Thursday, February 5, 2015

YESUS, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI

PENDAHULUAN
Kristus, Sang Pencipta. Adalah suatu kenyataan bahwa keyakinan kita tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia telah membuat banyak orang lain tidak senang dan marah. Sekarang, dengan penyajian pelajaran ini kita beranjak lebih jauh lagi dalam iman kita dengan meyakini bahwa Yesus Kristus bukan saja Tuhan dan Juruselamat, tapi Dia adalah juga Allah dan Sang Pencipta alam semesta. Barangkali bagi orang-orang yang skeptis terhadap keyakinan tersebut akan mencemooh iman kita itu sebagai sesuatu yang “terlalu bagus untuk menjadi kenyataan” (too good to be true); bahkan bagi mereka yang ekstrem menentang akan menuding kita sebagai “orang-orang yang sangat konyol” (those who drank themselves silly).

Yesus Kristus–”tokoh” yang ditolak oleh bangsa-Nya sendiri dan kemudian menyalibkan-Nya di Golgota–adalah Allah dan Sang Pencipta? Tentu saja, mengapa tidak? Itulah yang dikatakan oleh Alkitab, Kitabsuci yang kita percaya dan terima sebagai Firman Allah. Bahwa banyak orang tidak percaya pada doktrin penciptaan alkitabiah, mereka yang lebih menganggap teori evolusi lebih masuk akal dan yang menerima teori “big bang” sebagai awal terciptanya alam semesta, hal itu tidak akan mengganggu atau menawarkan keyakinan kita. Logika kita sederhana: “Hanya sesuatu yang lebih besar dari apa yang diciptakan itulah yang dapat menciptakannya. Jadi, hanya Makhluk yang lebih besar dari alam semesta itulah yang bisa menciptakan alam semesta” [alinea pertama: dua kalimat pertama].
Akan halnya Yesus Kristus sebagai Pencipta, inilah yang dikatakan oleh Alkitab: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya” (Yoh. 1:10; huruf miring ditambahkan); “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:2, 3; huruf miring ditambahkan). “Kita juga belajar bahwa Allah ini–Dia yang menciptakan alam semesta, Dia yang telah memintal milyaran galaksi itu dan menghamparkannya di jagad raya–adalah Dia yang sama yang telah datang ke bumi, hidup di antara kita sebagai manusia, bahkan lebih menakjubkan lagi untuk menimpakan pada Diri-Nya hukuman atas dosa kita” [alinea kedua].

ASAL-USUL ALAM SEMESTA (Pada Mulanya)
Teori “Big Bang.” Konon, menurut teori standar, alam semesta ini terjadi sekitar 13.700.000.000 (13,7 milyar) tahun silam yang dihasilkan oleh apa yang disebut sebagai “keganjilan” (singularity). Konon lagi, ada sesuatu yang disebut “lubang hitam” (black holes) di mana terdapat tekanan gravitasi yang sangat intensif, begitu hebatnya tekanan gravitasi itu sehingga telah menyebabkan “kepadatan tak terbatas” di dalam “lubang hitam” itu, suatu kondisi yang disebut “singularitas.” Mula-mula kepadatan tak terbatas itu sangat kecil dengan suhu yang sangat dingin, kemudian memuai dan berubah membesar serta memanas, kian lama semakin bertambah besar dan bertambah panas, terus berkembang ukuran dan suhunya sampai tiba pada keadaannya yang sekarang. Meskipun disebut “Big Bang” (yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “ledakan besar”), bukan berarti ada ledakan besar mengawali terjadinya alam semesta ini, melainkan terjadinya suatu keadaan penggelembungan seperti balon yang terus bertambah besar. Menurut teori ini pula, sebelum kejadian “Big Bang” tersebut di alam semesta ini tidak ada yang namanya “ruang angkasa.”

Setelah missi penerbangan ruang angkasa AS “Apollo 11″ untuk pertama kalinya berhasil mendaratkan manusia di Bulan pada 20 Juli 1969, lalu disusul dengan beberapa kali missi serupa hingga 1972 (sebenarnya Uni Sovyet dengan missi ruang angkasa “Luna 2″ sudah lebih dulu mendaratkan robot di Bulan pada 13 September 1959!), keberhasilan itu telah memicu tiga fisikawan Inggris, masing-masing Stephen Hawking, George Ellis dan Roger Penrose, untuk lebih mendalami dan mengembangkan Teori Relativitas temuan Albert Einstein yang terkenal itu. Penelitian mereka selain menghasilkan teori penghitungan ruang dan waktu, sistem kalkulasi itu juga membawa mereka kepada kesimpulan bahwa ruang dan waktu memiliki permulaan secara terbatas yang berhubungan dengan asal-usul materi dan energi. Selain itu, mereka berpendapat bahwa apa yang disebut singularitas itu tidak terdapat di ruang angkasa, tapi sebaliknya ruang angkasa dimulai di dalam singularitas tersebut. Dengan demikian, sebelum ada singularitas tidak ada ruang, waktu, materi atau energi. Pertanyaannya, kalau singularitas (daerah padat dengan tekanan gravitasi intensif) itu tidak terdapat di ruang angkasa, lalu adanya di mana? Selain itu, dari mana asalnya singularitas tersebut dan mengapa itu ada? Semua ini hanya bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan manusia dengan dua kata: tidak tahu.

Sebagai ilmu pengetahuan, teori “Big Bang” didukung oleh “Hukum Hubble”–berdasarkan observasi Edwin Hubble yang menemukan fenomena pergerakan galaksi-galaksi yang menjauh dari kita dalam kecepatan proporsional–yang menopang teori bahwa alam semesta tadinya padat tapi kemudian memuai dan meluas (teori perluasan alam semesta). Selain itu, teori bahwa alam semesta terbentuk dari singularitas yang semula sangat dingin lalu berubah jadi panas dan sangat panas didukung oleh penemuan dua pakar radio-astronomi, Arno Penzias dan Robert Wilson, yang menemukan adanya radiasi CMB (Cosmic Microwave Background) bersuhu minus 270,425 Celsius di jagad raya ini yang dianggap sebagai residu panas yang tersisa dari proses pemuaian tadi. Selain itu, terdapatnya “unsur-unsur cahaya” yang melimpah dalam hidrogen dan helium juga dianggap mendukung teori “Big Bang” tersebut. Tapi teori ini bukannya tidak mendapat tantangan dari para ilmuwan lainnya. Di antaranya adalah fisikawan Prof. Robert Gentry yang mengklaim bahwa model “Big Bang” standar itu didasarkan pada sebuah paradigma yang salah serta tidak konsisten dengan data empiris. Namun yang pasti semua pendukung teori “Big Bang” yakin dan sepakat dalam satu hal: bahwa alam semesta ini memiliki sebuah awal!

Kesederhanaan teori alkitabiah. Sementara manusia, khususnya dunia ilmu pengetahuan, berusaha dengan penelitian dan temuan-temuan teoretis yang tidak pernah putus untuk mengetahui asal-usul alam semesta ini, Alkitab menyodorkan “teori penciptaan” yang sangat sederhana, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Sesungguhnya, keangkuhan manusia saja yang membuat mereka tidak percaya pada pernyataan Firman Allah itu, lalu berusaha dengan segala daya-upaya dan melalui berbagai penelitian terhadap alam untuk menemukan “bukti” yang menentang teori penciptaan alkitabiah itu. Jadi, pada hakikatnya berbagai teori manusia tentang penciptaan adalah sikap mengingkari kemahakuasaan Allah dan kebenaran firman-Nya. Padahal, seperti yang Allah tanyakan kepada nabi Ayub, “Sudah adakah engkau ketika bumi Kujadikan? Jika memang luas pengetahuanmu, beritahukan!…Tahukah engkau dari mana datangnya terang, dan di mana sebenarnya sumber kegelapan? Dapatkah engkau menentukan batas antara gelap dan terang? (Ay. 38:4, 19-20, BIMK).

“Banyak orang menolak konsep tentang alam semesta telah diciptakan oleh karena hal itu menyiratkan adanya Pencipta. (Bahkan, nama ‘Big Bang’ itu dimaksudkan untuk mengejek gagasan tentang alam semesta yang diciptakan.) Tetapi bukti bahwa alam semesta memiliki suatu permulaan sudah menjadi begitu kuat sehingga hampir semua ilmuwan sudah menerimanya, setidaknya untuk saat ini (pandangan-pandangan ilmiah, bahkan yang tadinya dianggap sakral, sering diubah atau disangkal)” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
Sebagai umat Kristen yang percaya pada Alkitab sebagai firman Allah, kita percaya pada pernyataan bahwa dunia dan alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Bahkan, tidak peduli apa kata dunia, kita pun percaya bahwa penciptaan oleh Allah itu telah dilakukan-Nya melalui Yesus Kristus, “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan…; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:16, 17). Dunia boleh tidak sepakat dengan apa yang anda dan saya yakini, tetapi hanya karena dunia tidak percaya bukan berarti kita akan berkompromi atau membiarkan dunia merongrong keyakinan kita itu. “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3).
Mencipta dari kehampaan. Berbicara perihal penciptaan, seseorang pernah “menciptakan” sebuah anekdot tentang penciptaan yang mungkin sebagian dari kita pernah mendengarnya. Suatu kali Setan dengan rasa percaya diri yang tinggi–seperti biasanya–menghadap Allah dan meminta izin untuk beradu kuasa dengan Yesus menciptakan manusia di Bumi ini, disaksikan oleh seluruh malaikat suci dan malaikat jahat. Allah setuju dan langsung menentukan waktu dan tempat. Syaratnya: bahan baku harus disediakan sendiri oleh masing-masing kontestan. Beberapa hari kemudian Setan muncul lagi di gerbang surga dan mohon bicara dengan Allah. Katanya, “Kalau bahan bakunya harus disediakan sendiri, lalu dari mana saya bisa mendapat tanah liat di jagad raya ini?” Karena keberatan tersebut sangat masuk akal, dengan sangat bijaksana Allah pun membatalkan kontes tersebut. Sebab Allah tahu bahwa Setan–seperti yang disadarinya sendiri–tidak memiliki kuasa untuk menciptakan apapun dari kehampaan, sekalipun itu cuma sebongkah tanah liat sebagai bahan baku untuk menciptakan manusia!

“Alam semesta telah diciptakan oleh kuasa Firman Allah; yakni, baik materi maupun energi menjadi ada oleh kuasa Allah…Penciptaan dari kehampaan dikenal sebagai penciptaan ex nihilo. Kita sering menghargai manusia karena menciptakan berbagai hal, namun manusia tidak mampu menciptakan dari kehampaan. Kita dapat mengubah bentuk dari materi yang sudah ada, tapi kita tidak mempunyai kuasa untuk menciptakan dari kehampaan” [alinea kedua: kalimat terakhir; aline ketiga: tiga kalimat pertama].

Pena inspirasi menulis: “Dalam menekuni hukum materi dan hukum alam, kalau mereka tidak menyangkalnya, banyak orang yang kehilangan pandangan akan keterwakilan Allah secara langsung dan berkesinambungan. Mereka menyajikan gagasan bahwa alam bertindak terpisah dari Allah, memiliki di dan dari dalamnya sendiri keterbatasannya serta kuasanya sendiri untuk bekerja. Dalam pikiran mereka ada perbedaan yang jelas antara yang alami dan yang supra alami. Apa yang alami dianggap sebagai penyebab dari hal-hal yang biasa, tidak berhubungan dengan kuasa Allah. Kekuatan vital dikaitkan dengan materi, dan alam dianggap dewa” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 8, hlm. 259).

Apa yang kita pelajari tentang permulaan alam semesta menurut Alkitab?
1. Sementara manusia berusaha menafikan kuasa penciptaan Allah dengan menyuguhkan gagasan-gagasan tentang teori penciptaan berdasarkan ilmu pengetahuan, Firman Allah secara lugas menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh kuasa Allah.
2. Teori-teori manusia, yang dihasilkan oleh kemampuan berpikir manusiawi yang terbatas, terlalu rumit untuk dicerna dan diterima oleh pikiran kebanyakan orang. Selain itu, kemampuan berpikir manusia terlampau rendah untuk dapat memahami kemahakuasaan Allah, sehingga cara yang paling masuk akal dalam menerima pernyataan Allah itu adalah dengan iman.
3. Betapa pun tingginya kecerdasan manusia untuk memahami keterciptaan alam semesta ini, kita hanya dapat menganalisis berdasarkan keadaan dari materi atau kebendaan sebagaimana adanya sekarang ini. Tanpa Firman Allah, kita tidak akan pernah mampu mengetahui secara pasti apa yang sesungguhnya terjadi sampai alam semesta berada dalam keadaannya seperti sekarang ini.

KESAKSIAN ALAM (Langit Bercerita)
Kesempurnaan penciptaan. Penciptaan adalah suatu peristiwa supra-alami, karena dalam prosesnya melibatkan kuasa adikodrati di luar jangkauan pemikiran manusia. Seperti telah disinggung dalam ulasan pelajaran hari Minggu (30 Desember) kemarin, Alkitab telah menjelaskan dan ilmu pengetahuan pun mengakui bahwa riwayat alam semesta ini memiliki satu permulaan, yaitu titik awal dari mana segala sesuatu di alam semesta ini bermula. Itulah sebabnya cosmogeny, yaitu ilmu yang mempelajari asal-usul alam semesta, sering disebut sebagai “wilayah di mana ilmu pengetahuan dan teologia bertemu.” Inilah kajian ilmu yang telah melibatkan banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu (fisika, geo-fisika, astronomi, matematika, dsb.), dan inilah juga “ilmu pengetahuan” paling pertama yang diajarkan dalam Alkitab.

Dalam pengertian tertentu dan sederhana kita dapat mengatakan bahwa Alkitab yang lebih dulu menyodorkan “teori” tentang penciptaan (Kej. 1:1), lalu manusia khususnya orang-orang yang tidak percaya mengadakan penyelidikan dan penelitian ilmiah dalam usaha mereka untuk membuktikan kesalahan dari teori kitabsuci itu. Namun Alkitab tidak sekadar menyampaikan teori penciptaan, tapi juga menyajikan fakta-fakta dengan metodenya sendiri. Antara lain melalui penuturan pemazmur, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi” (Mzm. 19:2-5). Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan langit pada ini adalah שָׁמַיִם, shämah’yim, sebuah kata-benda maskulin seperti yang digunakan dalam Kejadian 1 dan 2. Jadi, pemazmur memang merujuk kepada obyek yang sama seperti yang diuraikan dalam pasal penciptaan di bagian awal Kitabsuci.

Mazmur 19 ini unik dan sering disebut sebagai “mazmur penciptaan dan mazmur Taurat” karena isinya bertutur perihal kesempurnaan dari dua mahakarya Allah tersebut: penciptaan dan hukum. Allah tidak sekadar menciptakan alam semesta, termasuk Bumi dan segala isinya, tetapi juga menciptakannya dengan sempurna. Jadi, kesempurnaan adalah ciri dan kata-kunci dari penciptaan alam semesta. “Tidak saja setiap bagian dari alam semesta ini akan mampu menyokong kehidupan. Bahkan, tampaknya alam semesta harus benar-benar dirancang dengan baik agar kehidupan bisa eksis. Pertama, bahan dasar dari semua materi–yaitu atom–harus cukup stabil sehingga obyek-obyek materi yang stabil dapat tercipta. Kestabilan atom-atom itu bergantung pada kekuatan yang menopang bagian-bagian atom itu bersama-sama. Atom mengandung partikel-partikel yang saling tarik-menarik dan tolak-menolak. Kekuatan tarikan dan tolakan itu harus benar-benar seimbang” [alinea pertama: enam kalimat pertama].

Dikenal lewat karya-Nya. Ketika pada tahun 2007 Apple Inc. memperkenalkan iPhone, ponsel cerdas yang terkenal itu, dan kemudian dalam tahun 2010 meluncurkan komputer tablet pertama yang dinamai iPad, seluruh dunia riuh membicarakan tentang kepiawaian Steve Jobs sebagai “pencipta” dua perangkat komunikasi digital yang canggih itu. Sampai sekarang pun nama tokoh yang meninggal dunia akibat kanker tahun 2011 lalu itu tetap melekat pada produk-produk tersebut karena namanya seakan diabadikan oleh karya-karyanya itu. Itu baru barang-barang yang hanya berguna bagi sebagian kecil manusia yang “merasa memerlukan” benda-benda tersebut, dan yang “menganggap mampu” untuk membelinya.

Demikianlah kita juga mengenal Allah melalui karya ciptaan-Nya, baik dalam penciptaan alam semesta maupun manusia itu sendiri. Adam dan Hawa saja yang pernah mengenal Allah secara langsung muka dengan muka, serta beberapa orang keturunan mereka yang mengenal Allah melalui komunikasi langsung. Tapi pada umumnya manusia hanya bisa mengenal Allah melalui Firman-Nya dan alam ciptaan-Nya. Rasul Paulus menulis, “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:19, 20; huruf miring ditambahkan). Jadi, di samping hal-hal yang secara gamblang dinyatakan Allah kepada manusia, ada pula hal-hal mengenai Diri-Nya yang meski tidak terlihat secara nyata kepada manusia namun itu tercermin dari hasil karya-Nya, yaitu kuasa dan keilahian-Nya yang tampak melalui kedahsyatan dan kecermatan penciptaan alam semesta.

“Dunia ini juga pasti telah dirancang dengan bijaksana agar kehidupan hadir. Bentangan suhu harus sesuai dengan kehidupan; maka jarak dari matahari, kecepatan rotasi, dan komposisi atmosfir semuanya harus dalam keseimbangan yang tepat. Banyak rincian lain dari dunia ini yang harus dirancang dengan cermat. Sesungguhnya, hikmat Allah kelihatan dari apa yang Ia ciptakan” [alinea terakhir].
Apakah Allah masih berkarya? Di akhir minggu penciptaan, yaitu menjelang Sabat hari yang ketujuh ketika Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan, Allah menyatakan penilaian-Nya: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam” (Kej. 1:31). Kalimat ini juga merupakan deklarasi dari rasa puas atas apa yang sudah diciptakan-Nya. Namun, sekalipun segala sesuatu telah diciptakan dengan sempurna–bahkan menurut standar penilaian Allah sendiri–tidak berarti bahwa Allah sudah berhenti mencipta dan tidak lagi mengerjakan apa-apa. Mengapa? Karena dosa telah menimbulkan degradasi terhadap segala sesuatu yang diciptakan itu, dan secara selektif Allah terpaksa harus melakukan reparasi-reparasi di mana perlu sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Ibrani 4:4-11 mengisyaratkan bahwa Allah belum benar-benar berhenti bekerja, dan Yesus sendiri menyatakan, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Allah juga masih terlibat dalam penciptaan manusia-manusia baru di dalam kandungan (Mzm. 139:13-16; Yes. 44:2, 24), masih menumbuhkan rumput dan tumbuhan untuk makanan hewan dan manusia (Mzm. 104:14), masih bekerja untuk menyembuhkan orang sakit (Yak. 5:15), bahkan masih terus bekerja untuk menumbuhkan bibit-bibit kerohanian dalam hati manusia (1Kor. 3:6, 7) serta menjadikan orang-orang yang menerima Kristus menjadi “ciptaan baru” (2Kor. 5:17, 18).
Pena inspirasi menulis: “Allah terus-menerus bekerja di alam. Alam itu adalah hamba-Nya, diarahkan sesuai keinginan-Nya. Alam dalam pekerjaannya menyaksikan tentang adanya kecerdasan dan keterwakilan aktif dari satu makhluk yang menggerakkannya dalam seluruh perbuatan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Bukan oleh suatu kuasa asli yang melekat pada alam itu sehingga dari tahun ke tahun bumi menghasilkan rahmatnya dan melanjutkan perjalanannya mengitari matahari. Tangan dari kuasa yang tak terbatas itulah yang terus-menerus bekerja menuntun planet ini. Itulah kuasa Allah yang sedang bekerja sehingga menjaganya dalam posisi dan peredarannya” (Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 8, hlm. 260).

Apa yang kita pelajari tentang alam yang bersaksi perihal pekerjaan Allah?
1. Manusia boleh meragukan pekerjaan penciptaan Allah yang dahsyat itu, namun manusia tidak dapat menolak fakta tentang kedahsyatan penciptaan-Nya dalam hamparan benda-benda langit. Kesempurnaan penciptaan alam semesta juga mencerminkan pribadi Allah itu.
2. Dosa telah memisahkan kita dari Allah, dan membuat kemampuan berpikir kita sangat merosot sehingga sulit untuk memahami keadaan Allah. Tapi kita masih dapat mempelajari tentang kuasa maupun keilahian Allah lewat Firman-Nya dan ciptaan-Nya. Bila cuaca di sekitar tempat anda sedang cerah pada malam hari, keluarlah dan pandanglah langit yang bertaburan bintang. Anda akan merasakan kedahsyatan ciptaan Allah itu.
3. Allah telah menciptakan segala sesuatu sempurna selama minggu penciptaan, tetapi dosa telah merusak kesempurnaan itu. Akibatnya, Allah yang tadinya sudah merasa puas dan telah berhenti dari pekerjaan-Nya terpaksa masih harus terus bekerja hingga saat ini. Karena kasih-Nya kepada anda dan saya maka Allah bersedia untuk terus sibuk.

MENCIPTA LEWAT PERKATAAN (Kuasa Firman-Nya)
Bekerja dengan mulut. Pepatah bijak berkata, “Sedikit bicara, banyak bekerja.” Inilah budaya yang banyak dipuji orang, berkarya tanpa keriuhan. Sebaliknya, orang yang terlalu banyak bicara sering dijuluki “Tong kosong nyaring bunyinya.” Seseorang yang banyak cakap biasanya tidak berisi, alias tidak ada apa-apanya. Namun ada sebagian orang yang karena sifat pekerjaannya menuntut dia untuk banyak berbicara, bahkan mereka hidup dari banyak bicara, dan sumber penghidupannya akan terancam ketika lidah jadi gagu atau tenggorokan tak sanggup mengeluarkan suara. Orang-orang yang “bekerja dengan mulut” ini termasuk mereka yang profesinya adalah pemandu acara, juru bicara, juru kampanye (jurkam), penyiar, pelawak, operator telepon, tukang berorasi, tukang obat, tukang obral kakilima, dan sebagainya. Tentu saja meskipun orang-orang dalam kelompok ini benar-benar mengandalkan mulut dan lidah dalam bekerja, mereka tidak sekadar mencuap tetapi harus disertai “kemampuan berbicara” atau ketrampilan berolah-kata.

Alkitab menyatakan bahwa Allah juga bekerja menggunakan kata-kata, yaitu dengan cara berfirman. Proses penciptaan yang tercatat dalam kitab Kejadian pasal 1 penuh dengan ungkapan “Berfirmanlah Allah” lalu apa yang difirmankan-Nya itupun terjadi. Namun, bukan seperti seorang raja atau penguasa dunia yang kata-katanya kerap menimbulkan kecemasan dan kegemparan pada banyak orang, kata-kata yang difirmankan Allah lebih sering mengandung kuasa yang menenangkan hati manusia. Ketika sedang bekerja mencipta, firman Allah menghasilkan benda-benda yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Apa yang direncanakan dalam pikiran-Nya diutarakan melalui lidah-Nya dengan mengeluarkan suara bernada perintah supaya alam menghadirkan apa yang dimaksudkan-Nya (Yer. 51:15, 16). “TUHAN memberi perintah, maka langit tercipta; matahari, bulan dan bintang dijadikan oleh sabda-Nya…Sebab Ia bersabda, lalu semuanya dijadikan; Ia memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm. 33:6, 9, BIMK).

“Meskipun kita tidak dapat mengetahui dengan persis bagaimana Allah menciptakan, kita diberitahu bahwa hal itu adalah melalui firman-Nya yang berkuasa. Semua energi di seluruh bagian alam semesta memiliki asal-usulnya pada firman Allah. Segenap energi di dalam semua bahan bakar kita datang dari kuasa Allah. Semua gravitasi di seluruh alam semesta, setiap bintang yang dituntun dalam lintasannya, dan setiap ‘lubang hitam’ (=wilayah di ruang angkasa yang memiliki gravitasi sangat kuat) berasal dari kuasa Allah” [alinea pertama].
Allah dan hukum alam. Sebagaimana kita tahu, alam memiliki hukumnya sendiri yang bekerja secara otomatis terhadap mana setiap obyek di alam ini harus tunduk. Bayangkanlah kalau tidak ada hukum alam, apa yang akan terjadi jika setiap benda di alam ini mengikuti kemauannya sendiri. Hukum alam diperlukan demi keselarasan hidup benda-benda di alam semesta, dan hukum alam sudah sama tuanya dengan alam itu sendiri. Berbeda dari “hukum positif” ciptaan manusia yang harus dilengkapi dengan perangkat penegakkan hukum untuk memberi sangsi terhadap orang-orang yang melanggar hukum itu, hukum alam sudah dilengkapi dengan sangsi-sangsi alamiah yang bekerja secara otomatis. Siapakah yang menciptakan hukum alam (Latin: lex naturalis)?

Salah satu ciri utama dari hukum alam ialah presisionis (cermat), dan banyak di antaranya yang bersifat matematis khususnya yang berkaitan dengan pergerakan benda-benda ruang angkasa. Selain itu, sifat hukum alam juga hirarkis (bertingkat-tingkat), di mana hukum sekunder bekerja berdasarkan hukum primer. Hukum alam itu seragam serta tidak berubah, dan seluruh hukum alam bergantung pada hukum logika (the laws of logic). Dengan prinsip-prinsip yang demikian, hukum alam itu mencerminkan sifat ilahi yang teratur dan teliti. Allah tidak hanya menciptakan alam semesta tapi juga menciptakan hukum alam, dan dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas itu Allah dapat membuat semua benda yang menghuni jagad raya ini tunduk pada hukum alam. Setiap makhluk ciptaan, setiap sel, setiap atom, dan setiap partikel materi serta gelombang cahaya tidak mempunyai pilihan lain kecuali tunduk pada hukum alam ciptaan Allah yang menetapkan “aturan langit dan bumi” (Yer. 33:25).

Seperti telah disinggung sebelumnya, suatu ciptaan hanya bisa diciptakan oleh pencipta yang lebih besar daripada ciptaan itu sendiri. Alam semesta hanya bisa diciptakan oleh Allah yang lebih besar dari alam semesta, demikian pula hukum alam hanya bisa diciptakan oleh Allah yang lebih besar dari hukum alam itu. Karena superioritas tersebut maka Allah lebih tinggi dan lebih berkuasa dari alam semesta maupun hukum alam, itu sebabnya Dia tidak harus tunduk pada hukum alam dan dapat bekerja dengan mengabaikan hukum alam ciptaan-Nya itu kapan saja Dia menghendakinya. Allah yang menciptakan hukum gaya tarik bumi (gravitasi), tetapi Dia juga menciptakan hukum gaya gerak (aerodinamika), sehingga pohon bisa tumbuh ke atas melawan gaya tarik bumi dan pesawat terbang buatan manusia bisa meluncur ke angkasa. Allah juga lebih besar dari hukum logika yang menjadi tumpuan seluruh hukum alam sehingga Allah dapat melakukan hal-hal melawan logika, yaitu sesuatu yang kita sebut “mujizat.” Itu sebabnya seseorang pernah berkata begini: “Mujizat bukanlah pembatalan sesuatu hukum alam, melainkan berlakunya satu hukum yang lebih tinggi dari hukum alam.” Allah dapat melakukan mujizat dengan memberlakukan satu hukum yang lebih tinggi dari hukum alam maupun hukum logika, yaitu hukum kasih!

“Allah tidak dibatasi oleh hukum alam; sebaliknya, Allah yang telah menentukan hukum alam. Kuasa allah tidak selalu harus menuruti pola-pola yang kita sebut ‘hukum alam’…Firman Allah yang menciptakan tidak terikat oleh ‘hukum’ ilmu pengetahuan. Allah berdaulat atas seluruh ciptaan-Nya dan bebas untuk melakukan kehendak-Nya” [alinea ketiga: dua kalimat terakhir; alinea terakhir: dua kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang kuasa Firman Allah?
1. Firman Allah sangat berkuasa oleh sebab kemahakuasaan Allah itu tidak terbatas. Dalam minggu penciptaan kuasa Firman Allah itu telah diperagakan ketika seluruh alam semesta–kecuali manusia dan beberapa jenis hewan–diciptakan-Nya hanya dengan berfirman.
2. Kalau kita percaya bahwa Firman Allah itu sangat berkuasa, dan jika kita percaya bahwa Alkitab berisi Firman Allah, adakah sesuatu keraguan dalam hati anda untuk membaca dan meyakini apa yang tertulis dalam Alkitab?
3. Sebagai Pencipta hukum alam, Allah tidak terikat dengan hukum-hukum tersebut. Itulah sebabnya Allah dapat melakukan “mujizat” dalam kehidupan kita, kapan saja Dia berkenan melakukannya. Setiap berkat, perlindungan, dan tuntunan Allah dalam hidup kita adalah mujizat, semuanya bisa terjadi di luar dugaan dan pemikiran manusia.

FUNGSI DAN KEDUDUKAN KRISTUS (Yesus, Pencipta Langit dan Bumi)
Firman dan Allah. Yohanes, salah seorang “murid kesayangan” Yesus, memulai tulisannya dengan suatu pernyataan yang lugas: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:1-3; huruf miring ditambahkan). Firman dalam ayat ini adalah kata-ganti orang ketiga tunggal, yang dalam bahasa asli PB adalah λόγος, logos, sebuah kata-benda maskulin yang berarti ucapan atau perkataan. Siapakah “seseorang” yang disebutnya sebagai “Firman” di sini? Kita menemukan jawabnya di ayat-ayat selanjutnya yang mendeskripsikan sosok Firman itu, khususnya ayat 14: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Jelaslah bahwa Firman yamg dimaksudkannya itu adalah Yesus Kristus. Alkitab adalah Firman Allah, tapi Yesus Kristus adalah Firman Allah yang hidup karena Dia telah menjadi manusia dan hidup di antara manusia.

Injil Yohanes adalah injil keempat yang kemungkinan ditulis paling akhir (antara tahun 85-95 Tarikh Masehi) dan disusun dalam gambaran berdasarkan apa yang telah disebutkan oleh tiga injil sebelumnya–Matius, Markus, dan Lukas. Kalau tiga injil terdahulu itu dikenal sebagai “injil sinopsis” yang menyajikan kehidupan Yesus dalam format yang sama dengan menitik-beratkan pada apa yang diajarkan dan dikerjakan oleh Yesus, maka injil Yohanes lebih menonjolkan sosok tentang siapa Yesus itu. Dalam injil keempat inilah diterangkan dengan jelas latar belakang mengapa Yesus Kristus datang ke dunia ini (Yoh. 3:16), dan secara gamblang pula menyebutkan maksud penulisan injil tersebut, “semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (20:31; huruf miring ditambahkan).

“Yohanes merujuk kepada Yesus sebagai Firman (‘Logos’) dan menyejajarkan Dia dengan Allah. Lebih khusus lagi, Yesus adalah Dia melalui siapa segala sesuatu diciptakan. Pada zaman Yohanes, istilah logos biasa digunakan untuk menggambarkan prinsip daya cipta. Para pembaca tulisan Yohanes tentu akrab dengan konsep logos sebagai sebuah prinsip penciptaan atau bahkan sebagai seorang pencipta. Yohanes menerapkan konsep yang akrab ini terhadap Yesus, memperkenalkan Dia sebagai Pencipta sejati” [alinea pertama: lima kalimat pertama].

Yesus, Sang Pewaris. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose (sekitar tahun 60 TM), rasul Paulus menulis mengenai Yesus: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan…; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:15, 16; huruf miring ditambahkan). Kata “yang sulung” pada ayat ini dalam bahasa aslinya adalah πρωτότοκος, prōtotokos, sebuah kata bentukan dari akar kata πρῶτος, prōtos, sebuah kata-sifat yang berarti pertama ada atau peringkat pertama. Paulus sedang mengetengahkan “kedudukan” Yesus sebagai Anak Allah dalam konteks ahli waris. Anak kalimat “lebih utama dari segala yang dijadikan” dalam ayat ini pernah menimbulkan spekulasi pada sebagian orang seolah-olah Yesus adalah ciptaan yang pertama atau mula-mula, namun frase-frase selanjutnya langsung mematahkan hipotesis tersebut karena justeru Yesus sendiri adalah Pencipta sebab “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (ay. 16, bag. akhir; huruf miring ditambahkan).

Penulis kitab Ibrani memulai pekabarannya dengan mengedepankan “fungsi” Yesus Kristus yang lain dalam hubungan antara Allah dengan manusia. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1, 2; huruf miring ditambahkan). Jadi, kalau pada masa penciptaan Allah telah menciptakan alam semesta melalui Firman yang adalah Anak (Yesus Kristus) itu, maka di zaman Perjanjian Baru ini Allah berbicara kepada manusia melalui Anak itu juga. Penulis kitab Ibrani juga mengonfirmasi apa yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam kitab Kolose perihal “kedudukan” Anak itu, yaitu sebagai “pewaris” dan juga “pencipta” dari alam semesta.
“Ibrani 1:1, 2 mengulangi hal-hal yang sama seperti pada ayat-ayat dalam kitab Kolose. Yesus adalah pewaris yang ditunjuk atas segala sesuatu dan itulah Dia oleh siapa dunia telah dijadikan. Selain itu, Dia adalah gambaran yang tepat dari sifat Bapa, sebuah cara lain untuk menyatakan bahwa Dia adalah citra Allah” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Penguasa alam semesta itu tidak sendirian dalam pekerjaan kemurahan hati-Nya. Dia mempunyai wakil–rekan sekerja yang dapat menghargai maksud-maksud-Nya dan dapat turut merasakan sukacita-Nya dalam memberi kebahagiaan kepada makhluk-makhluk ciptaan. ‘Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.’ Yoh. 1:1, 2. Kristus, Firman itu, anak tunggal Allah, adalah satu dengan Bapa yang kekal itu–satu dalam sifat, dalam tabiat, dalam maksud–satu-satunya makhluk yang bisa ikut ambil bagian dalam segala nasihat dan maksud Allah” (Ellen G. White, Patriarchs and Prophets, hlm. 34).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai Pencipta dan Pewaris?
1. Bukan secara kebetulan Yohanes menyebut Yesus Kristus sebagai Firman di awal tulisan injilnya, tapi dia hendak mengingatkan para pembacanya tentang hubungan Yesus dengan penciptaan. Allah menciptakan langit dan bumi bukan saja dengan berfirman, tapi melalui Firman itu sendiri.
2. Sebagai Anak yang turut menciptakan alam semesta bersama Bapa, Yesus memiliki kedudukan yang khusus dalam penciptaan, yaitu selaku Pewaris atas seluruh ciptaan. Bahkan, hak sebagai ahli waris itu telah dikukuhkan melalui pekerjaan penebusan yang dijalani-Nya.
3. Yesus Kristus bukan saja Pencipta dan Pewaris dari seluruh ciptaan, tapi Dia juga adalah gambaran Allah yang sejati melalui siapa dunia dapat mengenal Bapa itu. Suka atau tidak suka, seseorang belum dapat dikatakan benar-benar mengenal siapa Allah itu kalau dia belum mengenal siapa Yesus itu.

PENCIPTAAN BERKELANJUTAN (Sang Pencipta Ada di Antara Kita)
Penciptaan dan mujizat. Penciptaan “langit dan bumi” (Kej. 1:1) itu sendiri adalah suatu keajaiban, mujizat terbesar dalam riwayat alam semesta dan sejarah manusia. Tetapi mujizat penciptaan tidak berhenti sampai pada minggu penciptaan itu saja melainkan terus berlanjut, khususnya pada sepanjang masa ketika Sang Pencipta itu–melalui sosok Yesus Kristus–menjelma dan hidup di tengah manusia yang adalah makhluk ciptaan-Nya. Mengubah air biasa menjadi sari buah anggur (Yoh. 2:7-11), memperbanyak lima potong roti jelai dan dua ikan menjadi makanan yang berlimpah-limpah untuk mengenyangkan ribuan orang dewasa beserta anak-anak (6:8-13), dan memperbaiki kesehatan organ mata seorang pria sampai berfungsi dan bisa melihat (9:1-34), semua itu adalah bukti-bukti bahwa mujizat penciptaan terus berlanjut setelah ribuan tahun kemudian. Bahkan, sesudah dunia yang diciptakan ini tergadai oleh dosa sekalipun kedahsyatan mujizat penciptaan itu tak berkurang dayanya. “Masing-masing mujizat ini memberi kepada kita suatu pandangan sekilas tentang kuasa Allah atas dunia materi yang Ia sendiri ciptakan” [alinea pertama].

Meskipun pada tiga mujizat tersebut tidak tercipta sesuatu dari kehampaan (penciptaan ex nihilo) seperti apa yang terjadi dalam minggu penciptaan, namun di situ juga terkandung unsur-unsur penciptaan. Air biasa yang Yesus jadikan minuman anggur itu bukan sekadar suatu perubahan kimiawi, tetapi itu merupakan hasil penciptaan tanpa penambahan zat apapun, sebuah peristiwa di mana air biasa “diciptakan ulang” menjadi sari buah anggur. Begitu juga, lima potong roti dan dua ikan yang menurut perhitungan di atas kertas hanya cukup untuk porsi dua kali makan seorang anak kecil yang sekonyong-konyong dapat mengenyangkan ribuan orang yang sedang kelaparan, itu adalah “hasil penciptaan” dari jumlah yang sedikit menjadi sangat banyak melalui tangan Yesus yang memecah-mecahkannya. Demikian pula, orang yang buta sejak lahir disembuhkan sehingga bisa melihat itu merupakan “penciptaan ulang” atas sebuah organ tubuh yang tidak sempurna ketika dilahirkan; sentuhan tangan Yesus dalam adukan tanah itulah yang menyembuhkannya, bukan zat-zat yang terkandung dalam tanah atau air di kolam Siloam itu.

Pena inspirasi menulis: “Air anggur yang diciptakan oleh Kristus pada pesta perkawinan di Galilea itu adalah air anggur terbaik yang pernah dicicipi oleh orang-orang yang hadir. Tetapi itu sama sekali bebas dari fermentasi…Mujizat itu diketahui dan pekerjaan yang Kristus ingin lihat diselesaikan pun terlaksana. Iman murid-murid diteguhkan. Mujizat ini bagi mereka adalah suatu kesaksian yang meyakinkan bahwa

Guru mereka itu adalah Penebus dunia” (Ellen G. White, The Bible Echo, 4 September 1899)…
“Kristus tidak pernah mengerjakan suatu mujizat kecuali untuk memasok kebutuhan yang sesungguhnya, dan setiap mujizat merupakan satu fitrah yang menuntun orang banyak kepada pohon kehidupan yang daun-daunnya adalah untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Makanan sederhana dibagikan oleh tangan-tangan para murid yang mengandung perbendaharaan pelajaran…Kristus mengajarkan mereka dalam pelajaran ini bahwa persediaan alamiah dari Allah bagi manusia telah diselewengkan. Tidak pernah sebelumya orang banyak itu menikmati makanan-makanan lezat yang disediakan untuk memuaskan selera yang diselewengkan sementara orang-orang ini menikmati makanan sederhana yang Kristus sediakan selama ini dari habitat manusia” (The Desire of Ages, hlm. 367)…

“Orang buta itu, yang sekarang dapat melihat, memandang kepada keajaiban penciptaan, dan akankah dia berpaling dari Penyembuhnya untuk memperoleh dukungan dari mereka yang telah berusaha menjerat dia dalam perkataannya, atau melontarkan ejekan kepadanya? Dia merasa sanggup untuk melawan pengaruh mereka” (Signs of the Times, 23 Oktober 1893).

Iman dan mujizat. Meskipun kita percaya bahwa Tuhan dapat melakukan mujizat dalam kehidupan kita, namun sebagai umat Tuhan sejati kita tidak melandaskan iman kita pada mujizat. Artinya, bukan setelah mengalami sesuatu mujizat baru kita hendak percaya kepada Tuhan. Mujizat lahir dari iman, bukan iman lahir dari mujizat. Percaya harus lebih dulu daripada mujizat (Mat. 17:20; 21:21); ketidakpercayaan justeru menghalangi terjadinya mujizat (Mat. 13:58).

Iman berlawanan dengan rasionalitas. Sementara rasionalitas itu adalah percaya yang didasarkan pada bukti dan pertimbangan akal sehat, iman didasarkan pada ilham dan wahyu. Alkitab mengatakan bahwa karena iman maka Musa mampu bertahan seolah-olah dia dapat “melihat apa yang tidak kelihatan” (Ibr. 11:27), sebab umat Tuhan “hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor. 5:7). Orang Kristen sejati tidak mengikuti cara berpikir duniawi yang berprinsip “seeing is believing” (melihat baru percaya) oleh karena hal itu bertentangan dengan kehendak Allah dan menyakiti hati-Nya.

Apa yang kita pelajari tentang makna kehadiran Sang Pencipta di antara manusia?
1. Penjelmaan Sang Pencipta dalam sosok Yesus Kristus yang hidup di atas dunia ini membawa serta kuasa-Nya yang diperagakan berkali-kali dengan mengadakan mujizat demi mujizat untuk melayani manusia, dan pada waktu yang sama menjadikan mujizat-mujizat itu sebagai tanda keilahian-Nya.
2. Mujizat-mujizat Yesus itu membuktikan bahwa kuasa penciptaan-Nya tetap berdaulat atas alam semesta yang sudah berdosa ini, dan bahwa Sang Pencipta tidak pernah kehilangan kuasa atas dunia materi. Fakta bahwa Setan tidak pernah satu kali pun berusaha mengintervensi pekerjaan mujizat Kristus menunjukkan bahwa dia sendiri mengakui otoritas Kristus.
3. Meskipun kita percaya bahwa Allah berkuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat di depan mata kita dan di dalam kehidupan kita, namun kita tidak mendasari iman kita pada mujizat. Iman orang Kristen adalah iman yang bersahaja, percaya tanpa pamrih.

PENUTUP
Menerima berdasarkan iman. Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Sang Pencipta langit dan bumi yang telah mengerjakan penciptaan itu selama enam hari dalam minggu penciptaan, dan bahwa penciptaan itu telah dilakukan-Nya melalui Firman yang adalah Kristus. Kita menerima dan percaya pada pernyataan itu berdasarkan iman, bukan atas dasar akal dan logika atau ilmu. “Karya penciptaan tidak pernah dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan apakah yang dapat menjelaskan misteri kehidupan?” [alinea pertama].
Dunia ilmu pengetahuan moderen boleh saja menertawakan keyakinan kita itu, dan menganggap bahwa kita adalah orang-orang lugu yang ketinggalan zaman. Tetapi selama iman kita bertumpu pada kebenaran Firman Allah, sesungguhnya kita bisa berbangga sebagai orang-orang yang mampu untuk “tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan” (2Kor. 4:18).
“Bagaimana Allah menyelesaikan pekerjaan penciptaan tidak pernah dinyatakan-Nya kepada manusia, ilmu pengetahuan manusia tidak akan mampu mengungkapkan rahasia-rahasia Yang Mahatinggi. Kuasa-Nya untuk mencipta tak terpahami sama seperti eksistensi-Nya” [alinea ketiga].

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:1-3).


No comments:

Post a Comment