Friday, January 13, 2012

Ayat-Ayat Setan


Tetapi usaha-usaha Muhammad untuk membawa sukunya kepada agamanya yang baru terus mendapatkan perlawanan – dan hal ini mengakibatkan terjadinya insiden yang terkenal yaitu Ayat-ayat Setan, diabadikan dalam novel karya Salman Rushdie yang juga menggemparkan. Pada 1989, Ayatollah Khomeini dari Iran mengeluarkan sebuah fatwa yang memerintahkan orang Muslim untuk membunuh Rushdie – sebuah hukuman mati yang kemudian ditegaskan lagi oleh para pemimpin Iran, walaupun belum ada seorang pembunuh pun yang telah melaksanakannya.
Berdasarkan tradisi Islam, Satan, bukan Allah, pada suatu kali pernah benar-benar berbicara melalui mulut Muhammad. Ayat-ayat yang diberikan Iblis kepada sang Nabi Islam kemudian dikenal sebagai “ayat-ayat setan”.
Muhammad menjadi frustrasi dengan ketidakmampuannya untuk mentobat-kan sukunya sendiri, yaitu orang Quraysh, kepada Islam. Menurut Ibn Ishaq, dalam sebuah bagian dalam Sira yang dijaga oleh Tabari, “Rasul kuatir akan kesejahteraan umatnya, ia berniat menarik perhatian mereka semampunya.” Pada kenyataannya, “ia merindukan sebuah cara untuk menarik perhatian mereka.” Namun demikian, pada akhirnya para pemimpin Quraysh-lah yang datang kepadanya dengan sebuah penawaran. Mereka akan memberikannya istri-istri dan uang, dan bahkan menjadikannya raja mereka – jika ia mau menerima syarat-syarat yang mereka ajukan. “Inilah yang akan kami berikan padamu, Muhammad, jadi berhentilah menghina dewa-dewa kami dan janganlah berbicara yang jahat mengenai mereka. Jika engkau tidak melakukannya, kami memberikanmu satu persyaratan yang akan menguntungkan kamu dan juga kami.”
“Apa itu?” tanya sang Nabi Islam.
“Kamu akan menyembah dewa-dewa kami, al-Lat dan al-‘Uzza, selama setahun, dan kami akan menyembah Tuhanmu selama setahun.”
Muhammad menjawab:”Biarlah aku melihat wahyu apa yang datang kepadaku dari Tuhanku”(19) Dan kemudian jawaban yang diterima sang Nabi Islam sangatlah negatif: Allah memerintahkannya untuk mengatakan pada orang-orang yang tidak beriman bahwa orang-orang Muslim tidak akan menyembah apa yang mereka sembah. (Sura 109:1-6)
Tetapi orang Quraysh bersikeras: “Muhammad, marilah kita menyembah apa yang kau sembah dan apa yang kami sembah, dan kami akan menjadikanmu rekan dalam semua yang kami kerjakan”. Tetapi Allah tetap memerintahkan Muhammad untuk tetap berdiri teguh (Sura 39:64-66).
Tetapi di balik posturnya yang tegak, Muhammad menginginkan sebuah solusi yang berimbang: “Ketika Rasul melihat kaumnya berpaling darinya dan ia merasakan kepedihan oleh karena mereka jauh dari apa yang dibawanya untuk mereka dari Allah, ia menginginkan sebuah wahyu dari Allah kepadanya yang dapat merekonsiliasi dia dengan kaumnya.”(20)
Ia berkata: “Aku berharap Allah tidak mewahyukan padaku apapun yang tidak disukai mereka.”(21) Dan akhirnya ia mendapatkan sebuah solusi. Ia menerima wahyu yang mengatakan bahwa adalah sah bagi seorang Muslim untuk bersembahyang kepada al-Lat, al-‘Uzza, dan Manat, ketiga dewi yang dipuja para pagan Quraysh, sebagai para pendoa syafaat di hadapan Allah.(22) Tetapi kepedihan dan frustrasinya karena ditolak oleh kaumnya sendiri telah menguasainya: wahyu yang baru ini secara langsung berkontradiksi dengan substansi pengajarannya. Ia telah menghina al-Lat, al-‘Uzza dan Manat sebagai dewa-dewa palsu sejak permulaan proklamasi kenabiannya, atau bahkan sebelum itu jika catatan masa mudanya ketika ia berjumpa dengan rahib Bahira dari Syria adalah sesuatu yang dapat dipercayai. Haruskah monoteisme yang tidak kenal kompromi ini sekarang harus dikhianati demi adanya rekonsiliasi dengan kaumnya?
Rekonsiliasi nampaknya sudah dekat. Orang Quraysh bersukacita dan membungkukkan diri bersama Muhammad dan orang-orang Muslim setelah Muhammad selesai menyampaikan wahyu yang baru. Ibn Ishaq melaporkan: “Kemudian orang-orang itu berpisah dan orang Quraysh pun pergi, bersukacita akan apa yang telah dikatakan mengenai dewa-dewa mereka, dan berkata: ‘Muhammad telah menyanjung dewa-dewa kita. Ia menyampaikan apa yang telah ia baca bahwa mereka adalah Gharaniq yang dimuliakan yang syafaatnya telah diterima.’”(23)
Berita itu tersebar dengan cepat di kalangan orang Muslim: “Orang Quraysh telah memeluk Islam.”(24) Oleh karena perdamaian nampaknya sudah dekat, beberapa orang Muslim yang telah terlebih dahulu pindah ke Abissinia demi keamanan mereka kemudian kembali pulang. Namun seorang pemain penting dalam drama ini tidak sepenuhnya senang, yaitu: malaikat Jibril, dialah yang penampakkan dirinya kepada Muhammad telah melahirkan Islam. Ia datang kepada Muhammad dan berkata: “Apa yang telah kau lakukan, Muhammad? Engkau telah membacakan sesuatu kepada orang-orang ini yang tidak kubawa padamu dari Tuhan dan kamu telah mengatakan apa yang tidak dikatakan-Nya kepadamu.”
Muhammad mulai menyadari betapa ia telah melakukan sebuah kompromi yang parah. “Aku telah mereka-reka hal-hal melawan Allah dan telah memberi-Nya perkataan yang tidak dikatakan-Nya.”(25) Ia “sangat berduka dan sangat takut” terhadap Allah karena telah mengijinkan pesannya diselewengkan oleh Setan. Dan Allah memberikan Muhammad sebuah peringatan keras (Sura 17:73-75), namun sangat bermurah hati kepada Rasul-Nya:
“Maka Allah menurunkan (sebuah wahyu), karena Ia bermurah hati padanya, menghiburnya dan memberi terang atas urusan itu dan memberitahukan dia bahwa setiap nabi dan rasul sebelumnya menginginkan apa yang ia inginkan, dan mengharapkan apa yang ia harapkan, dan Setan menyuntikkan sesuatu ke dalam hasratnya itu seolah-olah itu berasal dari lidahnya. Jadi Tuhan membatalkan apa yang telah disampaikan oleh Setan dan Tuhan menetapkan ayat-ayatNya, seperti, engkau sama seperti para nabi dan para rasul.” (26)
Penghiburan ini diteguhkan di dalam Qur’an: ”Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, dan Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Sura 22:52). Sudah tentu, semua itu adalah ujian dari orang-orang tidak beriman: “agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat”. (Sura 22:53)
Oleh karena itu, menurut Ibn Ishaq, Allah “menyingkirkan duka nabi-Nya, dan membuatnya aman dari rasa takutnya.” Ia juga menurunkan sebuah wahyu yang baru untuk menggantikan perkataan Setan mengenai al-Lat, al-‘Uzza, dan Manat:
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Sura 53:19-23).
Dengan perkataan lain, apakah Allah hanya mempunyai anak-anak perempuan sementara orang-orang tidak beriman mempunyai anak-anak laki-laki (“bagimulah anak-anak laki-laki dan bagi-Nyalah anak-anak perempuan”)? Bagi dunia Arab pada abad ke-7, itu sangat tidak masuk akal. Terlebih lagi, al-Lat, al-’Uzza dan Manat hanyalah imajinasi kaum pagan, “nama-nama yang telah kamu berikan, kamu dan bapa-bapamu, yang telah dinyatakan Allah sebagai sesuatu yang tidak benar.”
Muhammad kembali pada monoteismenya yang semula yang tidak kenal kompromi. Tidaklah mengejutkan ia kemudian menghadapi ketegangan yang lebih besar lagi dengan orang Quraysh. Ibn Ishaq melaporkan bahwa kaum politeis mulai menggunakan episode ini untuk melawannya:
“Ketika datang penghapusan kata-kata setan di mulut Nabi dari Tuhan, orang Quraysh berkata: ‘Muhammad telah berpaling dari apa yang ia katakan mengenai posisi dewa-dewa kamu dengan Allah, menggantikannya dan membawa sesuatu yang lain. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharm ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat”. (Sura 17:1). Tidak ada identifikasi Qur’an mengenai “Mesjid yang terjauh” dengan mesjid apapun di Yerusalem, tetapi Hadith memberikan kejelasan terperinci mengenai lokasinya dengan Yerusalem.
Penglihatan ini sama dramatisnya dengan perjumpaannya yang mula-mula dengan Jibril. Muhammad menceritakan penglihatan itu kepada seorang Muslim demikian “Ketika aku sedang berbaring di Al-Hatima atau Al-Hijr,” yaitu sebuah wilayah di Mekkah berseberangan dengan Ka’bah, yang menurut tradisi Islam merupakan tempat Hagar dan Ismail dikuburkan, ketika “Jibril datang dan membangunkan aku dengan kakinya. Aku duduk dan tidak melihat apa-apa dan berbaring kembali. Ia datang padaku kedua kalinya dan membangunkan aku dengan kakinya. Aku duduk dan tidak melihat apa-apa dan aku berbaring kembali. Ia datang kepadaku ketiga kalinya dan membangunkan aku dengan kakinya.” Dan “tiba-tiba seseorang datang padaku dan membelah tubuhku dari sini ke sini” – dan ia menggerakkan tangannya dari leher ke bawah perut. Dia yang telah datang kepadanya, Muhammad melanjutkan, “kemudian mengeluarkan jantungku. Lalu sebuah nampan emas penuh dengan iman dibawa padaku dan jantungku dicuci dan dipenuhi (dengan iman) dan kemudian dikembalikan ke tempatnya semula. Kemudian seekor binatang putih yang lebih kecil dari bagal dan lebih besar dari keledai dibawa padaku.” Ini adalah Buraq, yang kemudian dijelaskan Muhammad sebagai “seekor binatang yang putih dan panjang, lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari seekor bagal, yang menempatkan kakinya sejauh mata memandang.” Binatang itu, katanya “setengah bagal, setengah keledai, dengan sayap di kedua sisinya yang mempercepat laju kakinya.”
“Ketika aku naik untuk mengendarainya,” lapor Muhammad, “ia tersipu. Gabriel menaruh tangannya di surainya dan berkata, ‘Tidakkah engkau malu, wahai Buraq, apabila bersikap demikian? Demi Tuhan, tidak ada yang lebih mulia di hadapan Tuhan daripada Muhammad diantara yang telah mengendaraimu sebelumnya.’ Binatang itu sangat malu sehingga ia berkeringat dan berdiri dengan diam sehingga aku dapat menaikinya.”
Mereka pergi ke Temple Mount, dan dari sana menuju ke surga: “Aku dibawanya, dan Gabriel beserta dengan saya hingga kami mencapai surga yang terdekat. Ketika ia meminta agar gerbangnya dibuka, ia ditanyai, ‘Siapakah itu? Gabriel menjawab, ‘Gabriel’. Lalu ditanyai lagi, Siapakah yang menyertaimu?’ Gabriel menjawab, ’Muhammad’. Ia ditanyai lagi, ‘Sudahkah Muhammad dipanggil?’ Gabriel menjawab mengiyakan. Kemudian suara itu berkata, ‘Ia diterima. Betapa indahnya kunjungannya ini!’”
Muhammad memasuki surga pertama, dimana ia bertemu dengan Adam. Jibril berkata kepada Muhammad: “Inilah bapamu, Adam; berilah salam kepadanya.” Nabi memberi salam kepada manusia yang pertama itu, dan ia menjawab, “Engkau disambut, wahai putra yang saleh dan Nabi yang saleh.” Kemudian Gabriel membawa Muhammad ke surga yang kedua, dan disana peristiwa di gerbang diulangi lagi, dan setelah sampai di dalam, Yohanes Pembaptis dan Yesus memberinya salam: “Engkau disambut, wahai putra yang saleh dan Nabi yang saleh.” Di surga yang ketiga, Yusuf memberinya salam dengan kalimat yang sama, kemudian Muhammad dan Jibril melanjutkan perjalanan mereka, dan diberi salam oleh nabi-nabi lainnya di tingkap-tingkap surga berikutnya.
Musa ada di surga ke-6, yaitu untuk menghina orang Yahudi. “Ketika aku meninggalkannya”, Muhammad berkata, “ia menangis”. Seseorang bertanya padanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Musa berkata, “Aku menangis karena sesudah aku telah diutus (Muhammad sebagai seorang Nabi) seorang muda, yang para pengikutnya akan masuk ke Firdaus dalam jumlah yang lebih besar daripada para pengikutku.”
Di surga yang ke-7, Muhammad bertemu dengan Abraham, mendapatkan penglihatan-penglihatan lagi, dan mendapatkan perintah agar orang Muslim berdoa 50 kali dalam sehari. Ketika Muhammad memulai perjalanannya untuk kembali, ia melewati Musa, yang bertanya padanya, “Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?”
Muhammad menjawab, “Aku diperintahkan agar menaikkan doa 50 kali sehari”. Musa memberinya sedikit nasehat: “Para pengikutmu tidak sanggup berdoa 50 kali sehari, dan demi Allah, aku telah menguji umat sebelum engkau, dan aku telah berupaya sekuat tenagaku dengan bani Israel (dan sia-sia saja). Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah pengurangan untuk meringankan beban para pengikutmu.” Maka Muhammad kembali pada Allah dan jumlah doa dalam sehari dikurangi menjadi 40, tetapi Musa beranggapan bahwa itu masih terlalu banyak. Nabi Islam terus bolak-balik dari Allah kepada Musa hingga jumlah doa orang Muslim dalam sehari menjadi hanya 5 kali. Pada titik ini Musa masih ragu kalau para pengikut Muhammad dapat memenuhi tantangan ini, dan ia berkata lagi: “Para pengikutmu tidak sanggup berdoa 5 kali sehari, dan tidak diragukan lagi, aku telah mempunyai pengalaman soal itu dengan umat sebelum kamu, dan aku telah mengupayakan yang terbaik dariku untuk bani Israel, jadi kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah pengurangan untuk meringankan beban para pengikutmu.”
Tetapi kali ini Muhammad tidak mau kembali. “Aku telah banyak meminta dari Tuhanku sehingga aku merasa malu, tapi aku sudah puas sekarang dan berserah kepada Perintah Allah.” Dan saat ia berangkat pergi, ia berkata, “Aku mendengar sebuah suara berkata, ‘Aku telah menurunkan Perintah-Ku dan telah meringankan beban Para Penyembah-Ku.”(38)
Sang Nabi Islam juga menceritakan tentang nabi-nabi lain kepada para pengikutnya: “Pada malam Al-Isra (perjalanan malam) (ke surga), aku melihat (nabi) Musa, dia seorang yang kurus dengan rambut yang panjang dan sedikit berminyak, kelihatannya mirip dengan salah-seorang dari suku Shanu’a; dan aku melihat Isa (Yesus) yang tingginya rata-rata dengan wajah merah seakan-akan ia baru saja keluar dari kamar mandi. Dan aku lebih mirip dengan Nabi Ibrahim (Abraham) lebih dari semua keturunannya yang lain. Kemudian aku diberi 2 cangkir, satu berisi susu dan satunya berisi anggur. Jibril berkata, ‘Minumlah apa yang kau sukai.’ Aku mengambil susu dan meminumnya. Jibril berkata, ‘Engkau telah menerima apa yang alamiah,” (agama yang Benar, yaitu Islam) dan seandainya engkau mengambil anggur, para pengikutmu akan tersesat.’”(39)
Ketika mereka mendengar kisah mengenai Perjalanan Malamnya, orang Quraysh kembali menghina Nabi Islam: “Demi Tuhan, ini benar-benar tidak masuk akal! Sebuah karavan memerlukan waktu sebulan untuk pergi ke Syria dan kembali dan dapatkah Muhammad melakukan perjalanan pergi pulang dalam semalam?” Karena ditantang oleh orang-orang yang pernah pergi ke Yerusalem, Muhammad mengklaim sebuah mujizat lagi sehubungan dengan Perjalanan Malam: “Ketika orang Quraysh tidak percaya padaku, aku berdiri di Al-Hijr dan Allah menunjukkan Yerusalem di hadapanku, dan aku mulai menggambarkannya pada mereka sementara aku sedang memandanginya”.(40) Saat ditanyakan berapa banyak pintu yang ada di “Mesjid yang terjauh”, Muhammad kemudian menjawab: “Aku tidak sempat menghitungnya satu per satu dan memberikan mereka informasi mengenai hal itu. Aku juga memberikan informasi mengenai karavan mereka, yang mana yang sedang dalam perjalanan dan tanda-tandanya. Mereka menemukannya seperti yang saya ceritakan.”(41)
Namun demikian, ternyata deskripsinya mengenai Yerusalem tidak serta merta meyakinkan orang: bahkan beberapa orang Muslim meninggalkan iman mereka dan menantang pengikut Muhammad yang paling setia, Abu Bakr, untuk melakukan hal yang sama. Abu Bakr sama sekali tidak setuju dengan hal itu: “Jika ia berkata demikian, maka itu adalah benar. Dan apa yang mengherankan soal itu? Ia mengatakan padaku bahwa komunikasi dari Tuhan dari surga ke bumi datang padanya dalam satu jam dalam sehari atau semalam dan saya percaya padanya, dan itu lebih dahsyat dari apa yang kalian pikirkan!”(42)
Allah menghibur Muhammad: “Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”. (Sura 17:60). Kemudian Muhammad nampaknya sudah tidak terlalu mengklaim bahwa ini adalah sebuah perjalanan fisik. Aisha menjelaskan: “Tubuh Rasul tetap tinggal di tempatnya tetapi Tuhan memindahkan rohnya pada waktu malam.”(43)
Perjalanan malam telah melekat erat dalam alam pikiran Muslim, hingga pada hari ini, yang mana itu menjadi dasar bagi klaim Islam terhadap Yerusalem sebagai salah satu kota suci Islam. Tetapi pada waktu pertama kalinya Muhammad berbicara mengenai hal itu, itu kemudian hanya semakin memperburuk hubungannya yang sudah tidak baik lagi dengan orang Quraysh.

14 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. MENJAWAB TUDUHAN .::Ada ayat Setan di dalam Al Quran::.
    http://www.google.co.id/url?q=http://answeringkristen.wordpress.com/menjawab-tuduhan-ada-ayat-setan-di-dalam-al-quran/&sa=U&ei=jj1ZU7vFDcKzrge0qoHYBQ&ved=0CBkQFjAA&usg=AFQjCNFa7ezgkvLLT_AaNJaZbuBprLaiEQ

    ReplyDelete
    Replies
    1. alau Islam Kok seenaknya aja ya...setiap Jumat menhina/memfitnah... non Msulim...lewat ceramah Imamnya; lewat Selebaran2nya HITSBUT TAHIR ; Lewat Majalah SABILI dll; Tp kalo diuangkapkan tentang KEBENARAN YG SESUNGGUHNYA ADA DI ISLAM...kenapa dianggap MENGHINA... Lalu diperbolehkan Membunuh..dll,,,Mungkin Ini yg disebut mereka Agama DAMAI..
      sehinnga memperbolehkan membunuh;merusak dll

      Delete
  4. PENGEN TAU AYAT-AYAT SETAN?!
    .
    PELOTOTIN BOY!
    .
    .
    · BACA-BACA ALKITAB
    http://clubpecintahidayah.wordpress.com/2014/04/23/baca-baca-alkitab/· ALKITAB BERDARAH
    http://clubpecintahidayah.wordpress.com/2014/04/23/alkitab-berdarah/· ALKITAB; AYAT-AYAT “KANIBAL”
    http://clubpecintahidayah.wordpress.com/2014/04/22/alkitab-ayat-ayat-kanibal/· ALKITAB VS UNDANG-UNDANG
    http://clubpecintahidayah.wordpress.com/2014/04/19/alkitab-vs-undang-undang/

    ReplyDelete
  5. Banyak komen yg anda hapus terkait konfirmasi bahwa apa yg anda tulis itu salah. Semoga anda sadar dan diberi hidayah, sebelum siksa ALLAH menimpa anda.

    ReplyDelete
  6. Selama ini saya begitu suka berteman dengan teman yang nonmuslim, saya begitu tertarik dengan apa yang mereka kerjakan dan saya pikir yang dilakukan oleh mereka selain islam adalah hal yang aneh bagi saya. Itu sebelum saya menjadi benar2 yakin bahwa apa yang dilakukan oleh nonmuslim memang aneh setelah saya membaca blog ini. Begitu banyak kebencian yang disebar hingga saya begitu ilfeel dengan apa yang anda lakukan. Semua agama itu baik dan yang membuat agama buruk dan bodoh adalah salah satunya dengan agama yang salah mengakui anda sebagai umatnya...begitu banyak kebohongan menyudutkan yang anda buat, saya jadi berfikir apa jangan2 memang agama anda adalah agama pembohong dan bohongan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alau Islam Kok seenaknya aja ya...setiap Jumat menhina/memfitnah... non Msulim...lewat ceramah Imamnya; lewat Selebaran2nya HITSBUT TAHIR ; Lewat Majalah SABILI dll; Tp kalo diuangkapkan tentang KEBENARAN YG SESUNGGUHNYA ADA DI ISLAM...kenapa dianggap MENGHINA... Lalu diperbolehkan Membunuh..dll,,,Mungkin Ini yg disebut mereka Agama DAMAI..
      sehinnga memperbolehkan membunuh;merusak dll

      Delete
  7. Sebaik2nya mereka tetap harus kita yakini bahwa mereka tak akan pernah ikhlas dan rela sampai kita sebagai muslim ikut ajaran mereka.

    ReplyDelete
  8. maaf, apakah blog yang ditulis itu salah?tapi koq penulisnya memberikan sumber tulisan tsb, yaitu quran dan hadist.jika tulisan itu fitnah dan kebodohan belaka, mengapa hadist menuliskannya?dan mengapa ahli2 agama islam mengakui ke sahihan hadist tersebut?mohon pencerahannya.

    ReplyDelete
  9. maaf, apakah blog yang ditulis itu salah?tapi koq penulisnya memberikan sumber tulisan tsb, yaitu quran dan hadist.jika tulisan itu fitnah dan kebodohan belaka, mengapa hadist menuliskannya?dan mengapa ahli2 agama islam mengakui ke sahihan hadist tersebut?mohon pencerahannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alau Islam Kok seenaknya aja ya...setiap Jumat menhina/memfitnah... non Msulim...lewat ceramah Imamnya; lewat Selebaran2nya HITSBUT TAHIR ; Lewat Majalah SABILI dll; Tp kalo diuangkapkan tentang KEBENARAN YG SESUNGGUHNYA ADA DI ISLAM...kenapa dianggap MENGHINA... Lalu diperbolehkan Membunuh..dll,,,Mungkin Ini yg disebut mereka Agama DAMAI..
      sehinnga memperbolehkan membunuh;merusak dll

      Delete