Wednesday, February 4, 2015

Sedihnya akhir hayat hidup Doktor Penganut Poligami beristri 4 meninggal di usia 50 tahun

Penulis Jufran Helmi

Obituari Dr. Ing. Riesdam Effendi: Antara Cinta dan Logika

Telah berpulang ke rahmatullah, rekan kami  Dr. Ing. Riesdam Effendi, pada hari Rabu, 5 Februari 2014, pukul  09.55 WIB pagi, di ruang ICU Rumah Sakit PMI Bogor, di usia 50 tahun.  Ustaz yang lebih dikenali oleh kerabatnya dengan nama lain Abdurrahman atau sering dipanggil Dr. Rahman itu wafat meninggalkan 3 orang istri yang masih hidup dan 4 orang anak (salah satu istrinya telah lebih dulu wafat).

Setelah disemayamkan sejenak di rumah duka, di kawasan Sentul, Bogor, pada hari itu juga jenazah almarhum dibawa oleh sanak keluarganya ke daerah Gunung Batin, Lampung Tengah, untuk dimakamkan di sana. Konon kabarnya, Riesdam sendiri yang memilih tempat peristirahatannya yang terakhir itu, di sisi makam ayahnya, melalui wasiat kepada keluarga ketika almarhum masih dirawat di rumah sakit.

Kepergian Riesdam bagi saya bukan saja kepergian seorang sahabat yang baik, tapi juga kepergian seorang figur pencari kebenaran sejati. Kewafatannya tepat waktu ketika baru saja dia membuat keputusan besar yang mengubah perjalanan hidupnya secara totalitas.


Sebagai manusia, pastilah tidak semua yang ada pada dirinya sempurna. Justru karena karena tidak sepenuhnya sempurna itu, kisah perjalanan hidup Riesdam menjadi menarik diceritakan untuk dijadikan iktibar. Saya mempunyai sedikit catatan yang merekam turun naiknya hubungan kami.
















setahun yang lalu. (sumber foto: akun FB ybs) Foto keluarga Riesdam bersama empat istri (deretan depan) dan empat anak (deretan belakang). Yang paling kanan adalah Salwa, istri ketiga, yang telah wafat terlebih dulu 

Cinta dan taat Riesdam pada pemimpin spiritualnya sungguh luar biasa.  Saya, juga beberapa kawan yang saya jumpai, mengetahui hal itu. Di dalam organisasi tarekat, mursyid (pemimpin spiritual) memang dipandang sebagai wasilah bagi murid menuju Tuhan. Keselamatan hidup murid sangat tergantung kepada penerimaan mursyid. Seolah-olah, sayang mursyid adalah sayangnya Allah dan bencinya adalah bencinya Allah.

Sebagai pengikut tarekat, Riesdam meyakini itu. Terbukti, hampir separuh usianya itu diabdikannya untuk berjuang di atas keyakinan itu. Walaupun latar belakang pendidikannya adalah teknik penerbangan bergelar doktor, tapi masyarakat umum di Indonesia justru mengenalinya sebagai juru da’wah anggota Arqam. Arqam adalah organisasi da’wah berbasis tarekat.

Kalau cinta kepada mursyid itu masih dikawal oleh akal sehat di bawah panduan syariat secara tepat, tidak ada yang akan mempermasalahkan tarekat dan konsep mursyidnya itu. Ratusan tarekat telah ada di dunia ini sepanjang sejarah. Tapi, kalau kecintaan itu telah jatuh ke dalam taksub (pengkultusan) pada pemimpin yang keterlaluan, tidak heran kalau sebagian tarekat dicap masyarakat sebagai ajaran sesat.

Kasus taksub (pengkultusan) kepada mursyid inilah yang membuat Arqam, tempat Riesdam beraktifitas, menjadi organisasi yang kontroversial di tengah masyarakat.  Sejak tahun 1994, Arqam telah dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh Malaysia.  Bahkan, ulama di beberapa daerah di Indonesia dan Brunei menyatakan Arqam sebagai organisasi sesat.

****
Sejak kecil, Riesdam dikenal sebagai anak yang cerdas. Ketika SMP, ia pernah terpilih sebagai siswa teladan se kota Tanjung Karang. Pendidikan tinggi Riesdam dimulai di jurusan Teknik Mesin ITB, di almamater tempat saya juga menuntut ilmu. Riesdam masuk ITB  angkatan 1982 sedangkan saya 1981.
Walaupun sama-sama mengasah pena di bumi Ganesha, Bandung, kami ditakdirkan tidak sempat bertemu waktu itu. Riesdam hanya satu tahun di sana. Di tahun kedua, ia telah dihijrahkan pemerintah Indonesia ke Perancis melalui program beasiswa IPTN. Di salah satu universitas terbaik di Perancis dalam bidang aeronautika, Sup-Aero, Riesdam menuntaskan  pendidikan kesarjanaannya, kemudian master. Di sana pula ia menyelesaikan program doktornya, lulus dengan predikat cum-laude.

Sekembalinya  ke Indonesia tahun 1993, Riesdam bekerja untuk industri pesawat terbang Indonesia, IPTN. Sebenarnya, selama kuliah dan tinggal di Perancis, Riesdam sempat bekerja paruh waktu di industri pesawat raksasa dunia,  Airbus. Tahun 2000 ia keluar dari IPTN sejalan dengan gagalnya proyek rintisan industri kapal terbang pertama Indonesia itu.

Ketika mayoritas ahli-ahli pesawat Indonesia, mantan IPTN, pindah ke  industri lain di dalam dan luar negeri, Riesdam menmpuh jalan yang berbeda. Ia justru lari dari dunia teknologi yang gemerlap memasuki dunia tarekat. Dan ia memilih bekerja purnawaktu di Arqam.

Riesdam telah mengenal Arqam sejak tahun 1989 ketika ia masih kuliah di Perancis. Ust Ashaari (wafat 2010),  yang mendirikan dan sekaligus memimpin  Arqam sejak tahun 1968 di Malaysia itu, berhasil menemui Riesdam di sana dan mengajaknya berjuang bersama. Pesona Ust Ashaari begitu merasukinya. Ia pun bersedia ketika namanya diganti menjadi Abdurrahman (nama perjuangan di Arqam). Bahkan, istri-istri Riesdam itu dijodohkan oleh Ust Ashaari kepadanya.
Bagi Riesdam, aktifitas bersama Arqam ternyata lebih  memikatnya daripada mengurusi kapal terbang. Positif, sejak tahun 2000, ia telah tinggalkan seluruh aktifitas dalam keteknikan pesawat terbang, berganti dengan  aktifitas dakwah keliling Indonesia, juga ke beberapa negara, sambil mengamalkan ritual-ritual tarekat versi Arqam.

Kekerabatannya dengan Ust Ashari dan pengikut lainnya mengental. Ketika guru yang dipanggil Abuya itu berhadapan dengan kasus hukum di Malaysia di tahun 1994-2004, Riesdam masih bertahan. Arqam dilarang dan Ust Ashaari pun diasingkan. Hal itu ternyata tidak menyurutkan semangat Riesdam untuk terus memperjuangkan cita-cita Arqam. Katika ribuan pengikut Arqam memilih keluar, secara diam-diam Riesdam  menerima arahan Ust Ashaari untuk mendirikan organisasi baru bernama  Rufaqa.

Tidak berhenti di situ, ketika Rufaqa juga  diburu pada tahun 2007 di seluruh Malaysia karena diindikasikan sebagai metamorfosis Arqam, Riesdam bersama-sama dengan pengikut Rufaqa lainnya yang masih setia mendirikan oraganisasi baru bernama Global Ikhwan.

Dalam track record kesetiaannya, Riesdam telah menyertai proses metamorphosis organisasi terlarang Arqam, kemudian ke Rufaqa, kemudian ke Global Ikhwan. Inilah semangat perjuangan Riesdam yang tak pudar-pudar yang ada dalam catatan saya.

Kedudukan Riesdam tentu menjadi sangat penting di setiap fase organisasi bentukan Ust Ashaari dengan nama terakhirnya Global Ikhwan itu. Back-ground dan gelar akademis Riesdam menjadi asset perjuangan jamaah.  Kalau pada awalnya ia di Arqam hanya disebut seorang simpatisan (simpati kuat), di Rufaqa dan di Global Ikhwan beliau berada di barisan kepemimpinan elit. Terakhir, saya dengar beliau telah mencapai gelar tertinggi, RA (radhiallahu anhu), sebuah gelar di organisasai itu yang katanya hanya diberikan kepada segelintir manusia di akhir zaman.

Betapapun secara ekonomi  Riesdam  terlihat tertatih-tatih. Bukan ia tidak punya penghasilan. Sebagian besar penghasilannya diserahkan sehabis-habisnya untuk perjuangan mempromosikan gurunya itu. Itu semua demi cinta; demi mendapatkan syafaat guru dalam perjalanan menuju Tuhan. Dalam pandangan umum, itu berlawanan dengan logika akal sehat.

Dengan langkah tegar, didampingi didampingi empat orang istri, Riesdam terus maju. Walaupun sistem rumah tangga poligami yang juga diamalkan oleh sebagian besar pimpinan Global Ikhwan ini menjadi kontroversi di Indonesia, banyak kalangan menilai Riesdam berhasil mempertahankan citra positif pada keluarganya ini sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang.

***
Saya berjumpa Riesdam pertama kali di kota Prabumulih, Sumatera Selatan,  tahun 2002.  Masa itu termasuk periode awal berdirinya Rufaqa sebagai strategi Ust Ashaari karena Arqam tidak boleh lagi ada. Ketika itu saya  menaruh hati pada perilaku orang-orang Rufaqa ini dalam kesehariannya. Sistem hidup, pakaian, perilaku, dan cara mereka menyampaikan da’wah terkesan unik, berbeda dengan organisasi lain yang saya kenal. Barangkali memang sengaja dibuat, seluruh materi ajaran yang menjadi kontroversi di masyarakat di zaman disembunyikan. Setidak-tidaknya itu tidak diekspose lagi. Saya tidak melihat sesuatu yang negatif dari ajaran mereka.

Ajaran-ajaran tasawuf yang digali dari kitab-kitab lama kemudian dihadirkan kembali dalam format baru, kemudian diimplementasikan ke dalam berbagai aktifitas ekonomi dan kebudayaan, membuat saya dan istri mengikuti pengajiannya. Bermula dari sana, akhirnya saya pun menyertai Riesdam di Rufaqa. Saya murid baru, paruh waktu, sedangkan Riesdam adalah tim kepemimpinan inti.

Hubungan saya dengan Riesdam, yang notabene bawahan dan atasan itu, semakin hari semakin rapat. Dalam banyak hal, saya dan istri belajar dari beliau dan keluarga.

Pribadi yang biasa saya panggil Pak Doktor itu (karena beliau memang bergelar doktor) atau Pak Doktor Rahman (mengikut panggilan dari kebanyakakan kerabatnya di jamaah), adalah pribadi yang unik. Di jamaah, Riesdam dikenal bukan saja sebagai seorang intelek, pekerja keras, tapi juga seorang pemimpin yang sangat peduli dengan bawahan.

Barangkali berkat disiplin tarekat, ia menjadi seorang yang sederhana dan ramah yang susah dicari tandingannya. Perkataan sekasar apapun yang ditujukan orang kepadanya pastilah dibalasnya dengan ucapan yang lembut tanpa menyakitkan. Dia mahir dalam mengkomunikasikan nasihat-nasihatnya dengan baik, termasuk dalam tulisan-tulisan.

Orang yang lebih tua dilayaninya sebagai orang yang lebih tua, demikian pula yang muda. Dia sangat pandai menempatkan diri dengan siapa ia berhadapan.
Itulah sebagian catatan saya tentang Riesdam selama 8 tahun bersamanya dalam satu kapal perjuangan.

***

Sayang amat sayang, sejak tahun 2010, hari kewafatan Ust Ashaari, antara saya dan Riesdam mulai mengalami perbedaan pandangan.

Sehari setelah Ust Ashaari wafat, Hatijah Am, mantan istri kedua Ust Ashaari, mengambil alih kepemimpinan Global Ikhwan (nama baru Rufaqa sejak 2007). Dalam pandangan saya, pengambilalihan kepemimpinan Global Ikhwan oleh Hatijah Am dengan menyisihkan orang-orang dekat Ust Ashaari itu penuh intrik politik.

Aneh rasanya, intrik seperti itu berlaku di sebuah jamaah tarekat. Biasanya, kepemimpinan tarekat diambil alih oleh salah seorang anak mursyid atau diserahkan oleh orang banyak kepada salah seorang murid yang sangat dekat dengan mursyid. Biasanya pula, kepemimpinan terekat adalah laki-laki, bukan perempuan.

Hal yang biasanya itu ternyata tidak berlaku di Global Ikhwan. Walaupun kaidah memilih pemimpin itu ada di buku-buku Ust Ashaari, dengan strategi unik janda Ust Ashaari itu berhasil meyakinkan bahwa suaminya itu tidak mati, tapi ghaib. Suaminya tetap memimpin dari alam ghaib, sedangkan dia ditunjuk sebagai penterjemah di alam nyata yang akan memberikan arah-arahan kepada organisasi. Kebetulan, Ust Ashaari wafat dalam keadaan gagap sehingga tak seorang pun yang bisa memahami perkataannya kecuali melalui penterjemahan. Hanya Hatijah Am yang bisa menterjemahkan.

Yang lebih dahsyat, Hatijah Am dengan berani mengatakan bahwa yang memintanya berkata begitu adalah Rasulullah SAW yang kini menyertai suaminya di alam ghaib. Konon katanya, Hatijah telah diangkat menjadi  juru bicara Rasulullah SAW itu dengan gelar Bunda Wasilah.

Aneh memang.

Tapi, yang paling lebih aneh lagi di dalam pikiran saya, mengapa sahabat saya yang katanya lulus cum laude dari universitas hebat dunia itu, bergelar doktor dalam ilmu eksakta, bisa menerima akal bulus seorang janda yang jelas-jelas menunjukkan gejala-gejala skizoprenia akut itu.

Pada tahun 2010 itulah awal perbedaan saya dengan Riesdam.
Saya mengambil langkah menentang mursyid perempuan Global Ikhwan yang baru yang mengaku wasilah Rasul itu. Sedangkan Riesdam tetap bertahan di Global Ikhwan dengan seluruh doktrin kurafat yang akan diterimanya kemudian.
Walaupun telah jelas sikap yang diambil masing-masing, saya tetap menghubungi Riesdam sebagai seorang sahabat. Kami hanya terpisah dari segi keyakinan saja bukan sebagai pribadi. Perbedaan pandangan itu memang sangat disayangkan. Tapi, apa boleh buat, jalan kami memang berbeda.

Kadang-kadang di hari-hari berikutnya, saya  memantau juga perkembangan sepak terjang Hatijah Am dan aktifitas kawan-kawan lain seperti Riesdam di Global Ikhwan melaui media sosial. Setiap saya menerima informasi  keganjilan ajaran Hatijah Am, saya mengontak Riesdam untuk mendapatkan klarifikasi, atau sekedar mengingatkan. Biasanya melalui BBM.

Jawaban beliau biasanya, “Terimakasih Pak Jufran atas infonya. Nanti saya klarifikasi lebih lanjut.”

Hanya itu. Riesdam  tidak mengulas lebih panjang, baik menyatakan persetujuan ataupun ketidaksetujuannya.

Jawaban Riesdam seperti itu mengesankan saya kalau sebenarnya beliau merasa aneh juga dengan ajaran yang jelas-jelas tertolak dalam Islam itu. Tapi, Riesdam berada di posisi yang sulit membantah mursyid barunya itu. Telah lama diyakininya apapun yang dikatakan mursyid pasti benar. Kalau salahpun, tetap harus dikembalikan kepada mursyid. Lebih-lebih, janda Ust Ashaari yang mengaku sering berhubungan badan dengan suaminya yang gghaib itu telah menganugerahkan Riesdam gelar RA (radiallahu anhu). Gelar ini konon didapatkan Hatijah dari Rasulullah SAW.  

Riesdam telah terlanjur percaya. Dalam keyakinan saya, Riesdam tetap seorang yang lurus dan sehat rohaninya. Hanya orang yang mengalami gangguan jiwa saja, menurut saya, yang bisa percaya kalau Rasulullah SAW menyuruh menuliskan buku  berkategori pornografi, menyuruh memindahkan tanah suci dari Mekah ke Serawak, mengganti ritual haji menjadi haji ruh, menghalalkan thalak beratus kali.

Hanya orang yang sudah tertular skizoprenia pula, bukan Riesdam, yang bisa mempercayai kalau Rasulullah selalu menemani Hatijah Am berbincang-bincang dan sampai menilai keelokan betis janda berumur 57 tahun yang mengaku berumur 17 tahun itu.


***
Ketika saya tidak berhenti pada mentertawakan Hatijah Am dengan ajarannya yang lucu dan lugu itu saja, tapi saya mulai menyodorkan fakta baru tentang Ust Ashaari, Riesdam memasang sikap tegas dengan saya. Tahun berikutnya adalah era baru perbedaan saya dan Riesdam yang semakin memuncak.

Saya menyodorkan fakta kalau kurafat yang dianut Hatijah Am ini sebenarnya diwariskan dari Ust Ashaari. Hatijah hanya memolesnya dalam format yang lebih mutakhir, namun intinya sama. Ajaran taqiah dan takshub yang diamalkan Hatijah adalah warisan dari Ust Ashaari. Pengakuan yaqazah (perjumpaan dengan Nabi) versi Hatijah sebenarnya derivatif versi Ust Ashaari. Karena hebatnya strategi yang dimainkan oleh tim kepemimpinan Global Ikhwan, ajaran yang sebenarnya telah popoler di zaman Arqam, tidak tergubris oleh orang-orang baru di jamaah ini. Ini adalah untold story bagi orang-orang baru.

Saya mengirimkan banyak tulisan dan dokumen lama yang baru saya temukan tentang Arqam, tentang Ust Ashaari kepada Riesdam. Saya kirimkan tulisan-tulisan yang ditulis oleh orang-orang  lama  yang memlih keluar dari Arqam, seperti Zabidi dengan bukunya “Arqam Tersungkur di Pintu Surga”. Saya tidak peduli Riesdam mau merespons atau tidak. Saya gunakan emailnya, tanpa menghiraukan balasannya.

Bagi Riesdam, ini tentu berat sekali. Hidup matinya telah ia abdikan untuk berjuang untuk dan atas nama Ust Ashaari. Empat buku yang pernah ditulis Riesdam dengan jelas menunjukkan taksubnya kepada Ust Ashaari. Kini ia harus mereview ulang semuanya itu. Kalau hanya persoalan Hatijah Am, tentu masih ringan baginya. Tapi, kalau sudah persoalan guru besar yang dicintai dan ditaati itu lebih dari separuh umurnya itu tentu berat.

Pernah sekali Riesdam melayani permintaan saya untuk bertemu serius setelah sekitar setahun perpisahan kami. Riesdam datang ke rumah saya dengan istri pertamanya, Gina Puspita. Namun, diskusi di antara kami tidak menemukan titik temu. Perbedaan kami nampak semakin jauh. Tanpa harus mengubah hubungan kekeluargaan kami sebagai dua orang sahabat, kami sepakat kalau dalam beberapa hal prinsip berkaitan dengan Ust Ashaari kami tidak sepakat. Kesepakatan itu tercetus secara tidak formal di pertemuan itu.

***
Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Tidak ada yang tidak bisa berubah di dalam hidup ini.

Sekitar awal Desember 2013, saya terkejut mendengarkan berita dari beberapa kawan kalau Riesdam telah menyatakan keluar dari Global Ikhwan. Tidak banyuak yang tahu karena Riesdam belum secara terang-terangan mengumumkan sikap barunya ini. Melalui BBM, whatsup, dan media lain diuangkapkannya kegundahan hatinya kepada orang-orang tertentu.

Seorang kawan mengabari saya kalau Riesdam telah mengabarkan kepadanya kalau keyakinannya sudah mulai runtuh kepada ajaran Hatijah Am dan Ust Ashaari yang selama ini diperjuangkannya. Namun, ia merisaukan perpecahan keluarganya bia ia ungkapkan secara transparan.

“Riesdam menyatakan ingin belajar kembali agama melalui jalur yang benar dan sumber yang sah,” katanya.

Sudah barang tentu, pimpinan Global Ikhwan bereaksi keras terhadap kabar ini. Saya memonitor itu. Posisi Riesdam dan keluarganya yang begitu penting bagi bertapaknya Global Ikhwan di Indonesia, tentu dikhawatirkan dapat mempengaruhi keluarga-keluarga di Indonesia lainnya yang diklaim sebagai anggota setia Global Ikhwan. Saya mendengar intimidasi yang dilakukan tim Global Ikhwan terhadap istri dan anak-anak Riesdam yang sebagiannya mungkin tak sekuat Riesdam keyakinannya.

Walaupun tidak dinyatakannya secara eksplisit, Dalam suatu pertemuan di rumah saya di pertengahan Desember 2013,  di hadiri beberapa kawan yang telah lama keluar dari Global Ikhwan, saya menangkap kalau Riesdam memang telah ragu terhadap banyak hal yang selama ini diyakininya sebagai kebenaran dan bahkan dipromosikannya.

Keyakinan saya bahwa Riesdam telah berbalik arah saya peroleh ketika tanggal 24 Januari 2014 beliau mengirim pesan BBM. Kepada saya ia menceritakan telah membaca ulang tulisan-tulisan  yang dulu pernah saya kirimkan kepada beliau. Beliau berencana akan mengklarifikasi lebih lanjut data-data yang saya sampaikan kepada beberapa orang. Beliau meminta  waktu saya bertemu di rumah untuk berdiskusi panjang lebar sekaligus pinjam-pinjam buku-buku agama. Kami berjanji bertemu pada Senin malam, 27 Januari 2014
Kepada seorang kawan lain (saya ketahui belakangan) melalui pesan singkat, Riesdam menulis, “sebenarnya sejak lama lagi ada hal-hal yang boleh buat kita ragu dengan Abuya (pangilan untuk Ust Ashaari) sebab kurang sesuai dengan Islam, tapi tak tahu bagaimana, hal itu itu kita terima saja.”

Saya sedih, karena di hari dijanjikan untuk bertemu itu,  Senin  27 Januari 2014 itu, beliau tidak jadi datang.

“Maaf Pak Jufran, saya sejak pagi tadi sakit, terbaring saj di tempat tidur. Dada dan kepala sakit, keluar keringat dingin. Jadi belum dapat ke rumah Pak Jufran sore ini. Mudah-mudahan esok,” tulis Riesdam dalam BBM.

Tiga hari berikutnya beliau tidak sembuh, malah dikabarkan harus dirawat di rumah sakit PMI, Bogor, dengan diagnose serangan jantung koroner.

Saya baru sempat menjenguk beliau Jumat 31 Januari 2014 di kamar rawatnya di rumah sakit itu. Ditemani istri saya yang kedua, kami sempat berbincang-bincang ringan. Kami seolah-olah merayakan kembali hubungan baik kami yang bertaut kembali setelah terpisah hanmpir tiga tahun akibat perbedaan keyakinan.

Tiba-tiba ……….,
Bagaikan suara petir menggelegar di angkasa, di tengah kemesraan hubungan silaturahim saya dan Riesdam yang telah kembali melekat, dalam suasana telah berada dalam jalan yang sama, tiba-tiba saya dikabarkan bahwa Dr. Riesdam Effendi telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan di hari Rabu 5 Februari 2014 dengan tenang. Istri pertama saya yang kebetulan berada di rumah sakit itu mengabari berita ini melalui HP nya dengan suara terbata-bata yang hampir-hampir tak bisa diselesaikannya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kepada Tuhan jugalah akhirnya segala yang bernyawa. Manusia hanya punya harapan. Yang berberlaku tetap qudrat dan iradat-Nya.

Riesdam pergi untuk selama-lamanya menuju kekasih agung yang dirindukannya, Allah SWT. Beliau telah meninggalkan gemerlapnya hidup para teknokrat di dunia industri dan memilih kesahajaan di jalan da’wah.
Seharusnya beliau bisa kaya raya dengan  bekerja di industri raksasa dunia seperti Boeing dan Airbus bermodalkan gelar pendidikan tinggi teknologi aeronautika yang beliau miliki. Tapi beliau memilih bergabung dengan dunia da’wah karena cintanya pada kebenaran dan keselamatan.

Walaupun akhirnya beliau harus berada dalam kegundahan memilih antara cinta yang mendalam pada mursyid atau berpihak pada akal sehat di bawah tuntunan syariat, Tuhan membukakan tabir kebenaran di saat yang tepat. Sebelum Tuhan mendatangkan sang sakratul maut, hati beliau telah diliputi kembali oleh cahaya kebenaran, cahaya keinsyafan. Yang benar pasti akan nampak benar, yang bathil akan nampak bathil juga.

Semoga Allah menilai baik seluruh upayanya dalam menempuh perjalanan menuju Allah dengan penuh kemudahan dalam keampunan Allah SWT. Seluruh catatan hidupnya menjadi iktibar  bagi kita yang di belakang. Kepada seluruh keluarga, anak-anak, istri-istri beliau, saya sampaikan permohonan maaf saya atas sikap-sikap saya yang tak wajar kepada almarhum.


ini komentar istri pertama 3 tahun sebelum suami meninggal

Dr. Gina Puspita, Deklarator Klub Taat Suami: Poligami Itu Bukan Suami yang Suruh

Gina Puspita. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo
















TEMPO.CO, Jakarta - Deklarasi Klub Taat Suami yang dicanangkan oleh Kelompok Global Ikhwan di sebuah restoran di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 18 Juni lalu, menuai pro dan kontra. Kalangan pria yang memiliki keistimewaan menikah lagi merasa mendapat angin segar dengan ajaran klub ini bahwa istri selayaknya harus menaati suami, termasuk ketika suaminya menikah lagi. Namun, banyak juga yang menolak deklarasi klub, terutama para istri dan kalangan feminis yang memandang klub ini telah merendahkan perempuan.

"Kami hanya ingin berbagi pengalaman bahwa di Global Ikhwan ada cara mendidik suami, mendidik istri, dan anak-anak. Kami membagi bagaimana melaksanakan perintah Tuhan untuk taat. Di mana merendahkannya?" kata Gina Puspita, Ketua Klub Taat Suami Indonesia, Rabu lalu.

Kecaman terhadap klub ini makin kencang manakala seorang pengurusnya mengatakan agar para istri melayani hasrat seksual suaminya seperti pelacur melayani pelanggannya demi menghindari perselingkuhan. Klub ini dituding menyamakan istri dengan pelacur dan urusan pernikahan hanya sebatas ranjang. "Kita melayani suami karena Tuhan, maka kita berbuat seperti orang yang melayani orang lain karena uang, tapi bukan menyamakan seperti pelacur," ujar Gina, yang menjabat sebagai Ibu Global Ikhwan untuk wilayah Sumatera I, yang melingkupi seluruh Sumatera, kecuali Medan dan Aceh.

Global Ikhwan didirikan oleh Abuya Asaari Muhammad Tamimi, yang pernah mengaku mendatangkan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Saat berdiri pada 1968, namanya adalah Darul Arqam, lalu berubah menjadi Rufaqa lantaran dianggap sesat oleh Pemerintah Malaysia, dan akhirnya berubah lagi menjadi Global Ikhwan. Pusat perkumpulan ini sekarang berada di Haramain (Tanah Suci) Mekah dan Madinah, Arab Saudi, setelah bertahun-tahun berada di Malaysia. Cabang-cabangnya ada di Indonesia, Malaysia, Yordania, Suriah, Mesir, Eropa, dan Australia. Anggotanya diprediksi mencapai 10 ribu jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia, Gina memperkirakan ada 500 keluarga.

Tempo berkesempatan melihat geliat roda bisnis Global Ikhwan berjalan. Di Jakarta, Global Ikhwan menyewa sebelas rumah toko di Plaza Niaga II Blok E 9-21 Sentul City, Bogor. Di sini, aktivitas yang ada adalah homestay, penerbitan, minimarket, rumah produksi, rumah kebajikan (rumah amal), asrama untuk santri perempuan dan laki-laki, usaha air isi ulang, kafetaria, klinik gigi dan salon, serta sekolah taman kanak-kanak. Tak jauh dari plaza di kawasan Victory, Global Ikhwan menjalankan usaha binatu, toko roti, dan penjahitan pakaian.

Saat melayani wawancara dengan Istiqomatul Hayati dan fotografer Wisnu, Gina didampingi oleh Siti Fauzah, ibu untuk Jawa I (Pulau Jawa dan Pontianak); Nunung Saleh Ibrahim, Ketua Yayasan Global Ikhwan; Sofiah Duleh, ibu untuk Pekanbaru; dan Khadijah Duleh, ibu untuk Global Ikhwan Sentul.

Apa respons dari pendeklarasian Klub Taat Suami ini?
Setelah peluncuran, banyak yang datang dari tokoh-tokoh Islam, MUI, konglomerat, dan pemerintah. Dari kantor Wali Kota Jakarta Selatan datang meminta agar Klub Taat Suami bisa membagi cerita dengan ibu-ibu PKK. Responsnya bagus sampai sekarang. Orang-orang banyak yang bertanya konsep taat suami itu seperti apa.

Bagaimana Anda menanggapi kalangan yang kontra?
Saya rasa itu karena beberapa sebab. Pertama, mungkin mereka tidak memahami konsep taat yang kami pahami. Dan bagi kalangan feminis, konsep taat itu menjadi asing. Islam itu awalnya asing dan kembali menjadi asing. Bukan saja soal taat. Waktu saya pakai jilbab pada 1982, hebohnya luar biasa. Tapi, lihatlah sekarang, jilbab bukan suatu yang aneh. Sebenarnya, kalau kita masuk ke perusahaan, ada bos, pemiliknya, kita yang jadi stafnya itu taat. Ketaatan itu maksudnya bukan sesuatu status yang merendahkan martabat.

Bukankah seharusnya muslim hanya taat kepada Allah?
Bukti seorang taat kepada Allah, dia terima semua aturan-Nya. Prinsipnya, kita berbuat baik pada orang karena iman. Begitu juga taat kepada suami. Bukan suami yang suruh, tapi Allah yang suruh.

Apa maksud pernyataan bahwa istri yang tidak taat, tidak menghiburkan, bisa menjadi sumber kerusakan masyarakat?
Bahwa istri yang baik, tapi tidak bisa melayani suaminya akan membuat suaminya pulang dengan wajah kusut. Apalagi jika istrinya bermasalah, padahal seharusnya istri itu menjadi tiang negara. Kalau yang mengalami masalah rumah tangga ini adalah para pemimpin dunia, maka sudah tentu merugi, tapi itu bukan berarti istri menjadi biang kerusakan masyarakat karena sebenarnya sumber kerusakan itu karena manusia sudah kehilangan moral. Suami pun, sebelum dia membimbing istrinya menjadi lebih baik, harus taat dulu kepada Allah dan bersikap baik. Kenapa kami terfokus pada ketaatan istri karena ini klub perempuan, maka yang dibicarakan masalah perempuan.

Apa tanggapan Anda ketika klub ini dituding merendahkan martabat perempuan?
Saya pikir ketika kita melayani suami kita dengan dasar cinta, itu bukan merendahkan martabat. Kami hanya ingin berbagi pengalaman meski kami masih jauh dari sempurna, bahwa sejak Global Ikhwan berdiri (1968) ada cara mendidik suami, mendidik istri, dan dan anak-anak. Kami bahagia, tidak ada krisis. Kami membagi pengalaman yang sudah ada. Hasilnya bagaimana kami melaksanakan perintah Tuhan untuk taat karena akhirnya seperti kami, Allah memberikan balas jasa kepada kita. Di mana merendahkannya? Di sini (Global Ikhwan), 50 persen penggerak perusahaan adalah perempuan. Kalaupun ada komentar (negatif), itu karena informasi yang belum sampai. Ini sebuah ajaran Tuhan, bukan teori baru.

Sebenarnya apa konsep taat dalam definisi Klub Taat Suami ini?
Dalam rumah tangga, sudah Tuhan katakan bahwa pria itu pemimpin bagi perempuan. Suami yang baik, bukti bahwa dia taat kepada Allah, dia adalah yang berakhlak baik. Begitu juga istri. Kalau dia taat kepada Allah, dia akan mengikuti suami. Rasulullah sendiri mengatakan perempuan itu di (hari) akhir akan dilihat empat hal: salat, puasa, menjaga marwah dirinya, yang keempat akan ditanya tingkat ketaatan pada suami.

Kenapa konsep ketaatan itu hanya dibebankan kepada istri. Bagaimana jika suaminya tidak taat kepada Allah?
Kalau begitu, mesti ditanya mengapa dulu mereka menikah. Kalau suami tidak taat kepada Allah, kita tidak wajib taat. Hanya, kadang penyelesaiannya akan kami panggil kedua belah pihak untuk konseling, mendekatkan suaminya kepada Allah. Kadang suaminya menjadi ganas karena istrinya. Jadi, kita lihat keduanya.

Definisi taat ini sampai seberapa jauh?
Kami ingin 100 persen taat. Ketaatan tentulah ada dalam aspek kehidupan. Misalnya mau makan, suami mau sup, kita ingin sayur asam. Apa salahnya kita sediakan sup. Kalau sudah berumah tangga lama, kita juga akan bersenang hati melayani orang yang kita cintai. Dan begitu juga tentang hubungan seksual. Kalau orang-orang memberikan layanan kepada lelaki hanya untuk cari uang, dia melayaninya dengan begitu rupa, luar biasa, yang membuat orang datang lagi-datang lagi sampai ketagihan. Kenapa kita tidak juga melayani (seperti itu terhadap suami sendiri)? Ini bukanlah menyamakan istri sama dengan pelacur. Ada aturannya, apa yang tidak boleh jangan dikerjakan.

Artinya perempuan tidak punya hak untuk mengekspresikan keinginan seksualnya?
Kita bicara tentang taat kepada Allah, maka Allah yang terbaik. Bila seorang istri ketika menikah, maka suaminya terima nikahnya, dia yang bayar mahar. Artinya, dalam berumah tangga, yang raja itu suami. Jadi, dalam aturan itu pasti ada hikmahnya. Allah itu baik. Kalau kita melayani suami menurut selera suami, nanti Tuhan akan berikan kepada kita nikmat lebih hebat dari perempuan lain yang ingin memuaskan diri sendiri.

Ketaatan ini termasuk mengikhlaskan ketika suami ingin menikah lagi?
Ya. Awalnya kan ketaatan pada Tuhan, bukan karena suami suruh. Artinya, kalau kita taat kepada Allah, kita harus terima seluruh perintah Allah yang dibolehkan. Poligami termasuk yang dibolehkan Allah. Itu kita harus menyetujuinya. Makanya saya geli kalau ada yang bilang korban poligami (tertawa). Kalau kami ini bukan korban, kami ini pejuang poligami.

Ada standar ganda di sini: berupaya agar suami tidak melirik perempuan lain dan menyetujui suami berpoligami....
Itu betul, suami tidak melirik orang lain. Makanya dia tidak pernah menyatakan mau poligami. Dalam Global Ikhwan tidak ada pria yang bilang saya mau poligami. Pernikahan di Global Ikhwan itu perkawinan yang dirancang. Begitu pula poligami. Kami ada Departemen Keluarga dan Kesejahteraan yang mengurusi monogami dan poligami. Di situ mengurus, selain agar mendapatkan kecocokan antarpasangan, tapi juga akan memperkuat perjuangan Islam. Jadi, suami-suami yang sudah dididik untuk takut kepada Allah, mereka tidak terpikir menikah lagi karena takut akan amanah. Departemen ini mengurus madu-madu juga. Departemen ini juga yang memperkenalkan saya dengan madu saya.

Bagaimana perasaan Anda ketika menikahkan suami Anda dengan perempuan lain?
Fauzah: Perasaan kami tentu rasa sakit itu ada, tapi kami tahu sakit itu apa. Tapi, kami tahu ada obatnya. Ini seperti ujian naik kelas. Kalau poligami itu bukan sesuatu yang baik, tentu para nabi dan rasul tidak akan poligami. Padahal, mereka adalah orang-orang yang paling tinggi ketakwaannya.

Selama ini pijakan poligami adalah Surat Annisa ayat 3. Tapi, pada ayat 129 disebutkan bahwa sesungguhnya manusia itu tidak bisa berbuat adil....
Islam itu meletakkan sesuatu pada tepatnya. Adil yang paling tinggi adalah meletakkan Allah sebagai Tuhan. Dalam konsep adil yang utama dari suami, dia harus bisa menempatkan Allah sebagai Tuhannya. Bila itu sudah dapat, pernikahan akan bahagia dengan sendirinya.

Ayat 129 itu menunjukkan Allah menyukai monogami?
Kan diizinkan mengambil istri kedua, ketiga, keempat. Kalau enggak mampu, satu. Jadi, sebetulnya istri satu ini emergency. Saya katakan tadi ini sebuah pengalaman. Kami lihat Abuya dengan 4 istri, 40 anak, 200 cucu, pernikahan rukun, karena semua mengambil Tuhan sebagai pemimpin. Itu kuncinya.

Bukankah Rasulullah pernah mengadu kepada Allah kalau dia tidak sanggup berbuat adil?
Saya rasa yang Rasulullah kata soal perasaan dia yang khusus kepada Aisyah dibanding kepada istri-istri yang lain. Kecenderungan hati itu disetujui oleh istri-istri yang lain karena Siti Aisyah diberi keistimewaan, dia yang paling bertakwa. Waktu dengan Aisyah, Rasulullah mendapatkan wahyu, lalu Aisyah mendapatkan pembelaan dari Allah.

Bisakah dideskripsikan kebahagiaan Anda ketika masih monogami dan kini poligami?
Fauzah: Saat monogami itu hidup, ya, begitu-begitu saja. Tidak ada tantangan apa-apa. Seperti orang tidak pernah masuk mal yang dingin, tentu dia akan bilang belanja di Blok M itu sudah paling oke. Tapi, ketika ditawarkan mal lain, dia akan lihat memang ada mal dingin. Begitu juga ketika poligami, ternyata ada ya kehidupan ini. Jadi, makin kita taat kepada Allah, makin akan dibukakan pintu-pintu yang kita tidak pernah tahu.

Kalau Anda merasa cinta suami Anda terbesar untuk Anda, bagaimana dengan istri kedua, ketiga, dan keempat yang seakan menjadi pelengkap?
Kalau kita sudah cinta Allah, itu memang semua indah. Pengorbanan itu terbayar. Dan, dalam perjalanannya itu, kami terheran-heran bagaimana Allah membalas. Ada kebaikan yang banyak dalam poligami. Kami tiba-tiba merasa rindu dengan madu kami. Kayak adik-beradik. Satu rumah.

Apa saja yang diajarkan dalam Global Ikhwan?
Kami mengajarkan paling tidak ada satu paket seperti halnya Rasulullah mengajarkan salat setelah sebelas tahun kenabian. Begitu pula pola didikan yang ada dalam Global Ikhwan ini, terutama kepada orang yang taat kepada Allah. Ada praktik membimbing salat. Kemudian diajarkan bagaimana berumah tangga. Dan memang ada pengenalan tentang hubungan suami-istri yang menurut tata cara aturan. Tapi, tampaknya orang sangat tertarik tentang hal itu karena sebelumnya pendidikan soal seks ditutup. Tabu. Padahal, dalam Islam ada kok dan halal.

Jika ada klub taat suami, apakah di Global Ikhwan juga ada klub memperlakukan istri dengan baik?
Oh, ya. Kami kan mengajarkan paket, jadi bukan hanya perempuan.

Apakah di Global Ikhwan anak-anak diajarkan kursus pernikahan?
Kami sudah mengajarkan sejak mereka masih kecil. Kalau anak-anak ditanya oleh kami apakah mau poligami kelak, mereka menjawab, "Mau." Ini kan yang Allah bolehkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi, ini sudah ada di benak mereka saat kecil.

Global Ikhwan sendiri selama ini bergerak di bidang apa?
Kami bergerak di semua bidang. Ada kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan lain-lain. Di Malaysia ada pabrik makanan, restoran, dan lain-lain.

Bagaimana anak-anak Global Ikhwan mendapat pendidikan?
Ya di sini. Kami ada homeschooling. Mereka belajar di sini sampai mereka mahir, jadi langsung aplikatif. Kalau mereka ingin meneruskan ke sekolah formal dengan kuliah, bisa juga. Kalau dia sudah ada keahlian, sudah langsung masuk ke proyek.

BIODATA

NAMA:
Dr. Gina Puspita

KELAHIRAN:
Bogor, 8 September 1963

SUAMI:
DR. Ing. Abdurrahman Riesdam Effendi (mempunyai tiga anak)

PEKERJAAN:
Dosen, Ibu Global Ikhwan wilayah Sumatera I

PENDIDIKAN:
- Bahasa Prancis dan adaptasi sistem pendidikan Prancis di Formation International de l'Aeronaetique et Spatiale, Toulouse, Prancis (1982-1983)
- Sarjana teknik di Paul Sabatier University, Toulouse, Prancis (1983-1987)
- Dipl. Ing dan DEA di Teknik Penerbangan (konstruksi pesawat udara) di Ecole National Superieure de l'Aeronautique et de l'Escape, Toulouse, Prancis (1987-1989)
- Doktor teknik penerbangan di Ecole National Superieure de l'Aeronautique et de l'Escape (1989-1993)

KARIER:
- Supervisor mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Penerbangan di Universitas Prancis untuk Pengembangan Struktur Analisis, ENSAE-Prancis (1990-1993)
- Dosen tamu di Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (1994-2000)
- Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (1996-sekarang)
- Kepala Departemen Optimisasi Struktur Divisi Penelitian dan Pengembangan Kedirgantaraan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (1993-2003)

BUKU:
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam bersama Riesdam Effendi (2006)

PENGHARGAAN:
- Pelajar teladan tingkat sekolah menengah atas se-Provinsi Jawa Barat (1982)
- Medali emas dari Kementerian Industri Prancis (1989)
- Penghargaan Perempuan Teknologi Muslim Terbaik (2000)

sumber : www.tempo.co

Istri pengasas Al-Arqam ditangkap di Mekah disyaki pimpin ajaran sesat

KUALA LUMPUR 28 Mac - Seorang wanita warga Malaysia berusia 52 tahun yang dipercayai isteri kepada Allahyarham Ashaari Muhammad ditangkap di Kota Mekah, semalam kerana disyaki memimpin ajaran sesat di tanah suci itu.

Dia ditangkap bersama 95 lagi pengikutnya terdiri daripada rakyat Malaysia dan Indonesia dalam satu serbuan yang dilakukan oleh Jabatan Imigresen Mekah dengan kerjasama Unit Risikan dan Pencegahan Jenayah semasa sedang menjalankan upacara keagamaan di situ.

Media tempatan negara itu, SABQ melaporkan, kumpulan tersebut dipercayai mempunyai kaitan dengan pergerakan Al-Arqam yang diharamkan di Malaysia sejak Disember 2006.

Laporan itu turut mendedahkan, wanita itu memperoleh pendapatan kira-kira RM850,000 sebulan hasil daripada menjalankan aktiviti keagamaan sesat tersebut.

Utusan 29 Mac 2013


Lima anak Hatijah Aam turut ditahan di Makkah

Kuala
Lumpur: Isteri Allahyarham Ashaari Muhammad, Hatijah Aam, yang ditahan di Makkah kelmarin kerana disyaki memimpin ajaran sesat dipercayai memiliki aset ratusan juta ringgit.

Hatijah bersama lima anaknya dan 84 rakyat Malaysia dan sembilan warga Indonesia ditahan dalam tiga operasi berasingan di Makkah kerana didakwa mengamalkan amalan meragukan, bidaah dan menjalankan aktiviti nasyid berunsur syirik.

Tinggal tanpa permit 

Mereka juga didakwa melakukan kesalahan mengikut Akta Imigresen Arab Saudi, tinggal tanpa permit.

Kelmarin media tempatan negara itu, SABQ melaporkan kumpulan itu dipercayai mempunyai kaitan dengan pergerakan Al-Arqam yang diharamkan di Malaysia sejak Disember 2006.

Wanita berusia 52 tahun itu dan anak-anaknya tinggal di banglo mewah milik mereka yang dinamakan Istana Rasulullah Saidi Abuyya (RSA), manakala pengikutnya tinggal di chalet Nur Muhammad dan Mat’am Asaari, juga di kawasan mewah di Makkah.

Tujuh pemimpin yang turut ditahan bersama Hatijah ialah Hasnan Abd Hamid, Abd Rahman Said, Abd Rahman Ahmad, Johari Murad, Azri Mohd Yunus, Dr Hamzah Osman dan Inamullah Asaari.

Menurut sumber, semua mereka ditahan di Pusat Tahanan Imigresen Jeddah, Arab Saudi bagi siasatan lanjut. Mengikut rekod, semua yang ditahan masuk ke Arab Saudi menggunakan pas lawatan sosial, yang sudah tamat tempoh. Bagaimanapun, pasport Hatijah masih aktif sehingga Oktober 2014.,” katanya ketika ditemui BH, di sini, semalam.

BH difahamkan, tangkapan yang diketuai Mejar Turkey bin Mohamad As-Sowat dengan Imigresen Arab Saudi itu hasil maklumat awam berhubung kegiatan Hatijah, yang dipercayai mempengaruhi jemaah Umrah dan Haji dari Malaysia supaya menetap dan bekerja untuknya di Makkah.

Sumber itu berkata, kumpulan Hatijah ini memperoleh keuntungan hasil pelbagai rangkaian perniagaan pelancongan, ternakan, restoran, industri makanan dan pelbagai rangkaian yang beroperasi di lebih 20 negara, termasuk Jerman, London, Australia, Indonesia, Thailand dan negara lain di seluruh dunia.

Kekal pengaruh, rahsia selamat

“Modus operandi kumpulan ini lebih bertujuan mengekalkan dan menguatkan pengaruh sesama ahli bagi memastikan rahsia kegiatan kumpulan mereka selamat,” katanya.

Selain itu, sumber berkata, di negara ini kumpulan itu mempunyai lebih 3,000 pengikut di tujuh lokasi, yang beribu pejabat di Makkah.

Tujuh lokasi itu dikenal pasti di Sungai Penchala, Bandar Country Homes, Selangor; Batu Hampar, Perak; Kampung Pilin, Negeri Sembilan; Kampung Pochan, Kedah; Rompin, Pahang dan Pasir Puteh, Kelantan.

Sementara itu, Timbalan Menteri Luar, A Kohilan Pillay mengesahkan penahanan terbabit, bagaimanapun berkata, jumlah sebenar penahanan dan pertuduhan hanya akan diketahui pada hari ini kerana semalam adalah cuti hujung minggu di Arab Saudi.

Berita Harian 30 Mac 2013


Bekas penyokong al-Arqam lapor polis

Kuala Lumpur: Pasangan suami isteri yang juga bekas pengikut Global Ikhwan Sdn Bhd (GISB) yang dikaitkan dengan ajaran sesat al-Arqam membuat dua laporan polis berhubung salah laku dan penyelewengan dana rumah amal anak yatim kelolaan GISB.

Kedua-duanya tampil membuat laporan polis di Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Dang Wangi kira-kira jam 10 pagi semalam bagi meminta polis menjalankan siasatan lanjut dan menangkap Hatijah Aam atau Ummu Jah yang dikatakan terbabit dalam melakukan jenayah itu.

Bekas Pembantu Kanan Allahyarham Ashaari Muhammad, Nizamuddin Muhammad, 39, membuat laporan berhubung senarai penipuan Ummu Jah termasuk program berunsur murtad bagi mempengaruhi lebih 20,000 pengikut GISB sejak menerajui kumpulan itu pada 2010.

Manakala isterinya, bekas pengurus tiga rumah amal, Roslina Ibrahim, 50, membuat laporan polis berhubung ratusan ribu kutipan dana di tiga rumah amal yang diselewengkan untuk mengembangkan fahaman al-Arqam yang dibawa wanita berkenaan.

“Kami menyambut seruan Ketua Polis Negara (KPN) untuk tampil membuat laporan bagi membolehkan pihak mereka bertindak terhadap tuduhan yang dibuat.

“Saya juga menyeru rakan lain supaya jangan takut untuk keluar membuat laporan kerana KPN sendiri sudah berjanji untuk menangani kes ini,” katanya.

Semalam, KPN, Tan Sri Khalid Abu Bakar meminta semua bekas pengurusan GISB tampil membuat laporan polis dan mengemukakan bukti berhubung penyelewengan sebanyak RM4 juta kutipan dana anak yatim dari 83 rumah amal kelolaan GISB diselewengkan Hatijah sejak 2010.

myMetro 19 Ogos 2013


Hatijah dapat RM1.52 juta sebulan

Kuala Lumpur: Peneraju Global Ikhwan Sdn Bhd (GISB), Hatijah Aam dikatakan memperoleh pendapatan mudah RM1.52 juta sebulan hasil kutipan dana oleh 38 Pengarah Zon 1 (PZ1) pertubuhan itu.

Bekas pengurus rumah amal GISB, Roslina Ibrahim, mendakwa setiap PZ1 diwajib menyerahkan RM40,000 sebulan untuk dimasukkan ke akaun pusat atau dikenali Tabung Taqwa dan jika gagal, jawatan mereka sebagai pengarah zon akan dilucut untuk digantikan dengan ahli baru GISB.

Selepas wang dimasukkan ke Tabung Taqwa, pengurusan akaun berkenaan akan dikelolakan beberapa proksi Hatijah Aam. PZ1 akan memasukkan RM40,000 ke akaun proksi terbabit sebelum ia dipindahkan ke akaun dikuasai Hatijah.

Berita Harian 28 Ogos 2013


Ummu Jah, 400 pengikut Al- Arqam lafaz taubat nasuha






















SHAH ALAM 8 Nov. - Balu pengasas kumpulan Al- Arqam yang diharamkan, Hatijah Aam atau dikenali Ummu Jah yang mengetuai lafaz taubat nasuha bersama kira-kira 400 pengikut pergerakan itu bertekad tidak lagi mengulangi perbuatan mereka mengamalkan ajaran Aurad Muhammadiah.

Hatijah yang juga Pengerusi Eksekutif GISB Holdings Sdn. Bhd. turut menyatakan bahawa pihaknya akan memulangkan semua harta anak yatim yang telah diambil sebelum ini dan kini dalam proses memulang semula dana tersebut selaras dengan pengisytiharan taubat mereka itu.

Ummu Jah menegaskan, mereka menyedari kesilapan lalu dan menyesal dengan perbuatan melanggar prinsip-prinsip Islam berlandaskan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, syariat dan akhlak Islam seperti dinyatakan dalam fatwa.

''Wallahi, Wabillahi, Watallahi, kami hari ini bertaubat dengan sebenar taubat dan kami begitu hina dan menyesal dengan perbuatan lalu kami.

''Kami berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan kami dan selayaknya (wajib) atas kami untuk tidak akan memberi sebarang ruang sebesar zarah kepada tempias dan sisa fahaman serta pegangan untuk berdetik dan berlegar-legar di hati-hati kami," katanya ketika melafaz taubat tersebut dalam Majlis Istitabah Pengikut Kumpulan Al-Arqam di sini hari ini.

Pengisytiharan taubat itu disaksikan Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan, Prof. Emeritus Tan Sri Dr. Abdul Shukor Husin; Timbalan Mufti Selangor, Abdul Majid Omar; Pengerusi Jawatankuasa Tetap Hal Ehwal Islam, Pemodenan Pertanian dan Pembangunan Desa negeri, Sallehen Mukhyi dan Pengarah Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS), Datuk Marzuki Hussein.

Majlis tersebut disertai sebanyak 291 kakitangan GISB dari negara ini, Indonesia (47), Australia (tujuh), Singapura (10) dan seorang dari Afrika Selatan.

Semalam, Mahkamah Rendah Syariah Gombak Barat, Kuang dekat sini mengenakan hukuman kepada Ummu Jah dan 17 pengikutnya bon berkelakuan baik bersyarat selama setahun.

Hukuman itu dijatuhkan oleh Hakim Syarie, Kamaruzaman Ali selepas mereka mengaku bersalah atas pertuduhan melanggar arahan mufti berkenaan pengharaman ajaran Al-Arqam.

Dalam majlis yang dianjurkan oleh JAIS itu, Hatijah turut memberikan jaminan bahawa pihaknya sendiri akan memastikan kesemua pengikutnya dalam GISB tidak lagi mengamalkan ajaran yang terdapat dalam kumpulan Al-Arqam sebelum ini termasuk acara pencak.

''Kita telah terima fatwa sebagai satu pakej. Saya sendiri akan pastikan perkara ini, Insya-Allah, pergilah tengok di tempat-tempat ibadah kami, kita tinggal dah dan selepas ini kami ada sesi 500 jam kursus pemulihan iaitu selama setahun," katanya.

Utusan 9 Nov 2013


Hatijah janji pulangkan semua duit anak yatim

Shah Alam: Sehari selepas mengaku bersalah terhadap pertuduhan melanggar arahan mufti, balu pengasas pertubuhan Al-Arqam yang diharamkan pada 1994, Hatijah Aam atau lebih dikenali sebagai Ummu Jah berjanji akan memulangkan semua duit anak yatim yang diambilnya sebelum ini.

Ummu Jah sebelum itu bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi kesilapannya di hadapan kira-kira 300 ahlinya yang disaksikan Pengarah Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) Datuk Marzuki Hussin, Timbalan Mufti Jabatan Mufti Negeri Selangor Datuk Abdul Majid Omar dan Exco Hal Ehwal Islam, Permodenan Pertanian dan Pembangunan Desa Sallehen Mukhyi dalam satu Majlis Istitabah, di sini, semalam.

Ummu Jah, 59, yang juga Pengarah Global Ikhwan Sdn Bhd (GISB) berkata, dia bersedia memulangkan semua duit anak yatim yang pernah diambilnya sebelum ini.

“Kini saya dalam proses untuk memulangkan semula semua yang pernah diambil dulu sebelum bertaubat.

“Saya juga dah melepaskan semua ahli yang dikuarantinkan sebelum ini, kerana secara dasarnya mereka sudah bertaubat, tetapi mereka tidak mahu pulang ke pangkuan ahli keluarga kerana masalah rumah tangga, bukannya kerana dilarang,” katanya dalam sidang media selepas bertaubat.

Ummu Jah juga mengaku yang perjuangannya selama 45 tahun itu hanyalah sebuah perjuangan sesat akidah. “Kami kini menerima sebesar-besar penghinaan dan rela untuk menyerah diri dan ketaatan kepada Islam sebenar berdasarkan Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah, katanya.

Sementara itu, Timbalan Mufti Jabatan Mufti Negeri Selangor Datuk Abdul Majid Omar berkata, tidak perlu bagi Ummu Jah untuk menerangkan satu persatu apa yang ditaubatnya.

“Kami percaya dia dan pengikutnya sudah bertaubat dan betul-betul menyesali apa yang dibuat sebelum ini serta akan memantau semua pergerakan mereka,” katanya Semalam Harian Metro menyiarkan balu pengasas pertubuhan al-Arqam yang diharamkan pada 1994, Hatijah Aam atau lebih dikenali sebagai Ummu Jah dan 17 pengikut akhirnya mengaku salah terhadap pertuduhan melanggar arahan mufti melalui fatwa pengharaman ajaran al-Arqam.

Pengikutnya terdiri daripada tujuh lelaki dan 10 wanita berusia antara 18 dan 58 tahun daripada golongan profesional, pelajar dan ahli perniagaan.

Justeru, Hakim Syarie Kamarulzaman Ali di Mahkamah Rendah Syariah Gombak Barat, semalam memerintahkan mereka dikenakan bon berkelakuan baik bersyarat selama setahun.


1 comment:

  1. ...masih mending dimadu... daripada didunia barat.. wanita2 selingkuh dgn pria yg beristri krna tdk kebagian suami..

    atau menjadi lesbian krna tdk punya suami.. tsumma na 'udzubillah.. insya Allah, ada hikmah2 dibalik syariat poligami yg Allah turunkan..
    wallahu alam..

    ReplyDelete