Muslim suka sekali mengatakan bahwa Alkitab Kristen telah dirubah-rubah. Namun ketika diberi pertanyaan balik Alkitab seperti apakah yang belum dirubah, muslim malah dengan percaya dirinya mengatakan bahwa kafir Kristen yang harus menunjukkan Alkitab yang asli.
Ini argumen yang jelas bikin orang ketawa sampai mules.
Dimana-mana jika ada seorang pendakwa, maka si pendakwa inilah yang harus menyertakan bukti untuk dakwaannya.
Begitu juga ketika muslim menuduh bahwa Alkitab Kristen itu sudah dirubah dan palsu, muslim harus bisa menyertakan bukti Alkitab seperti apakah yang asli dan tidak berubah, sehingga bisa kelihatan di bagian mana sajakah Alkitab itu telah dirubah. Bukannya malah menyuruh si tertuduh (yaitu kafir Kristen) untuk menyediakan Alkitab yang belum dirubah.
Friday, January 30, 2015
DASAR-DASAR ALKITAB BAGI AJARAN TRINITAS
Dasar-Dasar Bagi Ajaran Trinitas dalam Perjanjian Lama:
Teks-teks Perjanjian Lama berikut ini memang tidak tuntas dalam menjelaskan Trinitas tetapi mengindikasikan konsep Trinitas di dalam Perjanjian Lama.
1. Penggunaan kata Ibrani “????? - Elohim” untuk Allah (Kej 1:1 dan ayat lainnya) yang merupa¬kan kata bentuk jamak merupakan indikasi pertama tentang Trinitas dalam Perjanjian Lama.
Kata “Elohim” adalah bentuk jamak dari kata benda untuk Allah orang Israel. Kata “Elohim” ini mempunyai bentuk tunggal yaitu “???? - Eloah” yang digunakan antara lain dalam Ulangan 32:15-17; Mazmur 19:32; dan Habakuk 3:3. Tetapi dalam Perjanjian Lama kata “Eloah” hanya digunakan sebany¬ak 250 kali, sedangkan kata “Elohim” sekitar 2500 kali. Penggunaan kata bentuk jamak yang jauh lebih banyak ini menunjukkan adanya “kejamakan dalam diri Allah”. Jika memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa tidak digunakan kata Eloah secara konsisten? Dan mengapa justru menggunakan Elohim jauh lebih banyak dari Eloah? Dengan demikian penggunaan kata Elohim untuk menyebut nama Allah mengindikasikan adanya Trinitas. Jadi, Alkitab menggunakan kata Eloah untuk menyatakan ketunggalan Allah dalam esensiNya, dan Elohim untuk menyatakan kejamakan Allah dalam pribadiNya.
Kata “Elohim” adalah bentuk jamak dari kata benda untuk Allah orang Israel. Kata “Elohim” ini mempunyai bentuk tunggal yaitu “???? - Eloah” yang digunakan antara lain dalam Ulangan 32:15-17; Mazmur 19:32; dan Habakuk 3:3. Tetapi dalam Perjanjian Lama kata “Eloah” hanya digunakan sebany¬ak 250 kali, sedangkan kata “Elohim” sekitar 2500 kali. Penggunaan kata bentuk jamak yang jauh lebih banyak ini menunjukkan adanya “kejamakan dalam diri Allah”. Jika memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa tidak digunakan kata Eloah secara konsisten? Dan mengapa justru menggunakan Elohim jauh lebih banyak dari Eloah? Dengan demikian penggunaan kata Elohim untuk menyebut nama Allah mengindikasikan adanya Trinitas. Jadi, Alkitab menggunakan kata Eloah untuk menyatakan ketunggalan Allah dalam esensiNya, dan Elohim untuk menyatakan kejamakan Allah dalam pribadiNya.
2. Penggunaan kata bentuk jamak untuk Allah atau dalam relasinya dengan Allah.
“Berfirmanlah Allah (bentuk tunggal) : ‘Baiklah Kita (bentuk jamak) menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita (bentuk jamak), supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). “Berfirmanlah TUHAN Allah: ‘Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita (jamak), tahu tentang yang baik dan yang jahat; ...” (Kejadian 3:23a). “Baiklah Kita (jamak) turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing” (Kejadian 11:7).
“Berfirmanlah Allah (bentuk tunggal) : ‘Baiklah Kita (bentuk jamak) menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita (bentuk jamak), supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). “Berfirmanlah TUHAN Allah: ‘Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita (jamak), tahu tentang yang baik dan yang jahat; ...” (Kejadian 3:23a). “Baiklah Kita (jamak) turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing” (Kejadian 11:7).
Ada yang mengatakan bahwa pada waktu Allah menggunakan kata “Kita” dalam Kejadian 1:26, maka saat itu Ia sedang berbicara kepada para malaikat. Jadi bukan menunjukkan “kejamakan dalam diri Allah”. Tetapi ini mustahil, sebab jika dalam Kejadian 1:26 diartikan bahwa “Kita” itu menunjuk kepada “Allah dan para malaikat”, maka haruslah disim¬pulkan bahwa: manusia juga diciptakan menurut gambar dan rupa malaikat; Allah mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan manusia, sehingga kalau Allah adalah pencipta, maka malaikat adalah rekan pencipta. Pandangan Kristen menganggap pemakaian kata “Kita” menunjukkan bahwa pribadi-pribadi dalam Allah Tritunggal itu berbicara satu dengan yang lain, dan ini menunjukkan adanya “kejamakan tertentu dalam diri Allah”.
3. Beberapa ayat dalam Kitab Suci membedakan Allah yang satu dengan Allah yang lain (seakan-akan ada lebih dari satu Allah).
“Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran... sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu” (Mazmur 45:7-8). Karena dalam ayat ini Alkitab Indonesia kurang tepat terjema¬hannya, mari kita lihat terjemahan NASB di bawah ini. “Thy throne, O God, is forever and ever ... Therefore God, Thy God has anointed Thee” (TahtaMu, Ya Allah, kekal selama-lamanya. ... Karena itu, Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau). Ibrani 1:8-9 mengutip ayat ini, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.
“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit” (Kejadian 19:24). TUHAN (YHWH), yang saat itu ada di bumi, menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN (YHWH), dari langit. Jadi kelihatannya ada dua TUHAN (YHWH), satu di bumi, satu di langit.
“Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran... sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu” (Mazmur 45:7-8). Karena dalam ayat ini Alkitab Indonesia kurang tepat terjema¬hannya, mari kita lihat terjemahan NASB di bawah ini. “Thy throne, O God, is forever and ever ... Therefore God, Thy God has anointed Thee” (TahtaMu, Ya Allah, kekal selama-lamanya. ... Karena itu, Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau). Ibrani 1:8-9 mengutip ayat ini, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.
“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit” (Kejadian 19:24). TUHAN (YHWH), yang saat itu ada di bumi, menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN (YHWH), dari langit. Jadi kelihatannya ada dua TUHAN (YHWH), satu di bumi, satu di langit.
4. Penampilan dari Malaikat TUHAN (Kejadian 16:2-13 22:11,16 31:11,13 48:15,16 Keluaran 3:2,4,5 Hakim-hakim 13:20-22).
Istilah “Malaikat TUHAN” ini juga menunjukkan bahwa “Malaikat TUHAN” (the Angel of the LORD) ini tidak sama dengan Allah. Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian tertentu Malaikat TUHAN itu disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian lain Ia juga disebut sebagai Allah / TUHAN sendiri. Sebagai contoh, dalam Kej 16:7,9,10,11, disebut sebagai Malaikat TUHAN; tetapi dalam Kejadian 16:13 disebut sebagai TUHAN sendiri.
Contoh lainnya, dalam Kejadian 22:11a, disebut sebagai “Malaikat TUHAN”; tetapi dalam Kejadian 22:11b-12, disebut sebagai “Tuhan” atau “Allah” sendiri. Sekalipun dalam ayat 11 disebut sebagai “Malaikat TUHAN”, tetapi dalam ayat 11b disebut “Tuhan” oleh Abraham. Dan dalam ayat 15, “Malaikat TUHAN” itu berseru, tetapi dalam ayat 16 dikatakan “firman TUHAN”. Lalu dalam ayat 16 Malaikat TUHAN itu bersumpah demi diriNya sendiri. Seorang malaikat biasa akan bersumpah demi nama Tuhan, bukan demi dirinya sendiri atau menggunakan namanya sendiri (bandingkan: Daniel 12:7; Ibrani 6:13,16-17; Wahyu 10:5-6). Jadi jelas bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Tuhan / Allah sendiri.
Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Dari kata-kata “namaKu ada di dalam dia”, kita menganggap bahwa malaikat ini adalah Malaikat Perjanjian, yaitu Yesus Kristus sendiri. Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Allah atau TUHAN sendiri.
Istilah “Malaikat TUHAN” ini juga menunjukkan bahwa “Malaikat TUHAN” (the Angel of the LORD) ini tidak sama dengan Allah. Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian tertentu Malaikat TUHAN itu disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian lain Ia juga disebut sebagai Allah / TUHAN sendiri. Sebagai contoh, dalam Kej 16:7,9,10,11, disebut sebagai Malaikat TUHAN; tetapi dalam Kejadian 16:13 disebut sebagai TUHAN sendiri.
Contoh lainnya, dalam Kejadian 22:11a, disebut sebagai “Malaikat TUHAN”; tetapi dalam Kejadian 22:11b-12, disebut sebagai “Tuhan” atau “Allah” sendiri. Sekalipun dalam ayat 11 disebut sebagai “Malaikat TUHAN”, tetapi dalam ayat 11b disebut “Tuhan” oleh Abraham. Dan dalam ayat 15, “Malaikat TUHAN” itu berseru, tetapi dalam ayat 16 dikatakan “firman TUHAN”. Lalu dalam ayat 16 Malaikat TUHAN itu bersumpah demi diriNya sendiri. Seorang malaikat biasa akan bersumpah demi nama Tuhan, bukan demi dirinya sendiri atau menggunakan namanya sendiri (bandingkan: Daniel 12:7; Ibrani 6:13,16-17; Wahyu 10:5-6). Jadi jelas bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Tuhan / Allah sendiri.
Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Dari kata-kata “namaKu ada di dalam dia”, kita menganggap bahwa malaikat ini adalah Malaikat Perjanjian, yaitu Yesus Kristus sendiri. Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Allah atau TUHAN sendiri.
5. Seruan rangkap tiga (trisagion) dalam doa dan berkat keimaman Harun mengindikasikan Trinitas.
Penggunaan nama “TUHAN” (YHWH) tiga kali berturut-turut dalam Bilangan 6:24-26 dan sebutan “kudus” bagi Allah tiga kali berturut-turut dalam Yesaya 6:3 dan Wahyu 4:8. Tidakkah mengherankan bahwa ayat-ayat itu menyebutkan “TUHAN” dan “kudus” sebanyak tiga kali? Mengapa tidak tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali? Jelas karena ada hubungannya dengan Allah Trinitas!
Penggunaan nama “TUHAN” (YHWH) tiga kali berturut-turut dalam Bilangan 6:24-26 dan sebutan “kudus” bagi Allah tiga kali berturut-turut dalam Yesaya 6:3 dan Wahyu 4:8. Tidakkah mengherankan bahwa ayat-ayat itu menyebutkan “TUHAN” dan “kudus” sebanyak tiga kali? Mengapa tidak tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali? Jelas karena ada hubungannya dengan Allah Trinitas!
6. Penggunaan kata “esa” dalam Ulangan 6:4 menunjukkan Trinitas.
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita (Eloheynu), TUHAN (YHWH) itu esa!” (Ulangan 6:4). Kata “esa” yang digunakan disini dalam bahasa Ibraninya adalah “ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”.
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita (Eloheynu), TUHAN (YHWH) itu esa!” (Ulangan 6:4). Kata “esa” yang digunakan disini dalam bahasa Ibraninya adalah “ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”.
Kata “ekhad” ini sering berarti “satu gabungan (a compound one)”, bukan “satu yang mutlak (an absolute one)”. Berikut ini contoh-contoh dari penggunaan kata “ekhat”. Kejadian 1:5, “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama (yom ekhad)”. Gabungan dari petang dan pagi membentuk satu (ekhad) hari. Kejadian 2:24, Adam dan Hawa menjadi satu (ekhad) daging. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Bilangan 13:23, “Ketika mereka sampai ke lembah Eskol, dipotong merekalah di sana suatu cabang dengan setandan buah anggurnya, lalu berdualah mereka menggandarnya; juga mereka membawa beberapa buah delima dan buah ara”. Frase “Setandan buah anggur”, atau “satu (ekhad) tandan buah anggur” berati satu tandan buah anggur yang pasti terdiri dari banyak buah anggur.
Sebetulnya ada sebuah kata lain dalam bahasa Ibrani yang berarti “satu yang mutlak (an absolute one)” atau “satu-satunya”. Kata itu adalah “yakhid”. Contoh penggunaan kata “yakhid” ini dapat dilihat dalam Kejadian 22:2,16 - “FirmanNya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal (yakhid) itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ ... kataNya: ‘Aku bersumpah demi diriKu sendiri - demikianlah firman TUHAN - : Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal (yakhid) kepadaKu”.
Jika Musa ingin menekankan tentang “kesatuan yang mutlak” dari Allah dan bukannya “kesatuan gabungan” (a compound unity), maka pastilah ia akan menggunakan kata yakhid dan bukan¬nya ekhad untuk kata esa dalam Ulangan 6:4 tersebut. Kenyataannya, Musa menggunakan kata ekhad dalam ayat tersebut, hal ini pasti menunjukkan bahwa Allah itu tidak satu secara mutlak, tetapi ada kejamakan dalam diri Allah.
Dasar-Dasar Bagi Ajaran Trinitas Dalam Perjanjian Baru
Dasar-Dasar Bagi Ajaran Trinitas Dalam Perjanjian Baru
Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang lebih jelas tentang pribadi-pribadi yang berbeda dalam diri Allah. Berikut secara ringkas bagian-bagian Perjanjian Baru dimana Trinitas diajarkan.
1. Perjanjian Baru menunjukkan ketiga pribadi Allah itu dengan lebih jelas, dan juga menyetarakan Mereka. (Yohanes 5:31,32,37).
Yohanes 5:31 menunjukkan Yesus sebagai “saksi”, dan Yohanes 5:32,37a menunjukkan Bapa sebagai “saksi yang lain”, dimana untuk kata-kata “yang lain” digunakan kata bahasa Yunani “allos”. Ada dua kata Yunani yang berarti “yang lain”, yaitu “allos” dan “heteros”. Tetapi kedua kata ini ada bedanya. Kata “allos” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang sama; Sedangkan “heteros” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh, saya mempunyai satu botol minuman sprite. Jika saya mengingin¬kan satu botol sprite “yang lain”, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya akan menggunakan kata “allos”. Seandainya saya menghendaki minuman “yang lain”, misalnya fanta, maka saya harus menggunakan “heteros”, bukan “allos”. Jadi pada waktu Yesus disebut sebagai saksi, dan Bapa sebagai Saksi yang lain, dan kata ‘yang lain’ itu menggunakan allos, maka itu menunjukkan bahwa Yesus mempunyai kwalitet atau jenis yang sama dengan Bapa, dan ini membuktikan bahwa Yesus adalah Allah!
Hal yang sama terjadi antara Yesus dan Roh Kudus. Yesus disebut “Pengantara” atau “Parakletos” (1 Yohanes 2:1), dan Roh Kudus disebut “Penolong” atau “Parakletos” yang lain (Yohanes 14:16). Janji Tuhan Yesus untuk mengirin seorang Penolong (Parakletos) “yang lain” disini berarti seorang yang lain dari Pribadi Trinitas. Di sini untuk kata-kata “yang lain” juga digunakan “allos”, yang menunjukkan bahwa Yesus dan Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama. Dengan demikian Bapa, Anak, dan Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama, dan semua ini bisa digunakan untuk mendukung doktrin Trinitas. Memang di sini tidak terlihat kesatuan dari pribadi-pribadi itu, tetapi ini dengan mudah bisa didapatkan dari ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah, seperti Ulangan 6:4; Markus 12:32; Yohanes 17:3 1Timotius 2:5 Yakobus 2:19 1 Korintus 8:4, dsb, yang telah saya bahas di depan.
Yohanes 5:31 menunjukkan Yesus sebagai “saksi”, dan Yohanes 5:32,37a menunjukkan Bapa sebagai “saksi yang lain”, dimana untuk kata-kata “yang lain” digunakan kata bahasa Yunani “allos”. Ada dua kata Yunani yang berarti “yang lain”, yaitu “allos” dan “heteros”. Tetapi kedua kata ini ada bedanya. Kata “allos” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang sama; Sedangkan “heteros” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh, saya mempunyai satu botol minuman sprite. Jika saya mengingin¬kan satu botol sprite “yang lain”, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya akan menggunakan kata “allos”. Seandainya saya menghendaki minuman “yang lain”, misalnya fanta, maka saya harus menggunakan “heteros”, bukan “allos”. Jadi pada waktu Yesus disebut sebagai saksi, dan Bapa sebagai Saksi yang lain, dan kata ‘yang lain’ itu menggunakan allos, maka itu menunjukkan bahwa Yesus mempunyai kwalitet atau jenis yang sama dengan Bapa, dan ini membuktikan bahwa Yesus adalah Allah!
Hal yang sama terjadi antara Yesus dan Roh Kudus. Yesus disebut “Pengantara” atau “Parakletos” (1 Yohanes 2:1), dan Roh Kudus disebut “Penolong” atau “Parakletos” yang lain (Yohanes 14:16). Janji Tuhan Yesus untuk mengirin seorang Penolong (Parakletos) “yang lain” disini berarti seorang yang lain dari Pribadi Trinitas. Di sini untuk kata-kata “yang lain” juga digunakan “allos”, yang menunjukkan bahwa Yesus dan Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama. Dengan demikian Bapa, Anak, dan Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama, dan semua ini bisa digunakan untuk mendukung doktrin Trinitas. Memang di sini tidak terlihat kesatuan dari pribadi-pribadi itu, tetapi ini dengan mudah bisa didapatkan dari ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah, seperti Ulangan 6:4; Markus 12:32; Yohanes 17:3 1Timotius 2:5 Yakobus 2:19 1 Korintus 8:4, dsb, yang telah saya bahas di depan.
2. Perjanjian Lama menyebut TUHAN (YHWH) sebagai Penebus dan Juruselamat (Mazmur 19:15; 78:35; Yesaya 43:3,11,14; 47:4; 49:7,26 ; 60:16), maka dalam Perjanjian Baru, Anak Allah / Yesus¬lah yang disebut demikian (Matius 1:21 Lukas 1:76-79; 2:11; Yohanes 4:42; Galatia 3:13; 4:5; Titus 2:13).
3. Perjanjian Lama mengatakan bahwa TUHAN (YHWH) tinggal di antara bangsa Israel dan di dalam hati orang-orang yang takut akan Dia (Mazmur 74:2; 135:21; Yesaya 8:18; 57:15; Yehezkiel 43:7,9; Yoel 3:17,21; Zakharia 2:10-11), maka dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Roh Kuduslah yang mendiami Gereja / orang percaya (Kisah Para Rasul 2:4; Roma 8:9,11; 1 Korintus 3:16; Galatia 4:6; Ef 2:22; Yakobus 4:5).
4. Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang jelas tentang Allah yang mengutus AnakNya ke dalam dunia (Yohanes 3:16; Galatia 4:4; Ibrani 1:6; 1 Yohanes 4:9), dan tentang Bapa dan Anak yang mengutus Roh Kudus (Yohanes 14:26; 15:26; 16:7; Galatia 4:6).
5. Dalam Perjanjian Baru kita melihat Bapa berbicara kepada Anak (Markus 1:11) dan Anak berbicara kepada Bapa (Matius 11:25-26; 26:39; Yohanes 11:41; 12:27) dan Roh Kudus berdoa kepada Allah dalam hati orang percaya (Roma 8:26).
5. Dalam Perjanjian Baru kita melihat Bapa berbicara kepada Anak (Markus 1:11) dan Anak berbicara kepada Bapa (Matius 11:25-26; 26:39; Yohanes 11:41; 12:27) dan Roh Kudus berdoa kepada Allah dalam hati orang percaya (Roma 8:26).
6. Perjanjian Baru menunjukkan ketiga pribadi Allah itu disebut dalam satu bagian Kitab Suci. Pada peristiwa baptisan Kristus (Matius 3:16-17); Pada peristiwa Amana Agung (Matius 28:19); Penjelasan Paulus tentang Kharismata atau karunia-karunia Roh (1 Korintus 12:4-6); Berkat Rasuli (2 Korintus 13:13); Tentang kesatuan tubuh Kristus (Efesus 4:4-6); dan pernyataan Petrus (1 Petrus 1:2). Perlu diperhatikan dalam ayat-ayat di atas ini adalah bahwa urut-urutannya tidak selalu Bapa sebagai yang pertama disebutkan, Anak sebagai yang kedua, dan Roh Kudus sebagai yang ketiga. Urut-urutan dbolak-balik, dan ini menunjukkan kesetaraan Mereka. Kalau Bapa memang lebih tinggi dari Anak, maka adalah mustahil bahwa Yesus kadang-kadang ditulis lebih dulu dari Bapa, dan kalau Roh Kudus hanya sekedar merupakan ‘tenaga aktif Allah’, maka juga merupakan sesuatu yang mustahil bahwa ‘tenaga aktif Allah’ itu ditulis lebih dulu dari Allahnya sendiri.
Dalam kasus-kasus tertentu, tiga nama yang diletakkan berjajar bisa menunjukkan bahwa mereka setingkat. Misalnya kalau dikatakan ada konferensi tingkat tinggi tiga negara, maka kalau negara yang satu mengirimkan kepala negara, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Kalau negara yang satu mengirim menteri luar negeri, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Jadi, kadang-kadang penyejajaran tiga nama memang bisa menunjukkan bahwa tiga orang itu setingkat. Itu tergan¬tung dari konteksnya; dan karena itu harus dipertanyakan: dalam situasi dan keadaan apa ketiga pribadi itu disebutkan bersama-sama? Dalam ayat-ayat di atas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebutkan dalam konteks yang sakral, seperti formula baptisan (Matius 28:19), berkat kepada gereja Korintus (2 Korintus 13:13), baptisan Yesus (Matius 3:16-17), dsb. Karena itu ayat-ayat itu bisa dipakai sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu setingkat.
7. Dalam Matius 28:19 dikatakan “dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”. Secara khusus, frase Yunani yang tertulis di Matius 28:19 yaitu “baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou uiou kai tou agiou pneumatos” yang diterjemahkan menjadi “baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”, dimana hal yang menarik adalah bahwa sekalipun di sini disebutkan tiga buah nama yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi kata kata Yunani “eis to onomo” yang diterjemahkan “dalam nama” adalah nominatif singular (bentuk tunggal, bukan bentuk jamak)! Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa.
Trinitas tidak untuk menunjukkan Yesus lebih rendah daripada yg lainnya
PENJELASAN YANG BENAR TENTANG TRINITAS
Secara ringkas kita menggambarkan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi dan tiga dalam substansi”. Formula ini memang merupakan misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Suatu kontradiksi akan muncul jika kita mengatakan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi dan tiga dalam esensi; atau Allah adalah tiga substansi dan satu subtansi pada saat yang sama dan dalam pengertian yang sama”. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamannya diskspresikan dalam tiga substansi atau pribadi. Berikut ini merupakan ringkasan ajaran tentang Trinitas.
Secara ringkas kita menggambarkan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi dan tiga dalam substansi”. Formula ini memang merupakan misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Suatu kontradiksi akan muncul jika kita mengatakan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi dan tiga dalam esensi; atau Allah adalah tiga substansi dan satu subtansi pada saat yang sama dan dalam pengertian yang sama”. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamannya diskspresikan dalam tiga substansi atau pribadi. Berikut ini merupakan ringkasan ajaran tentang Trinitas.
Pertama, Allah adalah satu dalam esensi. Esensial kesatuan dari Allah didasarkan pada Ulangan 6:4, “dengarlah, hai orang Isreal: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Kata “esa” adalah kata Ibrani “echad” yang berarti “gabungan kesatuan; satu kesatuan”. Pernyataan ini menekankan bukan hanya keunikan dari Allah tetapi juga kesatuan dari Allah (Bandingkan Yakobus 2:19). Ini berarti bahwa ketiga Pribadi secara esensi tidak terbagi. Kesatuan dari esensi ini juga menekankan bahwa ketiga Pribadi dari Trinitas tidak berarti bertindak secara mandiri dan terpisah. Pernyataan ini penting dalam menangkal ajaran sesat Arianisme dan Socianisme yang menolak kesatuan esensi Anak dan Roh Kudus dengan Bapa.
Kedua, Allah adalah tiga dalam dalam pribadi. Walau istilah “Pribadi” cenderung menimbulkan pemahaman keliru tentang kesatuan dalam Trinitas, tetapi kata ini terus dipertahankan karena tidak ada kata lain yang lebih mendekati kebenaran yang disingkapkan Alkitab tentang Allah Trinitas ini. Istilah “Pribadi” banyak menolong dalam menjelaskan Trinitas, karena kata itu menekankan bukan hanya suatu manifestasi tetapi juga pribadi sebagai persona (individu). Dengan menyatakan bahwa Allah adalah tiga dalam kaitan dengan pribadi hal ini menekankan bahwa (1) adanya distingsi persona dalam Keallahan; (2) setiap Pribadi memiliki esensi yang sama dengan Allah; dan (3) setiap Pribadi memiliki kepenihan Allah. Jadi, Dalam Allah tidak ada tiga pribadi bersama dan terpisah satu sama lain, tetapi hanya perbedaan pribadi diantara esensi Ilahi. Pernyataan tersebut merupkan suatu perbedaan yang penting dari Modalisme atau Sabellianisme, yang mengajarkan bahwa satu Allah hanya memanifestasikan diriNya dalam tiga cara yang berbeda.
Ketiga, Ketiga Pribadi memiliki relasi yang berbeda. Diantara Trinitas ada suatu relasi yang diekspresikan dalam arti subsistensi. Bapak tidak dilahirkan dan tidak berasal dari Pribadi manapun; Anak secara kekal berasal dari Bapa (Yohanes 1:18; 3:16,18; 1 Yohanes 4:9). Istilah-istilah yang digunakan untuk menjelaskan relasi diatara Trinitas adalah “generatio” dan “prosesi”. Istilah “generation” digunakan untuk menjelaskan bahwa dalam relasi Trinitas Anak secara kekal lahir dari Bapa, Roh Kudus secara kekal berasal dari Bapa dan Anak (Yohanes 14:26; 16:7). Istilah “prosesi” digunakan untuk menjelaskan relasi Trinitarian Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa istilah-istilah ini digunakan untuk menjelaskan relasi di antara Trinitas dan tidak untuk menunjukkan bahwa salah satu pribadi lebih rendah dari pribadi-pribadi lainnya.
Keempat, Ketiga Pribadi setara dalam kekekalan dan otoritas. Meskipun istilah “generatio” dan “prosesi” dapat digunakan dalam hubungan dengan fungsi di antara Trinitas, adalah penting untuk menyadari bahwa ketiga Pribadi adalah secara dalam kekekalan dan otoritas. Bapa diakui sebagai kekal dan berotoritas paling tinggi (1 Korintus 8:6); Anak juga diakui setara dengan Bapa dalam segala hal (Yohanes 5:21-23); Demikian juga Roh Kudus diakui setara dengan Bapa dan Anak (Matius 12:31)
Sunday, October 19, 2014
Aquran yg dihafal saat ini TIDAK SAMA PERSIS dengan yg dihafal zaman Nabi Muhammad
Para muslim sekarang telah dibodohi dengan istilah PENGHAFAL quran pd jaman nabi ….
Mereka menganggap, SEMUA PENGHAFAL quran sama semua hafalannya SEPERTI muslim SEKARANG HAFAL al quran (kitab quran) …,
BAIK DARI SEGI ISI, Jumlah Ayat DAN URUTANNYA ….
Padahal tidak seperti itu pada kenyataannya ….
Dari berbagai hadist TIDAK ADA SATU MANUSIA PUN (bahkan termasuk Nabi Muhammad), yang HAFAL SELURUH quran … !!!
Mereka cuma INGAT SEBAGIAN quran SAHAJA, Ada yang INGAT BANYAK SURAT,
tapi sebagian besar CUMA INGAT SEDIKIT ayat ….
Yang MEMBUAT CELAKA dan MENYESATKAN adalah ISTILAH "HAFAL" quran itu SENDIRI … Karena pd Kenyataannya: Walau – misal si A, hanya INGAT SEBAGIAN SURA SAHAJA,
DIA SUDAH DIJULUKI "PENGHAFAL" quran … !!!
Ini yg fatal …. !!! Tidak PEDULI SEDIKIT ATAU BANYAK ayat quran YANG DIA INGAT,
DIA SUDAH DIANGGAP PENGHAFAL quran …
Sementara yang BENAR2X HAFAL SELURUH quran – saat sebelum disusun sebagai kitab atau mushaf, JUSTRU TIDAK ADA SATU ORANGPUN (bahkan nabi) …..
Maka tidak aneh, JIKA PROSES PENULISAN wahyu menjadi kitab quran pd zaman Usman,
MENGALAMI BANYAK KENDALA ….
Seperti, Harus ada 2 orang saksi ….HAL ITU MENJADI LUMRAH DAN MERUPAKAN KONSEKUENSI LOGIS, DARI TIDAK ADANYA SATU ORANGPUN YANG HAFAL Seluruh quran …. !!!
Akhirnya beberapa surat harus tereliminir dari menjadi bagian ayat2x di kitab quran karena:
1. KALAH VOTING – Saksinya kurang dari 2 orang
2. YANG HAFAL Ayat2x Tertentu SUDAH PADA MATI ….
Mereka menganggap, SEMUA PENGHAFAL quran sama semua hafalannya SEPERTI muslim SEKARANG HAFAL al quran (kitab quran) …,
BAIK DARI SEGI ISI, Jumlah Ayat DAN URUTANNYA ….
Padahal tidak seperti itu pada kenyataannya ….
Dari berbagai hadist TIDAK ADA SATU MANUSIA PUN (bahkan termasuk Nabi Muhammad), yang HAFAL SELURUH quran … !!!
Mereka cuma INGAT SEBAGIAN quran SAHAJA, Ada yang INGAT BANYAK SURAT,
tapi sebagian besar CUMA INGAT SEDIKIT ayat ….
Yang MEMBUAT CELAKA dan MENYESATKAN adalah ISTILAH "HAFAL" quran itu SENDIRI … Karena pd Kenyataannya: Walau – misal si A, hanya INGAT SEBAGIAN SURA SAHAJA,
DIA SUDAH DIJULUKI "PENGHAFAL" quran … !!!
Ini yg fatal …. !!! Tidak PEDULI SEDIKIT ATAU BANYAK ayat quran YANG DIA INGAT,
DIA SUDAH DIANGGAP PENGHAFAL quran …
Sementara yang BENAR2X HAFAL SELURUH quran – saat sebelum disusun sebagai kitab atau mushaf, JUSTRU TIDAK ADA SATU ORANGPUN (bahkan nabi) …..
Maka tidak aneh, JIKA PROSES PENULISAN wahyu menjadi kitab quran pd zaman Usman,
MENGALAMI BANYAK KENDALA ….
Seperti, Harus ada 2 orang saksi ….HAL ITU MENJADI LUMRAH DAN MERUPAKAN KONSEKUENSI LOGIS, DARI TIDAK ADANYA SATU ORANGPUN YANG HAFAL Seluruh quran …. !!!
Akhirnya beberapa surat harus tereliminir dari menjadi bagian ayat2x di kitab quran karena:
1. KALAH VOTING – Saksinya kurang dari 2 orang
2. YANG HAFAL Ayat2x Tertentu SUDAH PADA MATI ….
Friday, October 17, 2014
Beberapa BUKTI HADIST tentang hilangnya bagian-bagian Al Quran
Memang tidak mungkin untuk memberikan detail dari semua kalimat, ayat-ayat, dan frase yang diduga hilang pada saat Al Qur’an dikumpulkan. Beberapa contoh yang mencolok adalah sebagai berikut:
1. Bab ke tiga puluh tiga Al-Qur’an, al-Ahzab, dikatakan telah berisi 200 atau hampir 300 ayat, yang semuanya kecuali 73 dikatakan telah hilang. Klaim dari 200 ayat ini dikaitkan dengan Ummu ‘l-Mukminin, Aisyah. “Telah diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam al-Fada’il dan oleh Ibn al-Anbari dan Ibn Mardawayh dari Aisyah bahwa dia berkata,”Surat al-Ahzab yang dibacakan di hari-hari nabi masih hidup memiliki dua ratus ayat, tetapi ketika ‘Utsman menulis Al-Qur’an, ia tidak dapat menemukan lebih dari apa yang ada saat ini. ” [15] Sekarang hanya ada 73 ayat dalam surah ini.
Hudzaifah dikatakan mengklaim bahwa 70 ayat dari bab ini telah hilang. [16] Tetapi Ubay bin Ka’b mengatakan bahwa surat tersebut sama dengan, atau bahkan lebih besar dari bab kedua al-Baqarah. [17] Juga, ‘Ikrimah (seorang tabi’i, murid para sahabat) telah dilaporkan mengatakan hal yang sama [18] Sekarang bab al-Baqarah berisi 286 ayat. Ini berarti ada 213 atau bahkan lebih ayat yang hilang, termasuk ayat rajam.
2. Bab kesembilan, at-Taubah: dikatakan bahwa dua pertiga atau tiga perempat dari surah ini telah hilang. Laporan ini dikaitkan dengan Hudzaifah al-Yamani. [19] Imam Malik bin Anas telah ditanya mengapa tidak ada “Bismillah” dalam surah ini. Dia berkata, “itu hilang dengan bagian-bagian sebelumnya, karena dikonfirmasi bahwa surat itu sama panjang dengan surat al-Baqarah.” [20]
Tetapi hanya ada 129 ayat dalam surat ini.
3. Kemudian datang surat al-Hafd dan al-Khal ‘yang direkam oleh sahabat terkenal seperti Ubay bin Ka’b dan Abu Musa al-Asy’ari [21] dan yang khalifah Umar bin Al-Khattab biasa lafalkan dalam qunut nya. [22]
Ke dua surat ini memiliki kalimat absurd. Beberapa kesalahan tata bahasa di dalamnya jelas menunjukkan bahwa orang-orang yang membuatnya tidak tahu bahasa Arab dengan baik. Dan ini kalimat-kalimat yang salah dikaitkan dengan sahabat Arab seperti Umar, Ubay bin Ka’b dan Abu Musa al-Asy’ari!
Siapa pun tertarik untuk melihat kesalahan dan absurditas surat-surat ini, disarankan untuk melihat buklet berbahasa arab dengan judul Nazaratun Musta’jilah fi mas’alati Tahrifi ‘l-Qur’an atau lebih baik lagi, Syaikh Muhammad Jawad al-Balaghi yang Ala’u’ r fi Tafsiri-Rahman ‘l-Qur’an (vol.1 [Beirut], hlm 23-24).
4. Sebuah surat sama dengan bab ke sembilan, al-Bara’ah: Abu Musa al-Asy’ari, seorang sahabat Nabi, dilaporkan mengatakan, ‘Kami biasa membacakan surat yang panjang dan tingkat kesulitannya sama dengan al-Bara’ah, tetapi saya lupa, dan sekarang hanya ingat ayat ini:
(Jika anak Adam memiliki dua lembah penuh kekayaan ia masih akan mengingini yang ketiga;. Dan tidak ada yang dapat mengisi perut manusia kecuali debu) [23]
5. Namun surat lain: Sahabat nabi yang sama dilaporkan mengatakan, “Kami biasa membacakan surat yang kita disamakan dengan salah satu musabbihat; [24] tapi saya telah lupa, namun saya ingat ini ‘ayat’ dari dari surat itu:
(Hai orang yang beriman, Mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak lakukan? Itu akan dicatat sebagai bukti yang merugikan kamu dan kemudian kamu akan ditanyai tentang hal itu pada hari kebangkitan.) [25]
6. Hilangnya banyak bagian Al Qur’an: Ada banyak hadits dalam buku-buku Sunni yang menunjukkan bahwa Al Qur’an jauh lebih banyak dari apa yang sekarang ada di tangan Muslim. “At-Tabarani meriwayatkan dengan rantai perawi yang dapat dipercaya dari ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ia berkata,” Al-Qur’an memiliki satu juta dan 27.000 huruf …” [26] Tetapi total huruf dalam Al-Qur’an secara keseluruhan tidak lebih dari 267.053 seperti yang dicatat pada akhir banyak edisi Alquran. Dengan kata lain, tiga-perempat bagian dari Alquran itu telah hilang!
Dan pendamping ‘Abdullah bin’ Umar dilaporkan mengatakan, “Tidak satupun dari kalian yang boleh mengatakan, ‘saya sudah mendapatkan seluruh Al Qur’an.” Dan apa yang akan membuat kamu tahu Al Quran yang lengkap? Jelas banyak bagian Al Qur’an hilang. Oleh karena itu katakanlah, ‘Aku punya apa yang tersisa dari itu. ” [27]
Sayangnya ‘hadits’ tentang penghapusan besar atau kecil yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh Islam terkenal, seperti Ummu ‘l-Mukminin’ Aisyah, Ummu ‘l-Mukminin Hafshah, Ummu’ l-Mukminin Ummu Salimah , ‘Umar bin al-Khaththab,’ Abdullah bin ‘Abbas,’ Abdullah bin Mas’ud, Abdu’r-Rahman bin ‘Auf,’ Abdullah bin ‘Umar, Zaid bin Arqam, Jabir bin’ Abdullah, Buraydah, Maslamah bin Makhlad , Abu Waqid al-Laythi, dan bibi dari Abu Amamah bin Sahl, di samping tabi’in (murid para sahabat) ‘Ikrimah dan Imam Malik bin Anas. Hadits-hadits ini ditemukan di semua buku terkenal hadits Sunni, termasuk sebagai-Sihahas-Sittah (enam kitab hadits yang benar): Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Shahih at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa ‘i, Sunan al-Baihaqi, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Muwatta’ Imam Malik, Ta’rikh al-Bukhari, Fathu ‘l-Ba’ri (Syarh Shahih al-Bukhari) Ibn Hajar Al-‘Asqalani , Kanzu ‘l-‘Ummal Mulla’ Ali al-Muttaqi, Tafsir ad-Durru’l-Manthur dan al-Itqan As-Suyuthi, ‘l-Ushul Jami’u, al-Imam Muhadarat ar-Raghib al- Isfihani, Jami ‘u’ l-Jawami, Hilyatu ‘l-Awliya’ dari Hafiz Abu Nu’aym dan al-Mustadrak ‘alas-Sahihayn Imam al-Hakim an-Nishapuri. [28]
Juga ‘hadits’ yang dikaitkan dengan Imam ‘Ahlu l-bayt, dan mereka juga ditemukan dalam buku Hadits Syiah. Singkatnya buku Sunni dan Syiah hadits mengandung banyak hadits tentang hilangnya banyak bagian Al Quran. Tetapi ada perbedaan mendasar antara sikap masing-masing dua sekte ‘terhadap hadits tersebut.
[15] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol. 5, hlm 179-180; As-Suyuti, Itqan al-, vol. 2. h. 25.
[16] Al-Bukhari, at-Ta’rikh, seperti dikutip oleh as-Suyuti dalam buku-buku di atas.
[17 Az-Az-Zamakhsyari, Tafsir al-Kashshaf, vol. 2 (Kalkuta:. Lees 1856) hal 1117: Mulla Ali al-Muttaqi, Kanzu ‘l-Ummal.
[18] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol. 5. h. 179.
[19] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol. 3. h. 208: Al-Itqan, vol. 2. h. 26: al-Hakim an-Nishapuri, al-Mustadrak-Sahihan sayangnya, vol. 2 (Hyderabad:. Dairatul-Ma’arif 1340 AH), hal 331.
[20] As-Suyuti, Itqan al-, vol. 1, hal 65.
[21] As-Suyuti, Itqan al-, vol. 1, hal 65.
[22] Ibid, hlm 25-26.
[23] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol 1 p 105: Ibn al-Atsir. Jami ‘u’ l-Ushul, vol 3 (Mesir: 1370 H) hal 8 hadits no. 904.
[24] Musabbihat: mereka Al Quran yang dimulai dengan kata-kata. yusabbihu atau sabbih.
[25] Jami ‘u’ l-ushul, vol. 3. h. 8
[26] As-Suyuti, Itqan al-, vol. 2. p 70.
[27] As-Suyuti, Itqan al-, vol 2. h. 25: As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol 1. h. 106.
[28] Untuk rincian, lihat Mir Hamid Husain al-Musawi al-Hindi, Istiqsa’u ‘l-Ifham, vol. 2 (Lucknow) bagian mengenai tahrif Al-Qur’an
1. Bab ke tiga puluh tiga Al-Qur’an, al-Ahzab, dikatakan telah berisi 200 atau hampir 300 ayat, yang semuanya kecuali 73 dikatakan telah hilang. Klaim dari 200 ayat ini dikaitkan dengan Ummu ‘l-Mukminin, Aisyah. “Telah diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam al-Fada’il dan oleh Ibn al-Anbari dan Ibn Mardawayh dari Aisyah bahwa dia berkata,”Surat al-Ahzab yang dibacakan di hari-hari nabi masih hidup memiliki dua ratus ayat, tetapi ketika ‘Utsman menulis Al-Qur’an, ia tidak dapat menemukan lebih dari apa yang ada saat ini. ” [15] Sekarang hanya ada 73 ayat dalam surah ini.
Hudzaifah dikatakan mengklaim bahwa 70 ayat dari bab ini telah hilang. [16] Tetapi Ubay bin Ka’b mengatakan bahwa surat tersebut sama dengan, atau bahkan lebih besar dari bab kedua al-Baqarah. [17] Juga, ‘Ikrimah (seorang tabi’i, murid para sahabat) telah dilaporkan mengatakan hal yang sama [18] Sekarang bab al-Baqarah berisi 286 ayat. Ini berarti ada 213 atau bahkan lebih ayat yang hilang, termasuk ayat rajam.
2. Bab kesembilan, at-Taubah: dikatakan bahwa dua pertiga atau tiga perempat dari surah ini telah hilang. Laporan ini dikaitkan dengan Hudzaifah al-Yamani. [19] Imam Malik bin Anas telah ditanya mengapa tidak ada “Bismillah” dalam surah ini. Dia berkata, “itu hilang dengan bagian-bagian sebelumnya, karena dikonfirmasi bahwa surat itu sama panjang dengan surat al-Baqarah.” [20]
Tetapi hanya ada 129 ayat dalam surat ini.
3. Kemudian datang surat al-Hafd dan al-Khal ‘yang direkam oleh sahabat terkenal seperti Ubay bin Ka’b dan Abu Musa al-Asy’ari [21] dan yang khalifah Umar bin Al-Khattab biasa lafalkan dalam qunut nya. [22]
Ke dua surat ini memiliki kalimat absurd. Beberapa kesalahan tata bahasa di dalamnya jelas menunjukkan bahwa orang-orang yang membuatnya tidak tahu bahasa Arab dengan baik. Dan ini kalimat-kalimat yang salah dikaitkan dengan sahabat Arab seperti Umar, Ubay bin Ka’b dan Abu Musa al-Asy’ari!
Siapa pun tertarik untuk melihat kesalahan dan absurditas surat-surat ini, disarankan untuk melihat buklet berbahasa arab dengan judul Nazaratun Musta’jilah fi mas’alati Tahrifi ‘l-Qur’an atau lebih baik lagi, Syaikh Muhammad Jawad al-Balaghi yang Ala’u’ r fi Tafsiri-Rahman ‘l-Qur’an (vol.1 [Beirut], hlm 23-24).
4. Sebuah surat sama dengan bab ke sembilan, al-Bara’ah: Abu Musa al-Asy’ari, seorang sahabat Nabi, dilaporkan mengatakan, ‘Kami biasa membacakan surat yang panjang dan tingkat kesulitannya sama dengan al-Bara’ah, tetapi saya lupa, dan sekarang hanya ingat ayat ini:
(Jika anak Adam memiliki dua lembah penuh kekayaan ia masih akan mengingini yang ketiga;. Dan tidak ada yang dapat mengisi perut manusia kecuali debu) [23]
5. Namun surat lain: Sahabat nabi yang sama dilaporkan mengatakan, “Kami biasa membacakan surat yang kita disamakan dengan salah satu musabbihat; [24] tapi saya telah lupa, namun saya ingat ini ‘ayat’ dari dari surat itu:
(Hai orang yang beriman, Mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak lakukan? Itu akan dicatat sebagai bukti yang merugikan kamu dan kemudian kamu akan ditanyai tentang hal itu pada hari kebangkitan.) [25]
6. Hilangnya banyak bagian Al Qur’an: Ada banyak hadits dalam buku-buku Sunni yang menunjukkan bahwa Al Qur’an jauh lebih banyak dari apa yang sekarang ada di tangan Muslim. “At-Tabarani meriwayatkan dengan rantai perawi yang dapat dipercaya dari ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ia berkata,” Al-Qur’an memiliki satu juta dan 27.000 huruf …” [26] Tetapi total huruf dalam Al-Qur’an secara keseluruhan tidak lebih dari 267.053 seperti yang dicatat pada akhir banyak edisi Alquran. Dengan kata lain, tiga-perempat bagian dari Alquran itu telah hilang!
Dan pendamping ‘Abdullah bin’ Umar dilaporkan mengatakan, “Tidak satupun dari kalian yang boleh mengatakan, ‘saya sudah mendapatkan seluruh Al Qur’an.” Dan apa yang akan membuat kamu tahu Al Quran yang lengkap? Jelas banyak bagian Al Qur’an hilang. Oleh karena itu katakanlah, ‘Aku punya apa yang tersisa dari itu. ” [27]
Sayangnya ‘hadits’ tentang penghapusan besar atau kecil yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh Islam terkenal, seperti Ummu ‘l-Mukminin’ Aisyah, Ummu ‘l-Mukminin Hafshah, Ummu’ l-Mukminin Ummu Salimah , ‘Umar bin al-Khaththab,’ Abdullah bin ‘Abbas,’ Abdullah bin Mas’ud, Abdu’r-Rahman bin ‘Auf,’ Abdullah bin ‘Umar, Zaid bin Arqam, Jabir bin’ Abdullah, Buraydah, Maslamah bin Makhlad , Abu Waqid al-Laythi, dan bibi dari Abu Amamah bin Sahl, di samping tabi’in (murid para sahabat) ‘Ikrimah dan Imam Malik bin Anas. Hadits-hadits ini ditemukan di semua buku terkenal hadits Sunni, termasuk sebagai-Sihahas-Sittah (enam kitab hadits yang benar): Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Shahih at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa ‘i, Sunan al-Baihaqi, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Muwatta’ Imam Malik, Ta’rikh al-Bukhari, Fathu ‘l-Ba’ri (Syarh Shahih al-Bukhari) Ibn Hajar Al-‘Asqalani , Kanzu ‘l-‘Ummal Mulla’ Ali al-Muttaqi, Tafsir ad-Durru’l-Manthur dan al-Itqan As-Suyuthi, ‘l-Ushul Jami’u, al-Imam Muhadarat ar-Raghib al- Isfihani, Jami ‘u’ l-Jawami, Hilyatu ‘l-Awliya’ dari Hafiz Abu Nu’aym dan al-Mustadrak ‘alas-Sahihayn Imam al-Hakim an-Nishapuri. [28]
Juga ‘hadits’ yang dikaitkan dengan Imam ‘Ahlu l-bayt, dan mereka juga ditemukan dalam buku Hadits Syiah. Singkatnya buku Sunni dan Syiah hadits mengandung banyak hadits tentang hilangnya banyak bagian Al Quran. Tetapi ada perbedaan mendasar antara sikap masing-masing dua sekte ‘terhadap hadits tersebut.
[15] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol. 5, hlm 179-180; As-Suyuti, Itqan al-, vol. 2. h. 25.
[16] Al-Bukhari, at-Ta’rikh, seperti dikutip oleh as-Suyuti dalam buku-buku di atas.
[17 Az-Az-Zamakhsyari, Tafsir al-Kashshaf, vol. 2 (Kalkuta:. Lees 1856) hal 1117: Mulla Ali al-Muttaqi, Kanzu ‘l-Ummal.
[18] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol. 5. h. 179.
[19] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol. 3. h. 208: Al-Itqan, vol. 2. h. 26: al-Hakim an-Nishapuri, al-Mustadrak-Sahihan sayangnya, vol. 2 (Hyderabad:. Dairatul-Ma’arif 1340 AH), hal 331.
[20] As-Suyuti, Itqan al-, vol. 1, hal 65.
[21] As-Suyuti, Itqan al-, vol. 1, hal 65.
[22] Ibid, hlm 25-26.
[23] As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol 1 p 105: Ibn al-Atsir. Jami ‘u’ l-Ushul, vol 3 (Mesir: 1370 H) hal 8 hadits no. 904.
[24] Musabbihat: mereka Al Quran yang dimulai dengan kata-kata. yusabbihu atau sabbih.
[25] Jami ‘u’ l-ushul, vol. 3. h. 8
[26] As-Suyuti, Itqan al-, vol. 2. p 70.
[27] As-Suyuti, Itqan al-, vol 2. h. 25: As-Suyuti, ad-Durru ‘l-Manthur, vol 1. h. 106.
[28] Untuk rincian, lihat Mir Hamid Husain al-Musawi al-Hindi, Istiqsa’u ‘l-Ifham, vol. 2 (Lucknow) bagian mengenai tahrif Al-Qur’an
Sejarah Penyusunan Alquran - Alquran Punya 7 Versi
![]() |
| Gambar disamping adalah Quran versi Asim dari Kufa lewat Hafs, yang merupakan acuan dari Quran cetak edisi Mesir. |
Bagaimana proses
penyusunan Quran hingga terbentuk menjadi sebuah kitab seperti yang ada
sekarang ini? Kebanyakan kaum Muslim meyakini bahwa Quran yang mereka
lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa
Muhammad lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Bahkan muslim
percaya banwa Quran merupakan salinan dari kitab yang ada disurga ( lahul mahfuz). Keyakinan
semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan2 teologis
(al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari
formalisasi doktrin2 Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Quran sendiri
sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa kebohongan, dan tidak sunyi
dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.
PARA
PAKAR ISLAM PUN TIDAK BISA MEMBUKTIKAN APAKAH QURAN YANG ADA SEKARANG
INI MASIH SAMA ISINYA DENGAN QURAN YANG ADA DIJAMAN MUHAMMAD.
Dulu
kami pernah diceritakan tentang bagaimana Quran dibentuk. Dua
keterangan yang paling terkenal adalah; sebelum dia mati, Muhammad
menyusun Quran menjadi sebuah buku dan Kalifah berikutnya, Abu Bakar,
menyusunnya dari orang2 yang telah menulis ayat2 Quran dan menghafalnya.
Meskipun begitu, kami diajarkan bahwa
Quran yang sekarang ini sama persis dengan yang diberikan pada Muhammad
dulu oleh malaikat Jibril.
Untuk
mengerti sejarah Islam kami kemudian mulai mempelajari sumber2 Islam
yang bisa dipercaya, terutama yang Sahih yang disusun oleh Bukhari.
Sewaktu sedang mempelajari sejarah penyusunan teks Quran, betapa
kagetnya kami ketika mengetahui bahwa Quran yang kita miliki hari ini
ternyata telah melalui beberapa tahapan evolusi sebelum mencapai versi
standar sekarang ini. Misalnya, kami menemukan ada tujuh cara yang
berbeda untuk melafalkan Quran. Seorang dapat melafalkan dan mengingat
Quran secara berbeda dan itu tetap diterima sebagai wahyu Allah. Kutipan
dari Hadis Sahih Bukhari:
Sahih Bukhari 41:601,
Dikisahkan
oleh 'Umar bin Al-Khattab: Aku dengar Hisham bin Hakim bin Hizam
melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caraku. Rasul
Allah telah mengajarkan padaku (dengan cara yang berbeda). Lalu, aku
hampir saja ingin bertengkar dengan dia (pada saat sembahyang) tapi aku
tunggu sampai dia selesai, lalu aku ikat bajunya di sekeliling lehernya
dan kuseret dan kubawanya menghadap Rasul Allah dan berkata, “Aku telah
mendengar dia melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan
yang kau ajarkan padaku.” Sang Rasul menyuruhku melepaskan dia dan
meminta Hisham melafalkannya. Ketika dia melakukan itu, Rasul Allah
berkata, “Itu (Surat-al-Furqan ) dilafalkan begitu.” Sang Rasul lalu
meminta aku melafalkannya. Ketika aku melakukannya, dia berkata, “Itu
dilafalkan begitu. Qur’an telah dinyatakan dalam tujuh cara yang berbeda, jadi lafalkan dengan cara yang mudah bagimu.”
Karena terdapat tujuh cara pelafalan Quran (qiraat) ini berarti kaum Muslim dapat mengingat Quran dalam tujuh cara yang berbeda,
bukan hanya satu. Jika Muhammad telah mengijinkan tujuh cara untuk
melafalkan Quran, maka tentunya juga ada tujuh versi Quran, dan bukan
hanya satu!
Kami
tidak pernah diajarkan bahwa ada tujuh buah Quran, tapi kami hanya
diberitahu ada satu Quran saja. Apakah memang betul ada tujuh buah dan
semuanya itu asli ? Ketika kami terus melanjutkan penelaahan, kami
temukan Hadis Sahih lain yang memperkuat dan memperluas paham bahwa
Quran mungkin dikisahkan dalam tujuh cara yang berbeda.
Sahih Bukhari 54:442
Rasulullah
berkata; Jibril melafalkan Quran padaku dengan satu cara (dielek), aku
kemudian menyuruhnya untuk melafalkan dengan cara yang berbeda, hingga ia melafalkan dengan tujuh macam cara.
Hadis serupa dapat dilihat pada Bukhari 61:513, 61:514, dan 3:640.
Sewaktu kami mempelajarinya lebih lanjut, Hadis
Sahih menegaskan bahwa bukan Muhammad yang menyusun tulisan Quran
menjadi satu koleksi, tapi ini untuk pertama kali dilakukan di bawah
kekuasaan Kalifah Abu Bakar. Ternyata pada saat itulah qurra,
yakni orang2 yang menghafalkan Quran, terbunuh di Perang Yamama. Khalifa
Abu Bakar memerintahkan untuk dibuat kumpulan ayat2 Quran, dan ini juga
atas desakan Umar (Kalifah kedua). Kumpulan ayat ini disimpan oleh Kalifah Abu Bakar, dan setelah dia mati, lalu disimpan oleh Kalifah Umar dan diserahkan pada anak perempuan Umar yang bernama Hafsa, yang juga janda Muhammad.
Sahih Bukhari 61:509
Dikisahkan
oleh Zaid bin Thabit: Abu Bakr As-Siddiq memanggilku ketika orang2
Yamama telah dibunuh (sejumlah pengikut sang Nabi yang bertempur melawan
Musailama). (Aku pergi kepadanya) dan menemukan 'Umar bin Al-Khattab
duduk dengannya. Abu Bakar lalu berkata (padaku), “Umar telah datang
padaku dan berkata: “Banyak yang Qurra Quran (orang2 yang hafal Quran di
luar kepala) yang tewas di Perang Yamama dan aku takut akan lebih
banyak lagi Qurra yang akan tewas di medan perang lain, sehingga
sebagian besar Quran bisa hilang. Karena itu aku menganjurkan kau (Abu
Bakr) memerintah agar ayat2 Quran dikumpulkan.”
Aku
berkata pada ‘Umar, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul
Allah saja tidak lakukan?” ‘Umar berkata, “Demi Allah, ini adalah usaha
yang baik.” ‘Umar terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai
Allah membuka hatiku dan aku mulai menyadari kebenaran usul ini.”
Lalu
Abu Bakar berkata (padaku). ‘Kamu adalah anak muda yang bijaksana dan
kami tidak curiga apapun padamu, dan kau biasa menulis Ilham Illahi bagi
Rasul Allah. Maka kau harus mencari (ayat2 terpisah-pisah) Qur’an dan
mengumpulkannya jadi satu buku.” Demi Allah, jika mereka memerintahkanku
untuk memindahkan satu dari gunung2, ini tidak akan sesukar perintah
mengumpulkan ayat2 Quran. Lalu aku berkata pada Abu Bakar, “Bagaimana
kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” Abu
Bakar menjawab, ““Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” Abu Bakar
terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku
seperti Dia telah membuka hati Abu Bakar dan Umar.
Lalu
aku mulai mencari ayat2 Quran dan mengumpulkannya dari (yang ditulis
di) tangkai2 palem, batu2 putih tipis dan juga orang2 yang mengingatnya
dalam hati, sampai aku menemukan ayat akhir dari Surat At-Tauba
(Pertobatan) dari Abi Khuzaima Al-Ansari, dan aku tidak menemukan ayat
ini pada orang lain. Ayatnya berbunyi: ‘Sesungguhnya telah datang bagimu
seorang Rasul (Muhammad) dari antara kalian sendiri. Dia sedih melihat
engkau harus menerima kecelakaan atau kesusahan … (sampai akhir
Surat-Baraa’ (At-Tauba) (9.128-129). Lalu naskah2 (salinan) lengkap
Quran disimpan Abu Bakr sampai dia mati, lalu disimpan ‘Umar sampai
akhir hidupnya, dan kemudian disimpan Hafsa, anak perempuan Umar.
Sewaktu kami mempelajari Hadis Sahih di atas dan Hadis yang lain yang sama pesannya, kami mendapatkan hal2 yang penting. Pertama, Umar khawatir jika Quran tidak ditulis, dan jika qurra banyak yang mati, maka sebagian besar Quran akan hilang.
Kedua,
ini adalah tugas yang monumental (besar sekali) yang diberikan pada
Zaid karena Muhammad sendiri tidak pernah melakukan hal ini, dan Zaid
menjelaskan kekhawatirannya.
Ketiga,
perlu banyak usaha untuk mengumpulkan ayat2 Quran karena beberapa ayat
hanya diingat oleh satu orang dan tidak ada orang lain yang menegaskan
atau membenarkannya. Ada beberapa Hadis Sahih lain yang juga mengatakan
hal itu.
Kejujuran
Zaid membuat kami waswas. Apakah betul ini adalah tugas yang sangat
berat? Apakah memang dia orang yang tepat melaksanakan tugas itu? Kami
mulai mencari dan menemukan bahwa Muhammad telah menganjurkan orang2
lain dan bukan Zaid untuk mengajar Quran pada muslim lain.
Sahih Bukhari 61:521
Dikisahkan
oleh Masriq: 'Abdullah bin 'Amr mengingatkan 'Abdullah bin Masud dan
berkata, "Aku akan mencintai orang itu selamanya, karena aku mendengar
sang Nabi berkata, ‘Belajarlah Qur’an dari empat orang ini: 'Abdullah bin Masud, Salim, Mu'adh dan Ubai bin Ka'b.’"
Kami
sangat khawatir karena tidak seorangpun dari keempat orang yang
direkomendasikan Muhammad untuk mengajar Quran diberi tugas untuk
mengumpulkan atau menegaskan kebenaran Quran. Yang disuruh justru juru
tulisnya Muhammad: Zaid bin Thabit. Dia juga khawatir bahwa tugas ini
terlalu berat. Tapi baik Kalifah Abu Bakr maupun Umar pada saat itu
tidak minta satu pun dari keempat orang di atas untuk memeriksa hasil
penyusunan Quran buatan Zaid.
Kami
lanjutkan penyelidikan dengan rasa agak bingung karena proses
penyusunan ini ternyata melibatkan lebih banyak hal yang tidak pernah
didengar sebelumnya. Sayangnya, kami mendapatkan bahwa sejarah
penyusunan Quran tidak berhenti pada saat itu saja. Dengan makin
bertambah dan menyebarnya masyarakat Muslim, jadi bertambah sukar pula
untuk mempertahankan keutuhan isi Quran karena tidak ada satu patokan
isi Quran yang sah, setiap guru agama punya salinan mereka sendiri. Ini
mengakibatkan banyaknya ketidaksetujuan diantara masyarakat Muslim, dan
karena itu, Kalifah Utsman diminta untuk berbuat sesuatu untuk
menanggulangi hal ini.
Harap
diingat bahwa pada saat itu, naskah Quran yang dikumpulkan Zaid tidak
disebarkan ke mana2, dan masih disimpan oleh Hafsa. Juga perhatikan apa
yang dilakukan Kalifah Utsman seperti yang diterangkan di Hadis Sahih
Bukhari berikut.
Sahih Bukhari, 61:510:
Dikisahkan
oleh Anas bin Malik: Hudhaifa bin Al-Yaman datang pada Utsman pada saat
orang2 Sham dan Iraq sedang mengadakan perang untuk menaklukkan Arminya
dan Adharbijan. Hudhaifa takut akan perbedaan pelafalan Qur’an yang
dilakukan mereka (orang2 Sham dan Iraq), lalu dia berkata pada ‘Utsman,
“O ketua orang yang beriman! Selamatkan negara ini sebelum mereka
bertentangan tentang Buku ini (Qur’an) seperti yang dilakukan orang
Yahudi dan Kristen sebelumnya.” Lalu ‘Utsman mengirim pesan pada Hafsa
yang isinya, “Kirim pada kami naskah2 Qur’an sehingga kami bisa
mengumpulkan bahan2 Qur’an dalam salinan yang sempuran dan mengembalikan
naskah2 itu padamu.”
Hafsa
lalu mengirimkannya pada ‘Utsman. ‘Utsman lalu memerintahkan Zaid bin
Thabit, 'Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As dan 'AbdurRahman bin
Harith bin Hisham untuk menulis ulang naskah2 itu menjadi salinan yang
sempurna. ‘Utsman berkata pda tiga orang Quraish, “Andaikata kau tidak
setuju dengan Zaid bin Thabit tentang isi apapun dalam Qur’an, maka
tulislah Qur’an dalam dialek Quraish, agar Qur’an dinyatakan dalam
bahasa asli mereka.”
Mereka melakukan itu, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Utsman mengembalikan naskah2 yang asli pada Hafsa. ‘Utsman
mengirim satu salinan Qur’an ke setiap propinsi Muslim, dan
memerintahkan semua tulisan2 Qur’an lain, baik yang ditulis di beberapa
naskah atau seluruh buku, dibakar.
Said
bin Thabit menambahkan, “Satu ayat dari Surat Ahzab hilang dariku
ketika kita menyalin Qur’an dan aku biasa mendengar Rasul Allah
menceritakannya. Maka kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaima bin
Thabit Al-Ansari. (Ayat ini berbunyi): ‘Diantara orang2 yang beriman
ada orang2 yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.’
(33.23)
Dari
mempelajari kisah di atas dan juga Hadis Sahih lain yang pesannya
serupa, kami perhatikan ada beberapa kumpulan Quran yang berbeda2 yang
tersebar saat itu. Ini adalah bagian kumpulan Quran yang dibuat oleh
keempat guru2 Quran yang direkomendasikan Muhammad seperti yang ditulis
di Hadis terdahulu, yakni salah satunya Ubai bin Ka'b. Lagi2 kami merasa
terganggu dengan hal2 berikut.
Pertama,
ada banyak ketidaksetujuan diantara para Muslim tentang apa yang
seharusnya ada dalam Quran. Karena itu, Kalifah Utsman memerintahkan
naskah2 Quran yang disimpan Hafsa untuk disalin dan disebarkan dan
ditunjuk sebagai salinan Quran yang sah.
Kedua,
jika ada banyak ketidaksetujuan diantara ahli2 tulis yang menyalin
Quran tentang bagaimana melafalkan suatu ayat, Utsman menyuruh mereka
menulisnya dalam dialek Quraish. Kami kecewa ketika tahu bahwa Kalifah
Utsman memerintahkan perubahan kata2 Quran ke dalam dialek Quraish.
Apakah perubahan bagian dari tujuh versi Quran yang berbeda? Kami tidak
menemukan penjelasan ini di Hadis Sahih. Yang terakhir, kami kaget
sekali ketika Khalifa Utsman memerintahkan PEMBAKARAN Quran2 yang lain, tidak peduli apakah seluruhnya atau sebagian saja. Kami bertanya dalam hati: MENGAPA?
Mestinya karena Quran2 lain yang beredar saat itu begitu berbeda dengan
yang dimiliki Khalifa Utsman sehingga dia sampai2 mengeluarkan perintah
yang begitu keras. Ingat saat Al-Yaman bertemu Utsman untuk memintanya
menyelamatkan negara karena mereka berbeda pendapat tentang Quran.
Sekarang Kalifah Utsman memerintahkan disebarkannya salinan yang
dimiliki Hafsa, padahal versi ini belum pula disahkan oleh guru2 Quran terbaik untuk jadi patokan Quran yang sah.
Sewaktu kami menyelidiki apa kemungkinan perbedaannya yang ada, kami menemukan contoh kata Bismillah
yang hilang pada awal Surah 9, ayat perajaman yang hilang dimakan
KAMBING, dan lalu ayat ini dihapus, ditarik kembali, dibatalkan atau
dilupakan. Kami telah membicarakan hal ini dalam penelitian
kami tentang ayat2 yang dibatalkan (Ayat2 setan). Kami menjumpai bahwa
meskipun perintah penghancuran diberikan, beberapa bagian dari versi
Quran lain ternyata selamat, mungkin karena orang2 Muslim hafal akan
variasi lain dari Quran.
Contohnya,
dari terjemahan Quran oleh Abdullah Yusuf Ali, kami menemukan Qiraat
(bacaan Quran) lain yang berbeda dengan Quran milik Ka’b yang
direkomendasikan Muhammad sebagai satu dari empat guru terbaik untuk
mengajar Quran. Dia menulis ada kata2 tambahan bagi Surah 33:6. Kami
dulu diajari bahwa tidak ada satu titik pun yang diubah, dan inilah
seluruh kalimat yang hilang yang ditandai dengan ** di bawah di catatan
kaki 3674 dari Abdullah Yusuf Ali.
Nabi
itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka
sendiri, ** dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang
yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak
(waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan
orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada
saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di
dalam Kitab (Allah). (QS 33:6)
** Catatan kaki 3674 : … Di beberapa Qiraats, seperti yang dimiliki Ubai ibn Ka’b, muncul pula kata2 ini “dan dia adalah ayah bagi mereka”, yang mengartikan bahwa hubungan spiritualnya dan hubungannya denga kata2 “dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka”. …
As-Suyuti (wafat 1505),
salah seorang pakar Quran yang paling dihormati mengutip Ibn ‘Umar al
Khattab : "Janganlah ada diantara kalian yang mengatakan bahwa ia
mendapatkan seluruh Quran, karena bagamana ia tahu bahwa itu memang
keseluruhannya? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena itu, kalian
harus mengatakan ‘Saya mendapatkan sebagian Quran yang ada’" (As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72).
Aisha, isteri tersayang nabi mengatakan, juga menurut sebuah tradisi yang diceritakan as-Suyuti, "Selama masa Nabi, saat dibacakan, Surah al-Ahzab berisi 200 ayat. Ketika Utsman mengedit Quran, hanya ayat2 sekarang ini (73) yang tertinggal."
As-Suyuti
juga menceritakan ini tentang Uba ibn Ka’b, salah seorang sahabat
Muhammad: Sahabat terkenal ini meminta salah seorang Muslim, "Berapa
ayat yang ada dalam Surah al-Ahzab?" Katanya, "73 ayat." Ia (Uba)
mengatakan padanya, "Dulunya jumlah ayatnya hampir sama dengan Surah ‘Al
Baqarah’ (sekitar 286 ayat) dan
termasuk ayat perajaman". Lelaki itu bertanya, "Apa ayat perajaman itu
?" Ia (Uba) mengatakan, "Jika lelaki tua atau wanita melakukan zinah,
rajam mereka sampai mati."
Ibn Mas’ud,
seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Quran yang tidak
menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem
(w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas’ud tidak
menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Quran
yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An’am, tapi
surah Yunus.
Ibn
Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai
bagian dari Quran. Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu
bukan bagian dari Quran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak
memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di
kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Quran atau
ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian
dari kitab suci.
Salah
seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian
dari Quran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya
yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah
“ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Quran. Ini merupakan tradisi
populer masyarakat Mediterania pada masa awal Islam. Sebuah hadis Nabi
mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan
bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya
menjadi sia-sia.”
Seperti
yang kita lihat sebelumnya, Utsman mencoba mengatasi situasi kacau ini
dengan kanonisasi codex / mushaf Medinah, yang salinannya dikirim
kesemua pusat2 metropolitan diiringi perintah untuk menghancurkan
kesemua mushaf lain.
Mushaf
Utsman ini dianggap sebagai standar teks konsonan, tapi yang kita
temukan justru terdapat berbagai variasi teks konsonan yang masih hidup
juga sampai abad Islam ke 4. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan
yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva).
Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca
yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’lamu
atau bi’ilmi.
Masalah
diperuncing dengan adanya perbedaan kosakata akibat pemahaman makna,
dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf
Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina”
(keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf Utsmani.
Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti “siapa”).
Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda, seperti
“al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu”
(Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira” (Talhah), dan sebagainya.
Untuk
mengatasi versi2 bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah
Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah,
memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah
membanding2kan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih
tujuh varian bacaan dari para qurra ternama. Bahkan ketujuh mushaf versi
Ibn Mujahid memberikan 14 kemungkinan karena masing2 dari ketujuh
mushaf itu bisa dilacak kepada dua transmitter berbeda. yakni;
1. Nafi dari Medinah menurut Warsh dan Qalun
2. Ibn Kathir dari Mekah menurut al-Bazzi dan Qunbul
3. Ibn Amir dari Damascus menurut Hisham dan Ibn Dakwan
4. Abu Amr dari Basra menurut al-Duri dan al-Susi
5. Asim dari Kufa menurut Hafs dan Abu Bakr
6. Hamza dari Kufa menurut Khalaf dan Khallad
7. Al-Kisai dari Kufa menurut al Duri dan Abul Harith
Tindakannya
ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Quran diturunkan
dalam tujuh huruf.” Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan
menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan versi2 lain yang
dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada
saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn
Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan2nya dikesampingkan Ibn Mujahid
karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid
dan Ibn Shanabudh.
Bagaimanapun,
reaksi para ulama tersebut tidak banyak berpengaruh. Sejarah
membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang
kini diterima oleh banyak orang. Pada akhirnya 3 versi bertahan,
versinya Warsh (812) milik Nafi dari Medina, Hafs (805) milik Asim dari
Kufa, dan al-Duri (860) milik Abu Amr dari Basra. Jaman sekarang, hanya 2
versi yang terus digunakan. Yaitu versi Asim dari Kufa lewat Hafs, yang diberikan ijin resmi dengan diadopsi sebagai Quran edisi Mesir tahun 1924; dan milik Nafi lewat Warsh, yang digunakan di bagian2 Afrika selain Mesir.
Pencetakan
Quran di Mesir tahun 1924 adalah rekayasa yang luar biasa, karena
upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan
pembakuan Quran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Quran Edisi Mesir itu
merupakan versi Quran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh
kaum Muslim. Keberhasilan penyebarluasan Quran Edisi Mesir tak terlepas
dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa2 sebelumnya, kodifikasi dan
standarisasi Quran adalah karya institusi yang didukung oleh penguasa
politik.
Apa
yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu
kopi Quran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek
standarisasi kitab suci, yang bertujuan memusnahkan versi2 Quran yang
lain. Kendati tidak seperti Utsman bin Affan yang secara terang2an
memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Quran yang bukan miliknya,
tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Quran hanya dengan satu edisi,
menutupi dan perlahan2 menyisihkan edisi lain yang diam2 masih beredar
(khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).
Akhirnya
kita dapat menyimpulkan bahwa Quran versi yang ada sekarang ini jauh
dari kata suci dan murni. Bahkan jika dibandingkan dengan kitab samawi
lain seperti Taurat dan Injil, kemurnian atau validitas Quran jauh
dibawah kedua kitab tersebut.
Aisha
pernah melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaran yang berisi 2 ayat,
termasuk ayat2 rajam, ditulis dalam lembaran yang disimpan dibawah
tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman Rasulullah, seekor binatang
memakannya hingga musnah. Disebutkan dalam bahasa Arab bahwa binatang
tersebut adalah “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba
ataupun unggas.
Sumber :
• Ibrahim b. Ishaq al Harbis, Gharib al hadith menyebutkan “shal” yang berarti domba
• Zamakshari, al Kashaf, vol 3 p 518, footnote
• Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108
• Al Fadl b. Shadahn, al Idah, p 211
• Abd al Jalil al Qazwini, p 133
Peristiwa hilangnya ayat2 Quran akibat dimakan binatang sungguh menggelikan, menyedihkan dan memalukan, karena ucapan ALLAH DIKALAHKAN OLEH SEEKOR KAMBING.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS 15:9)
MASIHKAH UMAT MUSLIM MENGATAKAN BAHWA KEMURNIAN QURAN SENANTIASA TERPELIHARA OLEH ALLAH?
Sunday, August 10, 2014
Menurut Alquran, TANAH YG DIKUASAI ISRAEL ADALAH MILIK ISRAEL BUKAN MILIK PALESTINA ...!
Sheikh Ahmad Adwan, who introduces himself as a Muslim scholar who lives in Jordan, said on his personal Facebook page that there is no such thing as “Palestine” in the Koran. Allah has assigned the Holy Land to the Children of Israel until the Day of Judgment (Koran, Sura 5 – “The Sura of the Table”, Verse 21), and “We made the Children of Israel the inheritors (of the land)” (Koran, Sura 26 – “The Sura of the Poets”, Verse 59).
"I say to those who distort their Lord’s book, the Koran: From where did you bring the name Palestine, you liars, you accursed, when Allah has already named it “The Holy Land” and bequeathed it to the Children of Israel until the Day of Judgment. There is no such thing as 'Palestine' in the Koran. Your demand for the Land of Israel is a falsehood and it constitutes an attack on the Koran, on the Jews and their land. Therefore you won’t succeed, and Allah will fail you and humiliate you, because Allah is the one who will protect them (i.e. the Jews).”
The sheikh added: “The Palestinians are the killers of children, the elderly and women. They attack the Jews and then they use those (children, the elderly and women) as human shields and hide behind them, without mercy for their children as if they weren’t their own children, in order to tell the public opinion that the Jews intended to kill them. This is exactly what I saw with my own two eyes in the 70’s, when they attacked the Jordanian army, which sheltered and protected them. Instead of thanking it (the Jordanian army), they brought their children forward to (face) the Jordanian army, in order to make the world believe that the army kills their children. This is their habit and custom, their viciousness, their having hearts of stones towards their children, and their lying to public opinion, in order to get its support.”
It is worth mentioning, that the above mentioned sheikh visited Israel and met Jewish religious scholars. The “Israel in Arabic” site conducted an interview with him, in which he said that the reason for his openness towards the Jewish people “comes from my acknowledgment of their sovereignty on their land and my belief in the Koran, which told us and emphasized this in many places, like His (Allah’s) saying ”Oh People (i.e the Children of Israel), enter the Holy Land which Allah has assigned unto you” (Koran, Sura 5 – “The Sura of the Table”, Verse 21), and His saying “We made the Children of Israel the inheritors (of the land)” (Koran, Sura 26 – “The Sura of the Poets”, Verse 59) and many other verses.
He (Adwan) added: “(The Jews) are peaceful people who love peace, who are not hostile and are not aggressors, but if they are attacked, they defend themselves while causing as little damage to the attackers as possible. It is an honor for them that Allah has chosen them over the worlds – meaning over the people and the Jinns until the Day of Judgment. I made the reasons for Allah’s choice clear in my books and pamphlets. When Allah chose them, He didn’t do so out of politeness, and He wasn’t unjust other peoples, it is just that they (the Jews) deserved this.”
"I say to those who distort their Lord’s book, the Koran: From where did you bring the name Palestine, you liars, you accursed, when Allah has already named it “The Holy Land” and bequeathed it to the Children of Israel until the Day of Judgment. There is no such thing as 'Palestine' in the Koran. Your demand for the Land of Israel is a falsehood and it constitutes an attack on the Koran, on the Jews and their land. Therefore you won’t succeed, and Allah will fail you and humiliate you, because Allah is the one who will protect them (i.e. the Jews).”
The sheikh added: “The Palestinians are the killers of children, the elderly and women. They attack the Jews and then they use those (children, the elderly and women) as human shields and hide behind them, without mercy for their children as if they weren’t their own children, in order to tell the public opinion that the Jews intended to kill them. This is exactly what I saw with my own two eyes in the 70’s, when they attacked the Jordanian army, which sheltered and protected them. Instead of thanking it (the Jordanian army), they brought their children forward to (face) the Jordanian army, in order to make the world believe that the army kills their children. This is their habit and custom, their viciousness, their having hearts of stones towards their children, and their lying to public opinion, in order to get its support.”
It is worth mentioning, that the above mentioned sheikh visited Israel and met Jewish religious scholars. The “Israel in Arabic” site conducted an interview with him, in which he said that the reason for his openness towards the Jewish people “comes from my acknowledgment of their sovereignty on their land and my belief in the Koran, which told us and emphasized this in many places, like His (Allah’s) saying ”Oh People (i.e the Children of Israel), enter the Holy Land which Allah has assigned unto you” (Koran, Sura 5 – “The Sura of the Table”, Verse 21), and His saying “We made the Children of Israel the inheritors (of the land)” (Koran, Sura 26 – “The Sura of the Poets”, Verse 59) and many other verses.
He (Adwan) added: “(The Jews) are peaceful people who love peace, who are not hostile and are not aggressors, but if they are attacked, they defend themselves while causing as little damage to the attackers as possible. It is an honor for them that Allah has chosen them over the worlds – meaning over the people and the Jinns until the Day of Judgment. I made the reasons for Allah’s choice clear in my books and pamphlets. When Allah chose them, He didn’t do so out of politeness, and He wasn’t unjust other peoples, it is just that they (the Jews) deserved this.”
Subscribe to:
Posts (Atom)

