JAKARTA--MICOM: Setelah lolos dari jeratan Panwaslu karena melakukan ceramah yang mengandung unsur SARA, pedangdut Rhoma Irama kembali mengeluarkan pernyataan serupa dalam ceramahnya di Kampung Walang Gang Masjid RW 03 Koja Jakarta Utara. Rhoma meminta warga tidak memilih kandidat cagub dan cawagub yang nonmuslim.
"Dalam konteks memilih pemimpin, Allah melarang kita memilih pemimpin yang nonmuslim. Jangan sampai bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Umat Islam memang disuruh mencintai siapa pun, apa pun agamanya, apa pun bangsanya. Tapi dalam hal memilih pemimpin Allah melarang memilih pemimpin yang kafir," kata Rhoma dalam acara pemberian santunan 500 anak yatim yang digelar Muhammad Saiful Effendi di Koja, Selasa (14/8) malam.
Pasalnya, menurut Rhoma, kebijakan yang akan dikeluarkan pemimpin nonmuslim akan melanggar akidah islam. Tak hanya pemimpin, Rhoma mengatakan wakilnya pun harus berasal dari golongan muslim.
"Saya ingatkan pilihlah yang kedua-duanya orang muslim. Alasannya bila gubernur meninggal wakilnya yang menggantikan," tuturnya.
Lebih lanjut, Rhoma mengatakan umat Islam jangan sampai menjadi golput. "Gunakan hak pilih anda, karena anda yang bertanggungjawab atas masa depan ibu kota. Pilih yang sudah berpengalaman. Bukan yang cuma coba-coba," sambungnya.
Meski sempat dituding telah menyampaikan ceramah yang pelanggaran aturan kampanye pilkada dan berbau SARA, Rhoma tetap pada imbauannya. "Apa pun risikonya saya harus menyampaikan pesan ini agar warga Jakarta tidak terjebak," tegas Rhoma. (Nat/OL-10)
http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/08/15/341125/38/5/Lolos_dari_Panwaslu_Rhoma_Irama_Imbau_Warga_Pilih_Pemimpin_Muslim
Thursday, August 16, 2012
Friday, August 3, 2012
Rhoma Irama Tidak Rela Jakarta Dipimpin oleh Cina Kafir
Seperti diketahui, salah satu pasangan Cagub DKI Joko Widodo alias Jokowi yang diusung oleh PDI-P adalah Basuki T.Purnama alias Ahok. Bukan rahasia umum, Ahok adalah seorang etnis Tionghoa yang beragama Nasrani. Itulah sebabnya, H. Rhoma yang didukung oleh para kiai dan ustadz dari berbagai wilayah Jakarta, tidak rela Jakarta dipimpin oleh pasangan yang tidak seiman, seperti Ahok.
"Islam itu agama yang sempurna, memilih pemimpin bukan hanya soal politik, melainkan juga ibadah. Pilihlah yang seiman dengan mayoritas masyarakat Jakarta," ujar Rhoma yang saat itu dihadiri oleh Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Fajar Pandjaitan dan Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin.
Senada dengan ustaz dan pengurus masjid sebelumnya yang mengajak para jamaah untuk memilih yang seiman. Bang Rhoma, begitu ia akrab disapa, merupakan tim kampanye pasangan calon gubernur DKI Jakarta Foke-Nara. Dalam ceramahnya, ia menuturkan, kampanye yang mengusung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dibenarkan. "Di dalam mengampanyekan sesuatu, SARA itu dibenarkan. Sekarang kita sudah hidup di zaman keterbukaan dan demokrasi, masyarakat harus mengetahui siapa calon pemimpin mereka," kata Rhoma Irama.
Rhoma pun menyebutkan nama Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Jimly Asshidiqie atas dasar pembenaran penggunaan isu SARA. "Saya dapat berbicara seperti ini karena memang dibenarkan Ketua Dewan, Jimly Asshidiqie," katanya.
Sementara itu di tempat yang sama, Fauzi Bowo lebih banyak mengingatkan tentang berkah di bulan Ramadhan. Dalam kesempatan tersebut, Foke memberikan sumbangan kepada anak asuh PKU yang dikelola Muhammadiyah Tanjung Duren dan Masjid Al-Isra, bantuan masjid sebesar Rp 28 juta, Al Quran, alat olahraga, dan lampu hemat energi.
Ahok dan Ceramah SARA
Ketika disudutkan wartawan soal isi ceramahnya, Rhoma, pentolan Grup Soneta itu membantah ceramahnya bermuatan SARA. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan isi ceramah yang disampaikan di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Ahad (29/7/2012) lalu. "Masa umat Islam mendukung Fauzi-Nachrowi dianggap SARA," ucap Rhoma, kemarin, Kamis (2/8).
Rhoma Irama, itu bertanya balik mempertanyakan kepada pihak-pihak yang menuduh ceramahnya berpotensi SARA dan ketentuan pemilukada itu. “Bagaimana dengan kalangan gereja dan etnis Tionghoa yang mendukung pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), apakah hal itu bukan termasuk SARA?” katanya balik bertanya.
Bang Haji melanjutkan, mengapa orang Kristen di Kalimantan Tengah yang secara eksplisit mendukung Agustin Teras Narang, di Kalimantan Barat mendukung Cornelis. “Itu tidak salah, tapi mengapa saya malah disalahkan?" ujarnya membela diri.
Ceramah Rhoma Irama menjadi polemik karena dituduh mendukung penggunaan isu SARA dalam kampanye. Menurut Rhoma, hal tersebut legal karena sesuai dengan kebebasan demokrasi di Indonesia." (Desastian/JPNN)
Wednesday, July 11, 2012
Faisal-Biem Bangga Bisa Ungguli Calon Partai
![]() |
| Faisal Basri berada di Rumah Independen, Rabu (11/7/2012) saat memantau hasil hitung cepat Pilkada DKI. |
JAKARTA, KOMPAS.com - Dua calon perseorangan yang mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 memang tersingkir pada putaran pertama.
Namun calon perseorangan melalui pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin tidak kehilangan taringnya karena mampu mengungguli pasang dari jalur partai yaitu Alex Noerdin-Nono Sampono.
Calon gubernur independen, Faisal Basri, mengaku senang dengan hasil tersebut. Meski tidak lolos pada putaran pertama ini, Faisal tak berkecil hati terlebih lagi perolehan suaranya melalui hitung cepat di berbagai lembaga survei mampu menandingi calon dari jalur partai.
"Dapat mengalahkan saingan yang didukung Golkar dan 17 partai, ini tidak mudah. Kami tentu bersyukur. Semoga dengan ini, partai dapat memperbaiki diri," kata Faisal, ketika dihubungi, Rabu (11/7/2012).
Ia memiliki keyakinan bahwa program yang ditawarkannya pada masyarakat Jakarta baik. Namun kemampuan yang dimiliki oleh dirinya bersama rekan-rekannya terbatas.
"Saya punya keyakinan apa yang kami tawarkan baik. Tapi kemampuan kami terbatas," ungkap Faisal.
Ia menuturkan bahwa selama hampir satu tahun, timnya bekerja keras mengumpulkan lebih dari 600.000 KTP sebagai tanda dukungan yang wajib disertakan saat mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta.
Begitu pula untuk masalah dana, sebagai calon independen hanya mengandalkan sumbangan donatur baik dari perseorangan maupun perusahaan.
"Untuk masalah dana, kami kedodoran. Tidak seperti partai yang bisa keluar banyak," jelas Faisal.
Ia menuturkan bahwa ada kendala perundang-undangan dalam Pilkada di Indonesia yang berkaitan dengan pencalonan dari jalur perseorangan. Namun ia mengatakan bahwa hal ini bukan menjadi suatu alasan untuk menyerah jika ingin melakukan perubahan yang lebih baik.
"Kendala perundang-undangan itu memang sulit. Tapi jangan jadikan alasan," tandasnya.
Dikecam, Eksekusi di Depan Publik Wanita Afghan yang Dituduh Berzina
REPUBLIKA.CO.ID, Eksekusi yang dilakukan otoritas Afghanistan terhadap seorang perempuan menimbulkan kecaman dunia internasional. Bagaimana tidak, eksekusi terhadap perempuan yang berusia 22 tahun tersebut dilakukan di depan publik.
Kabarnya, sang perempuan dituduh telah melakukan zina. Para pria Afghanistan menyaksikan eksekusi tersebut, yang berkisar 150 orang terlihat bersorak-sorak. Eksekusi keji tersebut terekam dalam sebuah video.
Dalam video yang berdurasi tiga-menit itu, seorang pria mendekati si wanita, yang berlutut di tanah, dan menembaknya lima kali dalam jarak dekat dengan sebuah senapan otomatis.
Menurut pihak berwenang setempat, wanita tersebut adalah istri dari seorang anggota senior Taliban dan dituduh melakukan perzinahan dengan seorang komandan Taliban lainnya, apakah itu melalui hubungan percintaan atau perkosaan.
Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, menilai eksekusi itu menunjukkan, Australia perlu untuk terus menempatkan tentara di Afghanistan. Ia mengatakan, insiden tersebut juga merupakan konfirmasi paling dramatis dari barbarisme Taliban serta pandangannya tentang dunia.
"Ini menegaskan bahwa Australia perlu untuk terus mendukung warga Afghan yang beradab, yang menginginkan suatu negara berdaulat dan perlindungan bagi hak-hak kaum wanita dan anak-anak perempuan," tuturnya.
Jurubicara oposisi bidang luar negeri, Julie Bishop, mengatakan, rekaman video itu mengerikan. "Eksekusi ini merupakan bukti lebih jauh bahwa ekstrimisme masih merupakan ancaman bagi masyarakat Afghan dan bagi dunia sebagaimana kita saksikan di masa lalu ketika Taliban berkuasa di Afghanistan," bebernya.
Gubernur provinsi Parwan, Basir Salangi, mengatakan sedang dilakukan pengejaran untuk menangkap orang-orang yang terlibat eksekusi itu. "Kami sudah mengirim satuan polisi ke daerah itu," katanya.
Kabarnya, sang perempuan dituduh telah melakukan zina. Para pria Afghanistan menyaksikan eksekusi tersebut, yang berkisar 150 orang terlihat bersorak-sorak. Eksekusi keji tersebut terekam dalam sebuah video.
Dalam video yang berdurasi tiga-menit itu, seorang pria mendekati si wanita, yang berlutut di tanah, dan menembaknya lima kali dalam jarak dekat dengan sebuah senapan otomatis.
Menurut pihak berwenang setempat, wanita tersebut adalah istri dari seorang anggota senior Taliban dan dituduh melakukan perzinahan dengan seorang komandan Taliban lainnya, apakah itu melalui hubungan percintaan atau perkosaan.
Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr, menilai eksekusi itu menunjukkan, Australia perlu untuk terus menempatkan tentara di Afghanistan. Ia mengatakan, insiden tersebut juga merupakan konfirmasi paling dramatis dari barbarisme Taliban serta pandangannya tentang dunia.
"Ini menegaskan bahwa Australia perlu untuk terus mendukung warga Afghan yang beradab, yang menginginkan suatu negara berdaulat dan perlindungan bagi hak-hak kaum wanita dan anak-anak perempuan," tuturnya.
Jurubicara oposisi bidang luar negeri, Julie Bishop, mengatakan, rekaman video itu mengerikan. "Eksekusi ini merupakan bukti lebih jauh bahwa ekstrimisme masih merupakan ancaman bagi masyarakat Afghan dan bagi dunia sebagaimana kita saksikan di masa lalu ketika Taliban berkuasa di Afghanistan," bebernya.
Gubernur provinsi Parwan, Basir Salangi, mengatakan sedang dilakukan pengejaran untuk menangkap orang-orang yang terlibat eksekusi itu. "Kami sudah mengirim satuan polisi ke daerah itu," katanya.
"Mereka sedang mencari Taliban yang bertanggung-jawab, tapi Taliban, termasuk pembunuhnya, sudah lari ke gunung," ujarnya lagi.
Rekaman video itu muncul setelah para donor internasional, pada konferensi di Jepang, setuju untuk memberi bantuan 16 miliar dolar kepada Afghanistan selama empat tahun. Australia akan menyumbang satu miliar dolar selama empat tahun.
Rekaman video itu muncul setelah para donor internasional, pada konferensi di Jepang, setuju untuk memberi bantuan 16 miliar dolar kepada Afghanistan selama empat tahun. Australia akan menyumbang satu miliar dolar selama empat tahun.
Sunday, July 8, 2012
Ahmad Deedat Mati Tersiksa - dia adalah tokoh antiJIL
Video Youtube Saat Ajal Ahmad Deedat Sedang Menjemput
Karena omongannya yang selalu menghina ajaran agama lain, Tuhan telah menyiksanya dan memberi peringatan pada Ahmad Deedat dengan siksaan sebelum kematian. Sumber mengatakan sebelum meninggal, Ahmad Deedat tersiksa bertahun-tahun.
Kita tunggu nasib para anti-JIL disini yang akan menyusul Ahmad Deedat mati tersiksa karena mengajarkan kebencian.
Kelompok Muslim Radikal itu Ada, Bukan Rekayasa
Saat ini ada semacam pengarahan opini publik bahwa radikalisme atas nama Islam adalah sebuah citra yang sengaja dibangun untuk menyudutkan umat Islam. Padahal, ada begitu banyak bukti bahwa itu memang ada.
Ada tuduhan bahwa radikalisme dalam beragama adalah sekadar rekayasa. Citra itu dianggap dengan mudah menyebar karena peran media massa yang dikuasai oleh kaum sekuler, liberal, kalau bukan kaum Nasrani. Berbagai media massa ini dituduh dengan sengaja membesar-besarkan masalah dan kalau perlu memanipulasi informasi untuk membangun gambaran tentang ‘ancaman Islam’.
Kasus kerusuhan Cikeusik dan Temanggung adalah dua contoh terakhir. Di kedua kasus tersebut aroma rekayasa memang terasa kuat. Misalnya saja, dalam kasus Cikeusik, kehadiran para pengunjuk rasa yang menggunakan pita biru dan pita hijau, adanya rekaman video yang meliput secara leluasa keseluruhan proses, rekaman salah seorang penyerang yang bertabik pada juru kamera, plus perilaku aparat keamanan yang terkesan sengaja membiarkan kerusuhan, lazim dijadikan bukti dugaan kuat bahwa penyerangan biadab itu bukan sesuatu yang berlangsung alamiah.
Namun setelah mengakui bahwa rekayasa memang ada, marilah kita bicara tentang pertanyaan utama: Apakah radikalisme atas nama Islam itu memang ada atau cuma rekayasa?
Masalahnya, kehadiran kelompok dan massa radikal yang membawa nama Islam dan memang dengan jelas menyerang dan menteror mereka yang dianggap sebagai ‘berbeda’ tidak hanya muncul dalam kedua kasus yang disebut tadi.
Kaum muslim radikal –kalau bisa disebut begitu– beroperasi di berbagai tempat secara terbuka selama beberapa tahun terakhir.
Orang harus tahu dan ingat bahwa penyerangan brutal terhadap Ahmadiyah bukan hanya berlangsung di Cikeusik. Di Lombok Barat dan Lombok Timur, berbagai permukiman Ahmadiyah –yang sudah berdiri sejak akhir 1950-an– diserang berulang kali sejak 1998 sampai 2010. Diduga, mayoritas penyerang datang dari luar wilayah tersebut. Sebagian jemaat Ahmadiyah kini tinggal di pengungsian di Transito, Lombok Barat, dalam kondisi menyedihkan. Sisanya mengungsi ke tempat lain.
Penyerangan ganas juga dilakukan terhadap permukiman, masjid, dan sekolah Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat.
Tahun lalu saja, dari Oktober sampai Desember, massa radikal menyerang pemukiman dan masjid Ahmadiyah di desa Manis Lor, Kuningan; Cisalada, Bogor; Dusun Ketapang, Lombok Barat; Kampung Panjalu, Sukabumi; serta sebuah desa di Cianjur, Jawa Barat.
Bahkan mereka yang sekadar membela Ahmadiyah pun bisa menjadi sasaran, seperti apa yang terjadi pada kelompok masyarakat sipil Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Saat melakukan semacam upacara solidaritas terhadap Ahmadiyah di Jakarta, AKKBB diserang oleh massa bersenjata yang dikomandani Komando Laskar Islam di Jakarta (2008).
Dengan gambaran semacam itu, tentu sulit menerima tuduhan bahwa radikalisme atas nama Islam adalah sebuah citra yang dikonstruksi oleh media atau pihak-pihak lain yang anti-Islam.
Tentu sangat mungkin bahwa ada rekayasa dalam kasus Cikeusik dan Temanggung. Itu tak perlu dibantah. Namun rangkaian kekerasan itu sudah berlangsung di banyak tempat dengan melibatkan banyak komunitas selama bertahun-tahun, sehingga adalah lebih sahih untuk menduga bahwa memang ada gejala radikalisasi dalam pemahaman keislaman di Indonesia.
Radikalisasi ini melibatkan banyak pihak. Di situ, tentu saja, komunitas-komunitas yang mudah digerakkan untuk menyerang terutama mereka yang dipersepsikan berbeda. Di situ ada organisasi-organisasi bergaya fasis, seperti FPI, Laskar Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Forum Umat Islam, dan sebagainya. Di situ ada tokoh-tokoh yang memang senang bersuara lantang. Seperti Rizieq Syihab. Bahkan, radikalisasi memperoleh justifikasi oleh sejumlah ulama di Majelis Ulama Indonesia yang secara konsisten meminta masyarakat untuk memahami aksi kekerasan tersebut dalam perspektif ‘ketertindasan umat’.
Kelompok-kelompok Islam radikal ini juga memiliki medianya sendiri. Di luar masjid dan pengajian, berbagai tabloid dan majalah serta media online lahir untuk membawa suara Islam radikal tersebut. Suara Islam dan Voice of al-Islam (VOA-Islam) adalah dua contoh terbaik. Melalui beragam saluran komunikasi inilah gagasan-gagasan radikal disebarluaskan.
Bahkan, para tokoh muslim radikal itu terkesan memang dengan sengaja membangun citra diri sebagai pihak yang tanpa ragu akan menggunakan atau menghalalkan kekerasan. Mereka membangun sikap umat untuk menerima bahwa melakukan teror dan kekerasan adalah bagian dari upaya menegakkan kebenaran Islam.
Wawancara dengan Habib Rizieq Syihab di Tabloid Suara Islam edisi 107 (18 Februari - 4 Maret 2011) menunjukkan itu.
Dalam wawancara tersebut, Rizieq menggambarkan bahwa kasus penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik sendiri. “Di Cikeusik itu,” kata Rizieq, “kafir Ahmadiyah yang melanggar SKB, mereka merencanakan peristiwa, lalu mendatangkan preman dari Jakarta, mempersenjatai diri, melawan aparat kepolisian, melukai warga terlebih dahulu dan menantang masyarakat serta menyerangnya.”
Namun, setelah menyajikan tuduhan itu, Rizieq nyatanya tak menganggap aksi kekerasan yang mengorbankan nyawa itu sendiri sebagai sesuatu yang patut dikecam. Ia malah menggelorakannya. Dalam salah satu bagian wawancara, ia menyatakan bahwa apa yang terjadi di Cikeusik ini bisa terus membesar. Ketika ditanya apa yang akan terjadi seandainya Ahmadiyah tidak dibubarkan, Rizieq menjawab: “Jika hari ini, baru tiga kafir Ahmadiyah yang dibunuh, mungkin besok atau lusa akan ada ribuan kafir Ahmadiyah yang disembelih umat Islam.”
Yang penting dicatat, Rizieq tidak menyampaikan kemungkinan ini sebagai peringatan, melainkan lebih dalam nada ancaman. Katanya lagi: “Ingat, umat Islam sudah memiliki motivasi Ilahi untuk membela agama dengan ikhlas dan tulus, jika gugur maka mati syahid. Sedangkan si kafir Ahmadiyah jika gugur maka mati sangit. Hati-hati! Jangan sampai terjadi tragedi yang mengerikan!”
Soal sikap FPI, Rizieq mengatakan: “Dan kami FPI telah bersumpah dengan nama Allah SWT, akan terus berjuang sampai tetes darah terakhir untuk membubarkan kafir Ahmadiyah dari bumi Indonesia.”
Ketika ditanya soal kasus Cikeusik, Rizieq mengatakan bahwa penyerangan itu tak akan terjadi kalau saja presiden membubarkan Ahmadiyah. “Jadi jika ingin mengutuk kekerasan terhadap kafir Ahmadiyah, kutuk saja presidennya... Umat Islam yang dengan ikhlas berjuang membubarkan Ahmadiyah, mereka adalah mujahid yang diridhai Allah SWT dan Rasulullah SAW.”
Pernyataan-pernyataan ini dinyatakan secara terbuka. Sama terbukanya dengan pidato seorang petinggi FPI Sobri Lubis dua tahun yang lalu yang rekamannya tersebar secara luas melalui Youtube. Dalam pidato yang disambut bergemuruh oleh massa, sang ustaz dengan bersemangat berteriak: “Bunuh Ahmadiyah... Bunuh Ahmadiyah... Halal darah mereka”.
Muslim radikal itu memang ada. Bukan rekayasa. ***
Kasus kerusuhan Cikeusik dan Temanggung adalah dua contoh terakhir. Di kedua kasus tersebut aroma rekayasa memang terasa kuat. Misalnya saja, dalam kasus Cikeusik, kehadiran para pengunjuk rasa yang menggunakan pita biru dan pita hijau, adanya rekaman video yang meliput secara leluasa keseluruhan proses, rekaman salah seorang penyerang yang bertabik pada juru kamera, plus perilaku aparat keamanan yang terkesan sengaja membiarkan kerusuhan, lazim dijadikan bukti dugaan kuat bahwa penyerangan biadab itu bukan sesuatu yang berlangsung alamiah.
Namun setelah mengakui bahwa rekayasa memang ada, marilah kita bicara tentang pertanyaan utama: Apakah radikalisme atas nama Islam itu memang ada atau cuma rekayasa?
Masalahnya, kehadiran kelompok dan massa radikal yang membawa nama Islam dan memang dengan jelas menyerang dan menteror mereka yang dianggap sebagai ‘berbeda’ tidak hanya muncul dalam kedua kasus yang disebut tadi.
Kaum muslim radikal –kalau bisa disebut begitu– beroperasi di berbagai tempat secara terbuka selama beberapa tahun terakhir.
Orang harus tahu dan ingat bahwa penyerangan brutal terhadap Ahmadiyah bukan hanya berlangsung di Cikeusik. Di Lombok Barat dan Lombok Timur, berbagai permukiman Ahmadiyah –yang sudah berdiri sejak akhir 1950-an– diserang berulang kali sejak 1998 sampai 2010. Diduga, mayoritas penyerang datang dari luar wilayah tersebut. Sebagian jemaat Ahmadiyah kini tinggal di pengungsian di Transito, Lombok Barat, dalam kondisi menyedihkan. Sisanya mengungsi ke tempat lain.
Penyerangan ganas juga dilakukan terhadap permukiman, masjid, dan sekolah Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat.
Tahun lalu saja, dari Oktober sampai Desember, massa radikal menyerang pemukiman dan masjid Ahmadiyah di desa Manis Lor, Kuningan; Cisalada, Bogor; Dusun Ketapang, Lombok Barat; Kampung Panjalu, Sukabumi; serta sebuah desa di Cianjur, Jawa Barat.
Bahkan mereka yang sekadar membela Ahmadiyah pun bisa menjadi sasaran, seperti apa yang terjadi pada kelompok masyarakat sipil Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Saat melakukan semacam upacara solidaritas terhadap Ahmadiyah di Jakarta, AKKBB diserang oleh massa bersenjata yang dikomandani Komando Laskar Islam di Jakarta (2008).
Dengan gambaran semacam itu, tentu sulit menerima tuduhan bahwa radikalisme atas nama Islam adalah sebuah citra yang dikonstruksi oleh media atau pihak-pihak lain yang anti-Islam.
Tentu sangat mungkin bahwa ada rekayasa dalam kasus Cikeusik dan Temanggung. Itu tak perlu dibantah. Namun rangkaian kekerasan itu sudah berlangsung di banyak tempat dengan melibatkan banyak komunitas selama bertahun-tahun, sehingga adalah lebih sahih untuk menduga bahwa memang ada gejala radikalisasi dalam pemahaman keislaman di Indonesia.
Radikalisasi ini melibatkan banyak pihak. Di situ, tentu saja, komunitas-komunitas yang mudah digerakkan untuk menyerang terutama mereka yang dipersepsikan berbeda. Di situ ada organisasi-organisasi bergaya fasis, seperti FPI, Laskar Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Forum Umat Islam, dan sebagainya. Di situ ada tokoh-tokoh yang memang senang bersuara lantang. Seperti Rizieq Syihab. Bahkan, radikalisasi memperoleh justifikasi oleh sejumlah ulama di Majelis Ulama Indonesia yang secara konsisten meminta masyarakat untuk memahami aksi kekerasan tersebut dalam perspektif ‘ketertindasan umat’.
Kelompok-kelompok Islam radikal ini juga memiliki medianya sendiri. Di luar masjid dan pengajian, berbagai tabloid dan majalah serta media online lahir untuk membawa suara Islam radikal tersebut. Suara Islam dan Voice of al-Islam (VOA-Islam) adalah dua contoh terbaik. Melalui beragam saluran komunikasi inilah gagasan-gagasan radikal disebarluaskan.
Bahkan, para tokoh muslim radikal itu terkesan memang dengan sengaja membangun citra diri sebagai pihak yang tanpa ragu akan menggunakan atau menghalalkan kekerasan. Mereka membangun sikap umat untuk menerima bahwa melakukan teror dan kekerasan adalah bagian dari upaya menegakkan kebenaran Islam.
Wawancara dengan Habib Rizieq Syihab di Tabloid Suara Islam edisi 107 (18 Februari - 4 Maret 2011) menunjukkan itu.
Dalam wawancara tersebut, Rizieq menggambarkan bahwa kasus penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik sendiri. “Di Cikeusik itu,” kata Rizieq, “kafir Ahmadiyah yang melanggar SKB, mereka merencanakan peristiwa, lalu mendatangkan preman dari Jakarta, mempersenjatai diri, melawan aparat kepolisian, melukai warga terlebih dahulu dan menantang masyarakat serta menyerangnya.”
Namun, setelah menyajikan tuduhan itu, Rizieq nyatanya tak menganggap aksi kekerasan yang mengorbankan nyawa itu sendiri sebagai sesuatu yang patut dikecam. Ia malah menggelorakannya. Dalam salah satu bagian wawancara, ia menyatakan bahwa apa yang terjadi di Cikeusik ini bisa terus membesar. Ketika ditanya apa yang akan terjadi seandainya Ahmadiyah tidak dibubarkan, Rizieq menjawab: “Jika hari ini, baru tiga kafir Ahmadiyah yang dibunuh, mungkin besok atau lusa akan ada ribuan kafir Ahmadiyah yang disembelih umat Islam.”
Yang penting dicatat, Rizieq tidak menyampaikan kemungkinan ini sebagai peringatan, melainkan lebih dalam nada ancaman. Katanya lagi: “Ingat, umat Islam sudah memiliki motivasi Ilahi untuk membela agama dengan ikhlas dan tulus, jika gugur maka mati syahid. Sedangkan si kafir Ahmadiyah jika gugur maka mati sangit. Hati-hati! Jangan sampai terjadi tragedi yang mengerikan!”
Soal sikap FPI, Rizieq mengatakan: “Dan kami FPI telah bersumpah dengan nama Allah SWT, akan terus berjuang sampai tetes darah terakhir untuk membubarkan kafir Ahmadiyah dari bumi Indonesia.”
Ketika ditanya soal kasus Cikeusik, Rizieq mengatakan bahwa penyerangan itu tak akan terjadi kalau saja presiden membubarkan Ahmadiyah. “Jadi jika ingin mengutuk kekerasan terhadap kafir Ahmadiyah, kutuk saja presidennya... Umat Islam yang dengan ikhlas berjuang membubarkan Ahmadiyah, mereka adalah mujahid yang diridhai Allah SWT dan Rasulullah SAW.”
Pernyataan-pernyataan ini dinyatakan secara terbuka. Sama terbukanya dengan pidato seorang petinggi FPI Sobri Lubis dua tahun yang lalu yang rekamannya tersebar secara luas melalui Youtube. Dalam pidato yang disambut bergemuruh oleh massa, sang ustaz dengan bersemangat berteriak: “Bunuh Ahmadiyah... Bunuh Ahmadiyah... Halal darah mereka”.
Muslim radikal itu memang ada. Bukan rekayasa. ***
Siapa bilang org tidak memiliki alasan untuk percaya surga tidak bisa berkarya?
Peter Higgs, Atheis Pencetus "Partikel Tuhan"
Higgs risih dengan sebutan "partikel Tuhan."
VIVAnews - Peter Higgs mengira momentum terbesar dalam hidupnya terjadi pada 48 tahun lalu. Ketika itu dia menemukan teori partikel subatomik (boson) yang mengisi atau melengkapi massa hingga terbentuk menjadi materi. Partikel hipotesis itu pun memiliki nama yang diambil dari namanya, Higgs boson.
![]() |
| Professor Peter Higgs mengusap air mata |
![]() |
| Peter Higgs, pencetus teori Higgs boson |
Sebagai sebuah hipotesa, Higgs boson merupakan sebuah kepingan puzzle penting di bidang fisika. Sebab, boson ini bisa menyempurnakan teori alam semesta yang diperkenalkan Albert Einstein. Higgs boson diangap sebagai perantara yang memungkinkan terbentuknya bintang, planet, juga kehidupan. Caranya adalah dengan memberi massa untuk sejumlah partikel dasar, ini pula yang menyebabkan partikel ini disebut "partikel Tuhan".
Peter Higgs tidak pernah menyangka bahwa akan ada ilmuwan yang berusaha membuktikan teorinya itu. Karena itu Higgs menangis saat ilmuwan dari Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) mengumumkan telah menemukan partikel yang serupa dengan Higgs boson.
"Ini merupakan hal yang paling menakjubkan yang terjadi sepanjang hidup saya," tutur ilmuwan yang dikenal pemalu ini.
Sebagai sebuah penghormatan, standing ovation ditujukan kepada Peter Higgs saat baru memasuki sebuah auditorium di Jenewa, Swiss, saat CERN mengumumkan temuannya. Tidak pernah ada yang menyangka bahwa teori Higgs tersebut pernah ditolak oleh sebuah jurnal ilmiah bernama "Physics Letters".
"Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, 'Sudahlah, mereka tidak memahami itu'," ucap ilmuwan yang menjadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.
Alan Walker juga mengungkap bahwa Higgs yang mengaku atheis ini merasa risih saat Higgs boson disebut sebagai "partikel Tuhan". "Dia lebih senang jika itu hanya dinamakan Higgs boson," ujar Walker.
Mengutip laman Daily Mail, Higgs sendiri menemukan konsep Higgs boson saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Higgs kemudian mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran 'medan lain' yang tersebar di jagat raya. Semakin berinteraksi, maka boson itu akan semakin masif dan menjadi berisi dan semakin berat.
"Ini merupakan hal yang paling menakjubkan yang terjadi sepanjang hidup saya," tutur ilmuwan yang dikenal pemalu ini.
Sebagai sebuah penghormatan, standing ovation ditujukan kepada Peter Higgs saat baru memasuki sebuah auditorium di Jenewa, Swiss, saat CERN mengumumkan temuannya. Tidak pernah ada yang menyangka bahwa teori Higgs tersebut pernah ditolak oleh sebuah jurnal ilmiah bernama "Physics Letters".
"Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, 'Sudahlah, mereka tidak memahami itu'," ucap ilmuwan yang menjadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.
Alan Walker juga mengungkap bahwa Higgs yang mengaku atheis ini merasa risih saat Higgs boson disebut sebagai "partikel Tuhan". "Dia lebih senang jika itu hanya dinamakan Higgs boson," ujar Walker.
Mengutip laman Daily Mail, Higgs sendiri menemukan konsep Higgs boson saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Higgs kemudian mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran 'medan lain' yang tersebar di jagat raya. Semakin berinteraksi, maka boson itu akan semakin masif dan menjadi berisi dan semakin berat.
Sebagai sebuah penghormatan, standing ovation ditujukan kepada Peter Higgs saat baru memasuki sebuah auditorium di Jenewa, Swiss, saat CERN mengumumkan temuannya. Tidak pernah ada yang menyangka bahwa teori Higgs tersebut pernah ditolak oleh sebuah jurnal ilmiah bernama "Physics Letters".
"Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, 'Sudahlah, mereka tidak memahami itu'," ucap ilmuwan yang menjadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.
Alan Walker juga mengungkap bahwa Higgs yang mengaku atheis ini merasa risih saat Higgs boson disebut sebagai "partikel Tuhan". "Dia lebih senang jika itu hanya dinamakan Higgs boson," ujar Walker.
Mengutip laman Daily Mail, Higgs sendiri menemukan konsep Higgs boson saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Higgs kemudian mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran 'medan lain' yang tersebar di jagat raya. Semakin berinteraksi, maka boson itu akan semakin masif dan menjadi berisi dan semakin berat.
"Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, 'Sudahlah, mereka tidak memahami itu'," ucap ilmuwan yang menjadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.
Alan Walker juga mengungkap bahwa Higgs yang mengaku atheis ini merasa risih saat Higgs boson disebut sebagai "partikel Tuhan". "Dia lebih senang jika itu hanya dinamakan Higgs boson," ujar Walker.
Mengutip laman Daily Mail, Higgs sendiri menemukan konsep Higgs boson saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Higgs kemudian mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran 'medan lain' yang tersebar di jagat raya. Semakin berinteraksi, maka boson itu akan semakin masif dan menjadi berisi dan semakin berat.
Alan Walker juga mengungkap bahwa Higgs yang mengaku atheis ini merasa risih saat Higgs boson disebut sebagai "partikel Tuhan". "Dia lebih senang jika itu hanya dinamakan Higgs boson," ujar Walker.
Mengutip laman Daily Mail, Higgs sendiri menemukan konsep Higgs boson saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Higgs kemudian mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran 'medan lain' yang tersebar di jagat raya. Semakin berinteraksi, maka boson itu akan semakin masif dan menjadi berisi dan semakin berat.
Mengutip laman Daily Mail, Higgs sendiri menemukan konsep Higgs boson saat sedang berjalan-jalan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di wilayah timur Dataran Tinggi Skotlandia. Higgs kemudian mengajukan proposal mengenai partikel yang mengisi massa melalui interaksinya dengan kehadiran 'medan lain' yang tersebar di jagat raya. Semakin berinteraksi, maka boson itu akan semakin masif dan menjadi berisi dan semakin berat.
Sebagai ilmuwan, Higgs meraih gelar PhD-nya dari King's College. Dia juga meraih sejumlah gelar kehormatan dan menerima sejumlah penghargaan. Gelar itu antara lain dari Royal Society, the Institute of Physics, the European Physical Society, dan American Physical Society.
Ilmuwan fisika terkemuka Stephen Hawking malah menyebut Peter Higgs layak meraih Nobel di bidang Fisika. Meski awalnya Hawking tidak percaya adanya "partikel Tuhan", tapi kini Hawking menganggap penemuan partikel serupa Higgs boson itu sebagai temuan penting di bidang fisika.
Meski begitu, Higgs tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Higgs selalu dikenal rekan-rekannya sebagai sosok yang mengaku gemetar saat mendengar atau membaca nama Higgs boson. Apalagi, temuan partikel yang diambil dari namanya itu kini dianggap sebagai temuan terbesar manusia.
"Bagi ahli fisika, ini setara dengan saat Columbus menemukan Amerika," ucap Profesor Themis Bowcock, ilmuwan dari Universitas Liverpool, yang juga pernah bekerja sebagai pencari Higgs boson di laboratorium Large Hadron Collider (LHC) milik CERN. (eh)
Sebagai ilmuwan, Higgs meraih gelar PhD-nya dari King's College. Dia juga meraih sejumlah gelar kehormatan dan menerima sejumlah penghargaan. Gelar itu antara lain dari Royal Society, the Institute of Physics, the European Physical Society, dan American Physical Society.
Ilmuwan fisika terkemuka Stephen Hawking malah menyebut Peter Higgs layak meraih Nobel di bidang Fisika. Meski awalnya Hawking tidak percaya adanya "partikel Tuhan", tapi kini Hawking menganggap penemuan partikel serupa Higgs boson itu sebagai temuan penting di bidang fisika.
Meski begitu, Higgs tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Higgs selalu dikenal rekan-rekannya sebagai sosok yang mengaku gemetar saat mendengar atau membaca nama Higgs boson. Apalagi, temuan partikel yang diambil dari namanya itu kini dianggap sebagai temuan terbesar manusia.
Ilmuwan fisika terkemuka Stephen Hawking malah menyebut Peter Higgs layak meraih Nobel di bidang Fisika. Meski awalnya Hawking tidak percaya adanya "partikel Tuhan", tapi kini Hawking menganggap penemuan partikel serupa Higgs boson itu sebagai temuan penting di bidang fisika.
Meski begitu, Higgs tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Higgs selalu dikenal rekan-rekannya sebagai sosok yang mengaku gemetar saat mendengar atau membaca nama Higgs boson. Apalagi, temuan partikel yang diambil dari namanya itu kini dianggap sebagai temuan terbesar manusia.
"Bagi ahli fisika, ini setara dengan saat Columbus menemukan Amerika," ucap Profesor Themis Bowcock, ilmuwan dari Universitas Liverpool, yang juga pernah bekerja sebagai pencari Higgs boson di laboratorium Large Hadron Collider (LHC) milik CERN. (eh)
Meski begitu, Higgs tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Higgs selalu dikenal rekan-rekannya sebagai sosok yang mengaku gemetar saat mendengar atau membaca nama Higgs boson. Apalagi, temuan partikel yang diambil dari namanya itu kini dianggap sebagai temuan terbesar manusia.
"Bagi ahli fisika, ini setara dengan saat Columbus menemukan Amerika," ucap Profesor Themis Bowcock, ilmuwan dari Universitas Liverpool, yang juga pernah bekerja sebagai pencari Higgs boson di laboratorium Large Hadron Collider (LHC) milik CERN. (eh)
"Bagi ahli fisika, ini setara dengan saat Columbus menemukan Amerika," ucap Profesor Themis Bowcock, ilmuwan dari Universitas Liverpool, yang juga pernah bekerja sebagai pencari Higgs boson di laboratorium Large Hadron Collider (LHC) milik CERN. (eh)
Profesor yang telah pensiun dari Universitas Edinburgh ini meneteskan air mata, sebab dia masih diberi kesempatan hidup untuk menyaksikan teorinya berhasil dibuktikan.
"Saya tidak pernah memimpikan ini selama 48 tahun, sebab banyak hal yang harus saya lakukan dalam hidup. Tapi awalnya, saya tidak menyangka bahwa saya masih hidup saat ini terjadi," kata Peter Higgs, seperti dikutip dari Reuters.
Higgs kemudian menulis temuan itu di dua jurnal. Meski satu ditolak di "Physics Letter", tapi teori yang ditulis pria kelahiran Newcastle di tahun 1929 itu kemudian dimuat di jurnal ilmiah bergengsi yang lain, "Physical Review Letters".
Subscribe to:
Posts (Atom)



