Monday, December 31, 2012

Alasan mengapa bangsa Yahudi TIDAK PERCAYA muhammad


Bottom of Form
Postby ali5196 » Fri May 19, 2006 5:25 am

http://www.indonesia.faithfreedom.org/o ... php?t=3704
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/jews.htm

APA YANG TERJADI DENGAN YAHUDI MEDINAH 

Ini adalah riwayat dari akhir keberadaan bangsa Yahudi di Medinah (atau disebut juga : YATHRIB). Suatu kisah mengenai pembantaian etnik, pengkhianatan, dan Genocide yang dilakukan oleh utusan Allah swt. Sang nabi saw menjarah komunitas Yahudi yang telah tinggal selama 2000 tahun di Medinah, membunuh kaum pria-nya, merampok barang-barang mereka, memperkosa istri dan anak mereka dan melenyapkan mereka tanpa pandang bulu dari wilayah milik mereka. Motif satu-satunya Sang Nabi Suci melakukan semua ini adalah TIGA TA : TAHTA, HARTA, WANITA (Yahudi).



Ini ditegaskan oleh sejarawan Muslim sendiri. Banyak pembela Muslim mengurangi pentingnya arti kehadiran dan jumlah bangsa Yahudi yang ada di Medinah saat itu.Dr. A. Zahoor dan Dr. Z. Haq menulis, ”Sejarah tidak mencatat terlalu banyak mengenai saat migrasi pertama bangsa Yahudi dari Utara ke Yathrib dimulai dan jumlah mereka juga tetap kecil pada saat mereka tinggal di sana. (1)”

Maududi dlm komentarnya di Surah 99 Quran (2) melaporkan dari “Kitab al-Aghani” [sebuah buku berisi lagu pujian, sebuah sumber informasi yang penting bagi komunitas Muslim abad pertengahan. Vol xix, p.94, oleh Abu al-Faraj Ali dari Esfahan (897-967) ]:

KEBERADAAN YAHUDI DI HIJAZ 

“Orang Yahudi di Hijaz (Mekah & Medinah) mengklaim bahwa mereka telah datang untuk bermukim di Arabia pada masa-masa terakhir hidup Nabi Musa (saw). Mereka mengatakan bahwa Nabi Musa telah mengutus tentara untuk mengusir bangsa Amalek dari tanah Yathrib dan telah memerintahkan mereka untuk membunuh semua orang di suku tersebut. Tentara Israel melakukan perintah Musa, tetapi juga melakukan pelanggaran yaitu mengampuni nyawa seorang pangeran berwajah tampan dari bangsa Amalek dan mengembalikannya ke tanah Palestina. Pada saat itu Nabi Musa telah meninggal dunia, penggantinya mengambil tindakan tegas atas apa yang telah dilakukan oleh para tentara itu , dengan alasan bahwa karena tentara itu membiarkan hidup seorang pangeran Amalek maka mereka telah jelas-jelas melanggar perintah Nabi dan telah menyalahi Hukum Musa. Sebagai konsekuensinya, mereka dikucilkan dari komunitas, dan mereka diharuskan kembali ke Yathrib dan tinggal di sana selamanya.

Migrasi bangsa Yahudi yang kedua ke Medinah (menurut bangsa Yahudi) terjadi pada 587 SM. Ketika Nebukadnezar, Raja Babilon, menghancurkan Yerusalem dan membuat kaum Yahudi terpencar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Yahudi yang tinggal di Arab berkata bahwa beberapa diantara suku-suku mereka pada saat itu telah bermukim di Wadi al-Qura, Taima, dan Yathrib (Al-Baladhuri, Futuh al-Buldan)” 


Maududi membantah kedua klaim itu dan berkata;
”Hal-hal tersebut sesungguhnya tidak mempunyai basis sejarah dan kemungkinan Yahudi telah mengarang cerita itu dengan tujuan menyanggah pendapat bangsa Arab yang percaya bahwa mereka adalah garis keturunan yang syah dari kaum asli yang bermukim di daerah itu.” 

Tetapi bagaimanapun juga Maududi mengakui;

”Terbukti bahwa pada thn 70 AD, bangsa Roma telah membantai kaum Yahudi di Palestina, dan pada thn 132 AD mengusir mereka dari tanah itu, sehingga banyak kaum Yahudi yang melarikan diri untuk mencari suaka di Hejaz, suatu daerah yang bersebelahan dengan tanah Palestina di bagian selatan. Di sana, mereka bermukim ditempat dimana mereka bisa mendapatkan sumber mata air dan tumbuh-tumbuhan, dan kemudian dgn tipu daya (??? :shock: mana buktinya ?) dan melalui bisnis peminjaman uang secara bertahap mereka menduduki tanah yang subur. Ailah, Maqna, Tabuk, Taima, Wadi al-Qura, Fadak, dan Khaibar berada di bawah kekuasaan mereka pada masa itu. Sementara itu Bani Quraizyah, Bani al-Nadir, Bani Bahdal, dan Bani Qainuqa juga datang pada masa yang sama dan menduduki Yathrib." 

Karena tidak ada bukti sejarah yang kuat selain sejarah versi Maududi maka kita bisa saja berkesimpulan bahwa Muslim (mungkin juga Maududi seorang Muslim) mengarang cerita itu untuk meniadakan “garis keturunan yang syah dari Bangsa Yahudi sebagai penduduk daerah Yathrib”. Tampaknya, kaum Yahudi yang telah lama bermukim di Yathrib dan bahkan dari pengakuan Maududi sendiri sebagai, ”secara praktis pemilik dari tanah yang hijau dan subur itu”(2) hanya memberikan sedikit bukti mengenai keberadaan-nya.

Sementara itu di lain pihak, Muslim yang membenci Yahudi dimulai dari jaman Muhamad sendiri dan bahkan cendekiawan terkenal seperti Maududi tidak bisa menyembunyikan kebencian mereka terhadap Yahudi dgn menunjukkan cerita palsu untuk menutupi pengusiran dan pembersihan etnik Yahudi dari tanahnya sendiri.

Tetapi bagaimanapun juga, sejarawan Muslim mengakui bahwa 
"kaum Yahudi yang tinggal di Arab telah bermukim di Yathrib selama beratus-ratus tahun. Dlm bidang bahasa, busana, kependudukan dan cara hidup, mereka telah benar-benar mengadopsi cara Arab, bahkan nama mereka telah berciri Arab. Dari 12 suku Yahudi yang bermukim di Hejaz, tidak ada satupun kecuali Bani Zaurah yang mempertahankan nama Yahudi mereka. Malah, tidak ada dalam puisi kaum Yahudi pada masa sebelum Islam yang bisa membedakan-nya dari puisi bangsa Arab dalam bidang bahasa, ide, dan tema puisi-puisi itu. Bahkan mereka mengadakan perkawinan campuran dengan bangsa Arab. Kenyataan lainnya, tidak ada suatu halpun yang membedakan mereka dari bangsa Arab kecuali agamanya. Karena gaya mereka yg ke-Arab-Araban inilah, maka peneliti Barat banyak salah anggap bahwa mereka bukan benar-benar Yahudi melainkan Arab yang telah memeluk Judaisme, atau paling tidak mayoritas dari mereka adalah Yahudi-Arab (tidak lagi murni Yahudi). “(2) 

Mungkin saja para pemikir Barat tidak terlalu jauh dari kenyataan. Karena walaupun kaum Yahudi bermigrasi ke Arab selama ratusan tahun, atau bila kita mau menerima sejarah versi Yahudi yang menyatakan mereka tinggal di sana selama 2000 tahun, bahkan mereka telah kawin campur dengan bangsa Arab, bagaimanapun mereka adalah bangsa Arab.

Maududi menulis, 
“Tidak ada bukti sejarah bahwa kaum Arab Yahudi benar-benar pernah ada di dunia. Mereka tidak meninggalkan tulisan apapun dalam bentuk buku atau ukiran batu yang bisa menjadi titik terang mengenai masa lalu mereka, tidak juga ada sejarawan Yahudi dan penulis di luar dunia Arab yang menyatakan ttg keberadaan mereka. Alasan di balik semua itu adalah karena setelah mereka bermukim di jazirah Arab mereka telah melepaskan diri dari kebangsaan mereka, dan kaum Yahudi di seluruh dunia tidak lagi menganggap mereka sebagai bagian dari Yahudi. Karena mereka telah melepaskan kebudayaan Yahudi, bahasa, bahkan nama mereka, lebih lagi karena mereka telah mengadopsi budaya Arab.” (2)

Alasan lain mengenai mengapa tidak ada sejarah yang otentik mengenai Yahudi Arab adalah karena Muhammad telah menghancurkan mereka semua. Tidak ada orang mati yang bisa menulis sejarah, bukan ?

Bila bangsa Yahudi telah berkarakteristik Arab bahkan tidak bisa lagi dibedakan dengan bangsa Arab yang lain, maka mungkin saja masuk akal bahwa versi sejarah Yahudi lebih akurat dan bahwa kaum Yahudi telah tinggal di Arab jauh sebelum yang diperkirakan sejarawan Muslim. Bahkan, sekalipun kita harus menerima sejarah versi Muslim, faktanya adalah bahwa kaum Yahudi telah tinggal di Arabia, paling tidak 500 tahun sebelum kelahiran Muhamad; dan mereka berhak mengklaim wilayah mereka (Yathrib).

PENDUDUK NON-YAHUDI LAINNYA

Pada masa 450 atau 451 AD, terjadi banjir besar di Yaman yang memaksa berbagai suku dari rakyat Saba untuk bermigrasi ke bagian lain di Arabia. Diantara mereka ada suku Aus dan Khazraj yang pergi dan menetap di Yathrib. Dua suku ini besar tetapi terbelakang. Berbeda dengan Yahudi yang telah menguasai perdagangan dan menjadi pemilik hampir semua bisnis di Yathrib, bangsa Arab yang sebenarnya memperoleh penghidupan dengan menjadi pelayan kaum Yahudi di pertanian atau rumah tangga Yahudi. Mereka dipandang rendah oleh Kaum Yahudi, yang kemudian menjadi pokok permasalahan.

Selain itu, kedua suku ini tidak bisa bersatu dan kemudian berusaha mengikat persekutuan dengan suku-suku Yahudi. Ini berjalan dengan baik; karena Bani Qainuqatidak bersahabat dengan baik dengan kedua suku Yahudi yang lain. Dengan demikian Bani Qainuqa dan Khazraj menjalin persekutuan. Sedangkan Bani Quraizah, Bani Nadir, dan Aus bergabung bersama. Adalah penting untuk dicatat perseteruan ini bukanlah karena alasan agama tetapi karena persaingan antar suku.

Maududi berkomentar, 
”Karena hal inilah, maka kaum Yahudi tidak saja ikut dalam berbagai perang-antar-kelompok di Arab, tetapi mereka juga ikut perang membantu sekutu2 mereka, suku-suku Arab, melawan kelompok2 Yahudi lain bersekutu dgn kelompok Arab lain yang jadi musuh.” 

Bila kita bisa melampaui kabut tebal prasangka yang telah menyempitkan pandangan para cendekiawan Muslim, maka kita bisa beranggapan bahwa semua suku yang ada di Medinah adalah Arab yang memeluk agama berbeda2. Dan sebagaimana suku atau bangsa lain yang ada di dunia, diantara mereka juga terjadi persaingan. Tetapi dilihat dari struktur perserikatan mereka, konflik-konflik itu tidak terjadi karena alasan agama. Hal ini sangatlah penting untuk dicatat. Konflik antar suku hanya ada dalam kurun waktu yang pendek, tetapi kebencian antar agama akan selalu ada selama2nya.

Dalam perkembangan selanjutnya,Muhamadlah yang telah menghembuskan kebencian antar agama. Muhamad jugalah yang harus dicap sebagai penyebab pertentangan antar agama di Arab atau bahkan di seluruh dunia.

Muhamad dianggap sebagai pemersatu seluruh suku Arab. Hal itu mungkin saja benar. Tetapi tanpa dia-pun, suku-suku itu suatu hari akan melupakan perang yang terjadi diantara mereka. Sama seperti yang terjadi dimana-mana di seluruh dunia, bahwa ada banyak suku yang mula-mula berperang, kemudian bersatu untuk membentuk bangsa yang lebih kuat.

Muhamad menyatukan Arab dan mengubah mereka menjadi kekuatan yang besar, untuk menginvasi negara lain, menghancurkan peradaban yang lain dan memaksakan bahasa, kebudayaan, dan agama mereka kepada orang lain yang ditaklukkan.

Dengan memeluk Islam, persatuan2 yg terbentuk menguntungkan Arab
secara ekonomis, tetapi bahaya dari kebencian agama yang dipercikkan Muhamad bagi seluruh manusia telah mengalahkan semua keuntungan yang pernah didapat dari persatuan yang terbentuk dari gabungan beberapa suku Arab tersebut.

HIJRAH KE MEDINAH 

Arab selalu dalam keadaan perang satu sama lain. Tetapi diantara mereka, orang Mekah-lah yang mempunyai posisi yang menguntungkan. Ka’bah yang merupakan simbol tempat suci bagi seluruh bangsa Arab (bukan Muslim doang) terdapat di Mekah. Itu adalah tempat ziarah yang berarti uang dan kekuasaan bagi penduduk Mekah.

Ketika Abu Thalib, paman Muhammad dan istrinya, Khadijah, meninggal, maka ia kehilangan pendukung kuat dan penduduk Mekah meningkatkan tekanan terhadapnya. Ia menerima tawaran beberapa orang dari Bani Thaif bahwa bila Muhamad menjadikan kota mereka sebagai tempat suci bagi agama yang baru diciptakan-nya (dengan demikian kota mereka nantinya akan jadi tempat religius dan berkumpulnya pengikut agama Muhammad) maka Bani Thaqif, penduduk wilayah Thaif, akan membantu dia.

Maka Muhamad dan anak laki-laki yang diadopsinya, Zaid ibn Harith, secara diam2 pergi ke Taif pada 620 AD mencari perlindungan dari komunitas yang ada di sana dan berjanji akan membuat kota mereka sebagai salah satu tempat suci untuk Muslim. Tetapi sebaliknya yang terjadi ternyata sebagian besar Bani Thaqif mengolok-oloknya dan bahkan permohonannya agar kunjungannya ke sana dirahasiakan tidak dikabulkan. Pemimpin Taif mungkin saja telah memusuhi penduduk Mekah, tetapi mereka tidak mau menambah resiko yang membahayakan hidup mereka karena melindungi pemeluk agama yang tidak jelas.

Ketika orang Quraish (atau Qurasy, tapi bukan Quraiza) tahu mengenai rencana pembuatan Mekah sbg kota suci Muslim, mereka sangat marah dan menekan Muhamad sampai akhirnya beberapa tahun kemudian mereka memutuskan untuk membunuhnya.

Muhamad mengetahui rencana pembunuhan terhdp dirinya dan melarikan diri ke Yathrib. Di Yathrib, ia mempunyai beberapa pengikut, mereka berasal dari suku Khazraj dan Aus. Kedua suku ini takut pada perang berkepanjangan, terutama karena perang yang baru saja terjadi (Perang Bu’ath) diantara mereka. Mereka sedang berupaya mencari jalan untuk mengakhiri kekerasan itu. Jadi berkumpullah kedua pemimpin suku itu yg setuju agar Muhamad dijadikan penengah.

SURAT PERJANJIAN dgn YAHUDI MEDINAH

Adalah suatu kebiasaan universal bahwa dua pihak yg berselisih mengangkat seorang mediator sbg penengah. Muhamad, yang semula dianggap sebagai orang asing dengan demikian dianggap tidak memihak salah satu sukupun, diminta untuk menjadi juru pisah atas konflik-konflik yang terjadi kemudian. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa konflik yang terjadi di Yathrib TIDAK terjadi antara Muslim dan Yahudi; karena jika demikian Muhamad tidak mungkin dianggap sebagai penengah. Konflik yg terjadi adalah antara Muslim dgn suku QURAISH Mekah (suku Muhamad sendiri)

Juga telah kita lihat sebelumnya tidak ada perseteruan agama yang terjadi di Yathrib. Tetapi bagaimanapun, kaum Yahudi adalah bagian dari perjanjian itu karena mereka mengikat perserikatan dengan suku2 Arab.

Ini kesempatan emas bagi karir kenabian Muhamad yang sudah lama ia impikan. Sebagai bagian dari perjanjian itu, suku-suku itu tentulah akan melindungi sang Nabi dan juga anak istrinya dari serangan penduduk Mekah.

Jumlah mengikut Muslim di Yathrib semakin bertambah karena Yahudi menawarkan tempat mereka itu sbg tempat pengungsian aman bagi imigran Muslim. Yahudi tidak sekalipun mengira bahwa orang yang telah mereka berikan suaka akan berbalik melawan mereka, apalagi menghancurkan mereka.

Perjanjian itu tidak memberi Muhamad kekuasaan untuk memerintah. Ibnu Hisham melaporkan sebagian dari perjanjian itu. Tetapi sebagaimana yang akan kita lihat, perjanjian itu telah dimanipulasi. Tertulis:

“Yahudi harus menanggung pajak mereka dan Muslim juga harus menanggung pajak mereka. Masing-masing pihak harus membantu yang lain dari ancaman pihak luar. Mereka harus mengutatamakan saling membantu, berkonsultasi, dan kesetiaan dan tidak melakukan pengkhianatan. Mereka harus dengan sungguh-sungguh berdoa bagi keselamatan pihak lain. Hubungan antar pihak ini didasarkan pada kesalehan dan kemauan untuk mengakui hak-hak pihak lain, tidak didasarkan atas dosa dan perbuatan tercela. Orang yang bersalah harus dibantu untuk diperbaiki. Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung. Yathrib akan menjadi tempat perlindungan untuk orang-orang yang ada di dokumen ini. Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhamad sebagai utusan Tuhan; kaum Quraish dan sekutunya tidak boleh diberi bantuan dan perlindungan. Pihak-pihak yang ikut dalam perjanjian ini haruslah saling membantu dalam melawan setiap serangan ke Yathrib; setiap orang haruslah bertanggung jawab mempertahankan tanah dimana ia tinggal” (Ibn Hisham, vol. ii, pp 147-150)

Ada beberapa petunjuk bahwa dokumen perjanjian itu telah dimanipulasi. Hal yang paling nyata adalah bahwa tidak mungkin Yahudi mau menandatangani dokumen yang mengakui bahwa Muhamad adalah utusan Allah. Karena hal ini berarti penerimaan atas pernyataan Muhamad bahwa ia adalah utusan Allah. Jadi nyatalah bahwa dokumen di atas, kelihatannya telah dimanipulasi.

Juga ada beberapa kontradiksi dalam konteks dokumen tersebut. Ini diawali dengan adanya suatu perjanjian yang ditangani oleh dua suku yang berkuasa yang mempunyai hak dan kekuatan yang sama. Tetapi kemudian terdapat kalimat, ” 
Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung “ dan “Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhammad sebagai utusan Tuhan;” menyatakan adanya suatu kesan adanya ketidakseimbangan.

Pernyataan2 tsb nampaknya disisipkan belakangan. Pernyatan itu membuat Muslim mempunyai kekuatan yang lebih, padahal di bagian lain perjanjian dikatakan bahwa semua pihak mempunyai hak yang sama. Point yang paling penting adalah bagaimana mungkin Muhamad dianggap sebagai penengah sementara ia sendiri adalah pihak yang diuntungkan dari perjanjian itu ??

Mengherankan bahwa cendekiawan Muslim mempelajari surat tersebut selama berabad2 dan tidak sedikitpun mempertanyakan bagaimana mungkin Muhamad diangkat menjadi penengah dalam sebuah perjanjian, padahal ia sendiri ikut sbg salah satu pihak dlm perjanjian itu ???

Hal-hal itulah yang menguatkan bahwa perjanjian tersebut tidak otentik. Tetapi karena Muhamad dan pengikut-nya telah menghancurkan dokumen yang asli, maka tidak ada satupun yang tertinggal untuk kita, kecuali dokumen yang cacat tersebut.

PERANG SUCI

Setelah terjadi insiden di Badr dimana pengikut Muhamad menyerang karavan milik saudagar dan mengambil barang rampasan, maka berubahlah nasib Muhammad. Ia menjadi kaya karena barang rampasan itu, dan popularitasnya meningkat. Ia menjanjikan kekayaan dan budak perempuan kepada mereka yang mengambil bagian dlm pasukan perampoknya dan juga surga dengan pelayan-pelayan cantik dan sungai anggur untuk mereka yang mati shahid.

http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Badr
Image
Scene from Siyer-i Nebi (The Life of the Prophet) depicting Muhammad at Badr.

Untuk seorang pengikut fanatik yang **** dan rakus, ini merupakan tawaran yang tidak bisa ditolak. Bila mereka selamat, maka mereka akan mendapat bagian dari barang rampasan termasuk dapat wanita-wanitanya; tetapi bila mati, mereka akan masuk surga dengan imbalan yang serupa ditambah dengan nikmat dari Allah.

Yang menarik adalah bahwa bangsa Arab tadinya memiliki nilai-nilai kesusilaan yang diterapkan pada saat mereka menangkap wanita yang telah menikah, tetapi Nabi Allah telah mencabut nilai-nilai kesusilaan itu dan menyatakan bahwa adalah legal bagi seorang pria untuk mempunyai hubungan sexual dengan wanita yang tertangkap dalam perang. (Q. 4:24)

Yahudi memiliki agamanya sendiri, tidak bisa menerima doktrin Muhamad ttg ke-Nabiannya. Bahkan mereka mungkin menertawakan Muhamad dan pengikutnya. Hal itu tentunya dengan jelas bisa dimengerti. Bayangkan saja bagaimana Muslim bereaksi, bila ada orang diantara mereka yang meng-klaim dirinya adalah nabi Allah dan memulai agama baru. (Ingat LIA EDEN ! :wink: )

------------------------------------------------

1) http://users.erols.com/zenithco/treaty22.html#note1

2) http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau59.html

BERSAMBUNG KE: 

APA YANG MUHAMMAD LAKUKAN terhdp:

- BANI QAINUQA & Perang Badr (624M)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=540

- BANI NADIR & Perang Uhud (625M) & Khaibar (628M)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=17061

- BANI QURAIZA & Perang Parit (629M)
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 9821#49821
Last edited by ali5196 on Mon Aug 11, 2008 7:49 pm, edited 33 times in total.
Translator

Posts: 15994
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm
Postby Hand15 » Mon Jan 15, 2007 1:59 am
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 382
Joined: Wed Oct 05, 2005 2:40 am
Postby ali5196 » Tue Jul 10, 2007 1:24 am
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... 638#193638


Contoh keadilan Muhamad terhadap PENDUDUK MEDINAH :
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2720

Di Medinah, selama berabad2 tinggal 3 suku : Banu Qainuqa, Bani Nadir dan Bani Quraiza.

Muhamad (si tamu dan pendatang baru) datang dgn tawaran agama baru. MARAHlah ketiga bani tsb. Kenapa ? Bayangkan aja kalau LIA EDEN datang ke Medinah dan menawarkan agama barunya. MARAH khan Muslim ? Anyway ... ayo kita lihat bgm jalan ceritanya. Tapi ingat, walau ketiga bani itu marah, Muhamad tetap WELCOME di MEdinah.

Sampai disini ada yg tidak setuju nggak ?

OK ... mari dilanjutkan !

BANI QAYNUQA, menurut sumber Muslim telah :
-mencari kerusuhan
-meledek Muslim
-melukai mereka yg sering mengunjungi pasar dan
-bahkan mengintimidasi para wanita
-mereka tidak mau mendengarkan Muhamad

Reaksi Muhamad ? Ia menganggapnya sbg DEKLARASI PERANG !
Akibatnya :
- nabi suci mengepung kediaman mereka selama hampir dua minggu
- ketika mereka menyerah, semua lelaki diikat dan dijadikan tahanan.
- tadinya Muhamad ingin MEMBANTAI mereka, tapi Abdullah bin Ubayy meminta agar mereka jangan diBANTAI dan akhirnya Bani Qainuqa diusir dari Medinah (tanah nenek moyang mereka) dan meninggalkan harta, peralatan perang dan barang2 kerajinan mereka. Mereka disuruh jalan kaki ke gurun pasir tanpa sedikitpun peralatan utk menyelamatkan diri mereka !

ADIL NGGAK NIH ?????

=================
APA YG TERJADI DGN BANI NADIR ? Ayo kita lihat !

Menurut sumber2 Muslim, mereka dituduh :
-menolak mengadakan perjanjian damai dgnnya karena tidak mau mengakuinya sbg rasulullah
-Muslim membunuh seseorang Yahudi dan menuntut agar Bani Nadr membayar uang darahnya.
-Bani Nadr setuju tapi dibelakang mereka diam2 merencanakan utk membunuh nabi
-rencana pembunuhan gagal

Reaksi Muhamad ? Menuduh mereka fitnah dan menganggap ini sbg DEKLARASI PERANG. Akibatnya ? Bani Nadr diberi waktu 10 hari utk meninggalkan Medinah, dgn ancaman : kalau tidak, mereka akan dibunuh.

ADILKAH INI ?

=======================

BANI QURAIZA menurut sumber Muslim telah :

- melakukan perjanjian damai dgn Muhamad
- dituduh tidak membantu Muhamad dlm perang melawan B Qurasy (bani yahudi lainnya). Karena bantuan Quraiza, tentara Qurasy kalah tapi Quraiza TETAP dituduh berkhianat melanggar perjanjian.

Reaksi Muhamad ?
- B Quraiza dikepung selama 25 hari.
- mereka menyerah tanpa syarat (karena kaget diserang Muhamad)
- Muhamad memerintahkan para lelaki agar diikat tangan mereka, sementara para wanita dan anak2 disekap secara terpisah.
800 lelaki bertubuh sehat dibunuh, wanita dan anak2 dijadikan POW dan kekayaan mereka dibagi2kan antara para pejuang Muslim

ADILKAH INI ??????

Ingat : Muhamad adalah tamu Bani2 Yahudi tsb di Medinah. Kok tega ia mengusir tuan2 rumahnya dari tanah air mereka sendiri, membantai mereka dan memperbudak anak istri merkea ?
Translator

Posts: 15994
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm
Postby ali5196 » Fri Aug 17, 2007 10:53 pm
Rupanya ada Muslim yg menanggapi post saya ini :

http://muslim-christianity.faithweb.com ... edinah.htm

Silahkan anda menanggapinya. Saya sudah bosan menanggapi pembelaan Muslim yg isinya tidak lain dari ini melulu :

- Yahudi juga jahat, jadi boleh dong Muhamad jahat
- Yahudi yg fitnah (padahal post saya diatas menyatakan jelas2 tidak ! Muhamad CURIGA mereka akan fitnah karena mendapat info dari intel bernama Jibril.)
- Muhamad pasti betul !
- Muhamad boleh dong bela diri, biar dng cara membunuh.

dsb dsb. AH, tidur dulu ahhhh !
Translator

Posts: 15994
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm
Postby ali5196 » Wed Aug 29, 2007 10:32 pm
KRONOLOGI PENYEBARAN ISLAM LEWAT PEDANG
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=1930
Translator

Posts: 15994
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm
Postby ali5196 » Thu Nov 15, 2007 1:54 am
A SINA : perampokan/penjarahan atau bela diri ?
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... .php?t=860
Translator

Posts: 15994
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm
Postby vivaldi » Sun Nov 25, 2007 9:23 am
Rupanya ada Muslim yg menanggapi post saya ini :

http://muslim-christianity.faithweb.com ... 96_pembant aian_yahudi_medinah.htm


Ada baiknya saya coba tanggapi.


ali5196 wrote:
PEMBANTAIAN DI KHAIBAR
'Kalian (Yahudi) harus tahu bahwa bumi ini milik Allah dan RasulNya dan Saya ingin mengusir kalian dari tanah ini.' (Hadith Sahih Muslim 4363)
http://tapuzisrael.tripod.com/tapuz.html


Nice ! Coba diganti kata2nya :
'Kalian (Muslim) harus tahu bahwa bumi ini milik Yahwe dan Rasul2Nya dan Saya ingin mengusir kalian dari tanah ini.' Suka nggak Muslim ?

DEMIKIAN RENUNGAN ...
--------------------------------------------

muslim wrote
Ha.ha..lihat, kalimat seperti ini sudah pernah dikatakan oleh nabi Bani Israel sendiri:

2 raja-raja 5:15
5:15. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!


Ha .. ha ...., kalimatnya nabi Bani Israel????

Yang dikutip muslim diatas adalah kalimat dari Naaman, seorang panglima raja Aram,

2 Raja 5:1
Naaman, panglima raja Aram,...


Kalimat Naaman yang dikutip oleh muslim diatas ditujukan kepada nabi Elisa, yaitu :
2 raja-raja 5
15. Kemudian kembalilah ia (cat : Naaman) dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia (cat : Naaman) ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!"


Kalimat diatas berisi pengakuan Naaman bahwa YHWH berkuasa diseluruh bumiNaaman kemudian menawarkan kepada Elisa apa yang bisa dia berikan kepada Elisa.

Dan jawaban Elisa adalah
2 Raja 5 : 16
.... “..... sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa” Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolaknya.


Ha .. ha ... ha ...., jadi bukan seperti kelakuan Muhammad SAW yang “meminta” jatah seperlima harta jarahan jadi miliknya. Kelakuan yang lebih mirip seperti seorang kepala gangster.
Q 8:041
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, ..........

Hadis Sahih Bukhari, Vol. IV, pg. 104:
Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar bahwa sang Nabi berkata,”Mata pencaharianku ada di bawah bayangan tombakku, (1) dan dia yang tidak menaati perintahku akan dihinakan dengan membayar Jizya.”
Catatan: (1) “Di bawah bayangan tombakku” berarti “dari jarahan perang”.


Terlihatlah bagaimana bodohnya pembelaan muslim. Kalimat Naaman dikira kalimat nabi bani Israel. :oops:



muslim wrote
Ha.ha..lihat, kalimat seperti ini sudah pernah dikatakan oleh nabi Bani Israel sendiri:

2 tawarikh 15:13
15:13 Setiap orang, baik anak-anak atau orang dewasa, baik laki-laki atau perempuan, yang tidak mencari TUHAN, Allah Israel, harus dihukum mati.
 


Lagi-lagi muslim memperlihatkan kebodohan mereka saat mengutip ayat-ayat Alkitab dan mengira kalimat diatas diucapkan oleh nabi bani Israel.

Latar belakang ayat diatas adalah sbb :

Ayat diatas menggambarkan apa yang terjadi dikerajaan Yehuda saat dibawah pimpinan raja Asa.
2 taw 14 : 1
Setelah Raja Abia meninggal dan dikuburkan di makam raja-raja di Kota Daud, Asa putranya menjadi raja menggantikan dia. Di bawah pemerintahan Asa, negeri Yehuda tenteram selama sepuluh tahun.


Pada masa kekuasaan Asa muncullah nabi Azarya yang mengingatkan raja Asa untuk dekat dan menghiraukan YHWH.
2 taw 15 :
1 Roh Allah menguasai Nabi Azarya anak Oded,
2 sehingga ia pergi menemui Raja Asa, dan berkata, "Hai Raja Asa, dan seluruh penduduk Yehuda dan Benyamin! Dengar! TUHAN dekat padamu kalau kamu dekat pada-Nya. Jika kamu minta petunjuk TUHAN, Ia akan memberikannya. Tetapi kalau kamu tidak menghiraukan Dia, Ia pun tidak menghiraukan kamu.


Mendengar peringatan dari nabi Azarya tersebut, yang dilakukan oleh raja Asa dan penduduk kerajaan Yehuda adalah :

1. Menyingkirkan semua berhala
2 taw 15 : 8 – 9
Ketika Asa mendengar perkataan nubuat Azarya anak Oded itu, berkobarlah semangatnya. Ia menyingkirkan menyingkirkan dewa-dewa kejijikan dari seluruh tanah Yehuda dan Benyamin ..... 


2. Berjanji untuk setia kepada YHWH dan bersedia untuk dihukum mati jika tidak hidup menurut kehendak YHWH
2 taw 15
12 Mereka berjanji kepada TUHAN bahwa dengan sepenuh hati dan jiwa mereka akan hidup menurut kehendak TUHAN, Allah leluhur mereka.
13 Siapa saja, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, yang tidak hidup menurut kehendak TUHAN pasti dihukum mati.


Secara singkat :
Raja Asa beserta seluruh penduduk kerajaan Yehuda menghancurkan berhala dan berjanji untuk setia kepada YHWH, jika mereka tidak setia kepada YHWH maka mereka bersedia untuk dihukum mati

Jadi esensinya sama sekali berbeda dengan pola ancaman yang dilakukan oleh Islam kepada pemeluk agama lain.

Q 8:39
Dan perangilah mereka sampai tiada fitnah (menyembah yang lain selain Allah), dan agama (ibadah) hanyalah bagi Allah saja.

Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 2, Number 24:
“Aku telah diperintahkan Tuhan untuk berperang melawan orang2 sampai mereka semua mengaku tiada Tuhan selain Awloh dan Muhammad adalah RasulNya, dan mereka melakukan sembahyang dan membayar Zakat. Jika mereka melakukan hal itu, darah dan harta benda mereka selamat dari ku.

Hadith Sahih Muslim 4363
'Kalian (Yahudi) harus tahu bahwa bumi ini milik Allah dan RasulNya dan Saya ingin mengusir kalian dari tanah ini.'


Penggunaan ayat 2 tawarikh 15 : 8 diatas sekali lagi memperlihatkan kebodohan muslim untuk mengajukan argumen yang benar, kalimat kesepakatan dianggap kalimat yang diucapkan nabi bani Israel.

:oops: :oops:

yang lain menyusul
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Sat Dec 01, 2007 8:38 am
ali5196 wrote
'Kalian (Yahudi) harus tahu bahwa bumi ini milik Allah dan RasulNya dan Saya ingin mengusir kalian dari tanah ini.' (Hadith Sahih Muslim 4363)

muslim wrote

Hadis tersebut aslinya berbunyi:
Sahih Muslim Book 019, Number 4363:
It has been narrated on the authority of Abu Huraira who said: We were (sitting) in the mosque when the Messenger of Allah (may peace be upon him) came to us and said: (Let us) go to the Jews. We went out with him until we came to them. The Messenger of Allah (may peace be upon him) stood up and called out to them (saying):O ye assembly of Jews, accept Islam (and) you will be safe. They said: Abu'l-Qasim, you have communicated (God's Message to us). The Messenger of Allah (may peace be upon him) said: I want this (i. e. you should admit that God's Message has been communicated to you), accept Islam and you would be safe. They said: Abu'l-Qisim, you have communicated (Allah's Message). The Messenger of Allah (may peace be upon him) said: I want this... - He said to them (the same words) the third time (and on getting the same reply) he added: You should know that the earth belongs to Allah and His Apostle, and I wish that I should expel you from this landThose of you who have any property with them should sell it, otherwise they should know that the earth belongs to Allah and His Apostle (and they may have to go away leaving everything behind). 

Dari narasi diatas, tampak bahwa orang-orang Yahudi mengetahui bahwa nabi SAW adalah benar rasul Allah karena mereka mengiyakannya. ("Abu'l-Qasim, you have communicated ").
Jadi hadis ini menjadi bukti bahwa orang-orang Yahudi mengetahui kabar tentang datangnya nabi terakhir dalam kitab-kitab mereka (i.e Taurat). Dan nabi SAW mencoba mengkomunikasikan hal ini baik-baik kepada orang-orang Yahudi tersebut. Dan jika mau maka rasul seharusnya dapat mengusir mereka dari tanah Arab. 


Hadis diatas sama sekali tidak menyebutkan bahwa orang Yahudi mengakui Muhammad SAW adalah rasulullah. Yang mereka katakan hanyalah "Abu'l-Qasim, you have communicated " (Abu’l Qasim, kamu telah menyatakan). Yang diakui oleh orang Yahudi hanyalah pengakuan bahwa Muhammad SAW pernah menawarkan Islam kepada mereka ("accept Islam and you would be safe").

Selain itu perhatikan pula bahwa kata (Allah’s Message) ditulis dalam tanda kurung. Mirip Al-Qurán yang harus disisip-sisip kalimat agar bisa dipas-paskan dengan kebutuhan muslim.
Kalau memang orang Yahudi mengakui Muhammad SAW adalah rasulullah, sangatlah mudah bagi mereka untuk berkata Äbu’l Qasim, kamu adalah benar Rasulullah” Namun tidak ada sama sekali pengakuan seperti itu dari orang Yahudi.

Bagaimana mungkin Yahudi akan menerima Muhammad SAW sebagai rasulullah karena Muhammad SAW tidak lulus (gagal total) saat ditest pengetahuan umumnya oleh orang Yahudi.

Sebagai contoh test yang dilakukan oleh Yahudi adalah saat Muhammad SAW ditanya tentang kisah Alexander Agung dan Seven Sleepers. Bagaimana mungkinlegenda Alexander Agung dengan gerbang besinya dan legenda Seven Sleepers masuk dalam Al-Qurán dan menjadi fakta sejarah.

Sudah pernah saya tuliskan disini :

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=4802
ALEXANDER AGUNG, SI KAFIR NABI MUSLIM (QS 18)

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=6137
LEGENDA THE SEVEN SLEEPERS DALAM QUR’AN

Bagaimana mungkin orang Yahudi akan percaya Muhammad SAW saat mereka melihat bahwa Muhammad SAW tidak lulus test pengetahuan seperti ini.
Sama seperti jika ada orang Malaysia mengaku nabi bagi orang Indonesia, namun saat ditest menyatakan bahwa Bandung Bondowoso adalah seorang nabi utusan Aulloh SWT yang membangun 999 candi dalam satu malam.

Akankah orang Indonesia percaya??? :lol: :lol:
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Sat Dec 08, 2007 8:19 pm
muslim wrote
Dan ucapan nabi SAW telah ditegaskan bahwa beliaulah nabi terakhir tersebut, yang mana seharusnya orang-orang Yahudi mengikutinya seperti apa yang dikatakan oleh Musa:

ulangan 18:15, 17-19
18:15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.
18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik;
18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.
18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. 


Bosan sebetulnya melihat sikap hipokrit muslim seperti ini. Disatu sisi menuduh Alkitab sudah dipalsukan, tapi disisi lain kalau bisa dimanfaatkan maka dijadikanlah rujukan.

Bosan sebetulnya mendengar pembelaan kacangan ala muslim yang seperti ini.
Ayat Ulangan 18 : 15 sudah berbicara dengan sangat jelas :
18:15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu

Memangnya orang Mekah yang jauhnya ribuan kilometer dari Israel bisa disebut dari tengah-tengah orang Israel.

Contoh analogi lainnya :
Presiden SBY berbicara ditelevisi :
"Hai rakyat Indoensia, Seorang pemimpin dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan muncul”

Pertanyaannya :
Siapa yang dimaksud presiden SBY diatas :
1. Orang Indonesia yang akan lahir dari salah satu dari suku bangsa yang ada diIndonesia.
2. Orang Malaysia yang adalah “saudara”bangsa Indonesia
3. Orang Thailand yang adalah “saudara”bangsa Indonesia

MAri kita dengarkan apa kira-kira jawaban muslim. :oops:

Lebih lanjut tentang bantahan terhadap klaim bohong Muhammad sudah diramalkan dalam alkitab silahkan baca disini.
MUHAMMAD DALAM PERJANJIAN LAMA !!!
http://www.sarapanpagi.org/62-muhammad- ... vt729.html



ali wrote
Ini adalah riwayat dari akhir keberadaan bangsa Yahudi di Medinah (atau disebut juga : YATHRIB). Suatu kisah mengenai pembantaian etnik, pengkhianatan, dan Genocide yang dilakukan oleh utusan Allah (SAW = Damai Allah besertanya). Sang nabi menjarah komunitas Yahudi yang telah tinggal selama 2000 tahun di Medinah

muslim wrote
Wah ini nggak ngerti masalahnya...

Coba baca lagi kutipan dibawah:
Quote:
Dikutip dari Sejarah Hidup Muhammad, BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM, Muhammad Husain Haekal 

Kota-kota seperti Mekah, Ta'if, Yathrib dan yang sejenis itu seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di celah-celah gunung atau gurun pasir, terpengaruh juga olehsifat-sifat pengembaraan demikian itu. Dalam susunan kabilah serta cabang-cabangnya, perangai hidup, adat-istiadat serta kebenciannya terhadap segala yang membatasi kebebasannya lebih dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara di kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu cara hidup yang menetap, yang tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman. Dalam pembicaraan tentang Mekah dan Yathrib pada pasal berikut ini akan terlihat agak lebih terperinci.

Coba perhatikan kutipan diatas. Masyarakat Yahudi atau masyarakat lainnya jaman dahulu tidaklah menganut pola hidup menetap. Tidak ada hubungannya atau tidak ada masalah seandainya nenek moyangnya menetap 2000 tahun sekalipun kemudian suatu saat salah satu keturunannya meninggalkan tanah asalnya. 


Konteks yang dikutip Haekal tidaklah berbicara tentang komunitas Yahudi melainkan kabilah-kabilah yang memang tidak terbiasa dengan hidup dikota-kota.
Mari kita gunakan sumber yang sama dengan yang digunakan oleh muslim.

Dikutip dari :
Sejarah Hidup Muhammad, BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM, Muhammad Husain Haekal
Anak negeri pada masa itu bahkan sampai sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa dikota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat.

Jadi tidak ada hubungannya dengan orang Yahudi

Dikutip dari :
Sejarah Hidup Muhammad, BAGIAN KESEMBILAN: IKRAR1 'AQABA
Muhammad Husain Haekal

Nasib baik telah jatuh di Yathrib, suatu hal yang tidak terjadi pada kota yang lain. Waktu itu dua kabilah Aus dan Khazraj adalah penyembah berhala di Yathrib. Mereka saling bertetangga dengan orang-orang Yahudi. ..... Sejarah memperlihatkan bahwa orang-orang Masehi di Syam, yang berada di bawah pengaruh Rumawi Timur (Bizantium) sangat membenci orang-orang Yahudi, ...... Mereka menyerbu Yathrib guna memerangi orang-orang Yahudi.

Orang Yahudi di Yathrib (Medinah) adalah orang kota yang sudah menetap, sehingga orang Romawi Timur sesuai penuturan Haekal bisa menyerang orang Yahudi di Yathrib. Orang Yahudi bukanlah seperti kabilah yang pindah-pindah terus seperti kebohongan yang diutarakan oleh muslim diatas.

Bahkan lebih jauh lagi disebutkan ternyata orang Yahudi adalah tuan dikota Madinah (Yathrib), sementara orang Arab Asli justru adalah kuli-kuli. Kedudukan berubah akibat adanya intrik yang dilakcarkan oleh orang Arab terhadap orang Yahudi.

Dikutip dari :
Sejarah Hidup Muhammad, BAGIAN KESEMBILAN: IKRAR1 'AQABA
Muhammad Husain Haekal

Mereka (Romawi Timur) menyerbu Yathrib guna memerangi orang-orang Yahudi. Akan tetapi karena tidak berhasil mereka lalu membujuk dan meminta bantuan Aus dan Khazraj. Tidak sedikit jumlah orang-orang Yahudi itu kemudian yang mereka bunuh. Dengan demikian kedudukan orang-orang Yahudi sebagai yang dipertuan dijatuhkan, dan orang-orang Arab kabilah Aus dan Khazraj yang tadinya terbatas hanya sebagai kuli telah dinaikkan. Sesudah
itu orang-orang Arab itu berusaha lagi akan menghantam orang-orang Yahudi supaya kekuasaan mereka atas kota yang makmur dan subur dengan pertanian dan air itu lebih besar lagi. 
Siasat mereka ini berhasil baik sekali.


Jadi terlihatlah bahwa orang-orang Arab asli memang sudah dari sononya pingin menghantam orang Yahudi. Dan pada akhirnya kebencian, iri hati, dengki orang Arab kepada orang Yahudi dikulminasikan oleh Muhammad dan terus dibawa hingga sekarang.
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Sat Jan 05, 2008 7:01 pm
muslim wrote
Hal ini juga didasari oleh keyakinan Yahudi (di masa lalu), bahwa pemenang perang dapat menduduki kota asal penduduk asli:
ulangan 19:1-2
19:1. "Apabila TUHAN, Allahmu, sudah melenyapkan bangsa-bangsa yang negerinya diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan engkau sudah menduduki daerah mereka dan diam di kota-kota dan rumah-rumah mereka,
19:2 maka engkau harus mengkhususkan tiga kota di dalam negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki. 


Konteksnya berbeda.
Peperangan yang dilakukan oleh orang Israel adalah karena mereka harus melewati beberapa kota-kota yang diduduki pihak lain saat hendak memasuki Kanaan. Peperangan disebabkan oleh salah satunya karena penduduk asli tidak mengijinkan orang Israel melalui wilayah mereka setelah orang Israel meminta ijin
Bilangan 21
21. Kemudian orang Israel mengirim utusan kepada Sihon, raja orang Amori dengan pesan :
22. Ïzinkanlah kami melalui negerimu ........ sampai kami melalui batas daerahmu
23. Tetapi Sihon tidak mengizinkan ..... ia mengumpulkan seluruh laskarnya lalu keluar kepadang gurun menghadapi orang Israel 


Seringkali pula peperangan dilancarkan oleh penduduk asli terhadap orang Israel.
Keluaran 17:8
Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.

Bilangan 21:1
Raja negeri Arad, orang Kanaan yang tinggal di Tanah Negeb, mendengar, bahwa Israel datang dari jalan Atarim, lalu ia berperang melawan Israel, dan diangkutnya beberapa orang tawanan dari pada mereka. 


Jadi konteksnya sangat berbeda dengan perompakan yang dilakukan oleh Muhammad SAW terhadap komunitas Yahudi di Yathrib.
Di Yathrib kenyataannya adalah sbb :
• Yahudi menerima Muhammad SAW dengan baik dan dengan tangan terbuka di Yathrib.
• Yahudi tidak pernah menyerbu komunitas muslim di Yathrib, yang ada menurut sumber Islam hanyalah 
gosip bahwa Yahudi mau menyerbu muslim
• Yahudi tidak pernah menjarah harta benda muslim di Yathrib
• Yahudi tidak pernah memancung kepala 700 orang muslim di Yathrib
• Yahudi tidak pernah menjual muslimah sebagai budak


Toh Muhammad SAW tetap saja merampok Yahudi. Tujuannya seperti yang sudah ditulis oleh sdr ali5196 : TAHTA, HARTA, WANITA TAHTA, HARTA, WANITA
Dengan harta yang diperoleh dari merampok orang Yahudi maka Muhammad SAW dapat membayar pengikut-pengikutnya.

Lagipula kalau muslim berpendapat “pemenang perang dapat menduduki kota asal penduduk asli” kenapa muslim harus sewot dengan keberadaan negara Israel dan senantiasa menuduh mereka tidak berhak karena merebut dari orang Palestina. Toh menurut muslim pemenang perang dapat menduduki kota asal penduduk tanah asli.

Lagipula hak Israel atas tanah Palestina toh dijamin oleh Aulloh SWT
QS 5 :21 :
Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu [409], dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.
 :oops:



muslim wrote
Jika nabi Musa dan tentaranya saja dapat mengusir bangsa Amalek dari Yathrib, mengapa kamu mempermasalahkan bahwa nabi Muhammad SAW dan pasukan muslimin mengusir Yahudi dari Yathrib? ....


Sejak kapan orang Amalek tinggal di Medinah?? Lagi-lagi tipu muslimin demi mengaitkan kepulangan Musa melalui Medinah. Jadi kalau Musa melewati Medinah maka Paran dapat ditafsirkan menjadi Mekah. Hi .. hi ...

Orang Amalek tinggal disekitar Kadesh dan ditemui orang Israel saat mereka mengembara di jazirah Sinai setelah keluar dari Mesir.

Kejadian
14:7 Sesudah itu baliklah mereka dan sampai ke En-Mispat, yakni Kadesh, dan mengalahkan seluruh daerah orang Amalek,


Lokasi Kadesh kira-kira disini.



Berikut diberikan ayat tentang Amalek
Keluaran 17 : 8
Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim


Perjumpaan dengan orang Amalek diawali dengan serbuan orang Amalek terhadap orang Israel. Sangat berbeda dengan orang Yahudi Medinah yang menerima Muhammad SAW dengan baik hati dan tangan terbuka untuk kemudian dirampok harta bendanya dengan melaui serangkaian fitnah oleh Muhammad SAW.

http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2405
BAGAIMANA MUHAMMAD SAW MERAMPOKI YAHUDI

Orang Yahudi Medinah menerima Muhammad SAW, namun hanya berselang berapa bulan saja Muhammad SAW sudah melancarkan aksi perompakan terhadap karavan orang Mekah. Jadi buat apa orang Yahudi harus bersahabat dengan perompak, apalagi menerima sang perompak sebagai nabi??.

Jadi karena Yahudi tidak mau menerima perompak sebagai nabi, terus Muhammad SAW merasa punya hak untuk merampok, menjarah dan mengusir Yahudi????? :twisted:
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby ali5196 » Mon Jan 07, 2008 1:47 am
... double ...
Last edited by ali5196 on Mon Aug 11, 2008 7:44 pm, edited 2 times in total.
Translator

Posts: 15994
Joined: Wed Sep 14, 2005 5:15 pm
Postby vivaldi » Thu Jan 10, 2008 10:49 am
muslim wrote
Kutipan kamu berikut justru menjelaskan bahwa bangsa Yahudi memang berpindah-pindah/nomaden:

ali5196 wrote:
”Terbukti bahwa pada thn 70 AD, bangsa Roma telah membantai kaum Yahudi di Palestina, dan pada thn 132 AD mengusir mereka dari tanah itu, sehingga banyak kaum Yahudi yang melarikan diri untuk mencari suaka di Hejaz, suatu daerah yang bersebelahan dengan tanah Palestina di bagian selatan. Di sana, mereka bermukim ditempat dimana mereka bisa mendapatkan sumber mata air dan tumbuh-tumbuhan,


Muslim rupanya tidak bisa membedakan antara terusir dari tanah air dengan nomaden.
Mengikuti pola pikir muslim berarti orang Palestina juga adalah orang Nomaden karena sebagian dari mereka hidup di Yordania, sebagian hidup di Gaza dan sebagian hidup di Tepi Barat.
Jadi :
Tidak ada masalah seandainya nenek moyang orang Palestina menetap 2000 tahun sekalipun kemudian suatu saat salah satu keturunannya meninggalkan tanah asalnya



muslim wrote
Coba saya ambil kutipan yang tidak berasal dari Maududi:

Quote:
Dikutip dari The History of The Qur'anic Text
- From Revelation to Compilation -
Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya -
Prof. Dr. M.M al A'zami

Tampaknya terdapat pula gerakan kependudukan lain di semenanjung Arab. Perlu dicatat, di sana terdapat para pengungsi bangsa Yahudi, beberapa abad kemudian, memperkenalkan agamanya pada masa pengasingan orang¬orang Babilonia. Mereka kemudian menetap di Yathrib (Madinah sekarang), Khaebar, Taima', dan Fadak pada tahun 587 sebelum masehi dan tahun 70 Masehi. (20)
(20) Jawad 'Ali, al-Mufassal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, i:658, Ibid., i: 614-18 memuat informasi yang amat penting tentang pemukiman Bangsa Yahudi di Yathrib dan Khaibar.


Cukup jelas toh bangsa Yahudi bukan penduduk asli Yathrib.... 


Jadi menurut sumber Islam, setidaknya orang Yahudi mendiami wilayah Yathrib (Madinah sekarang), Khaebar, Taima', dan Fadak pada tahun 587 sebelum masehi.

Sementara Muhammad SAW sendiri baru masuk Yathrib sekitar tahun 600 an masehi. Atau sekitar 1200 tahun sesudah orang Yahudi mendiami Yahtrib.

Jadi siapa yang lebih dahulu mendiami Yathrib???
Yahudi

Sungguh kasihan muslim, mencoba menggunakan referensi justru membuktikan bahwa orang Yahudi jauh lebih dahulu mendiami kota Yathrib. :oops: :oops:
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Mon Jan 14, 2008 11:30 pm
ali5196 wrote:
Alasan lain mengenai mengapa tidak ada sejarah yang otentik mengenai Yahudi Arab adalah karena Muhammad telah menghancurkan mereka semua. Tidak ada orang mati yang bisa menulis sejarah, bukan ?

muslim wrote :
Mana buktinya bahwa nabi SAW menghancurkan dokumen-dokumen penting bangsa Yahudi? Tadi situ yang nuduh-nuduh Maududi ngarang cerita, la apa ente juga tidak ngarang-ngarang cerita? 


Sejarah ditulis oleh mereka yang menang perang. 
Contoh paling gamblang adalah sejarah G30S. Selama 30 tahun kita disodorkan versi G30 S adalah :
1. Gerakan yang dilancarkan PKI
2. Para jenderal disiksa oleh Gerwan dan Gerwani
3. Para jenderal disiksa di wilayah Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma

Namun setelah Suharto tumbang, terlihatlah informasi baru yang muncul yaitu :
1. Suharto sudah diberitahu oleh Brigjen Suparjo tentang rencana penjemputan para jendral namun tidak mengambill tindakah apapun untuk mencegahnya (membiarkan koleganya dihabisis)
2. Tokoh-tokoh utama G30S yaitu Letkol Untung dan Syam Kamaruzaman adalah sahabat lama Suharto
3. Suhartolah yang mendatangkan 2 divisi pasukan dari kodam Brawijaya 530 dan Diponegoro 454 yang digunakan untuk mem”backup” gerakan 30 S
4. Tidak ada gerwan dan gerwani diwilayah Lubang Buaya pada 30 September 1965
5. Wilayah lubang buaya berada diluar kompleks pangkalau AU Halim.

Jadi sejarah tentang pengusiran Yahudi dari Medinah adalah versi muslim yang sudah pasti akan berusaha membenarkan tindakan Muhammad SAW. Kisah sebenarnya sangat mungkin jauh lebih memilukan dibanding apa yang tertulis dalam sira.
Hanya Tuhan yang tahu.



muslim wrote
Perhatikan kutipan berikut yang menunjukkan bahwa bangsa Yahudi bukanlah bangsa asli Arab:

Phillip Hitti, dalam karyanya yang berjudul, Sejarah Bangsa Arab, menyebut,

"Kendati istilah semit muncul belakangan di kalangan masyarakat Eropa, hal tersebut biasanya dialamatkan pada orang-orang Yahudi karena yang terkonsentrasi di Amerika. Sebenarnya lebih tepat ditujukan pada penduduk bangsa Arab yang, lebih dari kelompok manusia lain, telah mendapat ciri bangsa Semit secara fisik, kehidupan, adat istiadat, cara berpikir dan bahasa. Orang-orang Arab masih tetap sama sepanjang pen¬catatan sejarah."(9)

(9) M. Mohar 'A17, Siratan-Nabi,jilid.lA, hlm.30-31, dikutip dari buku P.K. Hitti, History of the Arabs, hlm.8-9.
 


Semit mengacu kepada keturunah Shem, anak nabi Nuh.
Jadi orang Arab maupun orang Israel dapat digolongkan orang Semit.

Orang Arab Asli-pun asalnya dari Yaman yang kemudian migrasi ke utara sekitar abad ke 2 SM. Sementara orang Yahudi sesuai pendapat muslim sudah menetap di Yathrib tahun 587 sebelum masehi

Menurut sumber Islam, orang Arab dibagi menjadi 2 golongan yaitu orang Arab asli yang berasal dari Qathan / Joktan dan orang Arab (yang tidak asli ?) yang hanya mengambil bahasa Arab sebagai bahasa mereka.

Sumber :
Sejarah Islam
Ahmad Al-Usairy
Akbar Media Eka Sarana, 2003, halaman 62

2. Arab Baqiyah
MEreka adalah orang-orang Arab yang hingga saat in masih ada. Mereka adalah bani Qathan dan Bani Adnan. BANU QATHAN ADALAH ORANG ARAB ARIBAH (ORANG ARAB ASLI) dan tempat mereka adalah di SELATAN jazirah Arab. …….. Sedangkan bani Adnan, mereka adalah orang-orang Arab Musta’ribah, yakni orang-orang Arab yang MENGAMBIL bahasa Arab sebagai bahasa mereka. Mereka adalah ORANG-ORANG ARAB BAGIAN UTARA……


Bangsa Arab Asli berasal dari wilayah Yaman, menjelang runtuhnya bendungan Marib mereka mulai menyebar ke utara hingga wilayah Medinah dan Mekah.

Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad
Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury
Robbani Press, Jakarta, 2002, halaman 3

.... dari Yaman, kemudian mereka menyebar di seluruh penjuru jazirah. Mayoritas kepindahan mereka itu menjelang peristiwa sailul Arab (banjir besa akibat runtuhnya bendungan Ma’rib) ......... Tsalabah bin Amru, ..... berjalan menuju Medinah dan tinggal disana. Diantara anak cucu Tsalabah adalah al-Aus dan al-Khazraj ......... Haritsa bin Amru ....... mendiami Mekah

Runtuhnya bendungan Ma’rib terjadi diakhir berkuasanya kerajaan Saba.
Sumber :
Sejarah Islam
Ahmad Al-Usairy
Akbar Media Eka Sarana, 2003, halaman 65

Kerajaan Saba (955 SM – 115 SM)
......... Namun kemudian bendungan ini semakin aus dan akhirnya hancur binasa. Maka terjadilah sebuah bencana air bah yang dahsyat. Akhirnya penduduk setempat banyak yang pindah ke utara. Peristiwa ini sekaligus menjadi tanda kehancuran Saba.....


Jadi kepindahan orang Arab Asli dari wilayah Yaman menuju ke Medinah dan Mekah baru terjadi diakhir kekuasaa kerajaan Saba yaitu sekitar abad ke 2 SM - 1 SM. Jadi sangat mungkin suku Quraish juga baru mendiamii wilayah Mekah sekitar abad-abad tersebut terbukti tidak adanya catatan historis tentang Mekah sebelum abad ke2 M. Sementara menurut sumber muslim sendiri, Yahudi mulai mendiami Medinah sekitar tahun 587 SM. 

Lebih jauh silahkan baca :
KEBOHONGAN SEJARAH MEKAH, KABAH DAN ZAMZAM
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... php?t=2961


Jadi melihat pola migrasi dari Yaman, maka sangat mungkin suku Quraish adalah keturunan Qathan, bukan keturunan Ismail. Karena keturunan Ismail tinggal di Utara, sekalipun muslim mungkin akan berkeras dengan menyatakan bahwa Abraham dari Israel membawa Ismail ke Mekah yang kering kerontang, kemudian keturunan Ismail kembali lagi ke utara menuju wilayah sekitar Yordania.???

:lol: :lol:
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Sat Feb 02, 2008 1:15 pm
ali wrote
INVASI terhdp BANI QAYNUQA:
Ini adalah kelompok Yahudi pertama yg jadi obyek luapan kemarahan Muhamad. ......
Saifur Rahman al-Mubarakpuri dlm Ar-Rahiq Al-Makhtum menulis;
"Mereka (Banu Qaynuqa) memulai mencari kerusuhan, meledek Muslim, melukai mereka yg sering mengunjungi pasar dan bahkan mengintimidasi para wanita. Hal2 ini semakin meruncing keadaan shg nabi (SAW) mengumpulkan mereka, menegur mereka dan menyerukan agar mereka bertindak secara rasional, dewasa dan diperingatkan agar tidak lagi melakukan pelanggaran. Tetapi mereka tetap bersikeras dan tidak mempedulikan peringatannya dan mengatakan: “Jangan besar kepala dgn kekalahan Quraish yg tidak berpengalaman dlm perang. Kalau kau mengajak kami berperang, kau akan sadar bahwa kami ahli perang.” (2)

Apapun yg dikatakan sejumlah Yahudi itu kdp Muhamad itu bukan merupakan pernyataan resmi penduduk. Ini hanyalah alasan yg dicari2 Muhamad utk dapat kesempatan emas utk berperang. Maududi mengatakan, “Ini kata2 jelas sbg deklarasi perang.”

muslim wrote
Ucapan seperti itu pada jaman dahulu kala memang benar-benar suatu deklarasi atau tantangan perang. Dan isyarat seperti ini diketahui atau dikenal oleh tiap orang atau setidaknya dipahami oleh pasukan perang. Sebab Yahudi sendiri akan segera menyambit batu dan menghunus golok terhadap orang yang tidak disukainya:


Lucunya kisah bagaimana Yahudi menghina muslimah munculnya belakangan setelah era Ibn Ishaq yang adalah penulis sira pertama. Kisah ini tidak muncul dalam tulisan Ibn Ishaq yang meninggal sekitar 151 H, sangat mungkin karena peristiwa ini memang tidak pernah terjadi.
Peristiwa Muhammad SAW merampok bani Qaynuqa tentu saja menempatkan Muhammad SAW sebagai aggressor yang menyerang kaum Qainuqa hanya karena tergiur harta benda Yahudi. Untuk itu diperlukan prolog yang harus menempatkan Yahudi sebagai pihak yang salah dan prolog itu adalah "persitiwa" Yahudi menghina muslimah dipasar. Kisahya muncul belakangan oleh Ibn Hisham yang mengedit karya Ibn Ishaq. Ibn Hisham sendiri wafat sekitar 218 H, sementara Ibn Ishaq wafat sekitar 151 H. Jadi ada jeda sekitar 70 tahun antara keduanya.
Sumber :
Sirah Ibnu Ishaq
Buku III, halaman 330 :

Catatan kaki Ibnu Hisham
568. Abdullah bin Jaffar …. Berkata, “… Seorang wanita Arab membawa beberapa barang dan menjualnya dipasar milik bani Qainuqa. Dia duduk disebelah seorang tukang emas, dan kemudian beberapa orang mulai mengganggunya dan menyuruhnya untuk membuka kerudung wajahnya tetapi dia menolak. Si tukang emas menarik bajunya sehingga terbukalah sebagian tubuh dari wanita tersebut dan merekapun menertawakannya. Wanita itu menjerit dengan keras dan seorang muslim mengetahuinya kemudian dia melompat dan menyerang si tukang emas hingga tewas. Ternyata tukang emas tersebut adalah seorang Yahudi, maka kemudian orang Yahudi yang lain datang mengeroyoknya hingga tewas. Maka kemudian keluarga si muslim meminta bantuan para muslim yang lain untuk melawan orang-orang Yahudi. Maka keteganganpun terjadi diantara kedua belah pihak.


Jadi setelah sekitar 70 tahun dari masa Ibn Ishaq atau sekitar 200 tahun setelah "peristiwa bani Qaynuga", barulah muncul kisah bagaimana “Yahudi menghina muslimah” dipasar. Tambahan kisah yang cukup untuk menjustifikasi penyerangan terhadap Yahudi Qainuqa.



muslim wrote
Sebab Yahudi sendiri akan segera menyambit batu dan menghunus golok terhadap orang yang tidak disukainya:
yohanes 8:58-59
8:58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."
8:59 Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.
 


Lagi-lagi konteksnya berbeda.
Alasan orang Yahudi melempari batu kepada Yesus adalah karena Yesus menyatakan diriNya sudah ada sebelum Abraham, atau dengan kata lain memiliki sifat ilahi. Hal yang bisa dianggap menghujat dan menyamakan diri dengan YHWH dan hukumannya adalah rajam
Imamat 24:16
Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati. 


Sementara penyerangan Muhammad SAW terhadap bani Qaynuga adalah untuk merampok harta, benda dan wanita Yahudi. Namun dalam perjalanan catatan “sejarah” ala muslim selanjutnya dikaranglah cerita bahwa Yahudilah yang nantang-nantang jadi sah-sah saja untuk dibasmi.

Menyedihkan, seperti aksi maling teriak maling.



muslim wrote
Sebab Yahudi sendiri akan segera menyambit batu dan menghunus golok terhadap orang yang tidak disukainya:
ulangan 13:12-15
13:12. Apabila di salah satu kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diam di sana, kaudengar orang berkata:
13:13 Ada orang-orang dursila tampil dari tengah-tengahmu, yang telah menyesatkan penduduk kota mereka dengan berkata: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal,
13:14 maka haruslah engkau memeriksa, menyelidiki dan menanyakan baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di tengah-tengahmu,
13:15 maka bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya.
 


Lagi-lagi konteksnya berbeda

Ayat Ulangan 13 adalah peringatan dan hukuman bagi dalam kasus ajakan untuk menyembah ilah yang lain.
Ulangan 13 : 1 - 2
Apabila ditengah-tengahmu muncul seorang nabi ... dan ia membujuk : “Mari kita mengikuti allah lain ....


Perintah penghukuman tetap harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian yaitu haruslah engkau memeriksa, menyelidiki dan menanyakan baik-baik

Lagipula barang jarahan yang terkumpul haruslah dimusnahkan, bukannya untuk dinikmati seperti dalam kasusnya Muhammad

Ulangan 13:16
Seluruh jarahan harus kaukumpulkan di tengah-tengah lapangan dan harus kaubakar habis kota dengan seluruh jarahan itu sebagai korban bakaran 


Jadi upaya muslim menyamakan ayat diatas dengan perompakan dan penjarahan yang dilakukan Muhammad SAW terhadap Yahudi Medinah adalah tidak tepat.
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Wed Feb 06, 2008 11:38 pm
ali wrote
Tidakkah ada yg pernah bertanya, MENGAPA ? Mengapa insiden sepele dijadikan alasan bagi seseorang yg mengaku utusan Tuhan utk MENGUSIR SELURUH PENDUDUK yg sudah bermukim disama secara turun temurun dan menyita seluruh harta benda mereka ?

muslim wrote
Insiden ini mungkin sepele bagi orang sekarang. Tapi bagi orang dahulu itu bukan insiden biasa dan bukan masalah fanatik atau tidak fanatik. Orang-orang Yahudi sebenarnya telah memaklumatkan isyarat perang!!! (meski tak diucapkan). Pengertian seperti ini didapat seperti tertera dalam ayat ulangan 13:12-15 diatas. Bukankah mereka sudah menandatangani perjanjian Madinah sebelumnya?


Perjanjian Medinah justru menimbulkan keganjilan yang luar biasa.

1. Pengakuan bahwa Muhammad SAW adalah sang nabi
Sudah jelas bahwa kaum Yahudi tidak pernah mengakui Muhammad SAW sebagai nabi bagi mereka. Penolakan itu jelas terekam dalam Al-Qur’an.
QS 2 : 146 :
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri [97]. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

QS 6 : 20 :
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yangmerugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).

QS 6 : 21 :
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.


Jadi bagaimana mungkin pihak Yahudi akan menerima dokumen yang mengakui Muhammad SAW sebagai nabi.???
Kalau Yahudi menerima Muhammad sebagai nabi seperti klaim dokumen perjanjian Medinah diatas, itu hanya membuktikan bahwa Al-Qurán salah saat menulis bahwa Yahudi menolak Muhammad :lol: :lol:

2. Orang-orang Yahudi akan membantu biaya perang
Apa untungnya bagi kaum Yahudi untuk membantu biaya perang yang akan dilancarkan oleh Muhammad SAW?. Peperangan yang dilancarkan oleh Muhammad SAW adalah peperangan dengan tujuan perampokan. Kaum Yahudi Medinah pada waktu itu hidup sebagai pedagang-pedangan yang tidak ada urusannya dengan perampokan.
Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad – Sira Nabawiyah
Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury
Robbani Press, Jakarta, 2002, halaman 244

Mereka mahir dalam hal mencari penghasilan. Mereka menguasai perdagangan biji-bijian, korma, khomer dan pakaian. Mereka mengimpor pakaian, biji-bijian dan khomer, dan mengekspor korma. Selain itu mereka memiliki pekerjaan-pekerjaan yang memiliki para pekerja.

Orang-orang Yahudi Madinah adalah pedagang. Dimana-mana-mana yang namanya pedagang tidak menyukai adanya peperangan karena itu berarti hilangnya pemasukan atau dengan kata lain perang menimbulkan kerugian perdagangan.
Jadi buat apa kaum Yahudi menyetujui untuk membiayai operasi perampokannya Muhammad SAW.??????

3. Orang-orang Yahudi akan ikut berperang
Apa untungnya bagi kaum Yahudi untuk ikut berperang yang sebetulnya tidak lebih dari aksi perampokan.
Lucunya Mubarakfury sendiri menuliskan bahwa kaum Yahudi tidak mahir berperang.
Sumber :
Ibid, halaman 417
Telah kami kemukakan bahwa orang-orang Yahudi itu sangat memusuhi Islam, namun mereka bukanlah orang-orang yang ahli perang ……

4. Harus saling membantu jika ada serangan terhadap Yatsrib
Sungguh lucu, serangan terhadap Yatsrib yang dilakukan oleh Quraish Mekah adalah karena mereka sudah terlalu kesal dengan ulah Muhammad SAW yang berulang-ulang merampoki caravan Quraish. Perang ini dikenal sebagai perang Uhud yang terjadi sekitar bulan Maret 625 M.
Sumber :
Mubarakfury, halaman 343
Kemarahan penduduk Makkah meluap terhadap kaum muslimin karena kekalahan mereka dalam perang Badr dan tewasnya para pemimpin mereka dalam perang tersebut. Sehingga mereka bertekad untuk melakukan tindak pembalasan.

Muhammad SAW sendirilah yang mencari masalah dengan merampoki kaum Quraish. Saat Quraish menuntut balas yang adalah hak mereka, buat apa kaum Yahudi harus membantu Muhammad SAW yang jelas-jelas adalah perampok.

5. Penyelesaian dijalan Allah dan Muhammad SAW
Masyarakat Yahudi Medinah sekalipun bukan satu kesatuan namun saat itu mereka telah memiliki aliansi dengan suku Khazraj dan Aus.
Sumber :
Mubarakfury, halaman 245
Di Yatsrib terdapat tiga kabilah Yahudi yang terkenal, yaitu :
1. Bani Qainuqa, mereka adalah sekutu Khazraj. Pemukiman mereka di dalam kota Madinah
2. Bani Nadhir
3. Bani Quraizah.
Bani Nadhir dan bani Quraizah adalah sekutu kabilah Aus dan pemukiman mereka berada disekitar Madinah.


Jadi buat apa mereka harus menggantungkan nasibnya ditangan keputusan Muhammad SAW yang waktu itu tidak lebih adalah pendatang baru kedalam komunitas Madinah.
Lagipula sungguh aneh, bagaimana mungkin Muhammad SAW yang adalah salah satu penandatangan”perjanjian” bisa dijadikan pengadil jika ada perselisihan yang melibatkan Muhammad SAW?????

Dengan pemikiran kritis dapat dilihat bahwa klausul no. 2, 3 dan 4 diatas sangat mungkin adalah rekayasa belakangan. Klausul-klausul yang dikemudian hari akan digunakan sebagai dasar tuduhan bahwa kaum Yahudi telah mengkhianati perjanjian karena tidak mau membantu Muhammad SAW dalam peperangannya. Dan karena Yahudi telah “menghianati” perjanjian, atau dengan kata lain telah timbul “perbedaan pendapat”, maka jawaban harus dicari dari Allah dan Muhammad SAW. Dan jawaban atas “perbedaan pendapat” yang diberikan oleh Muhammad SAW adalah merampas harta benda Yahudi Madinah dan mengusir mereka dari jazirah Arab.
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Thu Feb 07, 2008 6:37 pm
ali wrote
Bahkan Muslim dgn tenang tidak menganggap aneh perintah pembunuhan Muhamad terhdp Abu Afak, lelaki jompo berusia 120 tahun

muslim wrote
Unfortunately, references of the Sîrah do not provide such information. Actually, we are told that this story has no isnâd at all; neither Ibn .... "...of no basis", indicating that it has reached the lowest degree of criticism regarding its isnâd. ....... We are therefore obliged to reject the story of the killing of Abu 'Afak by Salîm Ibn 'Umaîr at the Prophet’s command.


Kebiasaan muslim adalah saat kepada mereka dihadapkan kisah-kisah yang menggambarkan keburukan Muhammad maka reaksi mereka adalah mempertanyakan isnad kisah diatas.
Kita lihat bagaimana muslim akan menerapkan kriteria isnad terhadap kisah berikut yang menguntungkan Muhammad SAW, cerita dikutip dari :
Sirah Ibnu Ishaq – Kisah Sejarah Nabi Tertua, jilid 1
Muhammad bin Yassar bin Ishaq
Muhammadiyah University Press, Surakarta, 2002

Halaman 116 - 118
Kisah Tentang Bahira
Abu Thalib sedang mempersiapkan perjalanan dagang ke Syria ..... Disana (Busyra) hidup seorang rahib yang bernama Bahira, dia banyak belajar tentang sejarah Kristen ...... Kemudian dia (Bahira) melihat punggung Rasulullah dan menemukan tanda kenabian ... Rasulullah terus tumbuh berkembang ... tumbuh menjadi pribadi yang paling baik di antara kaumnya ..


Kisah diatas juga tidak ada isnadnya, namun kisah ini toh senantiasa masuk dalam buku-buku biografi Muhammad. Padahal jika muslim konsisten dan kritis, cerita tanpa isnad ini menurut kriteria muslim sendiri :
has reached the lowest degree of criticism regarding its isnâd. ...... In brief, we have no commitment to accept such a baseless story
telah mencapai posisi terendah dalam kritik tentang isnadnya .... secara sederhana, kami tidak memiliki komitmen untuk menerima cerita tanda dasar seperti ini
 :oops:

Atau kisah yang berikut :
Ibid
Halaman 131

Berita dari Ahli Nujum, Pendeta Yahudi dan Pendeta Nasrani dari tanah Arab tentang akan lahirnya Muhammad
Para pendeta Yahudi, pendeta nasrani dan juga para ahli nujum telah membicarakan tentang Rasulullah sebelum datang masa kenabiannya. Menurut para pendeta itu, dalam kitab-kitab mereka telah dijelaskan tentang ciri-ciri sang Rasulullah dan juga penjelasan tentang datangnya masa kenabian


Kisah diatas juga tidak ada isnadnya, namun kisah ini toh senantiasa masuk dalam buku-buku biografi Muhammad. Padahal jika muslim konsisten dan kritis, cerita tanpa isnad ini menurut kriteria muslim sendiri :
has reached the lowest degree of criticism regarding its isnâd. ...... In brief, we have no commitment to accept such a baseless story
telah mencapai posisi terendah dalam kritik tentang isnadnya .... secara sederhana, kami tidak memiliki komitmen untuk menerima cerita tanda dasar seperti ini
 :oops:

Jadi kalau muslim konsisten menolak kisah Abu Afak karena tidak ada isnadnya, maka muslim juga harus menolak kisah tentang Bahira dan ramalan tentang Muhammad SAW dan menyatakan kisah itu tidak ada dasarnya sama sekali karena tidak ada isnadnya.

Lucunya dalam buku Haekal yang dijadikan rujukan oleh tim muslim dua kisah ini (pembunuhan terhadap Abu Afak dan Asma) muncul tanpa adanya keberatan terhadap isnadnya.
Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad
BAGIAN KEEMPATBELAS: ANTARA BADR DAN UHUD
Muhammad Husain Haekal

Suatu malam ketika angin sedang bertiup kencang Salim mendatangi Abu 'Afak. Ia sedang tidur di beranda rumahnya. Oleh Salim ditancapkannya pedangnya ke arah hatinya hingga menembus sampai ke pelaminan. Demikian juga 'Ashma, bt. Marwan (dari Banu Umayya b. Zaid). Wanita ini selalu memaki Islam, menyakiti hati dan mengerahkan orang supaya melawannya. Hal ini dilakukannya terus sampai pada waktu sesudah selesainya perang Badr. Pada suatu malam buta ia didatangi oleh 'Umair b. 'Auf yang masuk sampai ke dalam rumahnya. Ia dikelilingi oleh anak-anaknya yang sedang tidur, ada pula yang sedang disusui. Sebenarnya penglihatan 'Umair lemah sekali. Ia meraba-raba dengan tangannya dan terpegang olehnya bayi yang sedang disusui itu. Dihalaunya bayi itu dari sisi ibunya, kemudian dipusatkannya pedangnya ke dada wanita itu sampai menembus punggungnya.

Hi .. hi ... hi ....

Jadi ada muslim yang menolak mentah-mentah, namun ada muslim yang menerima bulat-bulat kisah diatas. Kok kaya kisah umur Aisha saat digenjoti oleh Muhammad SAW, atau tentang kontroversi Pakta Umar yang tujuannya untuk memalukan orang non muslim.
http://www.indonesia.faithfreedom.org/f ... hp?t=16627

Yah itulah muslim, pendapatnya bisa on, bisa off, tergantung kebutuhan dan sikon. Yang menguntungkan Muhammad diterima bulat-bulat. Yang merugikan - sekalipun sudah selama 1300 tahun diterima kebenarannya - saat bisa dijadikan amunisi oleh non muslim, maka buru-burulah kemudian kisah tsb ditolak keabsahannya.

Kenapa Ibn Ishaq tidak menuliskan isnad?
Penjelasan yang paling masuk akan adalah karena kisah pembunuhan Abu Afak dan Asma adalah kisah yang diterima secara luas oleh komunitas muslim pada masa Ibn Ishaq sehingga dia tidak merasa perlu menuliskan isnadnya.

:wink:
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby moslem » Wed Mar 12, 2008 1:01 pm
Tanggapan thd respon yg ditulis oleh vivaldi di: (update 8 Maret 2008 )

http://muslim-christianity.webs.com/res ... _ali5196_t entang_pembantaian_yahudi.htm (
http://muslim-christianity.webs.com/respon_untuk_vivaldi_dan_ali5196_ tentang_pembantaian_yahudi.htm)

atau mirrornya di:

http://muslim-christianity.faithweb.com ... _tentang_p embantaian_yahudi.htm (
http://muslim-christianity.faithweb.com/respon_untuk_vivaldi_dan_ali5196_tentang_ pembantaian_yahudi.htm)
Last edited by moslem on Tue Apr 08, 2008 6:49 pm, edited 1 time in total.
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 441
Joined: Fri Oct 13, 2006 3:13 pm
Location: antah berantah, small village
Postby MONTIR KEPALA » Tue Apr 01, 2008 1:48 pm
vivaldi wrote:Jadi melihat pola migrasi dari Yaman, maka sangat mungkin suku Quraish adalah keturunan Qathan, bukan keturunan Ismail. Karena keturunan Ismail tinggal di Utara, sekalipun muslim mungkin akan berkeras dengan menyatakan bahwa Abraham dari Israel membawa Ismail ke Mekah yang kering kerontang, kemudian keturunan Ismail kembali lagi ke utara menuju wilayah sekitar Yordania.???

Quraisy itu satu2 keturunan ismail yg tdk hijrah dari mekka setelah mekka dikuasai oleh pengungsi Arab dari selatan. yg kemudian keluarga Quraisy berhasil merebut kembali mekka.

u get that ?
Kecanduan
Kecanduan

Posts: 4401
Joined: Wed Jul 26, 2006 10:16 am
Postby vivaldi » Sat Apr 19, 2008 8:19 am
MONTIR KEPALA wrote:
vivaldi wrote:Jadi melihat pola migrasi dari Yaman, maka sangat mungkin suku Quraish adalah keturunan Qathan, bukan keturunan Ismail. Karena keturunan Ismail tinggal di Utara, sekalipun muslim mungkin akan berkeras dengan menyatakan bahwa Abraham dari Israel membawa Ismail ke Mekah yang kering kerontang, kemudian keturunan Ismail kembali lagi ke utara menuju wilayah sekitar Yordania.???

Quraisy itu satu2 keturunan ismail yg tdk hijrah dari mekka setelah mekka dikuasai oleh pengungsi Arab dari selatan. yg kemudian keluarga Quraisy berhasil merebut kembali mekka.

u get that ?


NO!!
Mulai Suka
Mulai Suka

Posts: 176
Joined: Sat Sep 17, 2005 12:02 pm
Location: Jakarta
Postby vivaldi » Sat Apr 19, 2008 8:37 am
ali wrote


Hampir semua ayat dlm Sûrah Al-Hashr (Surah 59 - Perkumpulan) menggambarkan pembuangan Yahudi dan cara2 memalukan para Munafik. Ayat2 ini menunjukkan perintah2 yg relevan ttg harta jarahan. Dlm Surah ini, Allâh yg Maha Kuasa, mmeuji para Emigran dan Pembantu. Surah ini juga menunjukkan sahnya menebang dan membakar pohon2 dan tanah2 milik musuh bagi tujuan militer. Tindakan ini TIDAK DAPAT DIANGGAP SBG FENOMENA KORUPSI SELAMA MEREKA BERADA DI JALAN ALLAH." 


muslim wrote


Secara hukum Islam telah mengaturnya:
Malik Al Muwatta Book 21, Number 21.3.10:
..........
"I advise you ten things: Do not kill women or children or an aged, infirm person. Do not cut down fruit-bearing trees. Do not destroy an inhabited place. Do not slaughter sheep or camels except for food. Do not burn bees and do not scatter them. Do not steal from the booty, and do not be cowardly."

Mari bandingkan dengan ajaran God dalam Bibel:
ulangan 20:19-20
20:19 Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya; ......."



Ironisnya larangan menebang pohon yang menghasilkan buah justru dilanggar sendiri oleh Muhammad SAW
Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad
BAGIAN KEENAMBELAS: PENGARUH UHUD
Muhammad Husain Haekal

Kemudian Muhammad memerintahkan sahabat-sahabatnya menebangi pohon-pohon kurma kepunyaan orangorang Yahudi itu, lalu membakarnya. Dengan demikian orang-orang Yahudi itu tidak akan terlalu terikat pada harta-bendanya lagi dan tidak akan terlalu bersemangat mau berperang

Dengan tidak sabar orang-orang Yahudi itu berteriak:

"Muhammad! Tuan melarang orang berbuat kerusakan. Tuan cela
orang yang berbuat begitu. Tetapi kenapa pohon-pohon kurma
ditebangi dan dibakar?!"


Setelah ketahuan melanggar perintahnya sendiri, dapat dengan mudah ditebak, muncullah ayat pesanan yang menyelamatkan Muhammad SAW :
"Mana pun pohon kurma yang kamu tebang atau kamu biarkan berdiri dengan batangnya, adalah dengan ijin Allah juga, dan
karena Ia hendak mencemoohkan mereka yang melanggar hukum
itu."(Qur'an, 59: 5)


Memalukan yah, ayat kok ketengan sesuai pesanan.

Orang-orang Yahudi jelas mengetahui bahwa tindakan Muhammad SAW melanggar Taurat (dan perintahnya sendiri). J

Jadi bagaimana mungkin orang-orang Yahudi akan bisa percaya Muhammad SAW adalah nabi bagi mereka????.

:oops:

Sunday, December 30, 2012

Contoh dan teladanilah sikap Rasulullah yaitu MELARANG SUAMI UNTUK POLIGAMI

Reaksi Nabi saw Ketika Ali bin Abi Thalib akan Mem-Poligami Fatimah

Ini dia Sunnah Nabi Yang (ANEHNYA) Jarang Diikuti Oleh Ummatnya. Syahdan, Suatu ketika Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah anak kesayangan Nabi Muhammad saw, berniat menikah lagi (Poligami). Adalah hal yang jamak jika seorang laki-laki beristri lebih dari satu pada jaman itu. Bahkan nabi Muhammad dan beberapa sahabat lainnya memiliki lebih dari satu istri. Keinginan Ali bin Abi Thalib untuk memiliki lebih dari satu istri selain Fatimah tentulah hal yang wajar.

Jadi Ali bin Abi Thalib pun berkeinginan untuk meminang seorang wanita lagi dan yang dipilihnya adalah putri Abu Jahal. Tidak jelas benar mengapa Ali bin Abi Thalib memilih putri Abu Jahal. Tapi perkiraan saya yang dhoif ini putri Abu Jahal tentulah memiliki daya tarik yang mampu membuat Ali bin Abi Thalib bertekad bulat madep mantep untuk kawin lagi. Daripada cuma jadi bunga khayali setiap hari kan lebih baik dinikahi sekalian.

Tapi Ali bin abi Thalib adalah seorang laki-laki dan sekaligus suami yang baik. Beliau tidak berniat untuk main slintutan di belakang tanpa sepengetahuan istri. Beliau adalah seorang jentelmen tulen dan tidak seperti kebanyakan kita yang lebih suka main di belakang tanpa sepengetahuan istri. Tidak…! Ali bin Abi Thalib tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji. Jika ia ingin kawin lagi maka ia akan meminta ijin dari istrinya lebih dahulu. Itulah sifat seorang laki-laki jantan yang perduli pada perasaan istrinya. (Sekali lagi, tidak seperti kelakuan suami-suami kebanyakan seperti sekarang yang tetap saja beristri lagi tanpa meminta persetujuan istri. Tidak perduli bagaimana perasaan istrinya.).

Ali kemudian meminta izin kepada istrinya, Fatimah, untuk menikah lagi. Ia sampaikan keinginannya itu kepada Fatimah dan meminta agar Fatimah memberi ijin ‘permit to marry another woman”. Alangkah indahnya perkawinan jika mengandung madu yang manis (instead of racun, tentu saja). Ali tentu berharap agar Fatimah memberi ijin. Lha wong para suami pada jaman itu sudah jamak punya istri lagi.

Bagaimana respon Fatimah setelah mendengar Ali, suaminya tercinta ini, mau menikah lagi? Apakah ia akan bersikap seperti KEBANYAKAN wanita muslimah yang mandah saja ketika mau dimadu oleh suaminya setelah diiming-imingi sorga kelak…?! Atau bersikap mellow dan nangis mbrebes mili tapi tidak berani menolak…?! Bukankah katanya ‘Poligami itu Sunnah’ dan bahkan ada yang bilang jika seorang istri memberi ijin suaminya untuk menikah lagi maka syurgalah tempatnya kelak (pakai ‘syin’ supaya lebih mantap). Siapakah wanita muslimah yang tidak ingin mendapatkan syurga secara gratis…tis…! hanya dengan memberi ijin kepada suaminya untuk menikah lagi…?! (apalagi kalau suaminya itu sudah tua, jelek, sering marah-marah tanpa juntrungan, pelit pula…! Culno wae wis…!). Bukankah sudah umum pada saat itu para suami memiliki lebih dari satu istri. Bahkan Nabi Muhammad, ayahnya tercinta, juga memiliki istri lebih dari satu…?! Bukankah apa yang dilakukan oleh Nabi itu sunnah yang patut dilaksanakan…?! Bukankah jika Fatimah menolak dimadu maka itu sama artinya ia, sang putri tercinta, menolak sunnah ayahnya yang nabi tersebut…?!

Tapi Fatimah memang BUKAN WANITA KEBANYAKAN. Ia adalah seorang putri Sang Nabi yang punya perasaan dan punya pendirian sendiri. Ia tidak gentar diintimidasi tidak masuk syurga karena tidak mengijinkan suaminya kawin lagi. Begitu kira-kira. Bukannya ia mempersilakan suaminya, Ali bin Abi Thalib, untuk melakukan ‘sunnah Nabi’ malahan setelah mendengar keinginan suaminya itu Fatimah marah. Tak perlu saya jelaskan bagaimana marahnya seorang istri yang hendak dimadu. Anda bisa membuat eksperimen sendiri dengan istri Anda jika berani. Resiko tanggung sendiri dan jangan nyakot saya kalau ada apa-apa.

Bukan hanya itu. Fatimah juga melaporkan hal ini kepada ayahandanya, Nabi Muhammad. Ia sampaikan kekecewaaan dan rasa sakit hatinya mendengar Ali sang suami tercinta mau kawin lagi. Mungkin Fatimah juga sempat mencucurkan air mata ketika menyampaikan hal ini. Ini mungkin lho…!

Mari kita sejenak menarik napas dulu sebentar dan berhenti di sini.

Mari kita bertanya dlam hati kita masing-masing apa kira-kira respon nabi Muhammad mendengar hal ini.

Apakah beliau akan menenangkan hati anaknya dan memintanya bersabar (dan menjanjikan surga kelak apabila bersedia mengijinkan suaminya kawin lagi) …?!

Apakah beliau akan meminta Fatimah untuk menerima kenyataan bahwa memang begitulah budaya yang ada pada saat itu…?! Lha wong ayahnya sendiri punya beberapa istri…!

Apakah nabi Muhammad akan berkata bahwa beliau sudah tidak bisa turut campur lagi dengan urusan rumah tangga anaknya karena mereka sudah di luar kewajiban orang tua lagi…?! Bersabarlah dan terimalah kenyataan ini dengan hati lapang, ikhlas, dan tawakkal…?! (dan surga jannatunnaim sebagai balasannya kelak…?!)

Nehi….! Sekali lagi nehi…! Wrong…!

Seketika nabi Muhammad marah besar mendengar hal ini. Nabi Muhammad berkata kepada putrinya, “Engkau adalah putriku. Siapa yang membuatmu marah, berarti membuatku marah juga.” (Dan siapakah di antara kita umat Islam yang ingin membuat Rasulullah marah?)

Bahkan para sahabat bersaksi bahwa mereka tidak pernah melihat Nabi Muhammad semarah itu. Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA.

Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

“Inni la adzan, tsumma la adzan, tsumma la adzan, illa an ahabba ibn Abi Thalib an yuthalliq ibnati, Fathimah bidh’atun minni, yuribuni ma arabaha wayu’dzini ma adzaha”. No way….! Sampai tiga kali ditegaskan oleh Rasulullah penolakannya tersebut. Nehi…nehi….nehi…!

Sisanya pertanyaan.

  • Menurut Anda apakah sikap Rasulullah yang membela sikap anaknya yang menolak untuk dimadu itu keterlaluan atau berlebihan…?!
  • Apakah menurut Anda sikapnya itu termasuk dalam perbuatan ‘intervensi’ ke dalam rumah tangga orang lain…?!
  • Apakah menurut Anda sikap Rasulullah yang tidak mengijinkan anaknya dimadu tidak konsisten dengan kenyataan bahwa beliau sendiri berpoligami (dan poligami adalah fakta sosial yang umum pada waktu itu)…?!
  • Aha…! Saya tahu bahwa Anda sebagai seorang muslim yang taat dan cinta kepada Rasulullah tentu tidak akan menjawab ‘ya’.

Sikap Rasulullah MEMANG adalah sikap yang sangat manusiawi dari seorang ayah yang sangat mencintai anaknya. Seorang ayah yang mecintai anak-anaknya tentu tidak akan berdiam diri jika anaknya akan diperlakukan secara sewenang-wenang apalagi sampai terjadi KDRT di rumah tangganya.

Perasaan Nabi tidak jauh berbeda dengan perasaan orang tua sekarang. Ketika anak kita hendak di poligami, maka perasaan sakit hati dan kecewa tentulah kita rasakan. Jangankan lagi sampai dimadu, sedangkan jika terjadi percekcokan dan pertengkaran dalam rumah tangga anaknya, orang tua pun sungguh merasakan sakit yang dirasakan anaknya. Itu tentu keadaan yang normal. Tentu selalu ada exception dalam berbagai hal di dunia ini.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membela Fatimah, anaknya, adalah sebuah CONTOH dan TELADAN yang perlu kita ikuti sebagai umat Islam. Ketika suami anak-anak kita hendak menyakiti hati anak-anak perempuan kita maka kita sebagai umat Islam yang selalu berupaya untuk mencontoh dan menauladani sikap Rasulullah hendaknya juga melakukan hal yang sama, yaitu MELARANG SI SUAMI UNTUK KAWIN LAGI. Katakan dengan tegas kepada suami anak kita bahwa “Sungguh tidak aku izinkan, kecuali kamu menceraikan putriku, kupersilakan mengawini gadis lain. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.”

Mari kita melaksanakan sunnah Rasul ini.
Balikpapan, 14 Maret 2012. Oleh Satria Dharma.
Tulisan diatas di Copy dari Yahoo Groups.

Tambahan dari Mas Ahmad:
Berdasarkan tulisan diatas sepertinya penulis Satria Dharma mengajak kita berkesimpulan:
- Nabi saw marah karena fatimah marah, kecewa, sakit hati karena suaminya hendak nikah lagi.
- kalo anak nabipun tidak mau dipoligami (tapi bukan berarti melarang poligami).
- Nabi saw tidak menyalahkan wanita yang tidak setuju poligami.

Mungkin juga marah nabi bertambah ketika tahu yg bakal jadi madunya Fatimah adalah putri abu jahal. Hal ini bisa disimpulkan dari hadits berikut:
“Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Fathimah adalah dari diriku dan aku kuatir agama akan terganggu”. Kemudian beliau menyebutkan perkawinan Bani Abdi Syams dan beliau menyanjung pergaulannya, “Dia bicara denganku dan mempercayaiku, dia berjanji padaku dan dia penuhi. Dan sungguh aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak pula menghalalkan yang haram, akan tetapi, demi Alloh, JANGAN SEKALI-KALI BERSATU PUTRI UTUSAN ALLOH DENGAN PUTRI MUSUH ALLOH” (HR. Bukhari)”

Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Nabi lebih lama bermonogami daripada beristeri lebih dari satu wanita. Saat itu monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap beristeri lebih dari satu wanita adalah lumrah. Itu pun poligaminya dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau.

Menurut kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), ditemukan bukti bahwa kehidupan rumah tangga Nabi SAW dengan beristeri lebih dari satu wanita adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakar RA.

Dalam kitab Ibn al-Atsir, sikap beristeri lebih dari satu wanita yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (merujuk pada Jami’ al-Ushul, juz XII, 108-179). Mekanisme beristeri lebih dari satu wanita yang diterapkan Nabi adalah strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, Nabi membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam beristeri lebih dari satu wanita.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Ada hal yang perlu dicermati juga dari tulisannya, Ali ketika akan poligami ternyata minta persetujuan dulu kepada istrinya. Kalo sahabat Nabi yang sekaligus mantunya bersikap demikian, pantaskah orang2 jaman sekarang yg kualitas keimanan dan keislamannya jauh dibawah Ali melakukan poligami secara diam-diam?

http://masahmad.com/reaksi-nabi-saw-ketika-ali-bin-abi-thalib-akan-mem-poligami-fatimah/

Saturday, December 29, 2012

Poligami adalah SENJATA PENAKLUK

Rahim perempuan adalah salah satu inkubator utama islam. Bagi semua binatang dan insect, tingkat reproduksi adalah komponen utama dalam penentuan sukses spesies, yang menentukan tingkat dominan atas kelompok lain. 

Islamis memperbudak dan mendominasi perempuan, memakai mereka utk menyiarkan islam secara demografis. Dengan fatwa suci dan norma-norma budaya, para muslim secara teliti mengontrol perempuan muslim dan tingkat reproduksi mereka. 

Poligami dan sikap memperbudak para muslimah, membuat mereka hanya menjadi pabrik anak saja, utk menghasilkan material mentah yang diperlukan islam demi tujuan-tujuan dan penyebarannya. Pria muslim juga dengan suka rela, jika tidak bisa disebut antusias, merekrut perempuan kafir agar menambah koleksi bahan mentah mereka. Tentu saja, memikat para perempuan dengan ketergantungan ataupun dengan kriminalitas (perkosaan) dianggap bagian dari jihad islam. 

Sukses lewat umpan demikian juga memperkuat islam sekaligus memperlemah para musuhnya. Utk menjamin suksesnya penundukan rahim perempuan, islam mendorong penyunatan perempuan, pemukulan istri, mengecilkan keinginan utk berpendidikan dan bekerja bagi perempuan, mencegah agen-agen gerakan perempuan dan menyarankan gadis-gadis muda utk dinikahkan. 

Gadis muda yang masih mentah secara emosi dan psikologi lebih mudah dimanipulasi dan dikontrol, utk menjadi budak virtual bagi suami mereka dan islam. Islam sangat mengenal dengan baik dimana kekuatan mereka sesungguhnya bergantung, itu sebabnya kenapa perempuan muslim yang menikah atau berhubungan dengan kafir berhak dibunuh demi kehormatan keluarga atau dihukum mati dipengadilan sharia. 

Hubungan pria muslim dengan perempuan kafir didorong dan dipuji sebagai satu bentuk lain dari jihad, tapi hubungan perempuan muslim dengan pria kafir dicegah habis-habisan. Anda hitung saja sendiri. Sebuah dokumen penting yang harus dipelajari oleh para perempuan kafir utk mencegah terbujuknya mereka ke dalam islam adalah “Confessions of a Former Islamist” (Pengakuan Para Mantan muslim) oleh Ahmed Shalakamy.



Muslim Burns a Young Copt Alive and Murders His Father Because of a Rumor!!!


Kejadian ini bermula di desa kecil, "Dmas" Meet-Ghamr, setelah beredarnya desas desus ttg hubungan asmara pemuda Koptik 25 thn, Shihata Sabri, dgn adik sang Muslim yg bernama Yasser Ahmed Qasim.

Yasser dgn tenang menghampiri Shihata, sambil membawa jerigen bensin, menyiram SHihata dgn bensin dan menyulutnya dgn api, sementara para saksi mata menontont kejadian mengerikan ini. SHihata malang melemparkan diri kesebuah sungai didekatnya utk mematikan api yg melahap seluruh tubuhnya. Malang baginya, seluruh tubuhnya terbakar dan ia tewas.

Setelah insiden ini, penduduk desa tsb menyerang ayah korban yg berusia 60 thn, dan menusuknya dgn pisau dan celurit;
akibatnya iaPUN mati.

Yasser Ahmed dkk juga memukuli adik lelaki korban, Sabri Shehata---22thn--- yg mendapat luka2 serius di kepala.

Pasukan keamanan---yg seperti biasanya datang terlambat--- mengamankan desa Dmas, yg memiliki penduduk sebesar 60.000 orang, termasuk 1000 orang Koptik, dan menjaga rumah para korban.

Para pelaku tertangkap, termasuk Yasser Ahmed Kassem dan konco2nya.

Insiden ini dianggap sbg sebuah honour killing karena Shihata bercanda dgn Yasser ttg 'hubungan mesra'nya dgn adiknya.

Jaksa dan pihak keamanan masih menyidiki peristiwa ini tapi media dilarang melaporkannya
Hmmm ... kenapa yahhhh ?? 

http://ucministries.wordpress.com/2010/09/10/egypt-muslims-burn-christian-man-alive-stab-his-father-to-death/


Tragedi Aisya: Produk Penyiksaan

Oleh Khalil Fariel
21 September, 2009

Bukan rahasia lagi bahwa penganiayaan seksual thd anak kecil berakibat fatal bagi pihak korban, baik muslim maupun non muslim. Bukan lagi rahasia pula bahwa Quran secara jelas membolehkan praktek pedofilia. Utk menyadarkan Muslim akan efek bahaya dari penganiayaan anak jenis ini kita perlu bantuan sumber2 islam asli. Itu sebabnya Aisya, istri ketiga dan istri bocah paling favorit dari Muhammad, jadi model sempurna utk mengungkapkan praktek pedofilia dan akibat2nya bagi sang korban.




Dalam Islam, Aisya binti Abu Bakar dianggap sebagai ‘ummul mukminin/ibu orang2 beriman’. Sumber2 islam membangga-banggakan Aisya sebagai ‘ulama’ besar atau seorang tokoh intelek besar yang telah mengkisahkan sejumlah besar hadis. Ada kebenaran dalam klaim ini; sekitar 2.000 hadis dikisahkan oleh Aisya, Aisya menempati nomor dua setelah Abu Huraira dalam mengisahkan Hadis. Tapi, pengisahan ini tidaklah membutuhkan pendidikan tinggi, tidak perlu menjadi sarjana atau ‘ulama’, cukup ingatan tajam, toh ini cuma menceritakan kembali apa yang terjadi dan apa yg dikatakan dalam kehidupan Muhammad; dan kita akan lihat bahwa ingatan Aisya benar2 tajam. Sebaliknya, banyak juga hal dalam kehidupan Aisya yang lebih suka dilupakan Muslim jaman sekarang.

Berbeda dgn yg dibanggakan muslim,
 Aisya sebenarnya tidak pernah menjadi orang yg disukai lingkungannya. Mungkin dia bisa jadi tauladan kalau saja bukan karena keinginan birahi seorang kakek gila seks yg merusak masa depannya. Kita tidak mempunyai catatan sejarah istri2 Muhammad. Hanya kehidupan Aisya yg secara jelas dikenal dalam ajaran2 islam terutama lewat keterlibatannya dlm Perang Unta (Perang Jamal) dan kehancuran yg diakibatkannya terhadap umat muslim.

Mari kita mulai analisa kita akan Aisya dan Muhammad. Apakah dia istri yg paling baik dari ‘kumpulan’ istri2 Muhammad? Melihat bahwa dia itu paling sering ‘berontak’ diantara istri2nya, maka jawabnya mestilah TIDAK. Sumber2 islam membuktikan bahwa Aisha masih berlaku seperti anak belum dewasa diantara harem-haremnya Muhammad.

Sahih Bukhari Vol.7 Buku 62 Hadis no.145
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas: Bahwa ‘Umar memasuki rumah Hafsa dan berkata, “Wahai puteriku ! Jangan disesatkan oleh tingkah laku dia yang berbangga diri akan kecantikannya karena cinta sang Rasul Allah padanya.” Dia yg dimaksud adalah Aisya. Umar menambahkan, “Lalu kukatakan hal itu pada Sang Rasulallah dan dia tersenyum (mendengar itu).”


Umar, Kalif kedua Islam, bersaksi akan tingkah laku buruk Aisya dalam hadis sahih, memperingatkan anaknya (Hafsa) agar jangan disesatkan oleh kelakuan Aisya. Ternyata begitulah kelakuan ‘ummul mukminin’ ! Sumber2 islam juga mengatakan bahwa terjadi banyak sekali perkelahian dlm haremnya Muhammad. Para istri terbagi menjadi dua kelompok, salah satunya dipimpin oleh Aisya.

Sahih Bukhari vol.3 buku 47 hadis no. 755
Diriwayatkan oleh Urwa dari Aisya: Para istri Rasulallah terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari Aisya, Hafsa, Safiya dan Sauda; kelompok lain terdiri dari Umi Salama dan istri2 lain dari Rasul allah.


Apakah Aisya bahagia dengan tingkah Muhammad yg hobi ngumpulin istri? Lagi2 jawabnya TIDAK. Ketika tahu akan niat Muhammad menambah koleksi objek birahinya, Zainab binti Jahsh, istri dari anak angkat Muhammad sendiri, kemarahan Aisha meledak. Kemarahan ini membuat Allah harus menengahi dengan ayat2 sucinya.







Sahih Bukhari vol.6 buku 60 hadis no.311
Diriwayatkan oleh Aisya:
 Aku suka memandang rendah pada para wanita yang memberikan tubuhnya pada sang Rasulallah dan suka berkata, “Bisakah seorang perempuan terhormat memberikan dirinya pada lelaki?” tapi ketika Allah menurunkan ayat 33.51 ‘Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu.’ Aku bilang pada sang Rasulallah, ‘sepertinya Allahmu itu gesit sekali utk membantu memenuhi hasrat birahimu’.

Kenyataannya adalah, dia tidak pernah bahagia bersama Muhammad dan pernikahan mereka jauh dari yg disebut Pernikahan Surgawi. Kita punya sumber2 sahih utk membuktikan ini.

Aisya pernah berkomplot melawan Muhammad, dan ini bisa dianggap sebagai perlawanan terhadap islam itu sendiri.

Sahih Bukhari vol.6 Buku 60 Hadis no.436
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas: Aku bermaksud bertanya pada Umar, kataku, “Siapa dua wanita yang mencoba melawan sang nabi?” belum lagi aku selesai berkata, dia menjawab; Mereka adalah
 Aisya dan Hafsa.”

Bahkan dikala Muhammad masih hidup sekalipun, Aisya sudah berfitnah terhdp islam dan bersama-sama Hafsa, berani melawan Muhammad. Sekali lagi, Allah dengan cekatan memakai ayat2 saktinya utk menengahi, turunlah beberapa ayat dalam surat At-Tahrim.

Sejauh ini kita telah melihat sumber2 islam dan bagaimana sumber2 itu menggambarkan Aisya, tapi jika kita melihat lebih jauh kedalam hadis yang Aisya riwayatkan sendiri, isi dan garis besar hadis2 itu hampir selalu mengandung hinaan tersembunyi terhadap islam, malah sering kita dapatkan ejekan dan sikap merendahkan terhadap suaminya. Ini bukan sekedar propaganda, tapi fakta yang semua orang bisa lihat sendiri. Dibawah ini hanya beberapa contoh saja:

Aisya bilang
 Muhammad dipengaruhi ilmu sihir, dan sihir dianggap sebagai kerjaan setan, dg demikian dia sebenarnya mau bilang bahwa Muhammad berada dalam pengaruh setan. Muhammad tidak sadar akan realita dan berlaku sangat aneh. Ini dicatat dalam banyak hadis, dalam Hadis Sahih Bukhari saja : Vol.4, Buku 54, no.490, V.7 B.71 No.658; V.7 B71 No.661; V.8 B.73 No.89; V.8 B.75 No.400.

Muhammad; utusan terakhir Allah dikuasai setan. Ini keluar dari mulut ‘ummul mukminin’ !

Dia juga membuat kesan Muhammad orang yg sangat pelupa dan kikuk.

Sahih Bukhari Vol.3 Buku 48 No.82
Diriwayatkan oleh Aisya: Sang nabi mendengar seseorang melantunkan Quran di mesjid dan dia berkata, ‘Semoga Allah memberikan ampunan baginya.
 Tak pelak lagi, dia membuatku ingat ayat anu dan surat anu yang telah aku (muhammad) lupakan.

Dia mengungkap hal2 yang dikatakan Muhammad secara pribadi padanya.

Sahih Bukhari Vol.1 Buku 3 no. 128
Diriwayatkan Aswad: Ibn Az-Zubair berkata padaku, “Aisya suka mengatakan sejumlah hal rahasia padamu. Apa yg dia bilang mengenai Kabah?” Aku menjawab, “Dia bilang bahwa suatu waktu sang Nabi berkata, ‘O Aisya! Kalau saja orang2mu masih dekat dengan jaman jahiliyah! Aku akan membongkar Kabah dan kubuat dua pintu; satu utk masuk dan satunya lagi utk keluar.” Belakangan Ibn Az-Zubair melakukan hal yg sama.


Dia membeberkan rahasia urusan pribadi Muhammad (dgn istri2nya).

Sahih Bukhari Vol.3 Buku 47 no. 755
Diriwayatkan oleh Urwa dari Aisya: istri2 rasulallah terbagi dua kelompok. Satu kelompok terdiri dari
 Aisya, Hafsa, Safiya dan Sauda; dan kelompok lain terdiri dari Umi Salama dan istri2 lainnya….

Hadis ini panjang, silahkan baca sendiri sampai habis, isinya rame.

Dengan semua itu, sangat sulit dipercaya bahwa Aisya bisa disebut Muslim kaffah. Tidak heran kebanyakan kaum Shi’ah memandang Aisya dengan kebencian. Mereka punya gambaran jelek akan Aisya. Ya, mungkin kalian kaget, tapi sekitar 1/10 muslim dunia menganggap Aisya bukanlah muslim dalam pengertian aslinya.

Karena tindakan2nya melawan Imam Ali selama Nabi hidup dan setelah kematiannya (termasuk dalam perang Unta), para pengikut Ahlul Al-Bayt disarankan tidak memakai nama Aisya utk anak2 mereka, ini situsnya
 http://www.al-islam.org/organizations/a ... 00711.html

Ali, menantu Muhammad, pernah menyarankan pada Muhammad utk menceraikan Aisya ketika Aisya selingkuh dengan seseorang bernama Safwan, dan ada bukti2 dalam sumber2 sahih islam yang memastikan bahwa Aisya memendam kebencian karena hal ini terhadap Ali sepanjang hidupnya. Sedemikian benci sehingga Aisya haram menyebut nama Ali sekalipun.

Sahih Bukhari Vol.1 Buku 11 Hadis no. 634
Diriwayatkan oleh Aisya: “Ketika sang Nabi sangat sakit dan penyakitnya bertambah parah dia meminta ijin dari istri2nya utk dirawat dirumahku dan diijinkan. Dia dibawa dg pertolongan dua orang, kakinya terseret di tanah. Dia dipayang oleh Al-Abbas dan seorang lain.” Ubaid Ullah berkata, “Aku bilang Ibn Abbas apa yang Aisya katakan dan dia bilang, ‘Tahukah kau siapa orang kedua yang memayang sang nabi,
 yg Aisya tidak sebut namanya’ Aku bilang, ‘Tidak’. Ibn Abbas berkata, ‘Dia adalah Ali Ibn Abi Talib.’

Lebih parah lagi, kebencian wanita remaja ini berujung pada perang saudara pertama dalam sejarah Islam.
 Jadi perang saudara pertama Islam disebabkan oleh seorang wanita. Dia memimpin pasukan melawan Ali, Kalif Keempat. Tindakannya ini menyebabkan terbunuhnya sekitar 20.000 muslim dalam perang yg belakangan disebut Perang Unta. Tapi apa yang membuat dia melakukan semua itu tanpa memperhitungkan akibatnya? Jawabannya mudah; dia ingin membunuh dua burung dengan satu lemparan batu saja.

Sahih Bukhari Vol.1 Buku 3 no.122
Diriwayatkan oleh Jarir: Nabi berkata padaku ketika Hajjat-al-Wida: Suruh orang2 diam dan dengarkan. Lalu dia berkata (pd orang2), "Jangan menjadi kafir, menjadi tidak percaya padaku dengan saling membunuh satu sama lain.”


Tindakannya ini sangat menggambarkan sikap psikologis Aisya yg menyimpang. Seorang bocah yg beranjak dewasa dalam penganiayaan secara fisik dan seksual, dicerabut dari kenikmatan2 masa kanak2 dan bergabung dalam haremnya Muhammad sementara dia masih suka bermain dengan boneka. Dia tidak bisa membuang derita dan kemalangan yg dia alami dan derita itu mewujud cecara fisik dan psikologis menjadi kebencian. Dan penyaluran utk rasa benci ini adalah perang terhadap Kalif Keempat, Ali ,dan saudara muslimnya sendiri. Dengan ini dia berontak melawan kehendak mendiang suaminya, ‘‘Jangan menjadi kafir, menjadi tidak percaya padaku
 dengan saling membunuh satu sama lain.” Pasukan Aisya pada akhirnya dikalahkan, tapi tetap saja wanita malang ini menyimpan dan membawa kebenciannya terhadap Ali dan muslim pengikutnya selama hidupnya. Dalam Tabari Vol. 7 no. 224 kita membaca bagaimana gembiranya Aisya mendengar kabar kematian Kalifah Ali. 


Kehidupan Aisya Binti Abu Bakar sungguh adalah sebuah tragedi penyelewengan seksual anak-anak diabad ketujuh.

sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/tragedi-aisha-produk-penyelewengan-seksual-anak-abad-7-t35232/

Monday, December 24, 2012

Pegiat anti-Islam perempuan Mesir : SYARIAH BUKANLAH KONSTITUSI



Pegiat anti-Islam perempuan Mesir Alia al-Mahdi mengundang kemarahan sebagian warga Negeri Sungai Nil itu sebab protes sambil telanjang. Ini kali pertama kaum hawa negara itu berani bertindak terlalu jauh.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Sabtu (22/12), Alia berpartisipasi bersama gerakan perempuan FEMEN melancarkan protes di Ibu Kota Stockholm, Swedia, menolak konstitusi berbasis syariah Islam di Mesir. 

Alia mengatakan dia ingin membuat perubahan dengan cara berbeda. Gambar telanjang dia diunggah pada situs FEMEN memperlihatkan gadis itu memegang bendera Mesir dan di tubuhnya ada tulisan syariah bukanlah konstitusi. "Saya memilih memprotes dengan menggunakan tubuh saya," ujarnya.

Juru bicara gerakan liberal Mahmud Afifi mengatakan protes Alia dengan cara telanjang sebagai hal cabul. Dia bilang itu menyesatkan dan tidak mewakili banyak orang menentang konstitusi.

Penyanyi Mesir Amir Mustafa mengaku sangat malu melihat itu. Dia malah akah membantu Presiden Muhammad Mursi dan Ikhwanul Muslimin memenangkan referendum konstitusi.

Pegiat FEMEN Inna Scevchenko mengatakan Alia bergabung dengan kelompok perempuan itu sejak dua minggu lalu. Mereka kompak mengatakan bugil bukan untuk manusia melainkan memprotes penindasan.


Alia Al Mahdi menjadi korban penyerangan brutal kelompok Islam radikal di Mesir


http://m.merdeka.com/dunia/perempuan-mesir-telanjang-protes-konstitusi-syariah.html


Monday, December 3, 2012

Jawaban MENGEJUTKAN dari intelektual Iran thdp SIAPA PENGARANG AL-QURAN?


Who Wrote the Koran?

By MOHAMMAD AYATOLLAHI TABAAR


For more than two decades, Abdulkarim Soroush has been Iran’s leading public intellectual. Deeply versed in Islamic theology and mysticism, he was chosen by Ayatollah Khomeini to “Islamicize” Iran’s universities, only to eventually turn against the theocratic state. He paid a price for his dissidence. Vigilantes and other government-supported elements disrupted his widely attended lectures in Iran, beat him and reportedly nearly assassinated him. In a country where intellectuals are often treated like rock stars, Soroush has been venerated and reviled for his outspoken support of religious pluralism and democracy. Now he has taken one crucial step further. Shuttling from university to university in Europe and the U.S., Soroush is sending shock waves through Iran’s clerical establishment.

Alexandra Boulat/VII
The recent controversy began about eight months ago, after Soroush spoke with a Dutch reporter about one of Islam’s most sensitive issues: the divine origin of the Koran. Muslims have long believed that their holy book was transmitted word for word by God through the Prophet Muhammad. In the interview, however, Soroush made explicit his alternative belief that the Koran was a “prophetic experience.” He told me that the prophet “was at the same time the receiver and the producer of the Koran or, if you will, the subject and the object of the revelation.” Soroush said that “when you read the Koran, you have to feel that a human being is speaking to you, i.e. the words, images, rules and regulations and the like all are coming from a human mind.” He added, “This mind, of course, is special in the sense that it is imbued with divinity and inspired by God.”

As Soroush’s words spread thanks to the Internet, Iran’s grand ayatollahs entered the battlefield. In their rebuttal, the clerics pointed to the Koranic verses that state “this is a book we have sent down to you (O Muhammad).” They ask, Don’t these verses imply that God is the revealer and Muhammad the receiver? They also point out that there were times when Muhammad waited impatiently for the revelation to come to him and that in more than 300 cases the prophet is commanded to tell his people to do one thing or another. This demonstrates, the argument goes, that the commands are coming from elsewhere rather than from the heart or the mind of the prophet himself.

Soroush, in turn, responds by saying that the prophet was no parrot. Rather, Soroush told me, he was like a bee who produces honey itself, even though the mechanism for making the honey is placed in him by God. This is “the example the Koran itself sets,” says Soroush, citing the Koran: “And your Lord inspired to the bee: take for yourself among the mountains, houses . . . then eat from all the fruits . . . there emerges from their bellies a drink . . . in which there is healing for people.”

Soroush has been described as a Muslim Luther, but unlike the Protestant reformer, he is no literalist about holy books. His work more closely resembles that of the 19th-century German scholars who tried to understand the Bible in its original context. Case in point: when a verse in the Koran or a saying attributed to Muhammad refers to cutting off a thief’s hand or stoning to death for adultery, it only tells us the working rules and regulations of the prophet’s era. Today’s Muslims are not obliged to follow in these footsteps if they have more humane means at their disposal.

Soroush’s latest views have not endeared him to the powerful conservative wing of Iran’s establishment. Some have accused him of heresy, which is punishable by death. There have been demonstrations by clerics in Qom, the religious capital of Iran, against his recent work. But Iran’s supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei, unexpectedly warned against feeding the controversy. He said those who are employing “philosophy or pseudo-philosophy” to “pervert the nation’s mind” should not be dealt with “by declaring apostasy and anger” but rather countered with the “religious truths” that will falsify their arguments.

In Iran today, many opponents of the government advocate the creation of a secular state. Soroush himself supports the separation of mosque and state, but for the sake of religion. He seeks freedom of religion, not freedom from religion. Thus he speaks for a different — and potentially more effective — agenda. The medieval Islamic mystic Rumi once wrote that “an old love may only be dissolved by a new one.” In a deeply religious society, whose leaders have justified their hold on power as a divine duty, it may take a religious counterargument to push the society toward pluralism and democracy. Soroush challenges those who claim to speak for Islam, and does so on their own terms.

Mohammad Ayatollahi Tabaar is an adjunct lecturer at the Elliott School of International Affairs at George Washington University.

http://www.nytimes.com/2008/12/07/magazine/07wwln-essay-t.html?src=tp&_r=0

Sunday, September 16, 2012

METROTV SEBUT ROHIS TERORIS

JAKARTA: Ketua Fatwa MUI Ma'ruf Amin meminta organisasi rohani islam (Rohis) tidak digeneralisir sebagai sarang teroris. Menurutnya, penyebutan Rohis sebagai sarang teroris akan menimbulkan stigma negatif terhadap organisasi di sekolah tersebut.

"Jangan digeneralisir seperti itu. Pernyataan yang demikian justru akan menimbulkan sikap saling curiga," ujar Ma'ruf.

Menurut Ma'ruf, jika ada indikasi sebuah Rohis yang digunakan sebagai sarana pengkaderan teroris, aparat diminta langsung bertindak. Tetapi sebaiknya tidak menggeneralisir bahwa semua Rohis adalah sarang teroris.

"Kalau memang ada tangkap saja langsung, tapi jangan digeneralisir. Akibatnya nanti akan saling tuding dan saling lempar," imbuhnya.

Sebelumnya Metro TV menampilkan tayangan mengenai pola rekruitmen teroris muda. Dalam tayangan tersebut, Metro TV menyebut bahwa sasaran rekruitment teroris muda dari siswa SMP dan SMA di sekolah umum. Mereka yang masuk target rekruitmen adalah siswa yang masuk organisasi di masjid-masjid sekolah. Siswa yang tertarik kemudian diajak diskusi di luar sekolah.

Namun dalam running teksnya, Metro TV menyebut tayangannya tersebut bersumber dari penelitian Bambang Pranowo dari UIN Jakarta. Metro TV juga membantah telah menyebut bahwa Rohis sebagai sarang teroris.

Satu lagi pemberitaan di tivi Indonesia yang bakal menimbulkan polemik. Metro TV dalam salah satu beritanya menayangkan, pola rekrutmen teroris muda melalui sekolah, diantaranya:
1.Siswa SMP akhir dan SMA sekolah-sekolah umum.
2.Masuk melalui program ekstra kurikuliler di masjid-masjid sekolah
3.Siswa siswi yang terlihat tertarik kemudian diajak diskusi diluar sekolah
4.Dijejali berbagai kondisi sosial yang buruk, penguasa korup dan ketidakadilan
5.Dijejali doktrin bahwa pnguasa adalah thagut/kafir/musuh.(api)


http://www.bisnis.com/articles/metrotv-sebut-rohis-teroris-mui-minta-jangan-digeneralisir