Monday, September 14, 2015

Umat Islam, Jenggot dan Humor

Syekh Yasir Birhami, tokoh salafi dari Mesir, pemimpin Partai Al-Nur. (Photo credit: The Cairo Post)


by Ulil Abshar-Abdalla

IslamLib – Kiai Said Siradj, Ketum PBNU yang baru terpilih kembali di Muktamar NU di Jombang itu, adalah penceramah yang hebat. Pidatonya berisi pencerahan untuk umat, dan kaya humor. Setiap mendengarkan pidato Kang Said (demikian dia kerap dipanggil), saya pasti tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi ini bukan hanya gaya khas Kang Said. Semua kiai NU, kalau menyampaikan ceramah, penuh humor dan kelucuan.
Tak heran, di twitter ada akun bernama NU Garis Lucu, untuk menandingi akun lain yang sebenarnya juga lucu, walau namanya agak “angker”, yaitu NU Garis Lurus. Bahwa ada orang menggambarkan NU sebagai ber-garis lurus itu sendiri sudah merupakan kelucuan tersendiri.
Saat ini sedang beredar video yang berisi petikan humor Kang Said. Video ini menyebar di twitter dan media sosial yang lain. Di sejumlah group Whatsapp, video ini menjadi pembicaraan ramai dan, bahkan, panas. Terjadi adu argumen yang cukup menegangkan. Apa isi video itu? Di sana Kang Said bergurau: Biasanya, orang berjenggot itu akalnya berkurang. Makin jenggot memanjang ke bawah, akalnya juga merosot ke bawah.
Humor Kang Said ini tentu ada konteksnya. Saya sudah berkali-kali mendengar Kang Said melontarkan guyonan ini dalam beberapa kesempatan. Bahkan dalam percakapan personal. Setiap mendengar itu, saya selalu tertawa. Biasanya, Kang Said melontarkan guyonan ini untuk menyindir orang-orang Salafi/Wahabi yang gemar mempermasalahkan jenggot. Bagi orang-orang Wahabi, memanjangkan jenggot hukumnya wajib, sebab itu perintah Nabi.
Jenggot bukan sekedar penampakan fisik biasa. Bagi sebagian golongan Islam, memanjangkan jenggot simbol kesalehan. Orang yang memanjangkan jenggot adalah pengikut Nabi Muhammad yang setia. Sebab, konon, Nabi pernah bersabda: Panjangkanlah jenggot, dan cukurlah “berengos” (kumis). A’fu al-liha wa qassu al-sharib!
Dalam hukum Islam dikenal teori tentang perintah (al-amr). (Saya sedang menyiapkan buku khusus mengenai teori perintah dalam Islam ini.) Jika dalam Quran/sunnah terdapat perintah yang disampaikan secara umum (idza uthliqa), tanpa keterangan apapun, itu bermakna suruhan, command. Kita wajib mengikutinya. Muthlaq al-amr yadullu ‘ala al-wujub, demikian teori itu menegaskan. Perintah, secara umum, menunjukkan keharusan.
Dalam hadis yang saya kutip di atas, Nabi menyampaikan perintah: Panjangkanlah jenggot,cukurlah kumis. Sesuai dengan teori hukum tadi, hadis itu berisi keharusan umat Islam untuk memanjangkan jenggot. Ini, tentu saja, bukan keharusan biasa. Melainkan keharusan yang sakral, suci, angker. Yang tidak melaksanakan keharusan ini, dia melanggar perintah agama, menentang Tuhan. Keharusan itu, dalam Islam, disebut wujub atau wajib.
Demikianlah logic atau cara berpikir orang-orang yang berpandangan bahwa jenggot wajib dipanjangkan. Kelompok yang disebut Wahabi –yang dominan di Saudi Arabia itu—adalah satu-satunya golongan dalam Islam yang mempertahankan pandangan ini dengan mati-matian.
Waktu saya masih kuliah di universitas Wahabi dulu, saya kerap membaca risalah kecil-kecil yang berisi propaganda Saudi untuk mengampanyekan jenggot ke seluruh dunia. Bayangkan: Kampanye memanjangkan jenggot!
Bagi orang di luar Islam yang tidak mengenal peta sosiologi umat Islam, tentu perkara jenggot ini tampak lucu dan menggelikan. Ini bukan perkara yang lucu atau sepele. Bagi sebagian kalangan Islam, ini masalah serius, sama seriusnya dengan soal-soal besar duniawi seperti mengatasi kemacetan Jakarta. Kalau malah tak lebih serius. Sebab kemacetan Jakarta sebatas soal profan, duniawi. Soal jenggot adalah soal ukhrawi, sorga-neraka.
Jenggot, dengan demikian, adalah suatu manifesto “politik”. Saat seorang Muslim berjenggot, bisa saja itu semacam ungkapan deklaratif: Saya mengikuti mazhab ini! Jenggot adalah “religious marker”, penanda afiliasi keagamaan. Bukan sekedar “l’apparance corporel.”
Ketika Kang Said melontarkan candaan jenggot itu, sebetulnya dia sedang meledek, menyindir golongan dalam Islam yang punya cara berpikir konservatif, literalistik, harafiah yang dismbolkan dengan jenggot itu. Jadi, ini candaan yang memiliki konteks. Dia tak bisa dipahami jika kita tak mengetahui konteks itu. Pada dasarnya, setiap humor adalah berkonteks. Tanpa konteks, humor sudah pasti kehilangan kelucuan. Bahkan bisa memancing kemarahan.
Ini tidak berarti bahwa setiap jenggot menandakan seseorang ikut golongan ini atau itu; katakan saja, golongan Salafi/Wahabi. Tidak. Ada jenggot yang non-afiliasi. Jenggot nir-ideogi. Jenggotnya Ahmad Dhani, misalnya, tentu tak kait-mengait dengan perdebatan ideologi ini. Sejumlah kiai NU juga memanjangkan jenggot. Meskipun umumnya tidak. Jenggot kiai NU tidak sama dengan “jenggot Wahabi”.
Kasus marahnya sebagian kalangan atas candaan jenggot-nya Kang Said ini menandakan hilangnya rasa humor dari sebagian kalangan Islam. Sosiolog asal Iran, Asef Bayat, pernah berbicara tentang “fun and fundamentalism”. Dia bilang, ciri-ciri kelompok Islam fundamentalis adalah mereka benci humor, apalagi humor agama. Mereka terlalu serius dengan agama. Tak bisa rileks. Mereka “fun-damentalist”. Tetapi mereka tidak “fun”.
Ini beda dengan suasana keagamaan di NU. Di sana, humor adalah menu wajib dalam setiap obrolan di majlis-majlis NU, termasuk obrolan di ruang tamu para masyayikh, kiai-kiai NU. Kalau Anda bertamu ke “ndalem”/rumah Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, Anda akan mendengar gelak-tawa pecah setiap saat. Gus Mus dikenal sebagai kiai yang suka humor. Dan presidennya orang-orang NU, yaitu Gus Dur, adalah sosok yang jenaka dan penuh humor.
Setiap pidato, Gus Dur kerap membuka dengan kelakar ini: Pertama-tama, marilah kita panjatkan syukur kepada Allah. Lalu Gus Dur diam sebentar. Terus: Sebab syukur tidak bisa memanjat sendiri. Orang-orang lalu tergelak-gelak.
Jadi, masalah candaan jenggot ini bisa kita jadikan sebagai studi kasus yang menarik. Di sini kita bisa melihat dua corak umat Islam di Indonesia. Ada umat yang suka humor. Ada umat Islam yang lain yang kurang suka, atau bahkan benci humor.
Terserah Anda. Mau ikut yang mana. Kalau Anda punya bakat suka tertawa, Anda sudah tahu mana jenis Islam yang harus Anda ikuti.[]

No comments:

Post a Comment