Thursday, January 5, 2012

Muhammad mau menipu Yahudi soal kenabiannya

Untuk memahami rahasia-rahasia Alquran kami harus mulai dengan mempelajari kehidupan orang yang merancangnya yaitu Muhammad. Muhammad lahir di Mekah pada tahun 571 sesudah Masehi. Mekah pada waktu itu merupakan pusat jalur lintas perdagangan utara-selatan yang sejajar dengan Laut Merah di Arabia bagian barat. Dalam kota Mekah tersebut terdapat rumah pemujaan yang disebut Kaabah dimana tersimpan 360 patung berhala yang didewakan oleh berbagai suku bangsa Arab yang ada pada masa itu.

Muhammad sejak kecil sudah menjadi anak yatim piatu dan dirawat oleh pamannya.  Selama dalam perawatan pamannya, Muhammad tidak pernah belajar membaca dan menulis. Ketika sudah meningkat dewasa, Muhammad bekerja pada suatu perusahaan karavan yang dimiliki oleh seorang janda kaya yang bernama Khadijah. Akhirnya, Muhammad dan Khadijah menikah.  Khadijah jauh lebih tua dari Muhammad. Dari perkawinan tersebut lahirlah empat anak perempuan.

Pada awal abad ke 7 Muhammad mulai mengikuti cara hidup para peramal dalam mencari wangsit/penjamahan. Dia menghuni sebuah gua di gunung Hira, dekat Mekah. Tidak lama setelah itu Muhammad mengklaim bahwa dia telah mengalami penjamahan dari Jibrael, malaikat yang sering disebut-sebut oleh umat Yahudi dan Kristen. Menurut Muhammad Jibrael menampakkan diri kepadanya atas nama Tuhan yang menjadi sesembahan umat Yahudi dan Kristen. Muhammad menamakan Tuhan tersebut dengan nama Allah.
Mahluk yang diidentifikasinya sebagai Jibrael tersebut mulai menjelaskan apa yang harus dilakukan Muhammad sebagai hamba Allah.  Dia harus menghancurkan patung dewa-dewa baal dimanapun mereka ditempatkan terutama yang ditempatkan dalam Kaabah di Mekah. Muhammad tidak mempedulikan kemarahan  para penjaga Kaabah yang kaya raya tetapi dia malahan memproklamirkan dirinya sendiri sebagai nabi dan mulai menyampaikan kotbah-kotbah menentang penyembahan dewa pagan. Akibatnya, pada tahun 622, kebencian orang-orang Mekah terhadap agama monoteisme yang disebarkan Muhammad telah memaksanya untuk melarikan diri ke Medinah bersama para pengikutnya. Medinah merupakan tempat perhentian para kafilah yang terletak kira-kira 200 mil  di sebelah utara Kaabah.
Beberapa orang Mekah yang melarikan diri bersama Muhammad adalah orang-orang yang siap menerima klaim-klaim Muhammad bahwa Tuhan umat Yahudi dan Kristen telah mengangkat dia sebagai nabi untuk bangsa Arab. Sebagian orang Arab lainnya tidak percaya pada pesan-pesan Muhammad karena secara jujur mereka lebih suka menyembah berhala. Sebagian yang lainnya pada hakikatnya menyatakan kepada Muhammad : “Anda mengklaim sebagai seorang nabi seperti halnya para nabi yang dipercaya oleh umat Yahudi dan Kristen, tetapi kami orang-orang Arab tidak pernah mempunyai nabi-nabi seperti itu, jadi kami tidak dapat menentukan apakah seseorang itu nabi yang diutus Tuhan benar-benar atau bukan ……………. Tetapi orang-orang Yahudi tahu bagaimana mengenali apakah seseorang itu nabi benar-benar  atau bukan.  Maka, apabila orang-orang Yahudi mengkonfirmasikan klaim anda tersebut, kami baru mempercayai anda sebagai nabi. Kalau tidak, kami akan terus menganut kepercayaan  kami sendiri”. 1


Didorong oleh keinginan untuk memperoleh para pengikut lebih cepat di kota Medinah, Muhammad terbeban untuk secepatnya mendapatkan pengakuan dari orang-orang Yahudi bahwa dia adalah benar-benar  nabi yang diutus oleh Tuhan alkitabiah.
Sejumlah kecil orang-orang Yahudi yang bermukim di Mekah tidak seterpelajar saudara-saudara mereka yang bermukim di Medinah dan mereka lebih suka menyerahkan keputusan mengenai klaim-klaim Muhammad kepada umat Yahudi di Medinah. Orang-orang Yahudi di Mekah menyadari bahwa sebagai golongan minoritas mereka lebih baik tidak melibatkan diri dalam “masalah Muhammad” yang sangat sensitif tersebut.  Akibatnya, umat Yahudi di Medinah menghadapi tekanan-tekanan dari orang-orang Arab di kota yang sama agar segera menyampaikan pendapat mereka mengenai nabi dari Mekah tersebut (Muhammad).
KESULITAN DALAM MENEMUKAN FAKTA YANG DAPAT MENDUKUNG KLAIM-KLAIM MUHAMMAD TERSEBUT


Di Medinah, Muhammad menawarkan jasanya sebagai juru damai atau pelerai dalam setiap perselisihan yang timbul di sana. Dalam perannya tersebut dia secara konstan berupaya agar dia disukai oleh orang-orang Arab dan terutama oleh sejumlah besar masyarakat Yahudi di sana.
Muhammad tidak dapat memperlihatkan satupun tanda mujizat sebagai salah satu bukti kenabiannya. Sambil mengamati cara Muhammad melerai perselisihan, orang-orang Yahudi juga memperhatikan Muhammad secara dekat apakah ada tanda-tanda yang dia terima sebagai talenta kenabian yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Kemampuan melakukan mujizat merupakan salah satu bukti kenabian, tetapi Muhammad tidak dapat melakukan satupun mujizat secara realitas sebagai bukti kenabiannya.
Bahkan ayat-ayat dalam Alquran menunjukkan bahwa Muhammad merasa terintimidasi oleh orang-orang yang selalu menuntut dia untuk melakukan perbuatan-perbuatan mujizat sebagai pendukung klaim-klaimnya. Tanpa mujizat, apa lagi yang bisa dia tawarkan ?
Satu hal lagi yang masih bisa ditawarkannya untuk menunjukkan kepada umat Yahudi di Medinah bahwa dia sungguh-sungguh nabi yaitu dia harus dapat mendemonstrasikan kemampuannya menjelaskan Alkitab Perjanjian Lama. Namun patut disayangkan bahwa pengetahuannya tentang kitab suci umat Yahudi tersebut sungguh sangat dangkal untuk tidak menyebut tidak ada sama sekali. Bahkan apa yang diklaimnya sebagai inspirasi Ilahipun tidak dapat menjadi kompensasi atas ketidaktahuannya tentang berita-berita Alkitab.
Suatu Penghapusan Yang Sangat Menyolok Mata
Beberapa tahun kemudian setelah Muhammad menyelesaikan penyusunan 89 bab pertama Alquran yang isinya mengenai wahyu-wahyu Ilahi terdahulu yang telah diterimanya, dia datang kepada umat Yahudi dengan harapan bahwa orang-orang Yahudi di Medinah akan terpikat dengan narasi yang telah ditulisnya dalam Alquran tersebut, karena narasi tersebut menurut Muhammad menceritakan tentang kisah Keluaran. Nantinya Alquran akan mengungkapkan tafsiran-tafsiran Muhammad mengenai peristiwa konfrontasi Musa melawan firaun, seorang raja penguasa Mesir kuno. Dia mengulang-ulang cerita tentang Musa lawan Firaun tersebut sampai 27 kali dalam 89 bab pertama Alquran. Hal itu berarti dia mengulang cerita yang sama setiap 3,3 bab.  Sudah pasti cerita tersebut merupakan naskah kotbah yang paling disukainya. Namun patut disayangkan  dari 27 kali pengulangan cerita yang sama mengenai Keluaran tersebut tidak satu kalipun Muhammad menceritakan tentang  bagian yang paling integral dari kisah Keluaran yang dikenal dengan nama Pesta Paskah Yahudi. Sekalipun seandainya Muhammad tahu mengenai Pesta Paskah Yahudi namun kalau dia tidak menjiwai akan arti Paskah tersebut, orang-orang Yahudi pasti tidak dapat menerima dia sebagai seorang nabi.
M.Z. Khan telah berusaha menyesuaikan terjemahan  nama tokoh – tokoh alkitabiah yang  terdapat dalam Alquran   dengan nama mereka yang lazim tertulis dalam Alkitab berbahasa Inggris yang berlaku. Namun demikian masih ada keganjilan dalam terjemahan M.Z Khan itu   karena nama Inggris tersebut masih tetap dieja dengan ejaan Arab seperti misalnya nama “Saul ” menurut ejaan Arab ditulis sebagai “Talut “.
Mengapa dia berbuat demikian ? Untuk menyembunyikan kesalahan – kesalahan Muhammad agar tidak diketahui oleh para penutur non-Arab. Penerjemah Muslim lainnya  yaitu M.M. Ali berargumentasi bahwa memang terdapat 2 peristiwa yang sama – sama melibatkan masing-masing 300 orang. Dasar berpikirnya adalah orang-orang Gideon berkemah di dekat sebuah pancuran air. Dan pasukan Saul minum dari sebuah sungai. Tetapi dalam kitab Hakim-Hakim 6 : 33 dikatakan bahwa sungai Yordan juga dekat denganperkemahan mereka. Sekarang pertanyaannya: “Apakah Gideon akan menunggu 10.000 orang minum dari sebuah pancuran atau dari sebuah sungai.”
Banyak Hal-Hal Lainnya Yang Tidak Diketahui Oleh Muhammad Tentang Alkitab Perjanjian Lama

Menghapuskan peristiwa Pesta Paskah Yahudi dari kisah Keluaran bukan merupakan kekeliruan Muhammad satu-satunya.  Alquran juga mengungkapkan pandangan Muhammad yaitu bahwa Adam dan Hawa berdosa selagi mereka masih berada di surga bukannya di taman Eden yang terletak di bumi. Muhammad menyatakan dalam Alquran bahwa Adam dan Hawa baru diperintahkan turun ke bumi setelah mereka jatuh ke dalam dosa (Surat 7 : 19-24 atau 7 :20-25). Beberapa penerjemah Muslim berusaha menutupi kesalahan Muhammad dengan menggunakan kata “kebun” sebagai pengganti kata “surga” namun dalam beberapa ayat berikutnya mereka tidak dapat memungkiri lagi bahwa Allah memang menyuruh Adam dan Hawa turun ke muka bumi (Surat  7: 24).


Muhammad lebih lanjut menyatakan bahwa Haman, seorang Persia yang dikisahkan dalam Kitab Ester, adalah sekutu Firaun di Mesir pada jaman Musa ( Surat 28 : 6 – 8 ) padahal dalam Alkitab dikisahkan bahwa Haman hidup pada masa kurang lebih 900 tahun setelah jaman Musa. Sudah pasti untuk menerima hal ini, umat Muslim harus mencari-cari dalih bahwa yang dimaksud Haman adalah nama seorang laki-laki Mesir pada jaman Firaun yang kebetulan saja sama dengan nama Haman alkitabiah. Muhammad juga tidak dapat membedakan antara Saul, yang dikisahkan dalam 1 Samuel  dengan Gideon, yang dikisahkan dalam kitab Hakim-Hakim 7 : 1-7. Kisah mengenai penetapan 300 orang yang dipilih dari 10.000 laki-laki dan pemilihan ditentukan atas dasar bagaimana cara mereka minum air yang sebenarnya merupakan kisah tentang Gideon tetapi Muhammad menyebutnya sebagai kisah Saul (lihat Surat 2 : 249 atau 250).
Suatu Legenda Sesat Yang Dikeramatkan


Muhammad mendengar suatu cerita Yahudi yang aneh di suatu tempat. Orang yang merekayasa cerita tersebut mengklaim bahwa pada saat Tuhan menurunkan hukum Torat di gunung Sinai, umat Israel pada dasarnya menolak untuk menerima hukum tersebut. Bagaimana Tuhan memaksa mereka untuk mematuhi dan membuka mata mereka ? Tuhan menjebol gunung Sinai dan mengangkatnya ke angkasa tepat di atas perkemahan umat Israel.  Karena mereka berpikir bahwa Tuhan akan menjatuhkan gunung tersebut di atas kepala mereka , umat Israel buru-buru meluluhkan hati mereka (maksudnya menerima ketetapan  hukum Torat tersebut).
Alangkah terkejutnya umat Yahudi  di Medinah ketika mereka mengetahui bahwa Muhammad telah merekayasa salah satu legenda mereka yang tercantum dalam Alkitab Perjanjian Lama.2 Bagaimana mungkin Muhammad mengharapkan umat Yahudi untuk menerima “wahyu-wahyunya”, yang banyak mengandung kesalahan  tersebut, sebagai “wahyu-wahyu” yang akan mengkonfirmasikan Alkitab Perjanjian Lama ? Selain itu, alangkah memalukannya bahwa Muhammad masih terus menyampaikan  tafsiran salah tentang cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama tersebut di sebuah kota yang dihuni oleh banyak orang Yahudi terpelajar  yang pasti akan selalu  mengoreksi kesalahan-kesalahannya tersebut bahkan mungkin  akan mencemoohkan tafsiran salah tersebut secara terbuka.3


Bagaimana reaksi Muhammad atas cemoohan dari orang-orang Yahudi itu ? Dia mempunyai 3 pilihan yaitu mengakui bahwa dia bukan seorang nabi, pindah ke kota yang tidak ada orang Yahudinya, atau menghabisi semua orang Yahudi yang menolaknya  di kota Medinah. Karena rasa malunya , Muhammad menetapkan pilihan nomor 3 yaitu menghabisi orang-orang Yahudi. Pilihan yang menimbulkan bencana besar semacam itu juga dilakukan oleh para pemimpin Islam pada masa-masa mendatang.
Sekelompok pembela Muslim moderen berupaya untuk membenarkan alasan Muhammad melancarkan perbuatan genosida  terhadap orang-orang Yahudi di Medinah tersebut. Mereka juga berusaha untuk memisahkan tindakan pembunuhan yang dilakukan Muhammad di Medinah dari sejumlah perbuatan kejam yang dilakukan oleh para pengikutnya  selama berabad-abad sepanjang sejarah Islam.
Saya menyebut mereka para pembela Muslim moderen karena selama kurang lebih 1.400 tahun sejak jaman Muhammad umat Muslim dengan bebas melakukan pengendalian atas Afrika Utara dan Timur Tengah sehingga hampir tidak ada orang yang berani menentang perbuatan-perbuatan kejam mereka. Jaman berubah sekarang, dan umat Muslim berupaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan apologetika mereka. Namun mereka harus menghadapi investigasi kritis yang dilancarkan oleh masyarakat Barat yang menganut  paham kebebasan  berpikir. Dengan kata-kata lain, situasi dunia mulai memanas di bawah pengaruh Islam.
Sejumlah apologis menyebut tindakan kejam yang terjadi di Medinah tersebut sebagai suatu perang defensif melawan umat Yahudi. Benarkah demikian ?  Pertama, secara berulang-ulang Alquran justru mengungkapkan kecaman-kecaman Muhammad terhadap orang-orang Yahudi  yang telah menolak klaim-klaimnya sementara sejumlah orang Yahudi lain dikecam karena merendahkan Alquran. Perhatikan pernyataan  dalam Surat 2 : 41,42) berikut ini : “………janganlah  kamu menukarkan ayat-ayatKu dengan harga rendah”. Sementara sejumlah orang Yahudi lain dikecam karena dianggap telah menyembunyikan ayat-ayat Alquran dari pengetahuan orang-orang Arab. Kedua, menurut Alquran, Muhammad sendiri tidak pernah sekalipun menuduh orang-orang Yahudi telah melakukan tindakan penyerangan secara fisik terhadapnya. Jadi, mana mungkin tindakan-tindakan kejam yang terjadi di Medinah disebut perang defensif melawan umat Yahudi. Fakta yang sebenarnya terjadi adalah kitab Hadis mengungkapkan bahwa orang-orang Yahudi di Medinah mencela, mengkritik  atau tidak sependapat dengan Muhammad dan para pengikutnya dalam urusan intelektual . Jadi tidak ada disebutkan di sana bahwa orang-orang Yahudi melakukan ancaman-ancaman atau intimidasi-intimidasi secara fisik terhadap Muhammad dan para pengikutnya.

Sejumlah apologis menyebut tindakan kejam yang terjadi di Medinah tersebut sebagai suatu perang defensif melawan umat Yahudi.


Orang-orang Arab di Medinah minta agar orang-orang Yahudi segera memberikan penilaian mereka yang sejujurnya terhadap Muhammad. Pada masa sebelum Muhammad orang-orang Yahudi di Medinah memperoleh kebebasan menyampaikan pendapat-pendapat mereka.  Namun kebebasan berbicara yang mereka peroleh pada masa sebelum Muhammad tersebut tidak mungkin lagi bisa mereka nikmati saat itu karena ketika mereka menyampaikan pendapat mereka dengan bebas terhadap Muhammad berarti mereka dan saudara-saudara mereka yang lain akan menghadapi malapetaka.
Namun, sebelum Muhammad dapat membalas dendam atas perlakuan orang-orang Yahudi yang membuatnya malu tersebut, dia harus berkolusi dengan para penganut paganisme di Medinah yang merupakan kelompok mayoritas yang sangat menghormati orang-orang Yahudi.  Untuk tidak menimbulkan kecurigaan dan untuk memberi waktu baginya mengatur siasat , Muhammad dan beberapa pengikutnya yang berasal Mekah mengesahkan sebuah perjanjian persahabatan dengan para penganut paganisme dan juga dengan orang-orang Yahudi. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama Konstitusi Medinah. Dalam konstitusi tersebut Muhammad diberi hak untuk menjadi pelerai sengketa. Perjanjian itu juga mengikat semua pihak yaitu Muslim, penganut paganisme , dan umat Yahudi untuk hidup berdampingan secara damai.
Siapapun tahu bahwa ketidaksengajaan , kecerobohan, kebodohan, mabuk atau kemarahan bisa saja menyebabkan seseorang melanggar perjanjian tersebut. Kalau ternyata pelanggaran tersebut benar-benar terjadi, sudah pasti Muhammad sebagai sang pelerai akan diminta untuk mengambil keputusan penyelesaiannya agar perdamaian dapat diwujudkan kembali. Orang tidak pernah menduga bahwa Muhammad sedang secara diam-diam menantikan saat-saat dimana orang-orang Yahudi melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah disepakati bersama tersebut. Manakala benar-benar terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh seorang Yahudi, pada saat itulah Muhammad menyatakan bahwa dia tidak mau lagi menjadi pelerai untuk mencari penyelesaian , sebaliknya dia malahan menyebarluaskan berita bahwa orang Yahudi telah melakukan pelanggaran kesepakatan bersama.  Selain itu Muhammad bahkan akan memperkarakan pelanggaran yang dilakukan oleh seorang Yahudi tersebut sebagai sebuah cassus belliuntuk mendiskreditkan  seluruh komunitas Yahudi.  Jadi penunjukan Muhammad secara de facto sebagai pelerai sengketa yang timbul akibat  adanya konstitusi tersebut akan dimanfaatkannya untuk membalas dendam terhadap orang Yahudi dengan cara yang masih dapat dibenarkan.


Padahal sesungguhnya tujuan orang Yahudi menandatangani perjanjian tersebut adalah agar, sekalipun mereka tidak mengakui Muhammad sebagai nabi, setidak-tidaknya mereka masih bersedia mengakuinya sebagai pelerai sengketa (arbiter). Orang-orang Yahudi bahkan berharap, bilamana mungkin, untuk menempatkan Muhammad dalam kedudukan pada bidang politik karena mereka  berpendapat bahwa hal tersebut akan lebih baik baginya. Kesibukan-kesibukan di bidang politik akan dapat mengalihkan perhatiannya dari obsesinya untuk menjadi nabi karena orang-orang Yahudi tahu benar bahwa Muhammad bukan “orang yang terpanggil” sebagai nabi alkitabiah.
Tetapi Muhammad justru tidak mau mencurahkan banyak perhatian dan waktu untuk berkiprah dalam perpolitikan di Medinah. Penolakan Muhammad menduduki posisi yang berkiprah dalam urusan hubungan-masyarakat yang didukung oleh orang-orang Yahudi tersebut justru membuat Muhammad nantinya memilih jalan lain  yang menurut dia lebih menarik dan menyenangkan  yaitu kekerasan militer, merampok, dan seks.
Muhammad dan para pengikutnya segera mengangkat senjata untuk memulai petualangan mereka.  yang berawal dari Medinah sebagai pangkalan dan diteruskan ke kota-kota lainnya. Mereka merampok para kafilah yang sedang melakukan perjalanan dari Mekah dan Syria. Menurut seorang penulis yang bernama Ibn Warraq , seorang mantan Muslim ,  Muhammad pada masa itu tidak lebih daripada pimpinan perampok yang tidak mau mencari nafkah dengan jalan halal. 4


Apakah Muhammad hanyalah sekedar seorang Jesse James berbangsa Arab ? Atau bahkan dia jauh lebih jahat lagi ? Kutipan-kutipan dalam bab berikut menunjukkan bagaimana Muhammad mendistribusikan para wanita dan gadis-gadis yang tertawan selama Muhammad melakukan penyerangan dan penggarongan kepada para pengikutnya yang laki-laki untuk dijadikan sebagai budak nafsu seks mereka. Sudah barang tentu setelah Muhammad mengambil beberapa untuk dirinya sendiri. 5 Sementara itu orang laki-laki penganut paganisme diajak masuk Islam. Dengan tanpa rasa malu sama sekali, Muhammad telah menyiapkan jawaban tak bermoral yang masih tetap dijadikan pegangan dengan serius oleh ratusan juta orang-orang pria Muslim yang mengimaninya, bahkan sampai hari ini.

Dalam Alquran, Muhammad secara berulang-ulang mendefinisikan ulang surga umat Kristen atau Yahudi sebagai sebuah rumah pelacuran yang sangat besar milik Allah yang terletak di langit. Di dalam rumah pelacuran surgawi tersebut orang-orang pria Muslim — terutama mereka yang mati sahid — akan memperoleh sekawanan bidadari yang disebuthouris yang akan memuaskan nafsu seks mereka untuk selama-lamanya  (Surat 38 : 52 ; 44 : 54 ;  55 : 56 – 74 ; 56 : 22, 35, 36). Menurut Alquran, berhubungan seks dengan parahouris cantik di surga dijamin pasti jauh lebih nikmat bila dibanding dengan hubungan seks yang  dilakukan di dunia atau yang pernah mereka bayangkan sekalipun.


Jika seorang pengikutnya mengeluh  bahwa para syuhada terdahulu telah menikmati semua houris yang masih perawan, dan menyisakan bagi para syuhada yang berikutnya dengan barang bekas, Muhammad telah menyiapkan sebuah jawaban yang sangat ampuh. Menurut Alquran, houris adalah para bidadari yang diciptakan langsung oleh Allah dan dijadikan gadis-gadis perawan (Surat 56 : 35, 36).

Para ilmuwan Islam berusaha menyatakan bahwa ada maksud-maksud yang hakiki yang terkandung di balik kata-kata tersebut. Salah satu tafsir mengenai hal itu berbunyi : houris surgawi memiliki keperawanan yang tidak bisa dibandingkan dan yang sangat berbeda dengan keperawanan biasa  karena houris perawan tersebut sekali diperawani akan secara otomatis balik menjadi perawan lagi, maksudnya mereka siap untuk melakukan hubungan seks berikutnya dalam keadaan tetap perawan.


Kenyataan semacam ini makin mengejutkan  masyarakat Yahudi dan Kristen yang tinggal di Medinah, mana mungkin orang semacam ini mengklaim sebagai salah satu nabi alkitabiah. Bagi seorang pria Yahudi menikahi satu isteri adalah paling ideal. Gagasan persetubuhan dengan siapa saja, baik di dunia maupun di akhirat merupakan suatu gagasan yang sangat dibenci. Sebagai tuntunan bagi orang Kristen, Yesus mengajarkan bahwa orang-orang yang terpanggil  masuk ke dalam kerajaan surga di tempat Tuhan yang Maha Kudus bertahta tidak akan kawin dan dikawinkan, mereka akan hidup seperti malaikat  surgawi (Markus 12 : 25).
Muhammad secara berulang-ulang mendefinisikan ulang surga umat Kristen dan Yahudi sebagai sebuah rumah pelacuran yang sangat besar milik Allah yang terletak di langit.


Bagaimana dapat memelihara kesucian perkawinan bagi orang yang telah menikah kalau pikiran-pikiran tentang hubungan seks dengan para houris menjadi penghalang bagi suami untuk mencintai dan membelai isterinya dan menjadi penghalang bagi isteri untuk menikmati cinta suaminya karena pikirannya dihantui oleh para houris . Bagi seseorang yang menjalankan ajaran Alquran dengan sepenuh hati mungkin tidak akan menemukan  hal lain yang lebih menghancurkan kebahagiaan perkawinan suci daripada kejahatan yang keji semacam itu.


Sungguh mengherankan , saya tidak menemukan satu ayatpun dalam Alquran maupun dalam Hadis yang menyatakan bahwa para malaikat yang suci adalah mahluk seksual. Namun justru ada disebutkan dalam Alquran bahwa jin-jin (para malaikat yang berdosa)melakukan hubungan seks dengan houris  (Surat 55 : 74).


Alangkah anehnya bahwa Muhammad menempatkan umat Muslim di surga dalam kedudukan lebih rendah daripada  para malaikat suci. Umat Muslim di surga tidak memuliakan dan menyembah Tuhan dengan penuh kebahagiaan tetapi mereka justru harus melakukan hal yang sama dengan para jin kalau diberi kesempatan yaitu berhubungan seks dengan para houris untuk selama-lamanya.


Terdorong oleh hasrat seksual yang sangat kuat yang dikombinasikan dengan prospek yang sangat cerah bagi pekerjaan merampok , orang-orang penganut paganisme dengan berbondong-bondong mengikuti dan berpihak pada Muhammad. Janji Muhammad yang sangat menggoda tentang kenikmatan seksual di firdaus tersebut sungguh sangat mempengaruhi para pengikutnya.
Seorang sejarawan yang bernama Maxime Rodinson mencatat bahwa seorang Arab yang bernama Umayr Ibn al-Humam ketika mendengar janji Muhammad bahwa setiap orang yang mati sahid dalam peperangan akan segera masuk ke firdaus, dengan tanpa berpikir panjang lagi segera berseru :
“Asyik ………  Asyik !  Aku akan segera masuk firdaus kalau aku terbunuh dalam perang ini” …….. seketika itu juga dia mengambil pedang dan terjun ke medan perang yang sangat dahsyat dan akibatnya tak lama kemudian matilah ia. 6


Umayr Ibn al-Humam barangkali merupakan orang mati sahid pertama dalam jajaran pengikut-pengikut Muhammad yang sampai sekarang masih mengimani fantasi jelek yang diprakarsai oleh Muhammad tersebut. Itulah sebabnya mereka menyia-nyiakan  hidup mereka sendiri dan orang-orang lain dengan melakukan tindakan semacam bom bunuh diri.

3 comments:

  1. Mengapa banyak versi pada injil yg berbeda? Sedangkan Al-Qur'an ga pernah mengalami perubahan sedikitpun... Apakah anda sudah mempelajari Semua Hadits? Tentu saya meyakini anda belum sedikitpun membacanya

    ReplyDelete
  2. yg bikin artikel ini....orang gila loe monyet....
    gua pengikut muhammad saw dan penyembah allah swt.....
    monyet loe TAI....

    ReplyDelete
  3. Yah setiap orang berhak berpendapat dan mempunyai pandangan... Tapi apakah kalian mengingkari keajaiban-keajaiban Al-Quran yg satu persatu mulai nyata. Tanyakan hati kecil mu

    ReplyDelete