Sunday, January 8, 2012

Ayat-Ayat Alquran yang Memerintahkan Kekerasan & Tindakan-Tindakan Kekerasan

Ketika Muhammad mengesahkan tindakan kekerasan, dia dengan berani menyebutkan nama Allah sebagai pembelanya.
Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat ………….. sedang kafilah itu berada di bawah kamu ………….pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan  suatu urusan yang sedang dilaksanakan (Surat 8 : 42).
Para pembela Muslim menyatakan bahwa Muhammad  menyuruh para pengikutnya untuk melakukan kekerasan hanya sebagai tindakan mempertahankan diri (termasuk di dalamnya tindakan pembalasan dendam atau menurut istilah Alquran disebut qishaash). Mereka mengacu pada Surat 2 : 178, 190, 191. Klaim semacam itu tidak  seluruhnya benar. Banyak ayat dalam Alquran yang justru memberi mandat kepada umat Muslim untuk melakukan agresi terhadap orang-orang non-Muslim (yang disebut orang-orang kafir) . Misalnya Surat 2 :193 ; 8 : 12, 38,39; 9 : 123 dan sebagainya.
Dalam kasus pembunuhan dan pengusiran ketiga Bani Israel tersebut terdahulu Muhammad nampaknya lupa akan keputusannya sendiri yang ditulis dalam Alquran bahwa orang-orang Muslim hanya diperintahkan untuk melakukan kekerasan sebagai tindakan pembelaan diri dan tindakan pembalasan dendam. Padahal orang-orang Yahudi di Medinah tidak pernah melakukan kekerasan terhadap Muhammad dan para pengikutnya, jadi tidak seharusnya mereka dikenai sanksi hukuman dengan landasan hukum sebagaimana yang tertulis dalam Surat 2 tersebut di atas.
Sesuatu yang dimulai sebagai pembalasan dendam dan diakhiri dengan penobatan Islam sebagai satu-satunya agama dan Allah adalah satu-satunya Tuhan yang harus disembah. M.M. Ali mengarahkan kita untuk berpikir bahwa Muhammad , dengan turunnya ayat-ayat tersebut di atas, sesungguhnya mendukung kebebasan beragama secara total. Ali menulis :
Ketika penganiayaan berhenti dan manusia tidak dipaksa untuk menerima atau memeluk agama tertentu , bebas memilih agama sesuai dengan keyakinan masing-masing, pada saat itulah perang tidak akan terjadi lagi.1
M. Ali seharusnya tahu bahwa Muhammad justru menghendaki sebaliknya. Perang harus dilanjutkan sampai Islam menjadi satu-satunya agama yang ada di jazirah Arab. Kebebasan beragama menjadi salah satu di antara para korban yang terkapar mati di padang pasir. Seperti halnya dengan para pembela Muslim lainnya, Ali tidak lebih dari seorang pengikut Muhammad yang tugasnya membuat pernyataan Muhammad yang paling fanatik sekalipun menjadi nampak sebagai pernyataan yang sangat toleransi.
Baik Alquran maupun Hadis secara efektif menempatkan umat manusia ke dalam  dua  rumah  besar. Para komentator Muslim menyebut mereka sebagai ” Rumah yang ditempati oleh orang-orang Islam atau Rumah Muslim” dan satunya lagi “Rumah yang ditempati oleh musuh-musuh Islam atau Rumah  Perang”. 2 Maksudnya siapapun yang bukan Islam dianggap menolak Islam. Menolak Islam sama artinya dengan menyerang Islam, menyerang Allah, dan menyerang Muhammad. Menyerang Islam berarti menjadi musuh Islam. Jadi perang melawan non-Muslim dalam situasi apapun akan disebut oleh umat Islam sebagai perang untuk membela diri dan perintah perang tersebut tertulis baik dalam Alquran maupun dalam Hadis. Itulah sebabnya Islam tetap disebut “agama yang cinta damai” sekalipun di dalam Alquran terdapat 109 ayat yang memerintahkan orang-orang Islam untuk melakukan kekerasan  terhadap non-Muslim. Itulah yang dipahami oleh orang-orang Islam tentang perintah Alquran tersebut. Sungguh merupakan suatu pemahaman yang menakutkan.
Kekerasan yang dilakukan Osama bin Laden sesungguhnya merupakan tindakan yang diilhami oleh perintah-perintah Muhammad tersebut di atas.  Pembunuhan yang dilakukan oleh umat Muslim Turki terhadap umat Kristen Armenia yang berdomisili di bagian timur Turki pada awal abad ke-20 juga diilhami oleh perintah Muhammad sebagaimana yang tertulis dalam Surat 8:12,13.
Para pembela Muslim menyatakan bahwa perintah Muhammad untuk menerapkan kekerasan sebagaimana tertulis dalam Surat 8 : 12, 13 tersebut sesungguhnya  berkaitan dengan Perang Badar.  Pernyataan ini menimbulkan tanda tanya karena Surat 8 : 12, 13 itu ditulis setelah Perang Badar usai. Bagaimana mungkin seorang komandan yang memberikan instruksi kepada pasukannya mengenai apa yang harus dilakukan dalam sebuah pertempuran padahal pertempuran itu sudah  selesai sebelum instruksinya diberikan.
Hadis Sahih al- Bukhari jilid 5, bab 59, nomor 287, 702 mencatat bahwa Rasul pergi bersama 300 orang anggota pasukannya untuk merampok para kafilah yang tidak bersenjata, tetapi dengan tidak terduga mereka dipertemukan  oleh Allah dengan musuh-musuh mereka. 3
Selanjutnya lihat Surat 8 : 39. Ayat tersebut memberi mandat kepada umat Muslim untuk memerangi orang-orang kafir.
Berikut ini adalah ayat-ayat yang mengungkapkan mengenai antisipasi  Muhammad atas akan terjadinya sejumlah perang di masa-masa mendatang, lihat Surat 8 : 65, 67.
Ayat-ayat lain yang memerintahkan umat Muslim untuk memerangi orang-orang kafir atau orang-orang munafik adalah  Surat 4 : 89 ; 9 : 123; 47 : 4 ; 2 : 216.
Media seringkali melaporkan berita mengenai orang-orang Muslim memaksa orang-orang non-Muslim dengan  todongan senjata AK-47 agar mereka segera masuk Islam. 4 Para pembela Muslim serta-merta menyatakan berita tersebut salah karena Muhammad sendiri memerintahkan  :“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” (Surat 2 :256). Benarkah ayat tersebut merupakan ayat Alquran yang memberi rasa damai.
Tidak seluruhnya benar. Orang-orang Muslim yang mengutip Surat 2 : 256 juga mengetahui bahwa ayat tersebut secara hakiki sudah kehilangan maknanya dengan munculnya 109 ayat lain yang menyiratkan kekerasan. Perlu anda ketahui bahwa  doktrin Islam membenarkan bahwa Allah bisa saja pada suatu saat menetapkan perintah positif  tetapi dengan semaunya Allah juga bisa langsung membatalkan perintah-perintah tersebut atau menggantinya dengan perintah negatif.  Itulah sebabnya sangat tidak mungkin kita mempercayai adanya ayat-ayat yang bagus (menyejukkan) yang tertulis di Alquran sebagaimana yang sering dikutip oleh para pembela Islam.
Islam membenarkan bahwa Allah bisa saja pada suatu saat menetapkan perintah positif tetapi dengan semaunya Allah juga bisa langsung membatalkan perintah tersebut atau menggantinya dengan perintah negatif.
Ayat berikut ini merupakan ayat yang  memerintahkan umat Muslim untuk memaksa para penyembah berhala agar  masuk Islam, lihat Surat 9: 5.
Muhammad memerintahkan penggunaan kekerasan terhadap para penyembah berhala untuk memaksa mereka masuk Islam. Apakah dengan cara yang sama  pula dia akan lakukan terhadap orang-orang Yahudi dan Kristen ? Ada sebuah ayat yang nampaknya mengindikasikan bahwa dia tidak akan bermaksud demikian. Pada awal-awal karier kenabiannya , Muhammad menerima wahyu dari Allah yang berbunyi : “Jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu (umat Yahudi dan Kristen) ……… ” (Surat 10 : 94).
Sebenarnya dengan menulis ayat semacam itu Muhammad berharap agar orang-orang Yahudi dan Kristen mau menerima dia sebagai nabi sebagaimana yang diklaimnya. Ketika mereka ternyata menolaknya dengan tegas, Muhammad menjadi sangat marah. Penolakan umat Yahudi dan Kristen tersebut menyebabkan turunnya “Wahyu Ilahi” yang tertulis dalam Surat 4 : 47 yang  berbunyi : “Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah mukamu, lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk kamu ….”. Lihat juga Surat 9 : 29.
Bukankah hal tersebut di atas merupakan paksaan ?
Selain itu, lihat juga Surat 3 : 141; 4 : 104, 74.
Ada beberapa ayat lain dalam Alquran yang menyatakan bahwa Allah meridhoi Muhammad dan para perampok (pencuri) yang menjadi pengikut-pengikutnya dalam usaha mereka menimbun barang hasil rampasan (hasil rampokan) mereka, baca Surat 48 :19,20,21; 8 : 1, 41 ; 59 : 7. Padahal Muhammad sendiri memerintahkan dalam Alquran bahwa laki-laki dan perempuan yang mencuri harus dipotong kedua tangannya sebagai hukuman (Surat 5 : 38) dan perintah tersebut masih dilestarikan dalam Syariat Islam sampai sekarang.  Nampaknya perintah itu tidak berlaku bagi Muhammad sendiri.
Bahkan ada ayat lain yang menyatakan bahwa Muhammad memberi wewenang kepada para pengikutnya untuk memasuki rumah orang lain yang tidak didiami (walaupun mereka tidak sedang melakukan penyerangan) dan bahkan untuk mengambil sesuatu yang ada di dalamnya yang menjadi keperluannya, lihat Surat 24 : 29.
Muhammad memberi wewenang kepada para pengikutnya untuk memasuki rumah orang lain yang tidak didiami dan bahkan untuk mengambil sesuatu yang ada di dalamnya yang menjadi keperluannya.
Isu lain adalah bagaimana umat Muslim harus memperlakukan orang-orang murtad yang setelah masuk Islam kemudian kembali pada agamanya yang sebelumnya yaitu agama Yahudi, agama Kristen atau penganut paganisme. M.M. Ali menulis: “Mereka hanya dicerca kemudian diusir dari mesjid”.5 Namun banyak wacana dalam hadis yang tidak sependapat dengan M.M. Ali.  Sahih al-Bukhari  menyatakan bahwa  orang-orang Muslim yang menjadi ateis “dibakar hidup-hidup”.6 Ibn Abbas mengisahkan bahwa Muhammad menjatuhkan hukuman mati kepada orang Islam yang berganti agama lain. Selanjutnya lihat Surat  9 : 73, 74. Dalam hadis Bukhari jilid 9, bab 84, nomor 58 menceritakan  tentang seorang Muslim yang bernama Muadah yang membunuh seorang Yahudi yang sudah memeluk Islam tetapi kemudian meninggalkan Islam. Dalam hadis Bukhari jilid 9, bab 84, nomor 64 dijanjikan bahwa siapapun yang membunuh orang-orang murtad akan mendapatkan pahala.
Bahkan Muhammad  menjatuhi hukuman mati dengan dirajam batu kepada orang-orang Muslim yang mengakui dosa-dosanya yang tersembunyi. Baca hadis Bukhari jilid 8, bab 82, nomor 805, 806, 809, 813, 814, 815, 821, dan 842 dan kemudian gemetarlah.
Catatan:
1.       Maulana Muhammad Ali, Quran (Columbus, OH: Lahore, Inc., USA, 1998), comment 244.
2.      Ibn Warraq, Why I Am Not a Muslim (Amherst, NY: Prometheus Books, 1995), p. 218
3.      Sahih al-Bukhari, Translation of Sahih Bukhari (The Book of Knowledge), trans. Mohammed Muhsin Khan, book 5, vol. 59, no. 287 and book  5, vol. 59, no. 702,University of Southern Californiahttp://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/059.sbt.html(diakses 25 Oktober 2002).
4.      “Forced Conversions to Islam Continue in Indonesia,” Worthy News,http://www.worthynews.com/news-features/indonesia-ethnoc-cleansing-8.html(diakses 13 Januari 2001).
5.      Ali, Quran, comments 1067 and 1080.
6.      al-Bukhari, Sahih Bukhari, book 9, vol. 84, no. 57.
7.      Ibid.

No comments:

Post a Comment