua tak berdaya. Sekali lagi Muhammad datang ke orang-orangnya dan mengeluh: 
“Siapa yang mau mengenyahkan anak perempuan Marwan dari hadapanku?” `Umayr bin. `Adiy al-Khatmi yang saat itu berada di situ mendengarnya, dan di malam itu juga dia pergi ke rumah Asma dan membunuhnya. Di pagi hari dia datang menghadap sang Rasul dan memberitahu apa yang diperbuatnya dan Muhammad berkata, “Kau telah menolong Allah dan rasulnya, wahai `Umayr!" Ketika dia bertanya apakah dia akan menanggung dosa pembunuhan, sang rasul berkata, “Dua kambing tidak sudi bertumbukan kepala baginya (Asma).” [58] 

Setelah dipuji Muhammad karena membunuh Asma, sang pembunuh pergi menemui anak-anak Asma dan menyombongkan diri karena membunuh ibu mereka, dan dia mengancam anak-anak itu dan masyarakat suku korban. 

Terjadi kegemparan diantara masyarakat Bani Khatma hari itu tentang pembunuhan terhadap anak wanita Marwan. Dia punya lima anak laki, dan ketika `Umayr pergi bertemu dengan mereka setelah menghadap sang rasul, dia berkata, “Aku telah membunuh bint Marwan, wahai putra-putra Khatma. Lawan aku jika kau berani; jangan biarkan aku menunggu.” Ini adalah hari pertama Islam menjadi kuat diantara orang-orang Bani Khatma; sebelum kejadian itu orang-orang yang jadi Muslim merahasiakan diri. Orang yang pertama masuk Islam adalah `Umayr bin `Adiy yang dijuluki “Pembaca” dan `Abdullah b. Aus and Khuzayma b. Thabit. Di hari setelah Bint Marwan dibunuh, orang-orang Bani Khatma masuk Islam karena mereka telah melihat kekuatan Islam. [59] 

Setelah pembunuhan-pembunuhan ini, para Muslim Medina jadi semakin sombong dan merasa kuat, karena mereka telah membuat musuh-musuh mereka takut. Muhammad ingin menyatakan pesan bagi semua yang berani mengritiknya, hal ini berarti kematian[60] 

Tidak dapat disangkal lagi dalam pikiran para teroris Muslim bahwa strategi pembunuhan seperti ini memang mujarab. Bagi mereka, nasehat Qur’an untuk “menimbulkan rasa takut (teror) di hati kafir” [61] memang tampak seperti cara pasti untuk menang. Cara ini berhasil bagi Muhammad. Dia menyombong, “Aku telah dimenangkan karena teror.”[62] Cara ini berhasil pula di Spanyol ketika para teroris membunuh dua ratus orang dengan meledakkan kereta api bawah tanah di tanggal 11 Maret, 2004, dan sebagai akibatnya, masyarakat Spanyol memberikan suara dalam Pemilu untuk memilih seorang pemimpin sosialis yang dengan segera menerapkan kebijaksanaan yang menguntungkan para Muslim. 

Karena keberhasilan yang ditunjukkan Muhammad dan ajaran ideologinya, para teroris Muslim yakin bahwa strategi teror akan berhasil di manapun dan kapanpun. Mereka tidak akan berhenti sampai seluruh dunia takluk atau mereka terbukti salah karena kalah melawan kekuatan yang lebih besar.
Dunia Islam adalah dunia yang sakit, dan sudah jelas penyebab sakitnya adalah Islam itu sendiri.Hampir setiap kejahatan yang dilakukan Muslim dilakukan dan dihalalkan berdasarkan perkataan dan perbuatan Muhammad. Ini kenyataan pahit yang menyedihkan, sehingga banyak orang yang memilih tidak mau tahu. Ada pula hadis yang dikisahkan oleh Anas, sahabat Muhammad, tentang sekelompok orang Arab terdiri dari delapan orang yang datang menghadap Muhammad dan mengeluh akan cuaca Medina. Muhammad menganjurkan mereka minum kencing unta sebagai obat dan mengirim mereka menemui penggembala unta di luar kota. Mereka itu lalu membunuh para penggembala dan mencuri unta-untanya. Ketika Muhammad tahu akan hal ini, dia menyuruh orang-orangnya mengejar mereka. Lalu dia memerintahkan agar tangan dan kaki mereka dipotong, meminta paku yang dipanaskan dan lalu ditusukkan ke dalam mata mereka, dan mereka ditelantarkan di daerah berbatu untuk mati pelan-pelan. Anas berkata bahwa mereka minta air, tapi tidak ada yang memberi sampai akhirnya mereka mati kekeringan seperti ikan asin. [63] 

Orang-orang Arab yang membunuh dan mencuri memang harus dihukum, tapi buat apa pakai cara penyiksaan brutal dan keji seperti itu? Bukankah Muhammad sendiri membunuh dan mencuri? Dari mana dia dapat unta-unta tersebut? Bukankah dia mencurinya dari orang lain juga? Bukankah dia sendiri menyerang dan membunuh orang-orang untuk menjarah harta mereka? 

Standard moral ganda (double standard) ini merupakan sifat dunia Muslim sejak awal. Konsep Hukum Emas (Golden Rule – perlakukan orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan) tidak ada dalam pikiran Muslim. Mereka ingin menikmati semua perlakuan khusus di negara-negara non-Muslim, tapi mereka sendiri menyangkal hak-hak azasi non-Muslim di negara-negara yang mayoritas Muslim. Mereka dengan polosnya beranggapan bahwa standard ganda itu memang wajar.
Pembantaian Masal 

Terdapat tiga suku Yahudi yang hidup di sekitar Yathrib (nama lama Medina), yakni Banu Qainuqa, Bani Nadir dan Banu Quraiza. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mereka merupakan penduduk asli kota itu. Awalnya Muhammad mengira karena dia telah mengutuk agama pagan dan mengutip nabi-nabi Alkitab, maka kaum Yahudi dengan penuh semangat akan bersedia jadi pengikutnya. Bagian-bagian awal Qur’an penuh dengan kisah-kisah Musa dan Alkitab. Awalnya Muhammad memilih Yerusalem sebagai arah kiblat sewaktu sembahyang, dengan harapan kaum Yahudi mau jadi pengikutnya. Ahli Muslim bernama W. N. Arafat menulis, “Sudah diterima umum bahwasanya Muhammad berharap para Yahudi di Yathrib yang adalah pengikut agama illahi, akan menunjukkan pengertian terhadap agama baru penyembah satu tuhan yakni Islam.”[64]
Akan tetapi betapa herannya dia ketika mengetahui bahwa masyarakat Yahudi, sama seperti masyarakat Quraish, tidak peduli atas panggilannya. Setelah harapannya pupus dan kesabarannya habis, dia mulai bersikap bermusuhan terhadap mereka {Yahudi dipaksa supaya percaya kpd orang yg mengklaim dirinya sendiri sbg nabi, hasil semedi di Gua Hira. Jelas aja Yahudi yg punya otak dan nurani pasti tak akan percaya kpd si Mamad. Karena itu si Mamad dicuekin oleh Yahudi, lalu ngambek-lah si Mamad, hihihii}.
Kaum Yahudi tidak mau meninggalkan agama kakek moyang mereka (Abraham) untuk memeluk agama baru buatan Muhammad, si preman padang pasir dan playboy cap Onta Arab. Penolakan ini membuatnya marah dan dia lalu mencari cara membalas dendam. Pembunuhan-pembunuhan terhadap Abu Afak dan Asma hanyalah awal dari kebenciannya atas kaum Yahudi. Setelah merasa lebih percaya diri karena berhasil merampoki para kafilah yang lewat, Muhammad and his gang mulai mengalihkan sasaran rampok kepada kekayaan kaum Yahudi di Yathrib dan mencari alasan untuk menyerang, mengenyahkan mereka dan merampas kekayaannya. Kemarahannya terhadap kaum Yahudi mulai nampak dalam ayat-ayat Qur’an yang disusunnya, di mana dia menuduh mereka tak berterimakasih kepada Allah, membunuh nabi-nabi mereka dan melanggar hukum agama mereka sendiri. Dia bahkan bertindak lebih jauh lagi dengan mengatakan karena kaum Yahudi melanggar hukum Sabbath, maka Tuhan mengubah mereka jadi kera dan babi.[65]Sampai hari ini para Muslim tetap yakin bahwa kera dan babi adalah keturunan kaum Yahudi.
· Penyerangan atas Banu Qainuqa’ -- belum diterjemahkan.
· Penyerangan atas Banu Nadir -- belum diterjemahkan.
· Penyerangan atas Banu Quraiza -- belum diterjemahkan.
· Taqiyyah: Tipuan Suci -- belum diterjemahkan.
Footnote:
[40] Tabaqat, Vol. 2, hal. 1-2.
[41] William Muir, Life of Muhammad Volume II, Chapter 2, Page 6.
[42] Sahih Bukhari, Vol. 3. Book 46, Number 717
[43] Ibid.
[44] Sahih Muslim Book 019, Number 4321, 4322 and 4323:
[45] Sahih Muslim Book 019, Number 4292:
[47] Aisha mengisahkan bahwa Sauda melepaskan jatah gilirannya siang dan malam bagi Aisha untuk bermesraan dengan Rasul Allâh [Bukhari Volume 3, Book 47, Number 766] 
[48] Muhammad ibn Jarir al-Tabari (838–923) adalah salah satu sejarawan Persia yang paling terkemuka dan terkenal dan penafsir Qur’an, karyanya yang paling terkenal adalah Tarikh al-Tabari dan Tafsir al-Tabari. 
[49] Tabari dalam bahasa Persia, Vol. IV, hal. 1298.
[50] Bukhari Volume 3, Book 34, Number 310:
[54] Sirat Rasul Allâh, hal. 515.
[52] Bukhari, Volume 5, Buku 59, Nomer 459. Banyak hadis sahih menyatakan bagaimana Muhammad mengijinkan hubungan seks dengan budak2 wanita, tapi tidak perlu melakukan azl/coitus interruptus karena jika Allâh memang mau seseorang untuk lahir, maka jiwa orang itu akan lahir meskipun dilakukan azl/coitus interruptus. 
Lihat juga hadis sahih di bawah ini: 
Bukhari 3.34.432: “Dikisahkan oleh Abu Saeed Al-Khudri: ketika dia duduk bersama Rasul Allâh dia berkata, “Wahai Rasul Allâh! Kami memiliki tawanan2 wanita sebagai jatah jarahan perang, dan kami ingin tertarik mengetahui harga mereka, apakah pendapatmu tentang azl/coitus interruptus?” Sang Nabi berkata, “Apakah kau memang melakukan itu? Sebaiknya jangan. Jiwa yang sudah ditakdirkan Allâh untuk ada, akan tetap ada.” 
Sahih Muslim juga dianggap sahih oleh semua Muslim. Inilah hadis Sahih Muslim 8.3381: “Rasul Allâh (s.a.w.) ditanyai tentang azl/coitus interruptus dan dia menjawab: Seorang anak tidak terbentuk dari semua cairan (sperma) dan jika Allâh memang merencanakan menciptakan sesuatu maka tiada yang dapat mencegahnya.” 
Kaum Muslim juga menganggap hadis Abud Daud sahih. Inilah hadis sahih Abu Daud, 29.29.32.100: “Yahya mengisahkan padaku dari Malik dari Humayd ibn Qays al-Makki bahwa seorang pria bernama Dhafif berkata bahwa Ibn Abbas ditanyai tentang azl/coitus interruptus. Dia memanggil seorang budak wanita dan katanya, ‘Katakan pada mereka.’ Budak wanita itu merasa malu. Ibn Abbas berkata, ‘Baiklah, aku katakan sendiri.’ Malik berkata, ‘Seorang pria tidak melakukan coitus interruptus dengan wanita merdeka kecuali jika wanita itu mengijinkannya. Tidak ada salahnya melakukan coitus interruptus dengan seorang budak wanita tanpa ijin darinya. Seseorang mengawini budak orang lain tidak melakukan coitus interruptus dengannya kecuali jika kalangan budak wanita itu memberinya ijin.” 
Juga lihat Bukhari 3.46.718, 5.59.459, 7.62.135, 7.62.136, 7.62.137, 8.77.600, 9.93.506 Sahih Muslim 8.3383, 8.3388, 8.3376, 8.3377, dan banyak lagi.
[53] Qur’an, 4:24: “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu..” 
Qur’an, 33:50: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu,” 
Qur’an, 4:3: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
[55] Sahih Bukhari, 1.8.367
[56] Bukhari, 5.59.369
[57] The Kitab al Tabaqat al kabir, Vol. 2, p 31
[58] Dari hal. 675-676 of The Life of Muhammad , Sirat Rasul Allâh terjemahan A. Guilaume.
[59] Ibid.
[60] Ibn Sa’d menulis versi lain kisah ini: “Bint Marwan, dari Banu Umayyah ibn Zayd, di hari ke lima bulan Ramadhan, di awal bulan ke sembilan belas setelah Rasul Allâh hijrah. `Asma adalah istri Yazid ibn Zayd ibn Hisn al-Khatmi. Dia biasa mengejek Islam, menyinggung sang Nabi dan membujuk orang2 melawannya. Dia menulis puisi. Umayr Ibn Adi datang padanya di suatu malam dan masuk rumahnya. Anak2nya tidur di sekitarnya. Ada seorang bayinya yang sedang disusuinya. Dia (Umayr) merabanya dengan tangannya karena dia buta, dan memisahkan bayi itu darinya. Dia menusukkan pedangnya ke dadanya (`Asma) sampai menembus punggungnya. Lalu dia melakukan sembahyang subuh bersama sang Nabi di al-Medina. Rasul Allâh berkata padanya: ‘Sudahkah kau membunuh anak perempuan Marwan?’ Dia berkata: ‘Ya. Apakah ada lagi yang harus kulakukan?’ Dia (Muhammad) berkata: ‘Tidak. Dua kambing tidak sudi bertumbukan baginya.’ Inilah kata2 yang pertama didengar dari Rasul Allâh. Rasul Allâh menjulukinya `Umayr, ‘basir’ (yang melihat).” -- Ibn Sa`d's in Kitab al-Tabaqat al-Kabir, diterjemahkan oleh S. Moinul Haq, Vol. 2, hal. 24.
[
61] Qur’an 3:151 “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim.” 
[62] Bukhari, 4.52.220.
[63] Bukhari Volume 4, Book 52, Number 261:
[64] Dari Jurnal Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, (1976), hal. 100-107 Oleh W. N. Arafat 
[65] Quran, 2:65, 5:60, 7:166


No comments:

Post a Comment