Wednesday, January 18, 2012

Nabi Muhammad TIDAK DIJAMIN masuk sorga


Nabi Muhammad sendiri mengaku bahwa ia tidak tahu tentang nasibnya dan umatnya di akherat. "… Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul rasul, dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadap kamu …" (Qs. 46:9)

Oleh karena tidak ada jaminan bahwa Nabi Muhammad dapat masuk sorga maka Allah memberikan perintah kepada umat Muslim untuk mendoakan nabi, sahabat sahabat nabi dan sanak kerabat nabi dalam bentuk
sholawat setiap hari. "...Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs.33:56)

Al-Quran menyatakan bahwa Isa Al-Masih adalah seorang yang terkemuka di dunia dan akhirat (Qs. 3:45). Ini berarti Isa Al-Masih menjadi nomor satu di akhirat dan nomor satu di sorga karena Dia memang pemilik sorga. Jadi adalah benar kalau Isa Al-Masih itu adalah Allah pemilik sorga karena Dia yang terkemuka di akhirat.

Injil telah memberi kesaksian bahwa Isa Al-Masih berada di sorga. Isa Al-Masih berasal dari sorga, maka Dia tahu jalan ke sorga, itulah sebabnya saat ini Dia berada di sorga, menyediakan tempat bagi orang-orang yang telah menerima Keselamatan dari-Nya.

Bandingkan dengan pengakuan Isa Al-Masih tentang jaminan keselamatan yang diberikan kepada setiap orang yang percaya kepadaNya."Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Dirumah BapaKu banyak tempat tinggal...Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu...” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:1-2).

Sungguh malang orang yang mengatakan Al-Quran sempurna sementara untuk keselamatan yang dirindukan oleh semua umat Muslim tidak ada jaminannya.

SEKALI LAGI saya tegaskan sungguh malang orang yang mengatakan Al-Quran sempurna sementara untuk keselamatan yang dirindukan oleh semua umat Muslim tidak ada jaminannya.

Nabi Muhammad TIDAK MUNGKIN menyempurnakan ajaran Isa Al-Masih. Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa dirinya belum tentu masuk sorga. Ia dengan jujur bersaksi tentang Al-Masih bahwa Isa Al-Masih adalah Juruselamat, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Dia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

Monday, January 16, 2012

QS 4:163

An-Nisaa
163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, 'Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Orang Kristen Menyembah Satu Allah, Bukan Tiga

“....Janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu).” (Qs 4:171). Al-Quran dan umat Muslim mengira bahwa orang Kristen menyembah tiga Tuhan, sebab mereka mengartikan demikian ayat di atas.

Berapa Tuhan Umat Kristen?

Orang Kristen hanya menyembah satu Allah. Injil, Rasul Markus 12:29, berkata, “Jawab Isa Al-Masih: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa”.   Maka, tidak benar orang Kristen menyembah tiga Allah!
Sayangnya umat Muslim salah mengartikan Tritunggal. Sehingga, secara sepihak mereka menyimpulkan bahwa Tritunggal berarti “menyembah tiga Allah”. Mereka mencoba menyimpulkan tentang ke-Tritunggal-an Allah dengan kemampuan mereka sendiri.

Tritunggal: Tiga Oknum Dalam Satu Pribadi

Memang tidak muda untuk mengerti secara penuh konsep Tritunggal dengan keterbatasan manusia. Namun perlu mengetahui dengan baik, apa yang dimaksud dengan Tritunggal. Yaitu Allah yang esa hadir dalam tiga Pribadi: Allah Bapa, Kalimat Allah, dan Roh Allah. Dan ketiga Pribadi ini mempunyai esensi, kedudukan, kuasa, dan kemuliaan yang sama. Sehingga ketiganya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
“Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita...“ (Taurat, Kitab Kejadian 1:26) “Kita” merupakan subyek pada ayat di atas, menunjuk 'jamak', bukan 'tunggal'.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Injil, Rasul Besar Matius 28:19).
Kedua ayat di atas merupakan bukti nyata, bahwa Tritunggal merupakan ajaran Alkitab.

Allah Bapa

Allah Bapa merupakan Sumber Utama terjadinya alam semesta. Pewahyuan ilahi dan keselamatan adalah Allah Bapa yang memulai. Namun, Allah Bapa tidaklah lebih tinggi daripada Kalimat Allah dan Roh Allah.
Allah Bapa juga sumber dari kasih.  Ia juga meneladani kasih itu sendiri. Itulah sebabnya Allah merendahkan diri-Nya dalam rupa manusia (Isa Al-Masih), dan datang ke dunia.  Allah mengasihi manusia.

Kalimat Allah

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya [Kalimat Allah] yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Injil, Rasul Besar Yohanes 3:16).
Kalimat Allah dalam diri Isa Al-Masih, datang ke dunia untuk melakukan karya besar Allah Bapa bagi manusia. Yaitu memberi keselamatan. Mati di salib, dikuburkan, dan bangkit dari antara orang mati, merupakan hukum yang telah Allah tetapkan. Sebab, hanya dengan kematian-Nya maka karya penyelamatan Allah dapat tergenapi.
Sekali lagi, dalam hal ini, Kalimat Allah tidaklah lebih rendah daripada Allah Bapa

Roh Allah

Pribadi ketiga dalam Tritunggal adalah Roh Allah. Disebut juga sebagai Penolong atau Penghibur yang tidak terlihat.  Namun Dia ada di hati setiap manusia yang telah menerima keselamatan dan hidup kekal dari Kalimat Allah, yaitu Isa Al-Masih. Lagi kepribadian Roh Kudus tidak pernah lebih rendah daripada Allah Bapa maupun Kalimat Allah.

Kristen dan Keimanannya

Namun seorang Kristen yang telah menerima keselamatan dan hidup kekal dari Isa Al-Masih, dengan iman mereka, mereka dapat mengerti bahwa Allah Yang Esa adalah Allah yang terdiri dari tiga Oknum   tapi satu Pribadi.
“....Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Injil, Rasul Yohanes 20:29).

Sunday, January 15, 2012

HAKEKAT ISLAM dalam Perumpamaan Modern

Pada suatu hari ketika anda sedang beristirahat untuk makan siang di tempat kerja anda di Washington D.C., sambil menunggu kedatangan seorang teman, tiba-tiba anda didekati sepasang pria dan wanita yang berpakaian aneh dan mereka menanyakan kepada anda apakah mereka dapat berbicara sebentar dengan anda. Sang pria memakai rambut palsu berhias di atas kepalanya dan mengenakan kemeja sutera, baju rompi, celana sebatas lutut, kaus kaki sutera, sepasang sepatu hitam dengan pengait tali dati perak pada masing-masing sepatu. Sang wanita memakai rambut palsu berhias dan gaun panjang sampai hampir menyentuh tanah. Mereka kelihatan seperti pasangan yang baru saja keluar dari sebuah bioskop yang baru selesai mempertontonkan film perang revolusi Amerika..

Pasangan tersebut mulai menerangkan pada anda bahwa mereka adalah pengikut aliran agama dimana George Washington adalah seorang nabi Baalnya yang sangat berkuasa. Apapun yang diajarkan, yang dipercaya, yang dikatakan, dan yang dipraktekkan oleh george Washington harus diterima sebagai ilham dari Baal, yaitu satu-satunya Tuhan yang benar.

Ucapan-ucapan dan surat-surat yang dianggap masyarakat berasal dari Washington ditulis dalam bahasa Inggris karena bahasa Inggris itulah bahasa Surga. Walaupun ada terjemahan dari sebagian tulisan itu dalam bahasa lain, tulisan tersebut sesungguhnya tidak dapat dimengerti, kecuali kalau dibaca dalam teks aslinya yang berbahasa Inggris.

Apa yang diucapkan Washington sesungguhnya sudah tertulis di Surga pada loh batu. George Washington sebenarnya tidak menulis satu halaman pun dari ucapan-ucapannya, dia hanya menerima dari malaikat Gabriel kitab yang berisi firman yang harus diucapkannya pada saat Baal memerintahkannya.

Pasangan yang berpakaian aneh tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa George Washington adalah seorang nabi Baal, yaitu satu-satunya Tuhan yang benar, dan kami harus menjalankan kehidupan sama seperti kehidupan yang dijalani oleh Washington. Misalnya semua laki-laki harus mengenakan pakaian sesuai dengan yang dikenakan oleh Washington, dan semua perempuan harus mengenakan pakaian sesuai dengan yang dikenakan oleh nyonya Washington. Kami bahkan harus makan makanan yang dimakan Washington. Misalnya, George Washington tidak suka kacang, maka tidak seorangpun dari kami boleh makan kacang.

Pandangan politik George Washington harus diperlakukan sebagai satu-satunya bentuk pandangan politik pemerintahan yang paling valid. Dan, oleh karena dia mempunyai budak-budak, perbudakan harus dipandang sebagai struktur politik yang paling valid juga untuk zaman sekarang. Pada saat itu tiba-tiba bel alarm jam tangan dari sang pria berbunyi dan dia mengambil kompas dari dalam saku celananya. Setelah mengarahkan dirinya ke arah tertentu, pasangan laki-laki dan wanita tersebut bersujud dan sembahyang.

Setelah mereka selesai sembahyang, mereka bangkit. Anda terheran-heran sambil bertanya apa yang sedang mereka lakukan.

Mereka menjelaskan bahwa mereka harus sembahyang lima kali dalam satu hari menghadap ke arah kota Washington D.C. di mana terletak tugu peringatan buat George Washington.

Pada kenyataannya, semua pengikut George Washington yang sejati harus menunaikan perjalanan ibadah ke Washington D.C. paling sedikit sekali dalam hidupnya. Ketika mereka tiba di Washington D.C., mereka harus lari mengelilingi tugu peringatan George Washington sebanyak 7 (tujuh) kali. Setelah itu mereka harus lari lagi menuju ujung dari sebuah Mall yang berada dekat dengan tugu peringatan tersebut dan melemparkan beberapa batu yang ditujukan kepada Setan.

Sang pria dan wanita tersebut juga menjelaskan bahwa tugu peringatan George Washington itu sesungguhnya dibangun oleh Adam. Walaupun tugu peringatan itu pernah hancur, Abraham membangunnya kembali dan semua pemuka agama dalam Alkitab pernah tinggal di tugu peringatan tersebut.
Tugu peringatan George Washington merupakan tempat suci dan selalu menjadi bagian penyembahan kepada Tuhan. Sampai pada bagian ini mereka menanyakan pendapat anda, maka anda memberikan pendapat sebagai berikut:

“Mereka tidak akan serius mengenai aliran agama Washington; latar belakang pemikiran mengenai membungkuk untuk bersembahyang menghadap ke arah tugu peringatan Washington merupakan sesuatu yang tidak dapat dicernakan akal; tugu peringatan Washington tidak dibangun oleh Adam, sedangkan Abraham tidak pernah membangunnya kembali dari kehancuran; para tua-tua agama dalam Alkitab tidak pernah tinggal di Washington D. C., tetapi tinggal di Israel. Semua hal yang disampaikan tak masuk akal dan menggelikan”.

Mereka menjawab bahwa mereka sangat serius dan bahwa mereka sungguh-sungguh percaya bahwa George Washington adalah nabi Baal dan bahwa tulisan-tulisannya merupakan Firman Tuhan. Anda menanggapi dengan mengatakan, kelihatannya anda berdua telah menciptakan suatu agama berdasarkan budaya kolonial Amerika abad ke-18. Apakah anda berdua sungguh-sungguh mengharapkan pada akhir abad ke-20 ini masyarakat untuk hidup dan makan sesuai dengan kebiasaan dan selera masyarakat yang hidup di abad 18 di Amerika Serikat?

‘Bagaimana jika orang-orang Rusia menciptakan pula suatu agama yang mewajibkan kita semua sembahyang menghadap Moskow setiap hari 5 kali? ‘Mengapa Jepang tidak mungkin pula menciptakan suatu agama yang mewajibkan setiap orang sembahyang menghadap ke arah Tokyo?’ ‘Mengapa orang-orang Meksiko tidak bisa mengatakan bahwa anda harus menunaikan perjalanan ibadah ke kota Meksiko sekali dalam hidup anda, atau kalau itu tidak dilakukan anda tidak akan diselamatkan?’

Ajaran agama ini secara menyeluruh kelihatannya tidak masuk akal dan bertujuan untuk meniadakan ras-ras lain. Mengapa anda berharap bahwa setiap budaya dan ras harus menjalani hidup seperti masyarakat yang hidup di zaman kolonial Amerika abad 18. Hal ini tentu tidak beralasan, bukan?”

Ketika pembicaraan sampai di sini, sang pria membuka jaketnya dan menyembulkan sebuah senjata api laras panjang dari balik bahunya. Dia berkata bahwa agamanya tidak mengizinkan siapapun juga menertawakan atau menghujat keyakinan suci ini.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, bel jam tangan anda berbunyi, menunjukkan bahwa jam makan siang sudah berakhir.

Dengan menarik nafas panjang anda menjelaskan bahwa anda harus kembali bekerja. Namun bila mereka menghendaki pembicaraan lebih lanjut, mereka dapat menjumpai anda di ujung jalan ini kapan-kapan. Sambil mengucapkan kata-kata tersebut anda segera membalikkan badan sambil setengah berlari tanpa menunggu jawaban mereka.

tugas muslim utk membuktikan bhw Islam adalah betul-betul agama yg benar, sayang GAGAL TOTAL !!

Jawaban Ali Sina kpd Mr. Abu Saleh dari Islam Australia Network

Berikut adalah pertukaran email antara Arad, seorang pembaca FFI dan Abu Saleh dari Islam Australia Network. Arad dg rajin mengirim surat mereka pada saya dan saya menyimpannya di sini berikut komentar saya agar kita dapat mengerti lebih baik pikiran muslim.

From: Arad
Sent: Saturday, 6 May 2006
To: 
islambox@iinet.net.au
Subject: About FFI

Bisakah anda beritahu saya bahwa semua sumber yg dikutip oleh Mr. Sina dan penulis lainnya dari Quran dan Hadis adalah salah? Merupakan tugas anda utk membuktikan bahwa mereka salah. Dan saya akan merekomendasikan anda utk berdebat dg Mr. Ali Sina.

Good luck...


P.S. Jika sumber-sumber yg dikutip mereka benar, maka inti kepercayaan dari Islam haruslah dipertanyakan.

From: "Islam Australia Network"
To: "'Arda
Subject: RE: About FFI
Date: Sat, 6 May 2006 15:52:31 +0800

Semua bukti adalah dari Allah,
Bukan tugas kita untuk membuktikan atau memaksa. Tidak ada pemaksaan dalam islam. Kita hanya menyatakan fakta dan mengantarkan pesan-pesan Allah. Adalah terserah Allah utk memilih siapa yg dia ingin menjadi muslim atau tidak. Juga berhati-hatilah karena banyak Hadis tidak otentik. Baca sendiri Quran dan Hadis yg otentik. Jika anda ingin menemukan ‘kesalahan’ dalam Quran maka anda akan menemukannya dan dg jalan inilah Allah menyesatkan orang-orang yg tidak tunduk. Jika anda ingin menemukan kebenaran dalam Quran, maka anda akan menemukannya. Semua tergantung pada tujuanmu.
Tolong beritahu saya sumber-sumber Quran atau Hadis yg anda pakai.
Regards,
Abu Saleh

Ini adalah jawaban khas muslim.

Lihatlah betapa banyak pernyataan-pernyataan yg menyesatkan dalam email singkat ini.

Mr. Abu Saleh bilang :
Semua bukti adalah dari Allah


Dictionary.com menerangkan bukti sebagai ‘fakta-fakta atau argumen yg memaksa pikiran utk menerima pernyataan tertentu sebagai benar.’


Apa kita punya fakta tersebut tentang islam? Saya menawarkan 50.000 Dollar dan janji utk menghilangkan situs ini dan menyatakan maaf secara publik jika ada yg dapat memberi saya bukti.
Jika Allah tidak membagi bukti-buktinya pada manusia, maka bukan salah kita jika kita tidak menerima pesannya. Jika bukti diberikan maka kita perlu mendengarnya.

Dia bilang:
Bukan tugas kita untuk membuktikan atau memaksa. Tidak ada pemaksaan dalam islam.


Bukankan tugas seorang muslim utk membuktikan bahwa islam adalah betul-betul agama yg benar, tugas siapa kalau begitu? Bukankah Muhammad mengklaim bahwa ia datang dengan ‘bukti yg jelas’ yg ‘tidak diragukan lagi’? Mana bukti itu? Jika Allah memberi bukti, maka menjadi tanggung jawab setiap muslim utk membaginya pada yg lain.
Kenapa orang mesti percaya sesuatu tanpa bukti? Kenapa orang mesti percaya Muhammad dan bukan ribuan pemalsu lain yg juga tidak punya bukti utk klaim mereka? Yg benar adalah karena tidak ada bukti. Orang primitif percaya dalam mitologi tapi mereka tidak punya bukti. Aphrodite, Apollo, Ares, Artemis, Athena, Demeter, Dionysus, Hephaestus, Hera, Hermes, Poseidon dan Zeus adalah beberapa dewa Yunani. Orang percaya mereka dan begitu saja percaya bahwa mereka ada. “Tiap orang percaya mereka, jadi kenapa saya tidak?”, mereka berdebat. Tidak ada pertanyaan mengenai keberadaan mereka. Orang yg percaya tidak minta bukti. Mereka memilih utk percaya. 
Muslim percaya Allah dg cara yg sama dg orang primitif percaya pada dewa-dewi mereka. Mereka tidak bertanya dan tidak meragukan. Persis seperti orang primitif yg tidak punya bukti akan keberadaan Allah.

Disini kita bertengkar mengenai keberadaan Allah. Itu masalah lain lagi yg saya pikir percuma dipertengkarkan. Saya menghormati kepercayaan mereka dan pada mereka yg ingin punya iman pada Tuhan. Orang mungkin mengerti tuhan sesuai dg kapasitas intelektual mereka masing-masing. Saya pribadi tidak menghilangkan adanya Tuhan, meski saya pikir Tuhan adalah prinsip yg mendasari penciptaan dan bukan makhluk yg berpikir dan bertindak seperti kita manusia. Saya percaya pada tuhan yg dipercaya oleh Espinosa dan Einstein.
Keberatan saya adalah terhadap Allah (dewa islam) bukan dg Tuhan (yg sejati). Tuhan tidak meminta siapapun utk percaya dan tidak menyuruh membunuh mereka yg tidak percaya. Tetapi, Allah islam, kejam, keras kepala dan memerintah siapa yg tidak percaya harus dibunuh atau ditundukkan.
Jadi sudah menjadi hak kita utk meminta bukti dari keberadaannya. Jika kalian ingin membunuh saya agar menerima Allah ini, paling sedikit tunjukkan bahwa dia adalah Tuhan yg benar bukannya Setan, atau saya akan membunuhmu sebelum kalian membunuh saya. Sudah menjadi hak utk bertanya bukti dan hak saya utk mempertahankan diri bahkan bila itu berarti harus membunuhmu.

Pada bagian kedua kalimatnya, Mr. Abu Saleh bilang:
Tidak ada pemaksaan dalam islam


Ini jelas-jelas bohong. Justru ada pemaksaan dalam islam.
Ketika Muhammad di Mekah dan belum kuat, dia bilang tidak ada pemaksaan dalam agama tapi dia bohong. Ketika dia berkuasa di Medina dia memaksa orang-orang utk masuk islam, berperang utknya dan membayar zakat/jizyah atau mati.


Muhammad menggunakan politik yg sama dg yg digunakan Hitler. Lihatlah pernyataan Hitler antara th 1933-1939:
17 Mei 1933: ‘Pemerintah Jerman berkeinginan utk membereskan semua masalah sulit dg pemeritahan lain dg metoda damai . . . Jerman tidak akan mengambil jalan lain selain jalan yg ditunjukkan dalam perjanjian . . . Penduduk jerman tidak berpikiran utk menjajah negara manapun.”
10 Nov 1933: “Saya tidak cukup gila utk ingin perang.”
17 Agt 1934: “Pemerintah Jerman, seperti juga penduduk jerman, dipenuhi oleh keinginan-keinginan tanpa syarat utk membuat sumbangan terbaik yg mungkin utk mempertahankan damai didunia ini.”
21 Mei 1935: Jerman tidak berniat atau berkeinginan utk ikut campur dg urusan dalam negeri Austria, utk mencaplok Austria, atau menggabungkan kesebuah Persatuan Politik”.
15 Mar 1936: “Penduduk Jerman tidak ingin terus berperang utk memperbaiki garis depan. Tiap perbaikan dibayar dg pengorbanan diluar proporsi yg dicapai.”
26 Sep 1938: “Kita pastikan semua tetangga dekat bahwa integritas teritori mereka sejauh kepentingan Jerman. Ini bukanlah pernyataan kosong: ini kehendak suci kita... Sudetenlandadalah klaim teritori terakhir yg saya buat di Eropa.”
1 Jan 1939: “Pada umumnya kita cuma punya satu keinginan – di tahun depan kita mungkin mampu menyumbang kedalam penyatuan dunia pada umumnya.”
30 Jan 1939: “Hanya penghasut perang yg berpikir akan ada perang. Saya pikir akan ada periode panjang perdamaian.”
1 April 1939: “Kita tidak bermimpi utk menyerang negara lain, asalkan mereka tidak mengganggu kita. . .”

[Ref.: R.E. Murphy et al., 
National Socialism (U.S.Gov. Ptg. Office, 1943), pp. 232- 43]

Apa semua pernyataan ini membuktikan bahwa Hitler orang yg cinta damai? Tentu saja tidak! Mereka terbukti pembohong.
Hal yg sama dg Muhammad. Ketika dia bilang tidak ada pemaksaan dalam agama dan kemudian dia terus memaksa orang masuk islam, mengadakan paling sedikit 74 perampokan, menurut Ibnu Sa’d Sekretaris dari Waqidi, Cuma dalam 10 tahun, semua menunjukkan bahwa dia pembohong besar.


Ketika dia berkuasa, dia bilang :
3:85 Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya.
8:39 Dan perangilah mereka, hingga tidak ada fitnah dan muncul keadilan dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.

Tentu saja ‘keadilan’ dalam pandangannya adalah penundukan setiap orang padanya. Inilah bagaimana jalan pikiran seorang Narcissis (cinta diri sendiri) bekerja. Jadi seperti yg dg jelas dapat dilihat, Muhammad berbohong ketika dia bilang tidak ada pemaksaan dalam agama.

Mr. Abu Saleh bilang:
Kita hanya menyatakan fakta dan mengantarkan pesan Allah


Fakta apa? Jika sesuatu itu fakta, dia haruslah bisa membuktikannya. 2+2=4. Ini fakta dan saya bisa membuktikannya. Tapi jika saya bilang Bigfoot (makhluk mitos) itu tingginya 3 meter, saya melakukan pengkeliruan. Keberadaan Bigfoot itu sendiri belum terbukti. Saya tidak dapat menyatakan pernyataan tsb sebagai fakta.


Teman terhormat kita Mr. Abu Saleh, seperti semua muslim, tidak dapat membedakan fakta dari khayalan. Islam adalah pernyataan satu orang. Klaim ini belum pernah terbukti. Karena orang yg menyatakan kelakuannya dipertanyakan dan keanehan dari klaim ini adalah ia dipenuhi oleh keraguan. Oleh karena itu ini bukanlah sebuah fakta.

Mr. Abu Saleh bilang:
Adalah terserah Allah utk memilih siapa yg dia ingin menjadi muslim atau tidak.


Ini juga sebuah pengkeliruan. Jika terserah Allah utk memilih siapa yg dia ingin utk menjadi muslim, maka:
  1. Kenapa muslim diminta melakukan Jihad dan memaksakan Islam pd orang lain, dan
  2. Kenapa Allah menghukum mereka yg tidak menjadi muslim?
Ini seperti guru bilang ke muridnya, pada hari pertama sekolah bahwa kalian harus belajar tapi kalian juga harus tahu bahwa saya yg menentukan siapa yg akan lulus. Saya akan meluluskan siapa saja yg saya suka dan menggagalkan siapa saja yg saya tak suka. Saya telah membuat keputusannya. Hasil dari sekolah telah ditentukan sebelumnya.

Ini bodoh. Guru spt itu harus dikirim ke rumah sakit jiwa. Tapi ini persis yg dipikirkan muslim mengenai Allah. Allah adalah sosok sadis yg gila. Sudah jelas Allah bukan Tuhan yg asli tapi buatannya Muhammad. Muhammad adalah seorang narsisis psikopat dan narsisis yg ingin kuasa penuh atas orang-orang. Muhammad memproyeksikan mimpi basahnya mengenai dominasi total dan kekuasaan sebagai seorang psikopat narsisis kedalam seorang teman yg tersembunyi (sosok imajiner; Allah) dan melalui teman tsb dia memanipulasi orang-orang bodoh utk melakukan apa saja baginya – perang, bunuh, jarah, mengijinkan dia meniduri anak perempuan umur 9 th, menyembelih orang-orang tidak bersalah dan mengambil kekayaan mereka dan istri-istri cantik mereka utknya.


Apa yg dia lakukan adalah kelakuan setan. Seorang utusan Tuhan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan setan spt itu. Dg memuja Allah, muslim memuja Setan. Islam sampai ketulang-tulangnya itu setan. Bahkan Hitler tidaklah sejahat Muhammad. Saya tantang siapa saja yg dapat menunjukkan pada saya satu orang yg lebih jahat dari Muhammad. Charles Manson, mungking hampir sama jahatnya dg Muhammad tapi Hitler tidak. Hitler masih punya rasa kemanusiaan tertinggal didadanya. Ketika ponakan/kekasihnya bunuh diri, setelah melihat mayatnya basah dg darah membuat ia tidak pernah menyentuh daging lagi. Muhammad bahkan tidak punya kemanusiaan sedikitpun. Kehausannya akan darah terus tumbuh dan dia menjadi makin yakin bahwa dia berhak utk membunuh siapa saja yg menentangnya.


Adalah sebuah kebodohan untuk menjadi muslim. Tidak ada cara lain yg halus utk mengatakan ini. Cuma butuh orang yg sangat bodoh utk percaya bohong besarnya Muhammad. Saya mengungkapkan pikiran-pikiran terdalamnya Muhammad, dalam buku saya dan saya harap ketika keluar akan beredar dg luas, dapat memaku peti mati islam dan membebaskan para muslim menyedihkan yg pikirannya dibelenggu oleh pemujaan setan ini.


Kita dapat membandingkan Muhammad dg Dracula. Mitos bilang dia mengisap darah korbannya dan korbannya menjadi vampir juga. Ini persamaan/analogi yg tepat. Muhammad mengisap otak para muslim dan merendahkan mereka menjadi zombie dan monster. 
Ketika muslim benar-benar percaya akan Muhammad dan melakukan apa yg dia bilang, mereka menjadi monster. Osama bin Laden adalah monster. Mohammad Ata itu monster, Khomeini, Khamanei dan Ahmadinejad adalah monster. Joseph Cohen, sekarang Yousef al Khattab, Yahudi yg masuk islam dan sekarang berpikir bahwa semua orang israel harus dibunuh, bahkan anak kecilpun, dan senang tiap kali mendengar ada bom bunuh diri di israel, telah menjadi monster. 
Jika kalian muslim, kalian harus pertanyakan kepercayaan yg berdasar kebohongan seorang psikopat ini. Tuhan tidak menghadiahi para pengikutnya karena mereka bodoh. Surga bukan utk para orang bodoh. Jika ada neraka, kesitu kalian akan pergi. Kalian memuja setan. Kalian memuja psikopat. Kalian melakukan kejahatan dan mengira itu kebaikan utk tuhan. 
Maukah kalian diperlakukan spt Muhammad memperlakukan pagan, Yahudi dan Kristen pd jamannya? Maukah anda utk mempercayai seseorang yg mengajakmu tanpa bukti dan kemudian ia merampok kotamu tanpa peringatan, membasmi semua lelakinya dan memperbudak istri dan anak-anak dan memperkosa gadis-gadis familimu sebelum membuang tubuhmu ke sumur?

Jika kalian tidak jijik oleh kelakuan Muhammad, kalian tidak berhati-nurani, tidak manusiawi, kalian adalah monster. Sepanjang kalian tidak tahu kebenaran, kalian cuma dungu. Tapi sekarang kalian tahu, jika kalian akan tetap bertahan mengikuti monster ini, maka kalian juga monster.


Apa saya bohong? Tunjukan dimana bohong saya. Buktikan saya salah. Kenapa kalau saya bisa menunjukkan Muhammad itu pembohong tapi kalian tidak dapat menunjukkan bahwa saya pembohong?


Jangan benamkan kepalamu di dalam pasir dan jangan mengulang-ulang omong kosong bahwa ‘semua bukti dari Allah”. Baik dari Allah atau tidak kalian harus bisa membuktikan kepercayaanmu. MANA BUKTINYA? Kalian tidak punya bukti dan kalian menghasilkan teroris dan membenarkan kelakuan jahat mereka. Bahkan kalian semua berpotensi menjadi teroris. Bagimu ini adalah berkat paling besar. Setan adalah agamamu, setan ada dihatimu dan kalian akan menjadi monster.


Muhammad tidak berbeda dg Charles Manson. Perbedaannya hanya dia muncul dibagian lain dari dunia ini dan waktu yg berbeda hingga dia bisa lolos dg kejahatannya dan tidak ada pemerintahan yg terpusat dan kuat utk menghentikannya. Kalian bodoh mengikuti monster seperti itu. Memalukan, kalian semua memalukan. Memalukan milyaran idiot yg berpikir bahwa seorang monster itu nabi dan begitu takut utk berpikir dan bertanya mengenai kepercayaan setan mereka. Neraka adalah tempat kediaman para idiot. Disana kalian tinggal. Negara muslim adalah neraka. Dan kesana kalian akan pergi, jika ada kehidupan setelah ini. Kebodohan adalah ibu dari segala kejahatan, kata Socrates.

Mr. Abu Saleh bilang:
Juga berhati-hatilah karena banyak Hadis tidak otentik


Hadis yg saya kutip dalam situs ini semuanya otentik. Mereka diklasifikasikan sebagai Sahih (Authentic) oleh para ulama hadis, mohaddethin, lebih dari 1000 tahun lalu. Bukan menurut kamu atau saya utk menentukan mana yg otentik dan bukan. Kita tidak punya cara utk memastikan keterangan-keterangan isnad. Kecuali sebuah hadis itu mustahil dan berlawanan akal, seperti keajaiban yg disebut-sebut dilakukan oleh Muhammad, kita punya alasan utk percaya bahwa itu tidak otentik. Contohnya ada puluhan hadis yg bilang bahwa Aisha berumur 9 th ketika ditiduri Muhammad. Kenapa hadis ini harus otentik? Ada hadis yg bilang dia menyiksa orang, memperkosa perempuan yg ditangkap sbg hasil rampokannya, membunuh para pengritiknya, menggarong dan membunuh seluruh populasi. Kenapa kita harus ragu kesahihan dari hadis ini?
Sudah jelas kenapa orang-orang menyebut keajaiban yg disebut-sebut dilakukan oleh nabi mereka, mereka mencintainya dan mereka ingin membuat dia terlihat hebat. Tapi kenapa mereka menulis hadis yg menggambarkannya sebagai monster? Bukan hanya hadis yg menunjukan Muhammad itu orang jahat, bahkan dalam Quran pun ini sudah jelas.

Mr. Abu Saleh bilang:
Baca sendiri Quran dan Hadis yg otentik. Tapi hati-hati, karena lewat Quran Allah membimbing dan menyesatkan.


Ini pengulangan dari pengkeliruan yg sama yg kita diskusikan diatas. Muhammad menggambarkan Allah sebagai pengolok-olok jahat. Faktanya bahkan dia lebih jauh lagi menyebut dirinya sendiri ‘The finest Makkar (Penipu ulung)”. Ini adalah kualitas dari setan. Bagaimana tuhan yg menyesatkan orang dg sengaja dan kemudian membakar mereka dineraka abadi pantas dipuja? Apa yg kalian pikirkan jika ada orang yg menipu anaknya sendiri dan kemudian menghukumnya? Bukankah kalian akan memanggil polisi/pekerja sosial utk menahannya dan menjauhkan anak-anaknya dari orang gila ini? Bukankah orang seperti itu pantas dipenjara?


Tuhannya Kristen paling tidak adalah Tuhan yg sehat. Dia selalu mengasihi, selalu siap utk mengampuni dosamu dan menerimamu apa adanya. Tdk ada bedanya apa kalian itu pendosa, pelacur atau pembunuh. Jika kalian menerimanya, dia berjanji akan memaafkanmu, masuk kehati kalian dan memenuhinya dg cinta, tak peduli berapa kali kalian bertobat dan berdosa lagi. Sekarang jika saya ingin percaya pada tuhan, tuhan mana yg akan saya pilih? Tuhan penuh cinta atau Tuhan penuh rasa takut?


Rasa takut adalah anak dari kebodohan dan alat dari psikopat. Cinta adalah anak dari kebebasan, pengetahuan, kebijaksanaan dan pengertian. Cinta adalah dasar dari alam semesta. Allah tidak mungkin Tuhan (yg asli) karena percaya akan dia berdasarkan kebodohan dan rasa takut. Dia tidak menjelaskan tapi meminta tunduk dan mengancam dg hukuman bagi mereka yg ragu, ingin tahu dan bertanya-tanya. Ini kelakuan kesetanan bukan ketuhanan.
Allah adalah salah satu dewa dalam Kabah, diciptakan dan dipuja oleh kaum pagan. Dia punya istri dan tiga anak perempuan. Dia tidak beda dg Zeus dari Yunani. Muhammad membajak dewa ini dan memakainya utk memanipulasi orang-orang dungu. Dia buat dewa ini menjadi monster yg ditakuti sehingga melaluinya dia dapat memerintah manusia dg rasa takut.
Bodoh sekali utk mempercayai Allah pada saat dan jaman sekarang ini (hare gene, masih percaya islam? Amit-amit deh! -adm). Pemilihan Allah ini dilakukan sambil lalu. Jika Hobal waktu itu jadi dewa utama orang Arab, Muhammad akan memakainya, mengklaim jadi utusan Hobal ini. Allah cuma dalih. Muhammad setia pada Allah sama dg David Koresh setia pada “jehovah.”

Pada satu kesempatan, utk memenangkan dukungan suku Quraish, Muhammad mengakui kuasa dari al-Lat, al-Manat dan al-Uza, anak-anak perempuan dari Allah, lalu dia sadar bahwa ini bisa melemahkan klaimnya dan kemudian mundur tidak lama kemudian, mengklaim bahwa ayat-ayat itu, yg dia ucapkan, adalah dari setan dan bahwa semua nabi pernah dibodohi oleh setan, jadi dia tidak bisa disalahkan. Bayangkan kedunguan orang-orang yg percaya dia dan kedunguan orang-orang yg MASIH percaya dia sekarang. Dungu sebenarnya kata yg agak halus.

Mr. Abu Saleh bilang:
Jika anda ingin menemukan ‘kesalahan’ dalam Quran maka anda akan menemukannya dan dg jalan ini lah Allah menyesatkan orang-orang yg tidak tunduk.


Betapa penuh omong kosong! Saya menawarkan 50.000 dollar utk siapa saja yg dapat menemukan kesalahan dalam klaim saya terhadap Muhammad dan TIDAK ADA SEORANGPUN bisa melakukan itu sampai hari ini. Bagaimana kalimat tuhan begitu samar hingga tiap orang dapat menemukan kesalahan didalamnya? Pengakuan ini saja sudah cukup sebagai bukti bahwa Quran bukan dari Tuhan.


Ini seperti pemerintah mengeluarkan undang-undang yg begitu samar hingga tiap orang bisa mentafsirkannya sesuka mereka. Bisakah undang-undang seperti itu diterapkan? Otak muslim begitu menciut hingga mereka tidak dapat melihat kekhayalan dari klaim ini dan tiap-tiap orang mengulang-ulang omong kosong ini tanpa pikir.


Lampu merah diperempatan haruslah jelas, jika tidak jelas akan menyebabkan kecelakaan. Seseorang tidak diharapkan punya ‘hati polos’ (baca ‘dungu’) utk bisa menafsirkan tanda-tanda secara benar. Tanda-tanda seharusnya tidak terbuka utk tafsir. Jika tidak jelas, tidak berguna. Bayangkan punya tanda lalu lintas yg tiap orang bisa menafsirkan seenaknya. Bakalan kacau. Malahan lebih baik tidak pakai tanda lalu lintas karena tanpa itu kamu akan lebih hati-hati, tahu bahwa keamanan ada ditanganmu.
Tapi Quran mengklaim sebagai buku petunjuk ketuhanan utk setiap waktu tapi muslim bilang orang dapat menafsirkan seenaknya dan bahkan bisa disesatkan olehnya. Bukankah ini menunjukan bahwa muslim yg percaya omong kosong ini DUNGU? Tapi karena Allah adalah pembuat Hukum dan Hakim dan Penghukum juga, maka dia dapat melakukan apa yg dia suka. Dia adalah seseorang dg mentalitas Saddam Hussein, cuma punya kuasa yg lebih.

Semua ini menunjukkan kegilaan Muhammad. Karena dia seorang narsis dan dia ingin menjadi orang lalim, dia ciptakan tuhan yg mencerminkan angan-angan narsis dia sendiri. Dg alat ini, dia dapat melakukan dan mengatakan apapun dan mengklaim, ini UCAPAN ALLAH SENDIRI dan membungkam semua kritik. Kenapa bisa orang-orang yg punya otak tidak melihat tipuan yg jelas sekali ini?


Muhammad adalah orang yg sangat-sangat dungu. Fakta bahwa dia punya segerombolan bandit idiot yg mempercayainya seharusnya tidak membodohi kita dg berpikir bahwa apa yg dia katakan itu bermanfaat. Khomeini berhasil membodohi 30 juta orang iran tetapi jika kamu baca bukunya, kamu akan tertawa akan kebodohan orang ini. Apakah Hitler seorang filosofi hebat dan seorang visioner? Dia seorang psikopat dan meskipun dia memikat jutaan orang yg sangat pintar, orang jerman ini bukan cuma orang dungu dunia ketiga, tapi psikopat megalomaniac selalu punya cara utk meyakinkan orang dg kebohongan besar mereka.


Jika kamu tidak meneliti segalanya, kamu akan jatuh oleh kebohongan apapun juga, terutama kebohongan yg besar. Kebohongan besar, berlawanan asas, lebih dipercaya daripada kebohongan kecil. Itu karena orang biasa tidak dapat berbohong yg besar. Mereka takut ketahuan dan dipermalukan. Tapi Psikopat tidak punya kecemasan itu. Merekalah sebenarnya yg pertama percaya kebohongan mereka sendiri. Kebohongan besar lebih mudah dipercaya karena jarang dan orang bertanya-tanya bagaimana bisa orang punya keberanian utk mengatakan kebohongan sebesar itu, jadi mungkin itu benar.
Sudah waktunya muslim bertanya pertanyaan dasar ini. Benarkah Muhammad itu nabinya Tuhan? Mana buktinya? Apakah Allah itu sama dengan Tuhan? Mana buktinya? Tuhan memberi kita otak. Spt kata galileo, jika DIA tidak ingin kita memakainya, kenapa DIA beri kita otak?

Apa artinya:
Jika anda ingin menemukan kebenaran dalam Quran, maka anda akan menemukannya. Semua tergantung pada tujuanmu.


Bukankah ini berarti jika kamu ingin dibodohi, kamu bisa dibodohi? Apakah kebenaran itu subjektif? Saya bermaksud membunuh dan menjarah, saya dapat menemukan sesuatu dalam Quran yg membenarkan tindakan saya. Saya bermaksud memperkosa istri tetangga saya yg non muslim, saya temukan ayat utk mendukung maksud saya itu.


Buset, belakangan ini seorang muslim singapura menemukan beberapa ayat dalam Quran utk membenarkan incest dg anaknya dan dia berhasil meyakinkan istrinya juga. Petunjuk macam mana pula hingga tiap orang bisa menemukan apapun berdasarkan maksudnya?
Ahmadinejad, presiden Iran, menemukan ayat-ayat dalam Quran dan berpikir dia berhak utk membasmi israel dari peta dunia, dan Doktor Palazzi menggunakan kitab yg sama dan menjadi Zionis garis keras yg berpikir Sharon terlalu lembek.
Kenapa buku ini begitu membingungkan hingga tiap orang bisa menafsirkan seenaknya? Bukankah buku petunjuk ini seharusnya jelas dan tidak samar-samar? Hukum yg dibuat manusia sangatlah jelas. Tidak ada kesamaran didalamnya. Apakah intelegensia ALLAH kurang dari manusia? Apakah pengertian Dr. Palazzi mengenai Quran itu sudah betul? Atau Ahmadinejad? Yang mana dari kedua orang ini yg salah menafsirkan Quran dan dg itu akan pergi keneraka? Yahudi membenci Ahmadinejad atau Zionis Palazzi?

Kejutan, kejutan! Palazzi yg pergi keneraka, karena dialah yg salah tafsir Quran. Badut Ahmadinejad yg berkeinginan menghapus Israel dari peta, mengerti Quran dg benar dan dg itu dia masuk surga. (Siapa ingin masuk surga yg sama dg orang dungu ini?). Palazzi sedang keluar makan siang. Tapi kenapa orang sepintar Palazzi jadi bingung? Ini karena Quran memberi dirinya bebas ditafsirkan seenak udel. Quran bukan buku petunjuk; tapi buku alibi dan alasan-alasan.


Pikiran adalah alat yg luar biasa. Kamu bisa berjalan di atas bara api sambil memikirkan lumut dingin. Kamu bisa membuat dirimu percaya apa saja. Inilah kenapa kita punya banyak orang yg percaya akan hal-hal yg tahyul. Mereka biarkan pikiran mereka membawanya. Kita punya orang yg telah diculik dan diperkosa oleh makhluk asing (alien) dan sebagian malah berpikir merekalah makhluk asing itu. Orang-orang ini bertingkah sangat biasa dalam segala macam dan tidak ragu lagi mereka itu jujur. Tapi apa pengalaman mereka itu suatu kenyataan? Kita perlu alasan yg jelas utk menyinari jalan kita atau pasti kita tersesat dalam kegelapan kebodohan.


Saya dorong teman-teman, utk menulis pada pemimpin negara islam dan tantang mereka utk membuktikan kepercayaan mereka. Pastikan mereka adalah orang-orang terpandang dan terkenal. Kemudian kirim korespondensi ini utk ditampilkan dalam situs ini. Kita harus membunuh ular di kepalanya. Kita harus tunjukan pada para generasi muda muslim bahwa islam bukan lain cuma sekotak kebohongan dan semua ilmuwan terhormat bersorban adalah gerombolan orang-orang dungu.
Saya tahu banyak muslim muda membaca ini. Saya ingin mereka lihat sendiri bahwa mereka sudah dibohongi. Ayah mereka juga dibohongi. Kita telah disesatkan selama berpuluh-puluh generasi dan kita mengabadikan ketersesatan ini dg meneruskannya dari satu generasi ke generasi lain. Mari stop di generasi kita penipuan ini.
Saya terlalu sibuk utk berdebat dg penantang yg tidak terkenal (bukan tokoh yg berpengaruh di dalam masyarakat islam). Kita harus debat dg tokoh-tokoh yg terkenal. Tidak masalah jika mereka kabur. Dr. Palazzi kabur, Dr. Naik kabur, Mr. Hamid Entezam kabur, Mr. Abu Saleh kabur juga. Kebanyakan mereka kabur. Tidak apa-apa. Biarkan anak-anak muda muslim melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa para ulama hebat mereka adalah sekelompok pecundang.


Mari kita buat daftar ulama yg ketakutan dan kita sebut HALL OF SHAME. Jika kita tidak dapat meyakinkan muslim utk membuang kegilaan ini dg logika, kita dapat melakukannya dg mempermalukan mereka. Hari ini , memanggil orang ‘fasis’ atau ‘nazi’ adalah penghinaan. 7 dekade lalu jutaan orang bangga dipanggil begitu. Islam akan dikalahkan ketika memanggil seseorang ‘muslim’ menjadi suatu penghinaan. Hari tsb tidak lama lagi. Sekali kata ‘Islam’ menjadi sama artinya dg dungu dan teroris, tidak ada orang yg punya akal sehat mau dipanggil dg nama menjijikan itu.


Saya juga mendorong anak muda muslim utk bertanya pada para ulama favorit mereka utk membuktikan bahwa tuduhan-tuduhan saya thd Muhammad adalah salah. Akan kamu lihat, mereka akan menolak. Mereka akan mengatakan segala macam alasan agar tidak terlibat. Ini karena mereka takut.


Sebuah grup pelajar disebuah negara islam minta imam mereka utk menjawab tuduhan-tuduhan saya. Dia menjawab utk beberapa waktu tapi segera dia menjadi agresif dan mengancam murid-muridnya dg hukuman islam (mati), menyuruh mereka utk tidak membaca situs ini dan tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg diajukan di situs ini. Salah satu dari mereka menulis dan bilang, kebenaran menjadi jelas bagi semua murid. Anak-anak muda ini akan berkata dg yg lainnya dan kata-kata itu akan menyebar. Besok murid-murid ini akan mulai memerintah negara mereka. Mereka akan menaruh Mullah ditempat mereka dan akan menolong orang banyak utk bangun. Kita sedang membangun dari fondasi.


Beberapa orang yg disebut terpelajar ini mungkin akan minta debat dg bertemu muka. Ini adalah satu cara utk menghindar tanpa kehilangan muka. Tanya mereka apa yg ingin mereka tanyakan kemuka saya yang tidak dapat mereka tanya dg cara menulis.
Saya janji jika kita terus melakukan kampanye mempermalukan ilmuwan terpelajar muslim dan islam, dalam kurang dari seperempat abad, islam akan dikalahkan, Islam akan jatuh, seperti komunisme jatuh. Ingat kata-kata saya sekarang, bahkan jika kamu pikir saya gila. Jika kita semua bekerja sama, terutama bekas muslim, kita dapat menyingkirkan islam lebih cepat dari yg kita bayangkan. Iran sudah anti islamik. Lebih dari setengah orang iran tidak menyebut dirinya muslim lagi.

Kita menghancurkan islam dari fondasinya. Gedungnya kelihatan masih utuh. Tapi jangan biarkan penampilan menipu. Menara tinggi kebohongan ini akan jatuh sekaligus. Segala sesuatu tidak terjadi dg sendirinya. Kita yg membuatnya terjadi. Hal yg tidak mungkin terjadi utk mereka yg punya tujuan dalam hidup. Gunung akan bergeser utk mereka yg tahu kemana mereka bergerak.

APAKAH BUDAYA ISLAM BERBAHAYA?

Tarik pada Ali Sina:


Wahai Ali,

Aku ingin bertanya sesuatu. Aku menganggap diriku Muslim, dan seringkali membela hak-hak Muslim untuk beriman pada Islam. Maaf ya jika kau kecewa karena aku tidak memaki-maki dan mengutukimu. Malah sebenarnya, aku pikir kau ini menyenangkan (meskipun terkadang berlebihan).

Pendapatku tentang dirimu ini karena aku hanyalah Muslim KTP atau Muslim karena pengaruh budaya saja. Aku menikah dengan wanita Kristen, dan – ini rahasia lho – aku tidak percaya segala macam dongeng (kuda terbang dll) dari agama manapun. Aku dibesarkan dalam budaya Islam, tapi bukan dalam agama Islam. Budaya Islam adalah bagian hidupku yang kucintai sehingga aku tidak sanggup menghilangkannya.

Aku mencintai keluarga dan sanak saudaraku (Muslim Ethiopia), dan aku benar-benar tidak melihat mereka itu jahat seperti yang sering kau bicarakan. Aku suka bergabung bersama mereka merayakan hari raya kami, bahkan Ramadhan. Aku senang melihat mereka tidak minum alkohol dan bagaimana mereka menggunakan Islam utk meyakinkan bahwa kita semua harus rendah hati, damai, dan jadi orang baik. Apakah kau ingin aku menolak mereka karena itu? Bukankah tidak ada salahnya menjadi Muslim yang menjalankan adat Islam tanpa mencaci keluarga sendiri bodoh, takhayul dan bahkan membenci mereka?

Hal terakhir, kau mengatakan bahwa berdasarkan tulisan sejarah, sang nabi Muhammad SAW adalah orang jahat yang sakit jiwa dan dengan mengikuti contoh perbuatannya, maka Muslim jadi jahat pula. Tapi kau pun mengatakan bahwa Muslim membuat sang Nabi tampak sebagai pahlawan umat manusia yang suci murni. Nah, jika Muslim memilih untuk menganggap Muhammad yang suci murni dan MENGIKUTINYA, maka tentunya “Muhammad anggapan Muslim” ini lebih baik daripada “Muhammad dalam sejarah Islam,” bukan? Bukankah ini sebenarnya tidak berbahaya?

Baiklah, kawan, tetap lakukan apa yang kau anggap benar.

Salam hangat,
Tarik
============================


Ali Sina:

Wahai Tarik,

Ada salah paham yang harus dijelaskan terlebih dahulu. Siapa sih yang bilang kau harus berhenti mencintai keluarga Muslimmu? Siapa yang mengatakan bahwa orang yang terlahir sebagai Muslim lantas otomotatis jadi teroris? Yang kami serang itu adalah Islam, dan bukan Muslim. Muhammad adalah seorang teroris, tapi ini bukan berarti semua Muslim adalah teroris. Kau jadi seorang teroris hanya jika kau mencoba menjadi Muslim yang baik dan mengikuti contoh perbuatan terorisme Muhammad. Jika kau hanya Muslim KTP atau, yang seperti kau katakan, Muslim yang berbudaya Islam saja, maka kau tidak mengikuti perintah Muhammad dan tentunya kau juga tidak menjadi ancaman bagi siapapun.

Sebenarnya apa sih “budaya Islam” yang kau bicarakan ini? Apakah kau membicarakan tentang makanan kuskus dan falafel? Coba kau terangkan padaku budaya apa sebenarnya yang dibawa Muhammad? Semua yang sekarang disebut sebagai “budaya Islam” telah ada sebelum jaman Islam. Bahkan nama-nama Arab kita pun telah ada lama sebelum Islam ada. Ali adalah nama pagan. Abu Talib bukan orang Muslim dan dia tidak pernah percaya Islam. Dialah yang memilih nama itu bagi putranya. Muhammad adalah nama yang diberikan Amina pada putranya. Muhammad tidak mau berdoa bagi ibunya, dan mengatakan bahwa ibunya meninggal sebagai kafir (meskipun ibunya itu wafat ketika Muhammad berusia 6 tahun). Jadi mohon terangkan padaku apa sih sebenarnya budaya Islam itu? Apa ada pelajaran arsitektur, seni, masak, musik, olahraga, sains, filosofi atau sains sosial dalam Qur’an?

Tidak ada semuanya itu, Tarik. Muhammad tidak membawa budaya apapun. Dia tidak lebih daripada gangster tukang rampok yang merangkap pemimpin aliran kepercayaan sesat. Semuanya yang kau miliki saat ini adalah budayamu dan kakek moyangmu. Kita tidak perlu membuang itu semua. Yang perlu dibuang hanyalah Islam dan teruslah membangun budaya dan masyarakatmu sendiri.

Kau mengatakan Islam mengajarkan kerendahan hati. Ini tidak benar. Islam mengajarkan Muslim jadi sombong. Muslim adalah orang tersombong di dunia. Yang dituntut Muhammad adalah Muslim bersikap rendah hati pada Muhammad dan tuhan ciptaannya. Muhammad adalah orang narsis. Dia ingin setiap orang membungkuk dan merendahkan diri di hadapannya. Inilah sifat aslinya yang jahat. Dia tidak pernah mengajar Muslim untuk bersikap rendah hati terhadap semua umat manusia seperti yang diajarkan Yesus, Budha, Zoroaster dan Baha’u’llah. Itulah sebabnya Muslim jadi sangat sombong. Sikap rendah hati apakah yang dimiliki Muslim?

Tidak ada salahnya merayakan hari-hari raya. Aku merayakan Natal bersama orang Kristen, juga Tahun Baru Cina dengan orang Cina dan tentunya juga merayakan hari rayaku sendiri yakni Noruz (21 Maret). Jika ada yang mengundangku pergi ke suatu pesta, maka aku akan datang. Tapi mengapa kau harus merayakan hari raya kepercayaan sesat? Kau tentunya tidak mau datang ke perayaan neo-Nazi, bukan? Kau jelas tidak percaya Islam lagi. Buanglah Islam jauh-jauh dan enyahkan. Jika Muhammad adalah teroris yang suka berdusta, mengapa kau masih menghormati namanya dan bahkan mengingat-ingat namanya yang busuk itu?

Bukanlah alasan yang tepat untuk mengatakan bahwa Muslim yang tidak mengikuti Muhammad yang ditulis sejarah Islam tapi mereka menciptakan sosok Muhammad yang orang suci. Malah sebenarnya, justru inilah yang berbahaya. Hal ini bagaikan percaya bahwa racun di dalam lemari obatmu adalah obat mujarab. Rasa percayamu tidak mengubah kenyataan bahwa racun itu bisa membunuhmu. Selama kau tidak menelan racun itu, kau tetap sehat. Tapi suatu hari, ketidakpedulianmu ini akan dapat membunuhmu. Suatu hari kau mungkin merasa sakit dan lalu ingin mencoba “obat mujarab” tersebut. Setelah itu muncullah masalah besar.

Mayoritas Muslim tidak melalukan ibadah Islam, tapi mereka percaya Islam adalah agama yang baik. Manusia terkadang dilanda bencana dan butuh masukan spiritual. Jika Muslim melakukan hal ini, dia akan menelan racun Islam dan di sinilah letak bahaya menanti.

Tidak semua teroris lahir sebagai manusia yang berperangai jahat. Banyak dari mereka yang awalnya adalah manusia baik-baik. Akan tetapi, di suatu masa dalam hidupnya mereka ingin menggali keimanan mereka. Karena mereka diberitahu bahwa Islam adalah agama yang sejati, maka mereka mencari bimbingan spiritual dalam Islam. Hasilnya adalah kehancuran bagi diri mereka sendiri dan para korban mereka.

Buanglah racun (Islam) ke dalam jamban dan gelontorlah. Islam itu berbahaya. Jangan lagi berhubungan dengannya dan tidak perlu membelanya. Islam tidak bisa membahayakan dirimu jika kau tidak melakukan perintahnya, tapi jadi berbahaya jika kau melakukannya. Karena itu, mengapa perlu terus memeluknya?

Andalusian Myth, Eurabian Reality


Inventing the past, and denying the present. A Jihad Watch EXCLUSIVE essay by Bat Ye'or and Andrew G. Bostom:
On Sunday, April 18, 2004, this revealing exchange took place between outgoing Spanish Prime Minister Jose Maria Aznar, and interviewer Chris Wallace of FoxNews:
Chris Wallace: "In the apartment that was blown up, police found a videotape in which the bombers referred to Spain as Andalusia, what it was called by the Muslim Moors before they were driven out in 1492."
Jose Maria Aznar (through the translator): "So this means that Iraq, for them, was just a pretext. In the eyes of Islamic terrorism, it looks at the West, and Spain is a very special part of this parcel, because they feel that to recover Spain is to get back some of their territory."
Islamic scholar Mordechai Nisan recently discussed the contention by the founder of the Institute of Islamic Education, M. Amir Ali, that Medieval Spain had actually been "liberated" by Muslim forces, who "deposed its tyrants". Nisan extrapolated this ahistorical narrative line, and pondered:
"Reflecting on March 11, as Muslim terrorism killed 200 and wounded 1,400 in Madrid, one wonders whether one day this event will also not be commemorated as a liberating moment. "
Events surrounding the completion of the new Granada Mosque, which was marked by celebratory announcements July 10, 2003 of a "...return of Islam to Spain", were also consistent with Nisan's dark musings. At a conference entitled "Islam in Europe" that accompanied the opening of the mosque, disconcerting statements were made by European Muslim leaders. Specifically, the keynote speaker at this conference, Umar Ibrahim Vadillo, a Spanish Muslim leader, encouraged Muslims to cause an economic collapse of Western economies (by ceasing to use Western currencies, and switching to gold dinars), while the German Muslim leader Abu Bakr Rieger told Muslim attendees to avoid adapting their Islamic religious practices to accommodate European (i.e., Western Enlightenment?) values.
Shortly after this event, a Wall Street Journal editorialist in a grossly distorted encomium to Muslim Spain, mentioned the "pan-confessional humanism" of Andalusian Islam, and even asserted: "one could argue that the oft-bewailed missing 'reformation' of Islam was under way there until it was aborted by the Inquisition."
María Rosa Menocal, Yale Professor of Spanish and Portuguese, in her 2002 hagiography of Muslim Spain, The Ornament of the World, has further maintained that "the new Islamic polity not only allowed Jews and Christians to survive, but following Qur'anic mandate, by and large protected them."
We believe that reiterating these ahistorical, roseate claims about Muslim Spain abets the contemporary Islamist agenda, and retards the evolution of a liberal, reformed "Euro-Islam" fully compatible with post-Enlightenment Western values.
Iberia (Spain) was conquered in 710-716 AD by Arab tribes originating from northern, central and southern Arabia. Massive Berber and Arab immigration, and the colonization of the Iberian peninsula, followed the conquest. Most churches were converted into mosques. Although the conquest had been planned and conducted jointly with a strong faction of royal Iberian Christian dissidents, including a bishop, it proceeded as a classical jihad with massive pillages, enslavement, deportations and killings.
Toledo, which had first submitted to the Arabs in 711 or 712, revolted in 713. The town was punished by pillage and all the notables had their throats cut. In 730, the Cerdagne (in Septimania, near Barcelona) was ravaged and a bishop burned alive. In the regions under stable Islamic control, Jews and Christians were tolerated as dhimmis - like elsewhere in other Islamic lands - and could not build new churches or synagogues nor restore the old ones. Segregated in special quarters, they had to wear discriminatory clothing. Subjected to heavy taxes, the Christian peasantry formed a servile class attached to the Arab domains; many abandoned their land and fled to the towns. Harsh reprisals with mutilations and crucifixions* would sanction the Mozarab (Christian dhimmis) calls for help from the Christian kings. Moreover, if one dhimmi harmed a Muslim, the whole community would lose its status of protection, leaving it open to pillage, enslavement and arbitrary killing.
By the end of the eighth century, the rulers of North Africa and of Andalusia had introduced Malikism, one of the most rigorous schools of Islamic jurisprudence, and subsequently repressed the other Muslim schools of law. Three quarters of a century ago, at a time when political correctness was not dominating historical publication and discourse, Evariste Lévi-Provençal, the pre-eminent scholar of Andalusia, wrote: "The Muslim Andalusian state thus appears from its earliest origins as the defender and champion of a jealous orthodoxy, more and more ossified in a blind respect for a rigid doctrine, suspecting and condemning in advance the least effort of rational speculation."

The humiliating status imposed on the dhimmis and the confiscation of their land provoked many revolts, punished by massacres, as in Toledo (761, 784-86, 797). After another Toledan revolt in 806, seven hundred inhabitants were executed. Insurrections erupted in Saragossa from 781 to 881, Cordova (805), Merida (805-813, 828 and the following year, and later in 868), and yet again in Toledo (811-819); the insurgents were crucified, as prescribed in Qur'an 5:33*.
The revolt in Cordova of 818 was crushed by three days of massacres and pillage, with 300 notables crucified and 20 000 families expelled. Feuding was endemic in the Andalusian cities between the different sectors of the population: Arab and Berber colonizers, Iberian Muslim converts (Muwalladun) and Christian dhimmis (Mozarabs). There were rarely periods of peace in the Amirate of Cordova (756-912), nor later.
Al-Andalus represented the land of jihad par excellence. Every year, sometimes twice a year, raiding expeditions were sent to ravage the Christian Spanish kingdoms to the north, the Basque regions, or France and the Rhone valley, bringing back booty and slaves. Andalusian corsairs attacked and invaded along the Sicilian and Italian coasts, even as far as the Aegean Islands, looting and burning as they went. Thousands of people were deported to slavery in Andalusia, where the caliph kept a militia of tens of thousand of Christian slaves brought from all parts of Christian Europe (the Saqaliba), and a harem filled with captured Christian women. Society was sharply divided along ethnic and religious lines, with the Arab tribes at the top of the hierarchy, followed by the Berbers who were never recognized as equals, despite their Islamization; lower in the scale came the mullawadun converts and, at the very bottom, the dhimmi Christians and Jews.
The Andalusian Maliki jurist Ibn Abdun (d. 1134) offered these telling legal opinions regarding Jews and Christians in Seville around 1100 C.E.: "No...Jew or Christian may be allowed to wear the dress of an aristocrat, nor of a jurist, nor of a wealthy individual; on the contrary they must be detested and avoided. It is forbidden to [greet] them with the [expression], 'Peace be upon you'. In effect, 'Satan has gained possession of them, and caused them to forget God's warning. They are the confederates of Satan's party; Satan's confederates will surely be the losers!' (Qur'an 58:19 [modern Dawood translation]). A distinctive sign must be imposed upon them in order that they may be recognized and this will be for them a form of disgrace."
Ibn Abdun also forbade the selling of scientific books to dhimmis, under the pretext that they translated them and attributed them to their co-religionists and bishops. In fact, plagiarism is difficult to prove since whole Jewish and Christian libraries were looted and destroyed. Another prominent Andalusian jurist, Ibn Hazm of Cordoba (d. 1064), wrote that Allah has established the infidels' ownership of their property merely to provide booty for Muslims.
In Granada, the Jewish viziers Samuel Ibn Naghrela and his son Joseph, who protected the Jewish community, were both assassinated between 1056 to 1066, followed by the annihilation of the Jewish population by the local Muslims. It is estimated that up to five thousand Jews perished in the pogrom by Muslims that accompanied the 1066 assassination. This figure equals or exceeds the number of Jews reportedly killed by the Crusaders during their pillage of the Rhineland, some thirty years later, at the outset of the First Crusade.
The Granada pogrom was likely to have been incited, in part, by the bitter anti-Jewish ode of Abu Ishaq, a well known Muslim jurist and poet of the times, who wrote: "Put them back where they belong and reduce them to the lowest of the low..turn your eyes to other [Muslim] countries and you will find the Jews there are outcast dogs...Do not consider it a breach of faith to kill them...They have violated our covenant with them so how can you be held guilty against the violators?"
The Muslim Berber Almohads in Spain and North Africa (1130-1232) wreaked enormous destruction on both the Jewish and Christian populations. This devastation- massacre, captivity, and forced conversion- was described by the Jewish chronicler Abraham Ibn Daud, and the poet Abraham Ibn Ezra. Suspicious of the sincerity of the Jewish converts to Islam, Muslim "inquisitors" (i.e., antedating their Christian Spanish counterparts by three centuries) removed the children from such families, placing them in the care of Muslim educators. Maimonides, the renowned philosopher and physician, experienced the Almohad persecutions, and had to flee Cordoba with his entire family in 1148, temporarily residing in Fez -- disguised as a Muslim -- before finding asylum in Fatimid Egypt.
Indeed, although Maimonides is frequently referred to as a paragon of Jewish achievement facilitated by the enlightened rule of Andalusia, his own words debunk this utopian view of the Islamic treatment of Jews: "..the Arabs have persecuted us severely, and passed baneful and discriminatory legislation against us...Never did a nation molest, degrade, debase, and hate us as much as they.."
A valid summary assessment of interfaith relationships in Muslim Spain, and the contemporary currents responsible for obfuscating that history, can be found in Richard Fletcher's engaging Moorish Spain. Mr. Fletcher offers these sobering, unassailable observations:
"The witness of those who lived through the horrors of the Berber conquest, of the Andalusian fitnah in the early eleventh century, of the Almoravid invasion- to mention only a few disruptive episodes- must give it [i.e., the roseate view of Muslim Spain] the lie. The simple and verifiable historical truth is that Moorish Spain was more often a land of turmoil than it was of tranquility...Tolerance? Ask the Jews of Granada who were massacred in 1066, or the Christians who were deported by the Almoravids to Morocco in 1126 (like the Moriscos five centuries later)...In the second half of the twentieth century a new agent of obfuscation makes its appearance: the guilt of the liberal conscience, which sees the evils of colonialism- assumed rather than demonstrated-foreshadowed in the Christian conquest of al-Andalus and the persecution of the Moriscos (but not, oddly, in the Moorish conquest and colonization). Stir the mix well together and issue it free to credulous academics and media persons throughout the western world. Then pour it generously over the truth...in the cultural conditions that prevail in the west today the past has to be marketed, and to be successfully marketed it has to be attractively packaged. Medieval Spain in a state of nature lacks wide appeal. Self-indulgent fantasies of glamour...do wonders for sharpening up its image. But Moorish Spain was not a tolerant and enlightened society even in its most cultivated epoch."
The socio-political history of Andalusia was characterized by a particularly oppressive dhimmitude that is completely incompatible with modern notions of equality between individuals, regardless of religious faith. At the dawn of the 21st century, we must insist that Muslims in the West adopt post-Enlightenment societal standards of equality, not "tolerance," abandoning forever their hagiography of the brutal, discriminatory standards practiced by the classical Maliki jurists of "enlightened" Andalusia.
*The Noble Qur'an- Three esteemed translations, online:
Sura 005, Verse 033
YUSUF ALI: "The punishment of those who wage war against Allah and His Messenger, and strive with might and main for mischief through the land is: execution, or crucifixion, or the cutting off of hands and feet from opposite sides, or exile from the land: that is their disgrace in this world, and a heavy punishment is theirs in the Hereafter;"
PICKTHAL: "The only reward of those who make war upon Allah and His messenger and strive after corruption in the land will be that they will be killed or crucified, or have their hands and feet on alternate sides cut off, or will be expelled out of the land. Such will be their degradation in the world, and in the Hereafter theirs will be an awful doom;"
SHAKIR: "The punishment of those who wage war against Allah and His messenger and strive to make mischief in the land is only this, that they should be murdered or crucified or their hands and their feet should be cut off on opposite sides or they should be imprisoned; this shall be as a disgrace for them in this world, and in the hereafter they shall have a grievous chastisement"
Bat Ye'or, www.dhimmitude.orgwww.dhimmi.org , is the author most recently of Islam and Dhimmitude: Where Civilizations Collide, and the forthcoming Eurabia.