Monday, January 4, 2016

Perang Kerajaan Majapahit melawan Dinasti Yuan dari Cina

Kerajaan Singosari  di Jawa  berhasil  membangun  sebuah kestabilan politik dan militer yang  menempatkan  posisi Singosari  sebagai  kerajaan yang cukup disegani  di Nusantara.  Puncak kejayaan Singosari terjadi  pada masa pemerintahan  Sri Maharaja Kertanegara.

Sementara itu di daratan Cina, cucu Jengis Khan yang bernama Khubilai Khan berhasil membangun sebuah kekuasaan ke kaisaran yang ditopang dengan kekuatan militer yang besar dan tangguh. Kaisar Khubilai Khan yang menamakan pemerintahannya dengan nama Sung berkeinginan untuk menundukkan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan Asia Timur lewat menggunakan kekuatan militer dan politik. Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui kaisar Khubilai Khan di daratan Cina sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut mengirim upeti (tribute) kepada Kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Sri Maharaja Kertanegara dari Kerajaan Singosari.

Demi tujuan tersebut diatas, pada tahun 1289 Khubilai Khan mengirimkan utusannya ke Singosari.  Pengiriman utusan ini telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh Kaisar Khubilai Khan. Namun utusan yang terakhir inilah yang mengalami insiden yang pada akhirnya memicu sebuah konfrontasi terbuka.

Utusan itu bernama Meng Chi, datang membawa pesan dari Kaisar Khubilai Khan supaya Singosari tunduk dibawah kekuasaannya. Sri Maharaja Kertanegara merasa tersinggung, lalu mencederai wajah dan memotong telinga Meng Chi dan mengirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan Cina.  Perlakuan Sri Maharaja Kertanegara terhadap Meng Chi dianggap sebagai penghinaan kepada Kaisar Khubilai Khan.  Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat ntuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan bangsa Cina.

Jawa (Indonesia) dapat menghindar dari serangan Tiongkok. Raden Wijaya bersiasat menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese utusan Khubilai Khan mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya mempersiapkan upeti, Wijaya dan pasukannya malah menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan tempurnya menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa di Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.

Pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari meninggalkan banyak korban. Serangan mendadak yang tidak disadari itu membuat Ike Mese kaget tidak kepalang tanggung.

Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.

Kekalahan balatentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi, kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporak-porandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di dalamnya.


Menurut Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh (Tanjung Perak sekarang) dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya. Pada pertempuran ini dicatat dalam sejarah Majapahit, Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan bersama umbu-umbul calon kerajaan yang akan lahir di atas kepala para prajurit Jawa. Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing. Berkibarnya Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih. Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Cina Khubilai Khan oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya. Akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.


No comments:

Post a Comment