Mengapa Al-Quran (yang “Allah”-nya Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) begitu menurunkan derajad wanita sehingga mengajarkan poligami (Sura 4:3)?
Mengapa Al-Quran ini mengajarkan laki-laki begitu mudah ”mengganti isterimu dengan isteri yang lain”(Sura 4:20, dan banyak ayat lain)? Mengapa Al-Quran ini menyuruh suami “pisahkanlah mereka (isteri) dari tempat tidur, dan pukullah mereka” (Sura 4:34)?
Padahal ada hadits “Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis” (Bukhara).
Kasihan sekali perempuan dalam dunia Islam, bukan saja suaranya/kesaksiannya tidak sama dengan laki-laki (semua atas dasar perintah Allah yang Maha Pengasih), tetapi mereka juga disebut “alat perangkap setan“ (Asysyihab) dan paling banyak menghuni neraka. “Aku telah menyaksikan neraka yang penghuninya paling banyak kaum wanita" (Bukhari).
Friday, June 28, 2013
Agama Allah dan Pelaku Kekerasan Di Rumah Tangga
Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. "Tuhan Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Taurat, Kejadian 2:18). Demikianlah Allah menciptakan Adam dan Hawa sepadan.
Derajat Wanita Dibawah Derajat Pria
Sebuah media online 'The Australian' baru-baru ini menulis, di Iran seorang wanita akan dirajam atau digantung. Di Arab Saudi, seorang presenter televisi dipukul sampai pingsan oleh suaminya karena percekcokan. Di Pakistan, 80 persen dari perempuan adalah korban dari kekerasan dalam rumah tangga, sedangkan 40 persen di Turki dan 30 persen di Indonesia. Pelaku kekerasan jarang dihukum di negara-negara tersebut. Sebagai kontras, Pengadilan Tunisia menghukum keras pelaku kekerasan dalam rumah tangga.
Hukum Rajam
Hukum rajam adalah hukuman yang diberikan kepada orang yang melakukan perjinahan, beberapa negara Islam seperti Iran, Pakistan, Somalia masih menerapkan hukum ini. Sayangnya, hukum rajam lebih memberatkan kaum wanita dibanding pria.
Kesaksian Laki-laki Lebih Bernilai dari Kesaksian Perempuan?
Menurut hukum Syariah, harus ada 4 atau 3 saksi laki-laki dan 2 perempuan untuk membuktikan perzinahan (kesaksian satu laki-laki bernilai dua perempuan). Keputusan hukuman sering didasarkan oleh “penilaian pengadilan” yang selalu berubah. Keputusan pengadilan biasanya memiliki faktor diskriminasi. Mengapa? Karena pandangan mengenai perempuan sebagai penggoda dan asal dari fitnah atau pertengkaran dalam masyarakat Islam.
Walaupun hukuman untuk perzinahan sama untuk laki-laki dan perempuan, hampir semua terdakwa adalah perempuan yang sudah menikah. Laki-laki secara legal boleh memiliki 4 istri dan banyak pernikahan sementara. Demikian mereka bisa menyatakan bahwa hubungan mereka hanya sementara atau tidak resmi (nikah siri).
Walaupun hukuman untuk perzinahan sama untuk laki-laki dan perempuan, hampir semua terdakwa adalah perempuan yang sudah menikah. Laki-laki secara legal boleh memiliki 4 istri dan banyak pernikahan sementara. Demikian mereka bisa menyatakan bahwa hubungan mereka hanya sementara atau tidak resmi (nikah siri).
Bagaimana Pandangan Kristen Terhadap Wanita/Isteri
Sangat disayangkan apabila kita umat beragama tidak mengasihi para istri/wanita sebagai suatu anugerah dari Allah. Dengan jelas firman Allah dalam Injil, surat Kolose 3:19 mengatakan: "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”. Maka demikianlah seharusnya pengikut Isa Al-Masih dalam memperlakukan wanita/isterinya, sesuai dengan kebenaran Firman yang telah disampaikan oleh Allah.
Ada tertulis dalam Injil bagaimana Isa Al-Masih memandang seorang wanita yang kedapatan berjinah dan hendak diadili oleh para ahli kitab. “Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Injil Rasul Besar Yohanes 8:7). Adakah manusia yang tidak berdosa? Tentu tidak ada! Maka manusia tidak berhak mengadili dosa sesamanya.Isa Al-Masih Adalah Terang Dunia
Isa Al-Masih mengajarkan bahwa semua manusia berdosa dan layak di hukum, tanpa terkecuali. Namun, bagi mereka yang datang kepada Isa Al-Masih akan mendapatkan pengampunan. Karena Dia adalah terang dunia sehingga bagi mereka yang mengikuti Dia tidak akan berjalan dalam kegelapan dosa. “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Injil Rasul Besar Yohanes 8:12).
Sudahkah saudara mendapatkan “TERANG” itu? Kami mengundang saudara menyelidikinya pada “Jembatan Keselamatan”
Sudahkah saudara mendapatkan “TERANG” itu? Kami mengundang saudara menyelidikinya pada “Jembatan Keselamatan”
Pernikahan Islam Dan Kesehatan
Sebuah surat kabar utama, New York Times, memuat salah satu judul artikelnya: “Apakah Menikah itu Baik untuk Kesehatan?” Sebuah riset baru-baru ini juga mengatakan bahwa menikah dapat mempengaruhi kesehatan. Ini tergantung apakah pernikahannya bahagia atau tidak.
Para ilmuwan telah mengetahui bahwa orang yang menikah cenderung lebih sehat dan berumur panjang dibanding yang tidak menikah, Pneumonia, kanker, dan serangan jantung lebih jarang terjadi pada mereka yang menikah. Namun belakangan ini sebuah riset mengemukakan, faktor yang mendukung umur panjang tersebut ditentukan oleh kwalitas pernikahan. Karena pernikahan yang bermasalah, berpotensi menimbulkan lebih banyak penyakit.
Menurut hasil riset Psikologis Timothy W. Smith dari University of Utah, di antara pasangan yang rata-rata sudah menikah selama 36 tahun, jikalau argumentasi yang dikemukakan ketika berkomunikasi berisi kata-kata yang tidak baik, itu akan mempertinggi resiko penyakit jantung.
Artikel surat kabar Times menyelidiki riset kontemporer tentang hubungan suami isteri dan kesehatan tubuh, dan ternyata hubungan suami-isteri erat kaitannya dengan kesehatan tubuh. Pneumonia, kanker, dan serangan jantung lebih jarang terjadi pada mereka yang menikah. “Kunci keharmonisan berada pada hubungan itu sendiri, bukan pernikahannya.” kata sejarawan Stephanie Coontz.
Pertengkaran Dalam Pernikahan
Tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam setiap pernikahan pasti akan terjadi pertengkaran. Baik pertengkaran kecil maupun besar. Pertengkaran antara suami isteri bisa secara negatif mempengaruhi pernikahan dan kesehatan tubuh.
“Berusahalah lebih keras lagi agar hubungan suami isteri menjadi lebih baik,” nasihat sosiologis Linda J. Waite dari University of Chicago. “Jika Anda belajar bagaimana mengatur pertengkaran sejak awal, maka Anda dapat menghindari masalah dalam pernikahan karena interaksi yang negatif” lanjutnya.
Penyelesaian konflik secara baik akan meningkatkan keharmonisan keluarga, dan dengan demikian akan memberi pengaruh yang positif pada kesehatan.
Apa Kata Kitab Suci Tentang Pernikahan
Salah satu ayat Al-Quran berbunyi, “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka” (Qs 4:34).
Hadits lain mengutip Asma, anak perempuan Abu Bakar, seperti dalam Hadits Shahih Bukhari: "Akulah isteri keempat dari Al-Zabayar (satu dari dua belas kawan yang dijanjikan Firdaus oleh Muhammad). Bila Al-Zabayar marah dengan salah satu dari kami, kami dipukul sampai pukulannya patah.”
Melalui media televisi masyarakat dapat melihat berbagai macam bentuk penganiayaan yang terjadi dalam keluarga, khususnya antara suami dan isteri. Berbagai faktor penyebab terjadinya pertengkaran tersebut. Mungkinkah ayat di atas telah mendorong para suami untuk memukul isteri mereka jika terjadi pertengkaran? Jelas, pernikahan seperti ini bukanlah pernikahan yang harmonis. Kwalitas pernikahan seperti ini berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit.
Bagaimana Seharusnya Hubungan Suami Isteri?
Konflik dalam pernikahan memang tidak bisa dihindari, tetapi bertengkarlah dengan penuh kasih guna mencari solusi terbaik dan bukan mengutamakan ego masing-masing. Hal itu akan lebih baik bagi hubungan dan kesehatan tubuh. Juga, jika bertengkar dengan kasih, saat suami isteri berbaikan kembali, hubungan mereka akan menjadi tambah erat.
Menyelesaikan sebuah pertengkaran adalah lebih baik daripada harus menundanya berhari-hari. Injil, Surat Efesus 4:26 berkata, “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”
Saling mendengar dan menghargai argumen dari pasangan masing-masing adalah salah satu cara bertengkar dengan penuh kasih. Dengan mendengarkan, maka pasangan akan merasa dihargai. “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Injil, Surat Yakobus 1:19-20)
Demikianlah, sebuah pernikahan yang mempunyai kwalitas baik dapat meningkatkan kesehatan kedua pasangan, kemungkinan berumur lebih panjang, dan terhindari dari berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh pernikahan yang tidak baik.
Pernikahan Dini Dalam Islam
Beberapa waktu lalu, pernikahan dini kembali ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia, hal ini dipicu oleh terjadinya pernikahan antara Pujiono Cahyo (43 tahun) dengan gadis belia berusia 12 tahun. Banyak pro-kontra mengenai pernikahan tersebut baik dari ulama, Komisi Nasional Perlindungan Anak hingga masyarakat awam.
Syekh Puji dan Lutfiana Ulfa -- wordpress.com
UU Pernikahan Indonesia
Pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan usia. Menurut UU Perkawinan Republik Indonesia, perkawinan hanya diizinkan jika pria mencapai usia minimal 19 (sembilan belas) tahun dan wanita berusia 16 (enam belas tahun) tahun. Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini diduga dapat menimbulkan dampak negatif bagi si ibu maupun anak yang dilahirkannya. Selain itu pernikahan dini dinilai juga dapat mengurangi harmonisasi keluarga yang disebabkan oleh emosi yang masih labil dan cara pikir yang belum matang. Namun jika kita lihat ke belakang, sebenarnya pernikahan dini di Indonesia khususnya di pulau Jawa dan Madura bukanlah hal yang baru, bahkan zaman dahulu seorang perempuan yang belum menikah pada usia 15 tahun keatas dianggap sudah sangat terlambat.
Pernikahan Dini di India ( www.wunrn.com )
Pernikahan dalam Islam
Pengertian pernikahan dini menurut agama Islam adalah pernikahan yang dilakukan orang yang belum baligh atau belum mendapat menstruasi pertama bagi seorang wanita. Tetapi sebagian ulama Muslim juga memperbolehkan pernikahan dibawah umur dengan dalil mengikuti sunnah rasul karena sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi oleh Nabi Muhammad pada usia yang sangat belia sekali sedangkan Muhammad telah berusia 50-an tahun pada saat itu. Disamping itu, pernikahan dini juga dinilai dapat mempertahankan norma-norma agama yaitu menghindarkan pasangan muda-mudi dari dosa seks akibat pergaulan bebas. Sehingga sebagian orang mengartikan bahwa tujuan dari pernikahan adalah menghalalkan hubungan seks.
Pandangan Injil Tentang Pernikahan
Injil sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pernikahan, seorang pengikut Isa Al-Masih hanya diperbolehkan menikahi satu orang isteri dan perceraian sangat tidak diperbolehkan, hal ini ditegaskan dalam Injil Rasul Matius 19:5-6. Tujuan pernikahan dalam Kristen bukan semata-mata karena kebutuhan biologis saja, tetapi lebih dari pada itu Injil memerintahkan seorang isteri harus tunduk kepada suaminya seperti dia tunduk kepada Tuhan dan juga seorang suami harus mengasihi isterinya seperti dia mengasihi dirinya sendiri (Surat Efesus 5:22-23). "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging" (Surat Efesus 5:31).
Isa Al-Masih dengan sangat tegas dalam Injil Rasul Matius 18:6-10 memerintahkan untuk tidak menyesatkan anak-anak, dan juga sangat jelas dikatakan hukuman-hukuman terhadap mereka yang menyesatkan anak-anak (Injil, Rasul Lukas 17:2; Injil, Rasul Markus 9:42). Jika demikian, masih kita sebagai orang tua membiarkan terjadinya pernikahan dini?
inilah 450 Pasangan Pengantin anak-anak dibawah umur 10 tahun yg menikah di Gaza
MASS MARRIAGE IN GAZA
Poor kids - what a terrible fate to be born as a girl in a Muslim country
www.datehookup.com
Poor kids - what a terrible fate to be born as a girl in a Muslim country
Muhammed married a
six year old bride. But Islam has evolved in 1500 years. In Hamas land, in
2009, the brides were almost seven years old.
450 Grooms Wed GIRLS Under Ten In Gaza reported by Paul L. Williams, Ph.D. Thelastcrusade.org
A gala event occurred in Gaza.
450 Grooms Wed GIRLS Under Ten In Gaza reported by Paul L. Williams, Ph.D. Thelastcrusade.org
A gala event occurred in Gaza.
Hamas sponsored a
mass wedding for four hundred and fifty couples. Most of the grooms were
in their mid to late twenties; most of brides were under ten.
Muslim dignitaries
including Mahmud Zahar, a leader of Hamas, were on hand to congratulate the
couples who took part in the carefully staged celebration.
"We are saying
to the world and to America that you cannot deny us joy and happiness,"
Zahar told the grooms, all of whom were dressed in identical black suits and
hailed from the nearby Jabalia refugee camp.
Each groom
received a gift of 500 dollars from Hamas.
The pre-pubescent
girls, dressed in white gowns, some adorned with garish make-up, received
bridal bouquets.
"We are
presenting this wedding as a gift to our people who stood firm in the face of
the siege and the war," local Hamas strongman, Ibrahim Salaf, said in a
speech.
The wedding photos
tell the rest of the sordid tale.
The International Center for Research on Women now estimates that there
are 51 million child brides now living on planet earth and almost all of them
in Muslim countries. Check the following link for comments by an Islamic leader
about their view of "child brides."
http://www.truthtube.tv/play.php?vid=3326 Child brides represent legalized
pedophilia for Muslim men.
Twenty-nine percent of these child brides are regularly beaten and
molested by their husbands in Egypt; twenty six percent receive similar abuse
in Jordan .
Every year, three million Muslim girls are subjected to genital
mutilation, according to UNICEF. This practice has not been outlawed in many
parts of America .
www.datehookup.com
99% Islam moderat di Inggris dituduh aktivis Amerika Anti Jihad BERSIMBIOSA dgn Teroris Jihad
![]() |
| Tentara ini dipenggal di jalanan London, Inggris |
Robert Spencer appeared on BBC
and had a debate with an
Imam, who opposes the visit by Robert Spencer and Pamela Geller. In the debate,
the Imam stated that only 1% of Muslims were responsible for the crimes being
committed in the name of Islam, while the other 99%, who are following the
Quran, are not. So, why the entire Muslim community must be judged by the
actions of a few deviant extremists as Robert Spencer and Pamela Geller et
al. do!
Spencer quoted a number of
horrific Quran verses like verse 9:29 calling for war and subjugation and imposing Jizya taxes on
the Christians and Jews, verse 9:28
which calls non-Muslims "unclean", verse 4:34 which sanctions beating of women etc. As expected, the Imam
immediately accused Spencer of taking those verses out of context without
failing to offer what right contexts are. At no time did the Imam
condemn these awful teachings than only charging Spencer with misrepresenting
them. The Imam even misquoted
Quran 5.32 stating that “if
one person is killed it is as if all mankind has been killed”
leaving out the segment that says "except
for those who make mischief and corruption in the land". And he also failed to quote
the next verse 5:33, which defines who such mischief-makers are and what they
deserve: “The recompense of
those who wage war against Allah and His Messenger and do mischief in the land
(i.e.
those refuse to accept Islam and possibly criticize it etc.) is only that they shall be killed or
crucified or their hands and their feet be cut off on the opposite sides, or be
exiled from the land. That is their disgrace in this world, and a great torment
is theirs in the Hereafter.”
By making these kinds of
statements—a perfect example of application of the Islamic doctrine of
al-Taqiya (deceiving the infidels) to defend the evil teachings of Islam—this
Imam, like the usual
moderate Muslims, was only providing religious cover for the Islam-inspired
violent and evil acts of the so-called deviant extremist Muslims.
Although moderate Muslims like the Imam, on programs like this, talk about
deviant extremists among them who pervert or hijack Islam, one is left
wondering how those 1% extremists could thrive amongst the very vociferous moderate
99%, who rise up in arms every time a critic of Islam says anything about Islam
not liked by them.
Where are world’s 99% moderate
and peace-loving Muslims marching in the streets against the evils committed
the extremists 1%, such as murdering and persecuting Christians, Hindus,
Buddhists throughout the Middle East, Africa, Bangladesh, Pakistan and Thailand
etc.? These Jihadists commonly justify their actions by quoting verses of the
Quran like 9.29, 9.5, 5.33, 3:151, 2:217 etc.?
Where are the 99% of the
3,000,000 million peace-loving British Muslims marching in the streets of
Britain condemning the beheading of Les Rigby and all the other acts of carnage
that are being committed by the 1% extremists?
Where are the 99% peace-loving
British Muslims marching in the streets of Britain condemning the rape and
gang-rapes of young kafir girls by their deviant Muslim brothers?
Where are the 99% peace-loving
British Muslims marching to their Mosques to eject the Imams, who teach hatred
and violence from the Quran and Sunnah, which has been repeatedly documented by
investigative TV programs in Britain?
Where are the 99% peace-loving
British Muslims marching in the streets demanding an end to anti-Semitic
teachings of Islam that makes up 17% of the sacred Islamic texts?
Where are the 99% law-abiding
British Muslims marching in the streets condemning the creation of “NO GO
SHARIA LAW ZONES” in British cities by extremist Muslims, where British law no
longer applies?
The entire Muslim community
generally rises up when a critic make a little slight, generally a deserving
one, about their religion. Then the answer to their not marching in the streets
when the minuscule number of extremist Muslims pervert their religion so
horribly only means that they have no complaints against those evil acts
committed by their so-called extremist coreligionists. And why should they?
Don’t those extremists readily quote from Islam’s holy texts to justify those
horrendous actions, just like the murderers of Les Rigby did? Could Muslims, extremists
or moderates, go against the writs and dictates of the Quran and Sunnah?
All these only obviate the fact that the cleverly-created
"extremist" and "moderate" paradigm in the Muslim community
works in perfect symbiosis to help them attain the goals of Islam in today’s
world, where an all-out extremist path, like in the olden days, are impractical
because of the disadvantageous power equations for Muslims. So, while the 1% extremists advance
the writs and demands of the Quran and Sunnah to make Islam victorious and the
only acceptable religion and system of governance in the whole world, the other 99% act as cover for them,
so that the well-meaning infidels won't take all-out actions against the
threats Islam poses to them, to the world.
We must remember that the teachings of the Quran and Sunnah are much
more evil and dangerous than those contained in Hitler’sMein Kampf.
Imagine if the Anglo-American axis applied the 99% moderate versus 1% extremist
Nazi that worked in the fashion it is working today with Muslims. What the
world would have looked like today?
----
Jake Neuman is the author
of “Islam and
Sharia Law Are Treason: Jihad Is Treason” and “Prophet Muhammad (AKA ALLAH): Monster
of History.”
Sunday, March 3, 2013
awalnya kata ALLAH digunakan oleh orang-orang kafir di mekah SEBELUM MUHAMMAD LAHIR. juga orang kristen arab yang hidup SEBELUM ZAMAN ISLAM
Tidak jarang orang
Kristen menggunakan kata 'Allah' untuk menyebut Tuhannya. Namun secara umum,
kata “Allah” lebih identik dengan agama Islam, yaitu panggilan untuk
sesembahannya. Sehingga tidak heran, terdapat sebanyak 2,679 kata ‘Allah’ dalam
Al-Quran. Lalu, dari manakah sebenarnya asal kata “Allah” ini?
Kata ‘Allah’ Berasal Dari Bahasa Semitik
Nama Allah terdiri dari Al (the, itu) dan Ilah (Deity, God). Artinya: Ilahi yang
satu. Kata “Allah” berasal dari bahasa Semitik, yang merujuk kepada Sem,
putra nabi Nuh. Bahasa Semitik juga merupakan kelompok bahasa yang terdiri dari
bahasa Arab, Amhar, dan Ibrani.
Kata lain dari Allah dalam bahasa Ibrani yang
berasal dari bahasa Semitik yaitu: Elohim, El, Elyon danEloah. Dalam Alkitab terdapat 2,500 kata 'Elohim', dimulai dari ayat
pertama dari Alkitab. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Taurat, Kitab Kejadian 1:1) – Ingat, kata
untuk Allah di sini adalah Elohim! Dan Elohim adalah nama pertama yang diberi
bagi Sang Pencipta dalam Kitab Suci.
Pengguna Kata 'Allah' Bagi Sang Pencipta
Awalnya kata Allah digunakan oleh orang-orang
kafir di Mekah sebelum Muhammad lahir. Juga orang Kristen Arab yang hidup
sebelum zaman Islam, memakai nama Allah untuk Sang Pencipta. Saat ini orang
Kristen Arab, Yahudi, Roma Katolik Malta, Kristen Indonesia dan Malaysia
memakai kata “Allah” bagi Pencipta.
Namun akhir-akhir ini kita banyak mendengar
perdebatan mengenai siapakah yang berhak menggunakan nama Allah. Hal ini
membawa kita pada masalah terpenting. Yaitu: Bagaimanakah kita sebagai orang
berdosa dapat datang dan berhadapan dengan Sang Pencipta?
Jelas siapa saja dapat menggunakan nama
'Allah' untuk Sang Pencipta. Tapi, tidak semua orang dapat mendekati 'Allah'
karena dosa!
Amal Perbuatan Tidak Dapat Menyelamatkan
Umat Muslim percaya amal dan ibadah dapat “mendekatkan” mereka pada Allah. Jelas hal ini mustahil.
Bahkan Muhammad sendiri berkata, “Tidak seorang pun di antara kalian
yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. . . . . . . Aku juga tidak,
hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian
berusaha berbuat dan berkata yang benar” (Hadits Shohih Bukhori Jilid 8, nomor 470).
Orang beragama mendiskusikan bagaimana
asal-usul kata Allah. Namun mereka tidak tahu bagaimana “mendekati Allah” atau
tidak yakin mereka dapat “mendekati” Allah. Sungguh aneh bukan!
Isa Al-Masih Membuka Jalan Kepada Allah
Hanya ada satu cara untuk dapat sampai kepada
Allah. Yaitu melalui anugerah dari Allah lewat pengorbanan Isa Al-Masih. Isa
Al-Masih adalah “Domba” Allah yang datang ke dunia untuk membersihkan hati
manusia dari dosa. Sehingga dengan hati yang bersih, manusia dapat mendekati
Allah yang Al-Quddus. Kitab Suci berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa
dunia” (Injil, Rasul Besar
Yohanes 1:29).
Inilah janji yang diberikan Isa Al-Masih kepada setiap orang yang mau percaya
kepada-Nya. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada
seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).
Asal usul kata Allah
justru dari orang Kristen Arab
The Christian Arab Heritage
By Dr. Fr.Labib Kobti
1- Introduction:
We are
absolutely in need here in America to know about our Christian heritage.
Al-Bushra will help you discover that "Heritage".
We all
know that the Arabs existed before Islam. They were mentioned in history and in
the Bible centuries before the coming of the Arab Prophet Muhamed.
Kingdoms
like the Gassanids and the Muntherites were Christian kingdoms (from the third century to the eight
century) modeled after the Roman and the Byzantine Empires. Some Bedwin tribes
were alsoChristians. They had a common language, the Arabic language.
We know
also that mainly the Christian tradition at that time was using the Aramean and
Syriac languages in Syria, Lebanon, Jordan and Palestine,the Chaldean and
Assyrian languages in Iraq, the Coptic language in Egypt,the Arabic in those
kingdoms mentioned above and between Arab bedwins.Those languages are used
still now in the liturgy of the Eastern Churches.Greek and Latin were the
languages of culture and philosophy. They wereused every where in the Roman or
the Greek Empire had their colonies orinfluence.Latin and Greek are used in the
liturgy of the Latin CatholicChurch (the Roman Catholic), Greek is used in the
liturgy of the GreekOrthodox Church.
2- What is the Arab Christian Heritage?
The
" Arab Christian Heritage" is mainly known in the period between
750-1350 A.D. At that time our Arab Christian Fathers started touse the Arabic
language so as to defend their Christian faith and beleives against the
Muslims. They wrote in different issues: theology, philosophy, interpretation
of scriptures, apologetics, liturgy, history of the church,and many other
things that do not concern faith like medicine, history,chemistry, geography
etc. They used their old languages: Aramean, Syriac,Chaldean,.Assyrian, Coptic
and translated into Arabic a lot of their bookson different issues.
They
translated from Greek and Latin as well what the Greek Fathers and Latin
Fathers wrote. Then after the coming of Islam they started to write in Arabic
to their people and to the Muslinis in order to speak about their faith.
Many
Christians at that time, because of certain unfair treatment from the Muslin
Califs or governors and under certain pressure became Muslims.
The
arabic language was imposed first in Egyptin the year 780 (about 140 years
after the coming of Islam). Then slowly and slowly other Arabic Countries of
today started to use the Arabic languageas an official Ianguage, as in Iraq,
Syria, Palestine, Lebanon etc.
The
"Arab Christian Heritage" is the heritage that covers mainly the
period between the 8th century
tothe 14th. This heritage is
the third heritage after the Greek and Latin.It is in some words the writings
that we have in Arabic language, translated from other languages: Greek, Latin,
Aramean, Syriac, Coptic, Chaldean, Assyrian, Persian, Armenian etc.) or
produced properly in Arabic. The recent European Ianguages (Italian, French,
German English etc) started at the14th century to become official languages,
about 600 years after our Christian Heritage.
It is
the writings of the Christian Fathers. They gave us a full idea about their
faith, believes, liturgy, way of life, traditions, historyof the Church,
apologetics etc. They wrote also on issues other than faith,like medicene,
philosophy, geography, history, chemistry etc.
"
By "Arab Christian heritage"Arab means: the Arabic language known and
spoken in the Arabian peninsula and by the Arab kingdoms before Islam. It means
also the regions that used the Arabic language since 8th century as their
official language. Arabic covers also beside the language, the traditions, the
culture the way oflife, the food, the folklore, the civilizations etc. It
covers today the"Arabic Countries". They have in common those issues
mentioned above.
Arab
does not mean Islam, even though Islam used the Arabic language since its
origin. You can find today millions and millions of Muslims whodo not relate to
the Arabic language. They are Muslims but not Arabs, likeI ndonesia, Pakistan,
Afganistan, India, Turky, Iran etc.. It is known thatthe Arabic Northern
characters used by the Quran were created by the Chistian Missionaries of Hira,
centuries before Islam, as says C. Rabin in art."Arabiyya, in "Encyclopedie
de l'Islam", 2nd ed.,I (Leyde et Paris, 1960, pp.579a-622b).
That the
first Northern Arabic letters were found on the church doors in Zabad on the
South East of Aleppo in Syria on 512 A.D. And an other in Ir. Haran on 568 A.D.
In Mecca itself centuries before Islam the Arab people used the Northern Arabic
letters. Christians there, had their schools and churches, they used Arabic in
their liturgy poetry and in commerce.
Prophet
Mohamed, and after him the Califs used these characters to write the Quran as
says Jawad Ali, in his book "The history of Arabs before Islam"
volume 8 pp. 178-179, and Vol 6, page 689. We can find thesites of the
churches, temples and houses of our ancestors everywhere in today Arabic
Countries especially in Syria, Iraq, Saudi Arabia, Egypt, Lebanon, Jordan and
Palestine.
Recently
Father Pecerillo, a famous Franciscan Archiologist, found morethan twenty
churches in Madaba at the south of Jordan. From the Forth Century we found
houses in Syria, Lebanon, Iraq and Palestine with this inscriptionin Arabic
:"Bism El-Lah al Rahman al Rahim" (artinya Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, red) that showed that Christians were
the first to use this name so as to indicate their beliefin the Holy Trinity,
more than two hundred years before Islam.
In
different region of the actual Arabic Countries, Christians had Eparchies
(dioceses and bishops). All over the actual Iraq, Syria Lebanon, Jordan, Egypt,
Saudi Arabia: (Mekka itself), Algeria, Tunisia, Lybia, Palestineetc. you can
find the sites of churches, convents and Christian centers and schools. Today,
archeology tells us a lot about these monuments. Recently a convent was
discovered in Karbala (Iraq) that returns to the 1st centuryof Chistianity. The
oldest one that was discovered ever since was in theForth Century.
We, Arab
Christians of today, who live
in the Middle East, are the real heirs of that "Heritage". In our way
of thinking, worshiping, doing things, we refIect what our ancestors had lived
centuries before us. We are the heirs of the first Christians,the heirs of both
Old and New Testaments. We are the first Communities:of Jerusalem, Antioch,
Alexandia.
3- Who are the Arab Christian Fathers?
"Father"
is a bishop, a priest , or a simple lay man who wrote in Arabic or translated
to Arabic from the 8th to 14th Century what we call today the "Arab
Christian Heritage". A lot of those Fathers were martyrized with their
folk defending their Christian faith and tradions.
Arab
Christian means
then these Christians who first came from the Syriac, Chaldean, Assyrian,
Arabic, Coptic, Greek or Latin traditions, they are the first converted to
Christianity, "the first Christians ever" and who spoke Arabic, wrote
in Arabic, translated into Arabic and declared their faith in Arabic language
later on between the 8th and 14th centuries.
4- Conclusion
"Al-Bushra"
is willing to serve th Christians all over the word and tell them about the
Arab Christian Heritage. We would like also to serve the unity of the Church,
as well as the dialogue with Muslimsand Jews.
We will
try to give a scientific studies about our "Arab ChistianHeritage".We
want you to be proud of our traditions.
Some
times because of events in our today's Arabic Countries and becauseof a lot of
misleading in the Media about the Arabs, and under an unfairclaims against
Arabic Countries or traditions, a lot of people do not know the truth about our
Arabic language, tradition, history, Arab Christians, Islam, harmony between
Muslims and Christians. Some young Arab generations feel ashamed of their Arab
origin because of what the Media created inthe mentality of people about Arabs.
Al-Bushra
will tell you about our Arab common heritage so as to serve the truth and serve
the harmony between the five components of our MiddleEast society: Jews,
Christians and Muslims, Israelis and Arabs.
AI-Bushra
calls everybody to know us more and to find in us friends, brothers and sisters
of the same God, Allah, Yahweh, Adonai. It calls Ara bChristians and Muslims,
the blood brothers, to be proud of our Arab language,history and traditions. It
calls Arabs and Israelis: the Semites, sonsof Abraham to find peace of heart as
a start of Justice and comprehensive peace in the Middle East, where Jews,
Chrstians and Muslims, Israelis and Arabs should live in harmony, cooperation
and love, when they recognizein the others their equal in duties and
responsabilities.
Sumber: www.al-bushra.org
--
Ternyata yg menciptakan kata Allah adalah orang Arab Kristen di
abad ke-4 Masehi, 200 tahun sebelum Islam .. !!
http://en.wikipedia.org/wiki/Allah
http://en.wikipedia.org/wiki/Allah
Etymology
The term Allāh is derived from a contraction of the Arabic definite article al- "the" and ʼilāh "deity, god" to al-lāh meaning "the [sole] deity, God" (ho theos monos).[4] Cognates of the name "Allāh" exist in other Semitic languages, including Hebrew and Aramaic.[3] The corresponding Aramaic form is אֱלָהָא ʼĔlāhā in Biblical Aramaic and ܐܰܠܳܗܳܐ ʼAlâhâ or ʼĀlōho in Syriac.[10]
The term Allāh is derived from a contraction of the Arabic definite article al- "the" and ʼilāh "deity, god" to al-lāh meaning "the [sole] deity, God" (ho theos monos).[4] Cognates of the name "Allāh" exist in other Semitic languages, including Hebrew and Aramaic.[3] The corresponding Aramaic form is אֱלָהָא ʼĔlāhā in Biblical Aramaic and ܐܰܠܳܗܳܐ ʼAlâhâ or ʼĀlōho in Syriac.[10]
Wiki pun menguatkan fakta kalo kata Allah baru muncul belakangan saja, hasil gabungan dari kata "al + ilah" yg lebih dulu muncul.
Makanya jadi bingung, bgmn logikanya koq muslim bisa ngeklaim kalo nama Allah sudah ada sejak jaman Adam?
Subscribe to:
Posts (Atom)
