Thursday, January 12, 2012

Muhammad dan kaum Nasrani



Eksistensi Nosrania di masa hidup Muhammad
Pada akhir abad ke 5 penganut Nestorian sudah banyak tersebar diwilayah Persia dan Asia Tengah. Namun karena adanya larangan terhadap Nestorianisme, mengakibatkan pengucilan terhadap penganut Nestorian di Byzantium Para penganut Nestorian ini akhirnya mendapatkan suaka di Persia. Raja-raja Persia dari dinasti Sassanid, dalam situasi perang yang terus-menerus dengan Byzantium, melirik kesempatan untuk memastikan loyalitas warga kristianinya dan mendukung penganut Nestorian.

Bahkan di Persia (Iran), terdapat sekolah teologi Nosrania yang amat terkenal yaitu di Nisibis. Otorita theologi yang utama dari sekolah itu adalah Theodorus dan gurunya, Diodorus dari Tarsus. Sayang sekali, hanya sedikit dari tulisan-tulisan mereka yang dapat bertahan hingga saat ini. Tulisan-tulisan Nestorius sendiri hanya baru ditambahkan ke dalam kurikulum sekolah Nisibis ini pada tahun 530, menjelang Konsili Ekumenis Kelima pada tahun 553 yang mengutuk Theodorus dari Mopsuestia sebagai pendahulu Nestorius.

Nestorian menghasilkan banyak misionaris yang giat, yang berkelana dan berkhotbah di seluruh wilayah Persia, Asia Tengah, dan Asia Timur pada abad ke-7 dan ke-8. Selain itu, pada masa tersebut banyak sarjana Nestorian, yang mengungsi dari Byzantium (Turki), menetap di Gundishapur, Persia dan Muharraq di Bahrain, dengan menbawa serta sejumlah besar naskah sastra, ilmiah, dan filsafat Yunani-Romawi kuno. Kristianitas “Nestorian” mencapai negeri Tiongkok sekitar tahun 635, dan bekas-bekas peninggalannya masih dapat disaksikan di kota-kota Tiongkok seperti Xi’an. Prasasti Nestorian, yang ditegakkan pada tanggal 7 Januari 781 di Ibukota Chang’an (sekarang Xi’an), memaparkan syiar Kristianitas ke Tiongkok dari Persia pada masa pemerintahan Tang Taizong, dan dokumen-dokumen yang ditemukan di gua-gua Mogao dekat Dunhuang makin memperjelas aliran Nosrania ini.

Hubungan Muhammad dengan kaum Nestorian
Meskipun ajaran Nestorian berkembang di wilayah Jazirah Arab, namun tidak seluruhnya merupakan ajaran Nestorian murni seperti disampaikan oleh Nestorius. Dalam Nestorianisme sendiri terdapat banyak kepercayaan yang menyimpang, salah satunya adalah masalah mengenai tidak adanya penyaliban Yesus.

Semasa hidup Muhammad, terdapat dua orang Nestorian yang dikenal sangat dekat dengannya. Mereka adalah Bahira dan Waraqah. Mengenai hubungan Waraqah dan Muhammad anda dapat melihatnya di link Belajar dari Waraqah.

Bahira adalah pendeta Kristen Nestoria yang hidup di Sham (Syria). Nama Kristennya adalah Sergius atau Georgius. Kabarnya dia diusir dari biara Syrian karena melakukan sesuatu pelanggaran. Untuk menebus kesalahannya, dia melakukan missi agama ke Arabia. Di Mekah dia bertemu Muhammad dan menjadi akrab dengannya dan tinggal bersamanya. Dia sering berbicara dengan Muhammad dan tentunya juga menyampaikan berbagai keterangan tentang agama Kristen. Banyak ayat2 Quran yang berkaitan dengan agama Kristen dan ini tentunya berasal dari Bahira sang pendeta. Muhammad hanya menulis ulang keterangan itu dengan bantuan para juru tulis dan pengumpul ayat Quran-nya.

Tidak ada keterangan jelas mengapa Bahira dikeluarkan dari gereja Syria. Apakah itu mungkin karena pandangan mengenai tidak adanya penyaliban Yesus dianggap sebagai hujatan di gereja Nestoria? Tiada yang tahu pasti. Yang jelas, Muhammad mendapat segudang ilmu tentang agama Kristen (yang bid’ah atau yang diakui) dari pendeta Kristen ini yang kemudian memberi masukan ke dalam Quran.

Cerita2 dalam Sura 3:49, bayi Yesus bisa bicara dari tempat tidurnya, membuat burung dari tanah liat dan lalu menghidupkannya. Ini semua diambil dari Kitab Nestorian. Kisah2 ini bertentangan dengan Injil yang diakui kaum Kristen (Mathius, Markus, Lukas, Yohanes) yang menyatakan bahwa muzizat pertama yang dilakukan Yesus adalah merubah air jadi anggur di Kanaan (Yohanes 2:11).

No comments:

Post a Comment